Senin, 26 Oktober 2026
18:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Beksan Etheng

Beksan Etheng

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Februari 2023) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Beksan Etheng
lossy-page1-250px-KITLV_3929_-_Kassian_C%C3%A9phas_-_Dancers_from_the_sultan_of_Yogyakarta_perform_a_dance_called_Beksan_Eteng_-_Around_1885.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para penampil Beksan Etheng, dipotret oleh Kassian Cephas, 1885
GenrePerang
InstrumenGamelan
PenciptaHamengkubuwana I
TahunAbad ke-18
AsalDaerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Beksan Etheng adalah sebuah tarian yang berisi falsafah seni, budaya dan prinsip hidup manusia Jawa khususnya wilayah Yogyakarta sebagai ahli waris budaya Mataram. Tarian ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, seorang raja kesultanan Yogyakarta yang memiliki bakat yang mumpuni di bidang seni. Selain Beksan Etheng, beliau juga menciptakan tari Beksan Lawung Ageng, Beksan Lawung Alit, dan Beksan Sekar Madura. Beksan Etheng biasanya ditampilkan dalam prosesi resepsi pernikahan adat Jawa. Beksan Etheng memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dasar-dasar pandangan hidup negara dan masyarakat lewat media tari.[1]

Beksan Etheng dimainkan oleh para penari dalam tiga peran. Peran Botoh ditampilkan oleh empat penari. Sawung diperankan oleh empat penari dan empat penari lainnya memerankan Rencang Botoh. Dua belas penari ini diiringi oleh Gending Tawang Slendro Patet 9, irama ketawang dan Gending Kalaganjur.[2]

Lagon Slendro 9 mengawali prosesi tarian Beksan Etheng. Mula-mula masuk penari yang berperan sebagai Rencang Botoh, kemudian Botoh dan diikuti oleh empat orang yang berperan sebagai Sawung. Para penari duduk berderat sejajar, sebagian penari di sisi kanan dan sebagian lagi di sisi kiri. Dialog antara dalang dan botoh terdengar bersahutan mengiringi para penari.

Setiap penari berpakaian sesuai dengan perannya. Pemeran Botoh menggunakan penutup kepala ikat tepen berbentuk kodhok bineset, celana cindhe, kain motif kawung barong ageng, lonthong cindhe, kamus timang bludiran, krincing, bara, kaweng (selempang), kalung tanggalan, kelat bahu, keris gayaman, oren, dan buntal. Sedangkan pemeran Sawung mengenakan penutup kepala berbentuk lar (sayap burung) gurdha mungkur, celana cindhe, kain motif parang gendreh, lonthong cindhe, kamus timang, bara, kalung sungsun, kelat bahu, keris branggah, sumping, dan oren. Dan pemeran Rencang Botoh menggunakan busana khas Madura.[2]

Pesan moral

Lahirnya Beksan Etheng dilatarbelakangi adanya perubahan situasi masyarakat dari kondisi peperangan menuju suasana damai. Suasana transisi yang tak menentu tentunya membutuhkan pedoman untuk menghadapinya. Hal ini mendorong sang Sultan untuk membekali rakyatnya menghadapi situasi tersebut.

Rujukan

  1. ↑ Ratnawati; Dwiari, Lien (2018). Penetapan warisan budaya takbenda Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 197–198.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 "Beksan Etheng". Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. 5 Juli 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2020.

Pranala luar

Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan