Senin, 21 September 2026
02:48 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Topeng Gethak

Tari Topeng Gethak atau Klonoan merupakan tarian tradisional yang berasal dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Tari Topeng Gethak erat masih kaitannya dengan Klono Sewandono dari Ponorogo.[1]

Sejarah

Tari Topeng Gethak ada di era Kesultanan Mataram ketika Bangsawan Ponorogo mempertunjukan tari Topeng Klono Sewandono yang disaksikan juga oleh Bangsawan Madura hingga terkesan akan penampilan tarian seorang Raja Bantarangin. Kemudian bangsawan-bangsawan Madura turut membuat tari topeng dengan ciri khas dan lakon Madura, kemudian tarian ini disebut dengan Topeng Klonoan, mengambil nama dari Topeng Klono Sewandono dari Ponorogo.

Pada tahun 1980-an, nama tari topeng klonoan mulai berganti menjadi topeng Gethak karena gerakannya dan peralihan tiap gerak selalu tergantung pada bunyi kendang yang berbunyi “Ge” dan “Tak”.

Penyebaran

Tari Topeng Gethak menyebar secara menyeluruh di Madura, hingga pada migrasi besar-besaran orang Madura ke pulau Jawa, pada tahun 1830, Topeng Gethak turut dibawa ke Lumajang yang kemudian dikenal dengan Topeng Kali Wungu.

Tari Topeng Gethak Kolosal

Pada 27 Oktober 2019 dalam rangka HUT Pamekasan ke-489 dilakukan tarian Topeng Gethak Kolosal terbanyak di Taman Mandhapa Aghung Ronggosukowati, Pamekasan yang diikuti 489 Penari Topeng Gethak dan dikolaborasin dengan Reog Ponorogo.[2] Di Bulan sebelumnya, dalam rangka kunjungan kerja ke Ponorogo, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mengungkapan kepada Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni bahwa ia kagum dengan Reog Ponorogo yang sering tampil dalam beberapa event di Jawa Timur. Sehingga dalam menyambut HUT Pamekasan dan merajut kembali hubungan Madura dan Ponorogo, Bupati Ponorogo mengirimkan delegasi Reog Ponorogo ke Pamekasan untuk turut memeriahkan HUT Pamekasan.[3]

Referensi

  1. "Tari Topeng Gethak". Tribunnews. 12 Juli 2021. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  2. "Tari Topeng Gethak Kolosal". Media Indonesia. 27 Oktober 2019. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  3. "Bupati Pamekasan Dukung Reog Ponorogo Jadi Kesenian yang Diakui Unesco". Detikzone. 11 Maret 2022. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan