Jumat, 16 Oktober 2026
00:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Boentaran Martoatmodjo

Boentaran Martoatmodjo

bapak palang merah Indonesia

Bagikan:
Boentaran Martoatmodjo
250px-Dr._Boentaran_Martoatmodjo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menteri Kesehatan Indonesiake-1
Masa jabatan
19 Agustus 1945 –14 November 1945
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada,Jabatan baru
PenggantiDarma Setiawan
Informasi pribadi
LahirMenteri Kesehatan
(1896-11-01)1 November 1896
Meninggal4 Oktober 1979(1979-10-04) (umur 82)
MakamMenteri Kesehatan
Suami/istriYM Aji Maryam Noerdin gelar Aji Raden Sarasvati
Anak5
Orang tua
  • Menteri Kesehatan
PendidikanUniversitas Leiden
PekerjaanMenteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Boentaran Martoatmodjo (11 Januari 1896 – 3 Oktober 1979) adalah dokter asal Jakarta. Ia pernah menjadi Menteri Kesehatan Indonesia yang pertama pada masa Kabinet Presidensial.[1]

Riwayat Hidup

Pendidikan

Boentaran Martoatmodjo menerima pendidikan dasar dan menengah di Jawa Tengah, dan kemudian mengenyam pendidikan tinggi Diploma di STOVIA di Batavia hingga tahun 1918. Hingga tahun 1928, Boentaran mengemban tugas sebagai dokter dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda, salah satunya adalah ikut menangani wabah kolera yang sedang terjadi di Kalimantan pada awal dekade 1920-an.[2] Boentaran kemudian mengikuti ekspedisi ke "Curah Brem-Brem" di Sungai Bulungan (Sungai Kayan) melalui Tanjung Selor, Kalimantan Utara.[3]

Pada tahun 1928, Boentaran mengenyam pendidikan lanjutan dalam bidang kedokteran di Universitas Leiden setelah mendapatkan beasiswa. Boentaran juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia dan berkenalan dengan beberapa anggota PI seperti Achmad Soebardjo, Iwa Koesoemasoemantri, dan Soekiman Wirjosandjojo. Setelah lulus dengan gelar Doctor in de Geneeskundig pada tahun 1931, Boentaran kembali ke Hindia dan melanjutkan kiprahnya dalam bidang kesehatan.

Aktivitas Sosial dan Politik

Pada akhir tahun 1935, Boentaran ikut mendirikan Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI) dan menjadi ketua pertama selama 5 tahun sejak pendiriannya pada 26 Desember 1935.[4]

Dalam masa pendudukan Jepang, Boentaran ditunjuk sebagai wakil ketua dari Chuo Sangi-In (terusan dari Volksraad) dan anggota dari organisasi pemuda pergerakan kemerdekaan Indonesia, Barisan Pelopor.[5] Boentaran juga kemudian ditunjuk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan pada tanggal 29 April 1945.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Boentaran ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan pertama dalam Kabinet Presidensial pada tanggal 19 Agustus 1945. Ia kemudian ikut membentuk Palang Merah Indonesia (PMI) pada tanggal 5 September 1945 atas perintah Presiden Soekarno, dengan Boentaran menjabat sebagai wakil ketua dan Mohammad Hatta menjabat sebagai ketua.

Pada 1946, Boentaran juga tercatat sebagai salah satu pendiri Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (yang kemudian menjadi Universitas Gadjah Mada) bersama saudaranya, Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, yang menjadi promotor.

Ia pernah menjabat sebagai anggota Seksi Kemasyarakatan Bappenas dalam periode 21 September - 18 November 1959.[6]

Kehidupan Pribadi

Boentaran Martoatmodjo merupakan keturunan keluarga priyayi di Karesidenan Bagelen, tepatnya dari Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen. Boentaran lalu menikah dengan seorang wanita bangsawan Kutai yang bernama Aji Maryam Noerdin dan dikaruniai 5 orang anak, salah satunya adalah Soekarni Catur Oetami Munandar, salah satu pakar psikologi Indonesia.

Salah satu saudaranya adalah Budhyarto Martoatmodjo yang merupakan advokat dan promotor BPT Gadjah Mada.

Referensi

Jabatan politik
Posisi baru Menteri Kesehatan Indonesia
1945
Diteruskan oleh:
Darma Setiawan
Indonesia Anggota BPUPKI


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi politikus Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan