Minggu, 20 September 2026
17:06 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Abdul Wahid Hasyim

Abdul Wahid Hasyim

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Abdul Wahid Hasyim"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(November 2022)
Abdul Wahid Hasyim
Portrait of Wahid Hasyim
Wahid Hasyim, ca1950-an
Menteri Agama Indonesia ke-1
Masa jabatan
30 September 1945 –14 November 1945
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada, jabatan baru
PenggantiRasjidi
Masa jabatan
20 Desember 1949 –6 September 1950
PendahuluMasjkur
PenggantiFakih Usman
Masa jabatan
6 September 1950 –27 April 1951
PresidenSoekarno
PendahuluFakih Usman
PenggantiFakih Usman
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulamake-5
Masa jabatan
1951–1953
PendahuluNahrawi Thohir
PenggantiMuhammad Dahlan
Informasi pribadi
Lahir(1914-06-01)1 Juni 1914
Meninggal19 April 1953(1953-04-19) (umur 38)
Cimahi, Jawa Barat, Indonesia
Sebab kematianKecelakaan lalu lintas
Suami/istri
Sholichah Munawwaroh
(m. 1938)
Anak6, termasuk Abdurrahman Wahid, Salahuddin Wahid, Lily Chodidjah Wahid, Hasyim Wahid
Orang tua

K.H. Abdul Wahid Hasyim (1 Juni 1914  19 April 1953) adalah Menteri Agama pertama dalam pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia, jabatan yang dipegangnya pada tahun 1945, dan dari tahun 1949 hingga 1952.

Ia adalah putra Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan kemudian memimpin organisasi tersebut.[1] Putranya, Abdurrahman Wahid, kemudian juga memegang jabatan yang sama di NU, dan kemudian terpilih sebagai Presiden ke-4 Indonesia pada tahun 1999.

Salah satu jalan utama di Jakarta Pusat, Jalan K.H. Wahid Hasyim, dinamai menurut namanya.

Riwayat Hidup

Pendidikan

250px-Wahid_Hasyim_when_he_was_12_years_old.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Abdul Wahid Hasyim saat berusia 12 tahun

Abdul Wahid Hasyim tidak menempuh pendidikan sekolah dasar di sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, yaitu Hollandsch-Inlandsche School. Ini terjadi karena ayahnya yaitu Hasyim Asy'ari, dikenal sebagai tokoh anti-sekolah yang didirikan oleh penjajah.[2]

Sejak kecil, Abdul Wahid Hasyim belajar di Madrasah Salafiyah di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia telah berhasil mengkhatamkan Al Quran di usia 7 tahun. Kemudian setelah lulus dari madrasah, ia diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adik dan santri-santri pesantren seusianya.[butuh rujukan]

Pada usia 13 tahun, ia belajar pendidikan Islam di Pondok Pesantren Siwalan Panji di Kabupaten Sidoarjo. Namun, ia hanya dapat bertahan selama sebulan. Ia kemudian pindah belajar ke Pondok Pesantren Lirboyo. Di pondok pesantren ini pun, ia hanya bertahan dalam waktu yang singkat. Akhirnya, pulang untuk belajar mandiri di rumahnya sendiri. Abdul Wahid Hasyim mempelajari bahasa Arab hingga mahir. Setelahnya ia mempelajari alfabet Latin sekaligus belajar bahasa Belanda dan bahasa Inggris.[3]

Pada tahun 1932 ia belajar di Makkah bersama sepupunya, Muchammad Ilyas, ialah yang mengajari Wahid dalam belajar Bahasa Arab hingga ia fasih berbahasa Arab. Sehingga ia menguasai tiga bahasa asing, yakni Arab, Inggris, dan Belanda.[4]

Peran dalam pendidikan Islam di Indonesia

Mendirikan sekolah

Selain keaktifannya dalam gerakan politik dan sumbangsihnya terhadap perjuangan melawan penjajah secara diplomatis, pada tahun 1944 ia mendirikan sebuah Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang saat itu pengasuh sekaligus pimpinannya dipegang oleh oleh KH. A. Kahar Moezakkir.[5]

Mengembangkan dunia pesantren

Wahid mengawali kiprah kemasyarakatannya pada usia relatif muda. Setelah menimba ilmu agama ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Mekah, pada usia 21 tahun Wahid membuat “gebrakan” baru dalam dunia pendidikan pada zamannya. Dengan semangat memajukan pesantren, Wahid memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama dengan pelajaran ilmu umum.[6] Sistem klasikal diubah menjadi sistem tutorial. Selain pelajaran Bahasa Arab, murid juga diajari Bahasa Inggris dan Belanda. Itulah madrasah nidzamiyah. Meskipun ayahandanya, Hadratush Syaikh Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama, butuh waktu beberapa tahun bagi Wahid Hasjim untuk menimbang berbagai hal sebelum akhirnya memutuskan aktif di NU. Pada usia 25 tahun Wahid bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), federasi organisasi massa dan partai Islam saat itu. Setahun kemudian Wahid menjadi ketua MIAI.[7][8]

Peran dalam kemerdekaan Indonesia

Anggota BPUPKI dan PPKI

Menjelang kemerdekaan tahun 1945 di usianya yang masih 30 tahun, ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Wahid Hasyim dengan segudang pemikiran tentang agama, negara, pendidikan, politik, kemasyarakatan, NU, dan pesantren, telah menjadi lapisan sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang tidak dapat tergantikan oleh siapapun.[9]

Penggagas sila "Ketuhanan Yang Maha Esa"

Rumusan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Pancasila sebagai pengganti dari bunyi rumusan "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasyim. Pada mulanya rumusan sila pertama tersebut ditolak oleh penduduk Indonesia yang beragama non-muslim, karena tidak hanya umat Islam saja yang ikut berperan dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia, tetapi dari berbagai pihak. Kemudian Wahid mengusulkan diubahnya sila pertama yang berbunyi "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Wahid memang dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif.[10]

Peran dalam perpolitikan Indonesia

Menteri Agama Republik Indonesia

Wahid Hasyim menjadi Menteri Negara Republik Indonesia periode 1945–1949.[11] Jabatan ini merupakan hasil penunjukan langsung oleh Presiden Soekarno.[butuh rujukan] Kemudian ia menjadi Menteri Agama selama tiga periode kabinet secara berurutan. Periode pertama yaitu Kabinet Hatta mulai pada 20 Desemnber 1949 hingga 6 September 1950. Periode kedua yaitu Kabinet Natsir sejak 6 September 1950 hingga 27 April 1951. Periode ketiga dalam Kabinet Sukiman mulai 27 April 1951 hingga 3 April 1952.[12]

Ketua Partai Masyumi

Pada tahun 1939, Nahdlatul Ulama menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam pada zaman pendudukan Belanda. Saat pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1943 ia ditunjuk menjadi Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi ia merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan.[13]

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-19 di Palembang pada tahun 1951, Wahid Hasyim terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan Rais 'Aam KH. A. Wahhab Hasbullah.[14]

Karya

  1. Artikel “Abdullah Ubaid Sebagai Pendidik”. Berisi tentang bagaimana sebaiknya mendidik anak dan pengamatannya terhadap Abdullah Ubaid dalam mendidik anak.
  2. Artikel “Kemadjuan Bahasa, Berarti Kemadjuan Bangsa”. Berisi tentang cara-cara menumbuhkan rasa kebangsaan dengan mendorong anak bangsa untuk menggunakan Bahasa Indonesia.
  3. “Nabi Muhammad dan Persaudaraan Manusia”. Merupakan pidatonya pada perayaan Maulid Nabi Muhammad di Istana Negara Jakarta, pada 2 Januari 1950.
  4. “Kebangkitan Dunia Islam”. Merupakan tulisannya di media Mimbar Agama edisi No. 3-4 Maret April 1951.
  5. “Beragamalah Dengan Sungguh dan Ingatlah Kebesaran Tuhan”. Merupakan semacam pidato untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri yang pada saat itu Indonesia masih berbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat).
  6. “Hari Raya Sebagai Ukuran Maju Mundur Umat”. Masuk dalam Berita Nahdlatul Ulama, No. 3, Th. Ke 7 Desember 1937, hlm 2-5.
  7. “Arti dan Isi al-Fatihah”. Masuk dalam Berita Nahdlatul Ulama, No. 14, Th. VII, 15 Mei 1938, hlm 1-3.
  8. “Islam Agama Fitrah (Dasar Manusia)”. Masuk dalam Suara Muslimin Indonesia, No. 7, Th. Ke II, April 1944, hlm 2-4.
  9. “Latihan Lapar adalah Kebahagiaan Hidup Perdamaian”. Masuk dalam Penyiaran Kementerian Agama No. 4, 1309, hlm 3-4.
  10. “Perkembangan Politik Masa Pendudukan Jepang dan Nota Politik". (November 1945).

Wafat

Abdul Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di jalan antara Cimindi (Cimahi) dan Bandung saat perjalanan menuju pertemuan Nahdlatul Ulama di Sumedang pada tanggal 18 April 1953. Kecelakaan tersebut terjadi karena mobil yang dikendarainya selip di jalan licin akibat hujan deras dan kabut tebal, sehingga menabrak bak belakang truk yang sedang berhenti di jalan tersebut.[15][16][17][18]

Penghargaan

Dalam budaya populer

Referensi

  1. National Information and Communication Agency 2001, p. 6
  2. Nurfadilah, A., Mulyana, A., dan Suwirta, A. (2020). "Peranan K.H. Abdul Wahid Hasyim dalam Pembaharuan Pendidikan Islam di Pesantren Tebuireng, Jombang, Indonesia, 1934-1953". INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. 5 (1): 23. ISSN 2443-2776.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  3. Umiarso dan Asnawan (2018). "KH. Abdul Wahid Hasyim Pembaru Pesantren: Dari Reformasi Kurikulum, Pengajaran hingga Pendidikan Islam Progresif" (PDF). Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. 13 (2): 393–394.
  4. Rohman, Baitur (2022-04-19). "Mengenang KH. Abdul Wahid Hasyim, Tokoh Cerdas dari Kalangan Santri". KOMPAS.tv. Diakses tanggal 2023-01-16.
  5. "Perjuangan Kiai Wahid Hasyim, Ayah Gus Dur". Tebuireng Initiatives. 2021-10-07. Diakses tanggal 2022-01-15.
  6. Sugendal, Zainuddin (2021-12-27). "Tebuireng di masa Kiai Wahid Hasyim". Tebuireng Initiatives. Diakses tanggal 2023-01-21.
  7. El-Rumi, Umiarso; Asnawan, Asnawan (2018-11-29). "KH. ABDUL WAHID HASYIM PEMBARU PESANTREN Dari Reformasi Kurikulum, Pengajaran hingga Pendidikan Islam Progresif". Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. 13 (2): 431–454. doi:10.21043/edukasia.v13i2.3960. ISSN 2502-3039.
  8. Kurohman, M. Taofik; Wahyuni, Anny; Purnomo, Budi (2021-11-29). "Analisis Kepemimpinan K.H Wahid Hasyim Terhadap Reformasi Pendidikan Pesantren". Chronologia (dalam bahasa Inggris). 3 (2): 10–18. doi:10.22236/jhe.v3i2.7569. ISSN 2686-0171.
  9. Abdurrahman, Syarif (2021-10-07). "Perjuangan Kiai Wahid Hasyim, Ayah Gus Dur". Tebuireng Initiatives. Diakses tanggal 2023-01-21.
  10. "KH Wahid Hasyim: Sebuah Kontribusi Kebangsaan NU Untuk Indonesia". nu.or.id. Diakses tanggal 2022-01-15.
  11. Syahriman, A., dan Mulyana, A. (2019). "Peranan KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Pemerintahan Indonesia Tahun 1945-1953". Factum. 8 (1): 16.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  12. Sa’adillah, Rangga (2015). "Pendidikan Karakter Menurut KH. Wahid Hasyim" (PDF). Jurnal Pendidikan Agama Islam. 3 (2): 280. ISSN 2089-1946.
  13. Indonesia, Tokoh. "Menteri Agama Tiga Kabinet | TOKOH INDONESIA | TokohIndonesia.com | Tokoh.id" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-01-16.
  14. Zamani, Nazhatuz (2014-04-10). "Pengasuh Tebuireng Periode Kedua KH. Abdul Wahid Hasyim (1947 – 1950) Bagian 2". Tebuireng Online. Diakses tanggal 2023-01-16.
  15. "Kisah kecelakaan maut dan kematian ulama besar KH Wahid Hasyim". merdeka.com. {publish_date}. Diakses tanggal 2025-11-25.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  16. INDONESIA, SUARA. "Gus Dur Saksi Sejarah Peristiwa Penyebab Wafatnya KH Abdul Wahid Hasyim, Begini ceritanya". SUARA INDONESIA. Diakses tanggal 2025-11-25.
  17. "Detik-detik Kematian Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim karena Kecelakaan di Cimahi 70 Tahun Lalu". Tempo. 2023-04-20. Diakses tanggal 2025-11-25.
  18. "19 April, Mengenang KH Abdul Wahid Hasyim". NU Online. Diakses tanggal 2025-11-25.
Jabatan politik
Posisi baru Menteri Negara Urusan Agama Indonesia
1945
Diteruskan oleh:
Rasjidi
Didahului oleh:
Masjkur
Menteri Agama Indonesia
1949–1952
Diteruskan oleh:
Fakih Usman
Keluarga
Kakek
Orang tua
K.H. Wahid Hasyim (ayah) dan Hj. Sholehah (ibu)
Pasangan dan saudara
Sinta Wahid (istri) · Salahuddin (adik) · Lily (adik) · Hasyim (adik)
Generasi ke-2
Alissa (anak) · Yenny (anak) · Dhohir Farisi (menantu) · Anita (anak) · Inayah (anak) · Halim (keponakan) · Imin (keponakan)  · Saiful (keponakan)  · Irfan Wahid (keponakan)
120px-President_Abdurrahman_Wahid_-_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masa pemerintahan
Didahului: B. J. Habibie
Digantikan: Megawati Soekarnoputri
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Indonesia Anggota BPUPKI
Cabang lainnya
Tokoh utama
Era klasik
Era Kebangkitan
Nasional
Pasca-
kemerdekaan
Organisasi
Negara
Masyarakat sipil
Partai politik
Laskar
Sejarah
Pra-
kemerdekaan
Pasca-
kemerdekaan
Daerah
Sumatra
Jawa
Nusa Tenggara
Kalimantan
Sulawesi
Maluku
Papua
Kebudayaan
Pendidikan
Gerakan
Lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan