Jumat, 02 Oktober 2026
14:24 WIB
TERKINI
Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
Tari Gunde

Tari Gunde

Bagikan:
250px-Tari_Gunde_Tua.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peserta tari Gunde asal Sangihe

Tari Gunde adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Sangihe yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Sangihe (Talaud dan Siau Tagulandang dan Biaro) Provinsi Sulawesi Utara. Tari ini biasanya dimainkan oleh perempuan, dan diiringi musik tradisional setempat.[1]

Istilah

Gunde atau unde dalam bahasa Sangihe berarti gerakan yang halus, seperti sehalus pekerti perempuan. Istilah gunde sendiri berasal dari kata munde yang artinya sesuatu yang menghidupkan. Tari gunde juga disebut sebagai Salaing Bawine. Salaing dalam bahasa Sangihe berarti tar atau gerak, dan bawine berarti perempuan. Sehingga, tari ini hanya dimainkan oleh perempuan.[2]

Sejarah

Tari gunde ini pada awalnya merupakan tarian pemujaan masyarakat Sangihe yang diadakan pada upacara penyembahan dan ritual menolak bala, yang sering disebut sebagai Menahulending atau mesundeng.[3] Tarian dipersembahkan kepada dewa tertinggi dalam keyakinan lama orang Sangihe, I Ghenggona Langi, Duata Sululuang (Sang pencipta langit dan alam semesta). Masyarakat Sangihe percaya ada kekuatan lain yang harus disembah.[2] Upacara tolak bala biasanya diadakan selama 7 hari, dan pada hari kelima, tari gunde dilakukan.[1]

Pada masa raja-raja, gunde ini juga ditampilkan pada acara tertentu di istana, termasuk pada saat hari penobatan raja.[1] Seiring berjalannya waktu, tari ini kemudian dipakai di luar istana, seperti dalam penyambutan tamu, hiburan seni dan budaya, dan kini juga digunakan dalam lingkungan gereja.[1][3]

Peserta

Peserta tari gunde adalah perempuan, banyaknya 13 orang, yang mana 12 diantaranya penari biasa dan 1 orang pemimpin tarian yang disebut pangataseng.[4] Untuk tarian yang diadakan di istana, penari terlebih dahulu diseleksi dan memilih penari terbaik, dan masih gadis. Proses seleksi ini memastikan bahwa hanya mereka yang memiliki keterampilan dan keanggunan yang memenuhi standar dapat menampilkan Tari Gunde. Sementara di luar istana tidak ada seleksi.[1]

Tarian

Biasanya tarian ini terdiri dari 7 babak atau tahapan. Pertama, babak masuk ke panggung atau arena dengan gerakan lembut. Selanjutnya babak kedua yakni memberi hormat (mamidura) kepada tamu dan penonton, kemudian masuk babak ketiga salaing bawine yakni memulai gerakan tarian yang lembut sebagaimana layaknya tarian perempuan. Tarian yang lembut adalah simbol kehalusan budi pekerti kaum perempuan.[1]

Setelah itu, masuk babak keempat salaing saloha yakni gerakan tari sukacita atau kegembiraan. Babak kelima yakni gerakan salaing sonda, yang menggambarkan ketangguhan perempuan. Diikuti dengan babak keenamsalaing balang, gerakan tari yang melambangkan perjuangan kaum perempuan. Dan babak terakhir yakni salaing durahang, simbol gerakan mencari kebahagian. Dengan demikian tarian selesai, dan para penari memberi hormat dan keluar dari panggung.[1][4]

Musik Pengiring

Musik pengiring tari Gunde adalah music eksternal (menggunakan music pengiring di luar penari) berupa Tagonggong[5] (alat musik etnik suku Sangihe, Talaud dan Sitaro) dan Sasambo[6] (nyanyian etnik suku Sangihe, Talaud dan Sitaro).[7] Struktur musik (irama Tanggonggong dan Sasambo) sama dengan nama gerak yaitu gerak salaing Bawine, disebut lagung Bawine harus dipukul dengan pola ritme dan SasamboBawine. Begitu juga dengan Sasahola, Sonda, Balang dan Duruhang. Sedangkan Mamidura  (pembuka dan penutup) pukulan biasa atau hanya rall.[8]

iringan lagu Sasambo serta alat musik Tagonggong perlambang kehalusan budi dan keagungan wanita Sangihe Talaud pada tari Gunde.[9]

Kostum

Para penari mengenakan busana adat yang disebut Laku Tepu, terdiri dari baju panjang dan kain sarung khas Sangihe. Rambut digelung dan dihiasi mahkota kecil, serta dilengkapi aksesoris seperti anting, gelang, kalung, dan kain selempang. Selama menari, mereka juga membawa sapu tangan sebagai bagian dari gerakan tarian.[10]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 "Tari Gunde". www.tribunnewswiki.com. 28 Juli 2021. Diakses tanggal 16 Juni 2025.
  2. 1 2 "Gunde, Tari Tradisional yang Berasal dari Kepulauan Sangihe". kebudayaan.kemdikbud.go.id. 2 November 2019. Diakses tanggal 16 Juni 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Tari Gunde". direktoripariwisata.id. Diakses tanggal 16 Juni 2025.
  4. 1 2 "Gunde, Tari Penolak Bala dari Kepulauan Sangihe". dimensiindonesia.com. Diakses tanggal 16 Juni 2025.
  5. ↑ Koentjaraningrat (1985). Ritus peralihan di Indonesia. Balai Pustaka. hlm. 213.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Lalira, James Edward (2025-02-17). Sejarah, Bahasa dan Budaya Desa Gemeh Dari Cikal Bakal Hingga Pemekaran Wilayah. Gema Edukasi Mandiri. hlm. 166. ISBN 978-623-10-7338-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Waluyo, Harry (1999). Pandangan generasi muda terhadap upacara perkawinan adat di kota Manado. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. hlm. 65.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ ditwdb (2019-11-02). "Gunde, Tari tradisional yang berasal dari Kepulauan Sangihe - Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 2025-09-11.
  9. ↑ roro, roro (2019-01-01). "Budaya Tari Gunde Sulawesi Utara". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 2025-09-11.
  10. ↑ Selpiyani, Yelin (2024-07-10). "Tari Gunde: Tarian Sakral dari Sangihe Sulawesi Utara". RRI.co.id. Diakses tanggal 2025-09-11.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan