Jumat, 30 Oktober 2026
13:31 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Sandur Manduro

Sandur Manduro

Bagikan:
250px-Sandur_Manduro.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sandur Manduro

Sandur Manduro atau Sandhur Manduro adalah salah satu jenis kesenian rakyat yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Seni pertunjukan ini berbentuk teater tradisional, yang di dalamnya terkandung berbagai kesenian lainnya, seperti seni musik, seni tari, seni rupa, teater, dan sastra.

Sandur Manduro memiliki arti yang unik. Kata Sandur berasal dari dua suku kata, yakni Beksan yang berarti menari, dan kata Ngedur berarti semalaman suntuk. Sehingga kata Sandur memiliki arti aktivitas menari yang dilakukan semalaman suntuk sebagai bentuk hiburan setelah seharian bekerja di ladang.[1]

Sandur Manduro menggunakan bahasa Madura dalam pementasannya. Kesenian ini dibawa oleh orang Madura yang pergi ke Jawa dan tinggal di bukit kapur yang kini dikenal dengan nama Desa Manduro.[2] Sandur Manduro memiliki enam unsur utama dalam pelaksanaannya, seperti di antaranya setting atau panggung, iringan musik. pencahayaan, kostum, topeng serta penonton. Adapun alat musik yang digunakan seperti kendang Jawa Timuran, ketipung kecil, gong bumbung dan slompret. Kostum yang digunakan dalam kesenian ini melambangkan bentuk bahasa komunikasi visual antara pemain dengan penonton.[3]

Kehidupan masyarakat Manduro cukup sederhana. Umumnya, mata pencaharian mereka adalah bertani. Kesenian yang awalnya hidup di tengah masyarakat beretnis Madura di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh ini, kemudian menyebar ke daerah sekitarnya. Lokasi persebaran Sandur Manduro adalah di Kabupaten Jombang. Awalnya, Sandur Manduro berfungsi sebagai ritual Ngudari Ujar yakni upacara spiritual yang dilakukan oleh masyarakat agraris. Namun, kini Sandur Manduro bergeser menjadi hiburan disebabkan menurunnya nilai sakral dan para pemain muda.[4]

Pertunjukan Sandur memuat beberapa tarian, antara lain, Tari Bapang, Tari Klana, Sapen, Punakawan, Panji, Jaranan, dan Gunungsari. Tarian Bapang dalam pementasan Sandur adalah tarian yang menggambarkan seorang tokoh dalam pewayangan bernama Dursasana. Maka itu, Tarian Bapang sering juga disebut sebagai Tari Dursasana.

Sandur Manduro meliputi beberapa struktur penting dalam pertunjukannya. Dimulai dengan pertunjukan pembuka untuk mengawali dimulainya Sandur Manduro. Selanjutnya masuk pada bagian inti yang di dalamnya berisikan teaterikal tarian menggunakan kostum lengkap dan topeng, lalu diiringi musik. Selama pertunjukan berlangsung, pemain melakukan interaksi dengan penonton yang merupakan bagian dari kesenian tersbeut.[5]

Sandur pernah mengalami masa kejayaan pada dekade 1970-an. Kondisinya sekarang hampir dikatakan terancam punah. Jika pada tahun 1970-an terdapat lima kelompok kesenian Sandur, kini tinggal satu kelompok yang masih bertahan, yakni Sandur Gaya Rukun yang dipimpin oleh Bapak Karlan. Walaupun demikian, Sandur Manduro ini mewarnai khazanah kesenian yang ada di Jawa Timur.

Sandur Manduro pada tahun 2017 ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang berasal dari Provinsi Jawa Timur.[6] Sandur Manduro sebagai salah satu kesenian memberikan representasi yang tidak terbatas di hiburan, melainkan sebagai wujud ]dari identitas budaya masyarakat Manduro yang agraris. Peryunjukan kesenian ini mengemas interaksi sosial di wilayah agraris sebagai ucapan rasa syukur terhadap panen dan media komunikasi antar rakyat.[7]

Referensi

  1. ↑ "Mengenal Sandur Bojonegoro Tuban, Hiburan Petani usai Seharian Kerja Pentasnya hingga Dini Hari". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). 2023-09-08. Diakses tanggal 2025-10-18.
  2. ↑ C.Y.I, NATUNIA EKNA; M.Ma, Dr. G. R. Lono L. Simatupang, (2015). "Sandur Manduro: Dinamika Seni Tradisi dan Identitas Etnik".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  3. ↑ Kaliwanovia, Tasi’awati Salsa (September 2022). "STRUKTUR PERTUNJUKAN SANDUR MANDURO LAKON LURAH KLEPEK DESA MANDURO, KEC. KABUH". JURNAL KREASI SENI DAN BUDAYA. 05 (01).{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Suwandi Widianto, Trinil Windrowati (Oktober 2022). "SANDUR MANDURO FROM RITUAL TO TOURISM ART". Terob. 13 (1).
  5. ↑ Kaliwanovia, Tasi’awati Salsa (September 2022). "STRUKTUR PERTUNJUKAN SANDUR MANDURO LAKON LURAH KLEPEK DESA MANDURO, KEC. KABUH". Jurnal Kreasi Seni dan Budaya. 05 (01).{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ FAKTUALNEWS.co (2017-10-28). "Kesenian Rakyat Sandur Manduro Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia - FAKTUALNEWS.co". FAKTUALNEWS.co. Diakses tanggal 2017-11-13.
  7. ↑ Rahmi Febriani, Rifki Diaz Erlangga (Juni 2022). "Discovering the Cultural Identity of Manduro People in Sandur Performing Arts". Lakon: Jurnal Kajian Sastra dan Budaya. 11 (01).
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan