Senin, 26 Oktober 2026
07:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Adhiṭṭhāna

Adhiṭṭhāna

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Viriya, Cetanā, Chanda, atau Adhimokkha.
Buddha
Buddharūpa yang merepresentasikan Sang Buddha.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Adhiṭṭhāna (Pali dari adhi, yang berarti "dasar" atau "awal" ditambah sthā yang berarti "berdiri"; Sanskerta: adhiṣṭhāna),[1][2][3] diterjemahkan sebagai tekad, kebulatan tekad, tekad kuat, determinasi, atau resolusi, adalah salah satu dari sepuluh paramita atau kesempurnaan (dasa pāramiyo), yang dicontohkan oleh tekad Bodhisatwa untuk mencapai kecerahan sepenuhnya.

Tripitaka Pali

Walaupun adhiṭṭhāna muncul secara sporadis dalam Kanon Pali awal, berbagai catatan kanonis akhir dan pasca-kanonis tentang kehidupan lampau Sang Buddha Gotama mengontekstualisasikan adhiṭṭhāna dalam sepuluh jenis paramita Theravāda.

Analisis Dīgha Nikāya

Dalam Tripitaka Pali, dalam suatu diskursus (sutta) Dīgha Nikāya yang berjudul "Mengulang Bersama" (Saṅgīti Sutta, DN 33), Sāriputta menyatakan bahwa Sang Buddha mengidentifikasi hal berikut ini:

Empat macam tekad (adhiṭṭhānī): [untuk memperoleh] (a) kebijaksanaan, (b) kebenaran (sacca), (c) pelepasan/kemurahan hati (cāga), (d) ketenangan (upasama).[4]

Bodhisatta Sumedho

Dalam kitab Buddhavaṁsa kanonis akhir, Bodhisatwa Sumedha menyatakan (ditulis dalam bahasa Indonesia dan Pali):

Dan seperti gunung, batu karang yang kokoh dan stabil,
tidak bergetar karena angin kencang, tetapi tetap berada di tempatnya sendiri,
maka kamu pun harus senantiasa mantap dalam tekad yang teguh;
dengan melanjutkan kesempurnaan Tekad Bulat, kamu akan mencapai Kecerahan-Diri.[5]
Yathā'pi pabbato selo acalo suppatiṭṭhito
Na kampati bhusavātehi sakaṭṭhāne'va tiṭṭhati.
Tathe'ca tvampi adhiṭṭhāne sabbadā acalo bhava
Adhiṭṭhānapāramiṃ gantvā sambodhiṃ pāpuṇissasi.
[6]

Temiya Sang Bijaksana

Dalam kitab Cariyāpiṭaka kanonis akhir, terdapat satu kisah yang secara eksplisit menggambarkan adhiṭṭhāna, yaitu kisah "Temiya Sang Bijaksana" (Cp III.6, Temiya paṇḍita cariyaṃ). Dalam kisah ini, di usia mudanya Temiya, pewaris tunggal takhta, mengingat kehidupan masa lalunya di neraka (niraya) dan memohon pembebasan (kadāhaṃ imaṃ muñcissaṃ). Sebagai jawabannya, sesosok devatā welas asih menasihati Temiya agar bertindak bodoh dan tidak cerdas serta membiarkan dirinya menjadi objek cemoohan orang-orang.[7] Memahami niat baik devatā, Temiya menyetujuinya dan bertindak seakan-akan bisu, tuli, dan lumpuh. Melihat perilaku tersebut, tetapi tidak menemukan dasar fisiologis untuk perilaku tersebut, para petapa, jenderal, dan orang-orang senegaranya mengecam Temiya sebagai "orang yang tidak beruntung" dan berencana untuk mengusir Temiya. Ketika Temiya berusia enam belas tahun, ia diurapi secara seremonial dan kemudian dikuburkan di sebuah lubang. Catatan tersebut menyimpulkan:

... Aku tidak mengingkari tekad bulat itu, yang demi Kecerahan (Nirwana) itu sendiri. Ibu dan ayah bukanlah orang yang tidak menyenangkan bagiku, dan diriku sendiri juga tidak membuatku tidak menyenangkan. Kemahatahuan [sabbaññuta] sangat berharga bagiku, oleh karena itu aku bertekad pada hal itu sendiri. Dengan tekad yang kuat pada faktor-faktor itulah saya hidup selama enam belas tahun. Tak ada seorang pun yang setara denganku dalam hal tekad yang teguh — inilah kesempurnaan Tekad Teguhku.[8]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Rhys Davids, T.W.; Stede, William, ed. (1921–25). "adhiṭṭhāna". The Pali Text Society's Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. hlm. 28. Sebagaimana dicatat lebih lanjut dalam Rhys Davids & Stede, dalam Tripitaka Pali, adhiṭṭhāna kadang kala dapat dimotivasi secara salah, yang menyiratkan “kekeraskepalaan,” sebagaimana ditunjukkan oleh frasa Pali adhiṭṭhāna-abhinivesa-anusayā, “kekeraskepalaan, prasangka dan bias” (hlm. 44, "anusaya").
  2. ↑ Goenka, S.N. (1995). The Discourse Summaries. Vipassana Research Publications. hlm. 72.
  3. ↑ The Minor Anthologies of the Pali Canon (Part III): 'Chronicle of Buddhas' (Buddhavamsa) and 'Basket of Conduct' (Cariyapitaka). Diterjemahkan oleh Horner, I.B. Oxford: Pali Text Society. 1975. passim. ISBN 0-86013-072-X.
  4. ↑ DN 33 1.11(27), terjemahan oleh Walshe (1995), hlm. 492, v. 27. Bahasa Pali yang diapit tanda kurung dan bahasa Inggris yang diapit tanda kurung siku ada dalam teks aslinya.
  5. ↑ Buddhavamsa IIA.154-5 (terj. Horner, "Buddhavaṁsa," hlm. 22).
  6. ↑ "Buddhavamsa". Bodhgaya News. II.153-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-19. Diakses tanggal 2008-08-20.
  7. ↑ Horner (2000), hlm. 36 n. 5, memberikan komentar: "Kings, having to be very harsh, accumulated much demerit leading to Niraya [alam kehidupan neraka]."
  8. ↑ Untuk kisah selengkapnya, lihat Horner (2000), hlm. 36-38. Kutipan terakhir diambil dari Horner (2000), hlm. 37-38, ayat 17-19.

Daftar pustaka

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah

Templat:Virtues

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan