Minggu, 18 Oktober 2026
03:44 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Tari Cerana

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:

Tari cerana merupakan tari selamat datang atau tarian penyambutan yang khas dari Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini biasanya diakhiri dengan menyajikan sirih dan pinang di dalam cerana sebagai simbol dari penerimaan masyarakt terhadap tamunya dengan hati yang tulus, bersih dan penuh kasih. Selanjutnya, tamu yang hadir akan mengunyah sirih dan pinang tersebut sebagai simbol tamu menyambut baik apa yang diberikan oleh masyarakat sehingga akan terjalin hubungan yang harmonis.[1] Tari Cerana diiringi oleh sesando dan nyanyian yang antara lain berbunyi "bolele bo tanah Tirnor lelebo" yang berarti "baik tidak baik, tanah Timor adalah lebih baik".[2]

Pakaian yang digunakan oleh para penari adalah pakaian adat. Penari wanita menggunakan kain sarung panjang yang membalut tubuh mereka dari dada sampai mata kaki, di bagian rambut penari biasanya di konde khas Kupang dan dihiasi dengan ikat kepala berbentuk bulan sabit. Selain itu, penari juga dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti gelang, kalung, serta sabuk yang berbentuk khas. Sedangkan penari pria menggunakan pakaian adat seperti baju lengan panjang, sarung, dan kain selempang yang khas dengan penutup kepala biasanya tergantung penari dari setiap daerah yang berbeda-beda. Ada penari yang menggunakan ada yang menggunakan ti’i langga atau kain ikat dan dilengkapi dengan kalung yang khas.[3] Tarian ini populer di beberapa daerah lain di sekitar NTT antara lain daerah Rote Ndao, Timor Tengah Utara (TTU), dan Timor Tengah Selatan (TTS).[1]

Perkembangan Tari Cerana

Awalnya tari Cerana digubah oleh Nyonya A. Nisnoni Amalo Jawa yang merupakan isteri bekas raja Kupang di tahun 1955. Sekarang tarian ini menjadi tari penyambutan yang paling digemari oleh masyarakat Timor. Di wilayah Timor, sirih dan pinang adalah tamu. penerimaan secara resmi bagi seorang tamu yang lebih tua. Sedangkan untuk tamu yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya, sirih dan pinang tersebut disampaikan oleh pihak tamu.[2]

Referensi

  1. 1 2 DJKI. "Tari Cerana | KI Komunal | DJKI". covid19.go.id. Diakses tanggal 2022-02-11.
  2. 1 2 Djamaludin;, SUDARSONO; Atjep. Tari-Tarian Indonesia I (dalam bahasa Indonesia). Proyek Pengembangan Media Kebudayaan.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  3. ↑ "Tari Cerana". Tribunnewswiki.com. Diakses tanggal 2022-02-11.
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan