Rabu, 21 Oktober 2026
17:48 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Tari buyung

Tari buyung

tarian tradisional di Indonesia

Bagikan:
250px-Tarian_Buyung_Syarat_Akan_Makna.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Tari Buyung merupakan sebuah tarian budaya Sunda yang digelarkan pada upacara adat Seren Taun di Cigugur, Kuningan.[1] Tarian tersebut memiliki makna, menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat hubungannya dengan ungkapan "di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung".

Sejarah Tari Buyung

Tari Buyung yaitu merupakan tarian tradisional yang berasal dari Kuningan yang mana sudah di akui oleh pemerintah sebagai Tarian Tradisional khas kabupaten Kuningan. Tari Buyung memiliki fungsi sebagai tarian yang ditampilkan pada kegiatan adat seperti seren taun yang biasa diadakan oleh masyarakat daerah Cigugur, Kuningan. Tarian ini juga merupakan tarian yang diartikan sebagai simbol rasa syukur atas kelimpahan sumber daya yang melimpah.[2]

Tidak hanya itu, tarian ini juga kerap ditampilkan dalam kegiatan tertentu seperti acara daerah di Kuningan. Makna Tari Buyung yaitu mengekpresikan kegiatan gadis desa Cigugur, setiap gerakan dalam Tari Buyung memiliki makna yang tersirat, antara lain gerak menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat kaitannya dengan ungkapan ‘di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung’. Membawa buyung di atas kepala, bukan hal yang mudah, apalagi dengan berdiri menginjak kendi sambil menari. Tentu saja memerlukan teknik tersendiri, khususnya ‘keseimbangan’ tubuh. Hal ini melambangkan, bahwa dalam kehidupan manusia memerlukan adanya keseimbangan, antara perasaan dan pikiran, dan antara lahir dan batin.[3] Tarian ini menjadi identitas bagi masyarakat Kuningan khususnya di Desa Cigugur.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran, yang ditandai sebagai pujian mengagungkan Nyi Pohaci Sanghyang Aci. Ketika masa lalu, tradisi ini menjadi suatu kepercayaan animisme dan dinamisme untuk memuja arwah nenek moyang sesuai ajaran Agama Hindu dan Buddha. Sejarah terciptanya Tarian Buyung kurang lebih pada tahun 1969 dari hasil kreasi Emilia Djatikusumah, yakni Istri dari sesepuh adat bernama Pangeran Djatikusumah. Selain itu, terciptanya juga sebab melihat kebiasaan para wanita yang mengambil air menggunakan buyung.[4]

Disebutkan bahwa pada tahun 1969 seorang istri sesepuh adat Djatikusumah yang bernama Emalia Djatikusumah seorang berkeografi yang berdomisili di Cigugur yang mana ingin budaya atau kebiasaan warga Cigugur setempat dalam mengambil air menggunakan buyung tidak hilang begitu saja seiring dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini. Oleh karena itu, beliau mencoba untuk melestarikannya yaitu dengan mengekspresikannya lewat gerakan tari. Hal tersebut bertujuan untuk mengenal dan mengingat kebiasaan-kebiasaan terdahulu.

Masyarakat Cigugur yaitu beridentitaskan dengan kebiasaan mereka dalam beraktivitas yaitu mengambil air ke sungai, danau, ataupun kolam. Yang mana hal tersebut mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Dengan kebiasaan yang sering mereka lakukan sehingga menjadi suatu akar dan menyatu dengan perilaku masyarakat yang suka tolong menolong dan bergotong royong tanpa memandang latar belakang sosial, agama satu sama lain.

Sejarah kehidupan yang berada di lereng gunung yang mempunyai banyak mata air membuat banyak orang tua dahulu yang membuat gerabah, tembaga untuk mengambil mata air di sumber mata air. Maka dengan melihat kondisi daerah setempat maka banyak pengerajin buyung disekitar wilayah Kuningan diantaranya yaitu Taraju, Sukahaji, Cigugur atau yang wilayahnya tidak jauh dari mata air kaki gunung.

Tari Buyung pertama kali diperkenalkan yaitu pada tahun 1970 dalam sebuah pagelaran. Pada tahun tersebut yang menjabat sebagai bupati yaitu Bapak Aruma, yang mana beliau juga menyukai kesenian. Oleh karena itu, paguyuban Paseban Tripancatunggal diberi kesempatan untuk membuat pagelaran seni. Bermacam-macam kesenian diciptakan, dimulai dari drama, tari, seni cianjuran, sampai pencak silat juga di tampilkan. Selain dalam kegiatan pagalaran Tarian Buyung juga di tampilkan pada saat acara seren taun karena tarian tersebut merupakan tarian utama dalam susunan acara, dan Tari Buyung menjadi salah satu daya tarik masyarakat lokal maupun para wisatawan yang berkunjung ke dalam Negeri.[5]

Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia.
Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.

Referensi

  1. ↑ "Apa yang dimaksud dengan Tari Buyung?". Dictio Community (dalam bahasa Inggris). 2018-05-17. Diakses tanggal 2023-11-21.
  2. ↑ Farhi, Vera (2021-11-08). "Tari Buyung: Makna - Gerakan dan Pola Lantai". HaloEdukasi.com. Diakses tanggal 2022-12-28.
  3. ↑ Caturwati, Endang (2020). "Tari Buyung Cigugur Kuningan di Masa Pandemi". Jurnal Panggung. 30 (4): 611.{{cite journal}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 29
  4. ↑ Sidik, Zafar (2021-09-20). "Mengenal Tarian Yang Unik, Tari Buyung kreasi Emilia Djatikusah - Ketik News - Halaman 2". Mengenal Tarian Yang Unik, Tari Buyung kreasi Emilia Djatikusah - Ketik News - Halaman 2. Diakses tanggal 2022-12-28.
  5. ↑ Andriani dan Muchyidin, Lia dan Arif (2020/2). "POLA FRIEZE GROUP PADA GERAKAN TARI BUYUNG KUNINGAN". JES-MAT. 6: 89–90.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=; line feed karakter dalam |title= pada posisi 23
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan