Kamis, 08 Oktober 2026
10:52 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Beksan Etheng

Beksan Etheng

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Februari 2023) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Beksan Etheng
lossy-page1-250px-KITLV_3929_-_Kassian_C%C3%A9phas_-_Dancers_from_the_sultan_of_Yogyakarta_perform_a_dance_called_Beksan_Eteng_-_Around_1885.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para penampil Beksan Etheng, dipotret oleh Kassian Cephas, 1885
GenrePerang
InstrumenGamelan
PenciptaHamengkubuwana I
TahunAbad ke-18
AsalDaerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Beksan Etheng adalah sebuah tarian yang berisi falsafah seni, budaya dan prinsip hidup manusia Jawa khususnya wilayah Yogyakarta sebagai ahli waris budaya Mataram. Tarian ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, seorang raja kesultanan Yogyakarta yang memiliki bakat yang mumpuni di bidang seni. Selain Beksan Etheng, beliau juga menciptakan tari Beksan Lawung Ageng, Beksan Lawung Alit, dan Beksan Sekar Madura. Beksan Etheng biasanya ditampilkan dalam prosesi resepsi pernikahan adat Jawa. Beksan Etheng memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dasar-dasar pandangan hidup negara dan masyarakat lewat media tari.[1]

Beksan Etheng dimainkan oleh para penari dalam tiga peran. Peran Botoh ditampilkan oleh empat penari. Sawung diperankan oleh empat penari dan empat penari lainnya memerankan Rencang Botoh. Dua belas penari ini diiringi oleh Gending Tawang Slendro Patet 9, irama ketawang dan Gending Kalaganjur.[2]

Lagon Slendro 9 mengawali prosesi tarian Beksan Etheng. Mula-mula masuk penari yang berperan sebagai Rencang Botoh, kemudian Botoh dan diikuti oleh empat orang yang berperan sebagai Sawung. Para penari duduk berderat sejajar, sebagian penari di sisi kanan dan sebagian lagi di sisi kiri. Dialog antara dalang dan botoh terdengar bersahutan mengiringi para penari.

Setiap penari berpakaian sesuai dengan perannya. Pemeran Botoh menggunakan penutup kepala ikat tepen berbentuk kodhok bineset, celana cindhe, kain motif kawung barong ageng, lonthong cindhe, kamus timang bludiran, krincing, bara, kaweng (selempang), kalung tanggalan, kelat bahu, keris gayaman, oren, dan buntal. Sedangkan pemeran Sawung mengenakan penutup kepala berbentuk lar (sayap burung) gurdha mungkur, celana cindhe, kain motif parang gendreh, lonthong cindhe, kamus timang, bara, kalung sungsun, kelat bahu, keris branggah, sumping, dan oren. Dan pemeran Rencang Botoh menggunakan busana khas Madura.[2]

Pesan moral

Lahirnya Beksan Etheng dilatarbelakangi adanya perubahan situasi masyarakat dari kondisi peperangan menuju suasana damai. Suasana transisi yang tak menentu tentunya membutuhkan pedoman untuk menghadapinya. Hal ini mendorong sang Sultan untuk membekali rakyatnya menghadapi situasi tersebut.

Rujukan

  1. ↑ Ratnawati; Dwiari, Lien (2018). Penetapan warisan budaya takbenda Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 197–198.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 "Beksan Etheng". Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. 5 Juli 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2020.

Pranala luar

Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan