Minggu, 25 Oktober 2026
08:07 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Tari Alusu

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:

Tari Alusu atau Sere Alusu Mabbite Arung Pigi adalah tari rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan. Tarian ini juga dinamakan Sere Alusu di daerah Bone dan Sere Laloso di daerah Bugis. Menurut kebiasan Bone, tari ini sudah ada sejak raja Tumanurung berkuasa pada abad ke-14M.[1][2]

Sejarah penamaan

Nama tarian ini diambil dari nama properti tari yang disebut lalosu. Lalosu merupakan alat yang berupa seruas bambu dan dibungkus dengan anyaman daun lontar. Ujungnya diberi semacam bentuk kepala ayam jantan, burung nuri atau alo (burung enggang), sedang pada ujung yang lain diberi semacam ekor unggas tersebut, dan badan lalosu itu dibungkus dengan kain warna merah atau kuning.[3]

Istilah ini juga berasa dari Bahasa Bugis lao-lisu, yang bermakna “pulang-pergi.” Nama ini diberikan karena properti tari ini digunakan dengan diayunkan ke kiri dan ke kanan, atau ke depan lalu menyamping. Istilah Sere Alosu sendiri berarti tarian yang lembut.[4]

Sejarah perkembangan

Di daerah Bone, tarian ini sudah dikenal sejak masa pemerintahan Raja Bone pertama, To Manurungnge ri Mattajang, yang berkuasa sekitar tahun 1326–1358. Masyarakat di daerah bekas kerajaan Bone juga mengenal tarian ini sebagai Tari Maloku.[4]

Dalam sejarah Bugis-Bone, gerakan seoaratis DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang dipimpin Kahar Muzakar pada 1960-an turut berdampak pada aktivitas Bissu, termasuk tariannya. Sere Alusu kemudian digarap ulang oleh Andi Nurhani Sapada dan Munasiah Najamuddin, menjadi versi tari Alusu yang dibawakan oleh perempuan. Tarian ini pertama kali dipentaskan oleh perempuan pada perayaan hari jadi Bone pada 1990-an, sebagai bagian dari pertunjukan Fragmen To Manurung. Saat itu, tari Alusu masih dalam bentuk sederhana dan belum memiliki gerakan yang lengkap.[5]

Memasuki 2000-an, tarian ini dipercayakan kepada Abdul Muin, koreografer di Kabupaten Bone, yang menyusunnya menjadi tari dengan struktur, pola lantai, dan aspek pendukung yang lebih jelas. Pada 2005, Andi Mappasissi (keturunan Raja Bone ke XXIX) bersama Andi Youshand mengusulkan tari Alusu untuk dijadikan tari penyambutan khas Bugis Bone. Untuk itu, Abdul Muin yang merupakan penari Bissu dipercaya untuk menggubah kreasi tari ini. Abdul Muin menyusun tari Alusu’ dengan teknik bertahap berdasarkan tingkat klimaks. Urutan gerakan dimulai dari Mappakaraja (penghormatan), dilanjutkan dengan Sere Alusu’ (gerakan halus), Sere Bibbi’ (jari-jari mencubit), Sere Mangkok (dua mangkuk), Sere Massampeang (ritual tolak bala), Sere Maloku (perempuan hamil), Sere Batita (hubungan manusia dengan pencipta), dan terakhir Sere Pabbitte (sabung ayam).[5]

Fungsi

Tari Alusu dimainkan oleh para bissu yaitu pendeta ada setempat yang bertugas melaksanakan upacara-upacara seperti misalnya pada waktu pelantkan raja, penerimaan tamu agung, upacara kelahiran, kematian, dan sebagainya.[6]

Makna tarian

Makna tarian Alusu terlihat dari gerakan-gerakan yang muncul saat menari. Gerakan-gerakan tari itu adalah:

  1. permohonan keselamatan pemerintah dan rakyat (Sere) ;
  2. melukiskan persatuan dan kesatuan rakyat dan pemerintah, saling memperingatkan demi kebaikan (gerakan: Sere Langko);
  3. keluwesan dan budi pekerti yang tinggi (gerakan: Sere Lemmak);
  4. semangat kepahlawan dan cinta tanah air (gerakan: Sere Patampa dan Sere Moloku).[7]

Komponen tari

Pola lantai

Pola lantai dalam tari Alusu’ disusun secara terstruktur dengan desain yang menyesuaikan jumlah penari. Bentuk yang digunakan meliputi lingkaran, melengkung, horizontal, dan vertikal yang semuanya tersusun simetris.[5]

Pemeran

Tari Alusu’ dahulu ditampilkan oleh bissu (lelaki yang berpakaian seperti perempuan). Namun seiring perkembangan, tari ini ditampilkan oleh penari perempuan dengan rentang usia remaja awal (12–18 tahun), remaja akhir (18–25 tahun), hingga dewasa maksimal 30 tahun. Jumlah penari ditetapkan genap, antara 4 hingga 12 orang.[5]

Busana

Penari tari Alusu’ menggunakan busana tradisional perempuan berupa baju bodo dan sarung sutera. Pada bagian tertentu masih terlihat pengaruh kostum Bissu, seperti sarung atau bawahan yang disebut rok duassusung, selendang segitiga pamoniang, serta senjata tradisional Bugis badiq yang dikenakan di pinggang.[5] Untuk aksesorinya berupa perhiasan-perhiasan seperti kalung, anting-anting, hiasan kepala, pinang goyang dan sebagainya.

Instrumen musik

Tarian ini diiring oleh alat berupa gendang dan gong.[5]

Referensi

  1. ↑ Ensiklopedi Tari Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1981. hlm. 17.
  2. ↑ "Proses Kreasi Tari Alusu' sebagai Tari Penyambutan di Kabupaten Bone". Catharsis. Diakses tanggal https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/catharsis/article/view/17033.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=; Tautan eksternal dalam |access-date=
  3. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-17. Diakses tanggal 2019-02-17.
  4. 1 2 Lathief, Halilintar; HL, Niniek Sumiani (2000). Tari Daerah Bugis (PDF). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 3 4 5 6 Imran, Fitrya Ali; Cahyono, Agus; Rohid, Tjetjep Rohendi (2017). "Proses Kreasi Tari Alusu sebagai Tari Penyambutan di Kabupaten Bone". Chatarsis. 6 (1): 65–73.
  6. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-17. Diakses tanggal 2019-02-17.
  7. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-17. Diakses tanggal 2019-02-17.
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan