Kamis, 01 Oktober 2026
18:53 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Pong Tiku

Pong Tiku

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
Pong Tiku
250px-Pong_Tiku.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sketsa Pong Tiku
Lahirca 1846
dekat Rantepao, Sulawesi
Meninggal10 Juli 1907(1907-07-10) (umur 60–61)
Tempat peristirahatan terakhir
Tondon, Tana Toraja
PekerjaanPemimpin gerilya
Masa aktif1880–1907

Pong Tiku (juga dieja Pontiku dan Pongtiku; ca 1846 – 10 Juli 1907), dikenal oleh sekutu Bugis-nya sebagai Ne' Baso, adalah seorang penguasa Toraja dan pejuang gerilya yang beroperasi di wilayah selatan Sulawesi.

Sebagai putra penguasa Pangala', Tiku merebut wilayah tetangganya, Baruppu', dan menjadi pemimpinnya, kemudian memimpin Pangala' setelah kematian ayahnya. Melalui pemanfaatan perdagangan kopi dan persekutuan dengan masyarakat Bugis di dataran rendah, Tiku berhasil mengumpulkan kekayaan besar, memperluas wilayah kekuasaan, dan memperkuat pengaruhnya. Semasa Perang Kopi (1889–1890), ibu kotanya di Tondon sempat dibumihanguskan oleh penguasa lain, tetapi berhasil direbut kembali pada hari yang sama. Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda yang berpusat di Jawa menginvasi Sulawesi pada awal 1900-an, Tiku bersama pasukannya memanfaatkan benteng-benteng pertahanan untuk bertahan dan melancarkan serangan balasan. Ia sempat tertangkap pada Oktober 1906, tetapi berhasil melarikan diri pada Januari 1907 dan terus bergerilya hingga Juni, sebelum akhirnya dieksekusi mati beberapa hari setelah ditangkap kembali.

Tiku merupakan salah satu pemimpin perlawanan yang paling gigih dan paling lama bertahan di Sulawesi, hingga Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz menganggapnya sebagai ancaman serius bagi stabilitas kekuasaan Belanda di kawasan tersebut dan mengutus langsung Gubernur Sulawesi untuk memimpin penangkapannya. Sepeninggalnya, Tiku diabadikan sebagai simbol perlawanan masyarakat Toraja. Setelah sekian lama dihormati di Sulawesi, ia secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2002.

Kehidupan awal dan meraih kekuasaan

Tiku lahir di dekat Rantepao di dataran tinggi Sulawesi (kini bagian dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan) pada tahun 1846.[1] Pada masa itu, wilayah selatan Sulawesi tengah mengalami masa keemasan perdagangan kopi dan dikuasai oleh sejumlah pemimpin perang lokal. Tiku merupakan anak bungsu dari enam bersaudara yang lahir dari salah satu penguasa tersebut; ayahnya adalah Siambo' Karaeng, penguasa Pangala', dan ibunya bernama Leb'ok. Semasa muda, Tiku memiliki ketangkasan fisik yang prima[2] serta bersahabat dengan para pedagang kopi yang singgah di desanya.[3]

Pada tahun 1880, perang meletus antara Pangala' dan Baruppu', wilayah tetangga yang dipimpin oleh Pasusu. Tiku berperan aktif dalam operasi militer tersebut. Setelah Pasusu dikalahkan, Tiku mengambil alih kepemimpinan dan menjadi penguasa Baruppu'.[3] Wilayah yang baru dianeksasi ini kaya akan lahan sawah serta memiliki bentang alam yang mudah dipertahankan, sehingga kian memperbesar kekuatan Tiku. Meskipun masyarakat Toraja secara tradisional menghargai tenaga manusia dan pantang membunuh lebih banyak orang dari yang diperlukan dalam perang, tradisi lisan Baruppu' menuturkan bahwa Tiku membantai kaum pria, perempuan, hingga anak-anak secara membabi buta.[4]

Tak lama berselang, sang ayah wafat dan Tiku naik menjadi pemimpin Pangala'. Sebagai penguasa, Tiku berupaya mendongkrak perekonomian melalui peningkatan volume perdagangan kopi serta merajut persekutuan strategis dengan kelompok-kelompok masyarakat Bugis di dataran rendah. Keberhasilan ekonomi ini membuat para penguasa di wilayah sekitarnya menaruh segan sekaligus merasa iri terhadap pencapaian Tiku.[5][6]

Perang Kopi dan perang saudara

Khawatir akan persaingan dari kerajaan Luwu dan Bone di utara serta Sidenreng dan Sawitto di selatan, Tiku berupaya memperkuat pertahanan wilayahnya. Kerajaan-kerajaan ini pada akhirnya menyepakati sejumlah perjanjian dagang.[5] Kendati demikian, manuver ekspansi pihak Bugis kembali memicu ketegangan, yang mencapai puncaknya dalam Perang Kopi pada tahun 1889. Dalam konflik ini, Tiku berpihak pada kerajaan-kerajaan selatan yang dipengaruhi budaya Bugis.[7]

Panglima perang Bone, Petta Panggawae, bersama pasukannya yang dikenal sebagai Songko' Borrong[a] menginvasi Pangala' dan bersekutu dengan penguasa lokal bernama Pong Maramba'. Panggawae berhasil merebut Tondon, ibu kota wilayah Tiku, lalu membumihanguskannya hingga memaksa Tiku dan penduduk setempat mengungsi. Tiku, yang bersekutu dengan pemimpin Sidenreng bernama Andi Guru, berhasil merebut kembali sisa-sisa ibu kotanya pada malam yang sama.[8] Perang tersebut berakhir pada tahun 1890[7] setelah pasukan perintis Belanda—yang mewakili pemerintah kolonial di Jawa—mencapai Bone. Meski demikian, wilayah-wilayah yang tersisa segera terlibat dalam rangkaian konflik baru memperebutkan perdagangan senjata api dan perdagangan budak, dengan skema pertukaran budak demi memperoleh senjata; Tiku turut terlibat dalam perniagaan ini.[9]

Tiku pada akhirnya merajut persekutuan dengan para pemimpin Bugis di sekitarnya, yang berhasil meredakan ketegangan dan memulihkan arus perdagangan.[10] Ia juga mempelajari aksara Lontara dan bahasa Bugis, yang memudahkannya berkorespondensi langsung dengan para bangsawan Bugis.[11] Pada masa ini, Tiku telah menaklukkan banyak wilayah baru.[12] Guna mencegah terulangnya peristiwa pembumihangusan Tondon, Tiku membangun tujuh benteng di wilayah kekuasaannya, lengkap dengan beberapa pos pengintaian dan lumbung perbekalan.[10] Benteng-benteng khas Toraja tersebut dirancang untuk menutup akses masuk ke lembah-lembah menuju pusat pemukiman penduduk, dan benteng milik Tiku tersebar di bagian timur serta barat wilayahnya.[13] Untuk membiayai sistem pertahanan ini, Tiku memberlakukan pajak: pemilik sawah diwajibkan menyetorkan dua pertiga hasil panen mereka, sementara petani lainnya dikenai pajak sebesar sepuluh persen.[12]

Gerak maju Belanda

Pada tahun 1905, wilayah-wilayah Bugis dan Toraja yang sebelumnya terpecah-belah telah terbagi menjadi empat kawasan utama, salah satunya berada di bawah kekuasaan Tiku.[14] Pada Juli tahun itu, Raja Gowa mulai menghimpun pasukan guna menghalau para penjajah dan mencegah sisa-sisa wilayah Toraja ditaklukkan. Ma'dika Bombing, seorang penguasa dari wilayah selatan, mendatangi Tiku untuk meminta bantuannya. Sebulan setelah para utusan disebar, para pemimpin berkumpul di Gowa untuk merumuskan rencana aksi. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa para penguasa lokal harus menghentikan pertikaian antarmereka dan memusatkan perlawanan terhadap Belanda yang memiliki kekuatan lebih unggul;[15] kendati demikian, konflik internal ini tidak sepenuhnya padam.[16] Menjelang pertemuan tersebut usai, pihak Belanda telah mulai merangsek ke Luwu. Tiku, yang bertugas mengalihkan pergerakan Belanda dari kota Rantepao yang sulit dipertahankan, mulai memperkuat pasukannya dan membenahi pertahanannya.[17][18]

Pada Januari 1906, Tiku mengirim mata-mata ke Sidenreng dan Sawitto yang tengah diinvasi Belanda guna mempelajari taktik tempur mereka. Ketika para mata-mata melaporkan keunggulan telak pasukan Belanda serta senjata mereka yang tampak memiliki "kekuatan gaib" saat membabat prajurit Bugis, ia memerintahkan seluruh garnisun bentengnya untuk meningkatkan kesiagaan dan mulai menimbun persediaan beras;[17][18] pada bulan yang sama, Luwu jatuh ke tangan Belanda, yang kemudian terus bergerak merangsek ke pedalaman. Pada Februari, prajurit Tiku yang diutus untuk memperkuat kerajaan-kerajaan selatan melaporkan bahwa struktur komando perlawanan di sana telah goyah dan kedua kerajaan tersebut kian terdesak oleh pasukan Eropa. Hal ini mendorong Tiku untuk melatih lebih banyak prajurit dan membentuk dewan militer beranggotakan sembilan orang, dengan dirinya sebagai pemimpin tertinggi.[19]

Pada Maret 1906, kerajaan-kerajaan lainnya telah takluk, menyisakan Tiku sebagai satu-satunya penguasa Toraja yang masih bertahan.[19] Pihak Belanda menduduki Rantepao tanpa perlawanan, tanpa menyadari bahwa penyerahan kota tersebut telah dirancang oleh Tiku. Melalui sepucuk surat, komandan Belanda Kapten Kilian menuntut Tiku untuk menyerah, sebuah ultimatum yang diabaikan oleh Tiku.[20] Menyadari besarnya konsentrasi pasukan dan banyaknya benteng pertahanan yang dimiliki Tiku, Kilian tidak melancarkan serangan langsung. Sebagai gantinya, pada April 1906 ia mengirimkan pasukan ekspedisi ke Tondon. Meskipun pergerakan pasukan tersebut awalnya tidak dihadang, setelah malam tiba pasukan Tiku menyerang perkemahan Belanda di Tondon. Serangan ini memaksa pasukan Belanda mundur kembali ke Rantepao di bawah kejaran pasukan Tiku, hingga menderita banyak korban di sepanjang perjalanan.[21]

Taktik militer Tiku berakar dari pengalaman tempur yang ia peroleh selama berperang melawan para penguasa lokal sebelumnya.[22] Sebaliknya, pihak Belanda beserta pasukan pribumi campurannya[b] memandang remeh kekuatan Tiku serta kewalahan menghadapi udara dingin di wilayah dataran tinggi tersebut.[23]

Perlawanan awal

Kegagalan ekspedisi militer tersebut memicu perang terbuka antara pasukan Belanda dan Tiku, yang kemudian memusatkan pertahanannya di benteng Buntu Batu. Tiku menempatkan mata-mata untuk memantau pergerakan pasukan Belanda di Rantepao. Pada 22 Juni, para mata-mata melaporkan bahwa malam sebelumnya satu batalion Belanda yang beranggotakan sekitar 250 serdadu dan 500 kuli angkut telah bergerak ke arah selatan menuju benteng Tiku di Lali' Londong. Tiku memerintahkan penyabotasean jalur lintasan, yang memperpanjang waktu tempuh pasukan Belanda dari semula satu hari menjadi lima hari. Pada malam 26 Juni, pasukan Tiku melancarkan serangan mendadak ke perkemahan Belanda di luar Lali' Londong; pihak Belanda yang tidak bersiap dibuat kocar-kacir, kendati tidak ada korban jiwa dalam bentrokan ini. Keesokan paginya, pasukan Belanda mulai mengepung Lali' Londong[24] dengan menggunakan tangga dan granat tangan. Akibat ketidaksiapan menghadapi lemparan granat—senjata yang sebelumnya tidak pernah digunakan Belanda saat melawan penguasa lokal lainnya—benteng tersebut berhasil direbut pada sore harinya.[25][23]

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Studioportret_van_Luitenant-Generaal_J.B._van_Heutsz_TMnr_60039070.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz memerintahkan Gubernur Sulawesi untuk menangkap Tiku secara langsung karena aksi gerilyanya dianggap mencoreng wibawa Belanda.

Kekalahan ini mendorong Tiku untuk memperkuat persenjataan dan pertahanan pasukannya.[26] Pasukan Toraja dipersenjatai dengan senapan, tombak, batu gelinding, pedang, serta air perasan cabai[27] yang disemburkan ke mata musuh menggunakan alat tiup yang disebut tirik lada (sumpit) untuk membutakan lawan. Tiku sendiri bersenjatakan senapan Portugis, tombak, dan labo (parang khas Toraja). Ia mengenakan baju zirah pelindung, sepu (penutup selangkangan), dan songkok berhiaskan tanduk kerbau, serta membawa perisai berukir. Bersama pasukannya, Tiku menggali lubang-lubang jebakan berisi ranjau bambu runcing di sepanjang jalur pasokan logistik Belanda, sehingga serdadu musuh yang melewatinya akan terperosok dan tertusuk.[1][28] Kendati demikian, siasat ini belum cukup untuk membendung gerak maju Belanda. Pada 17 Oktober 1906, dua benteng pertahanan lainnya, Bamba Puang dan Kotu, akhirnya jatuh[29] setelah sempat berkali-kali mematahkan serangan Belanda sejak bulan Juni.[30] Karena perlawanan Tiku berlangsung lebih lama daripada pertempuran lainnya di Sulawesi dan dinilai meruntuhkan wibawa pemerintah kolonial, Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz mengutus Gubernur Sulawesi H.N.A. Swart untuk memimpin penyerangan secara langsung.[23]

Setelah pengepungan yang berkepanjangan, Andi Guru bersama mantan bawahan Tiku, Tandi Bunna'—yang saat itu telah membelot ke pihak Belanda—mendatangi Tiku pada 26 Oktober untuk menawarkan gencatan senjata. Meski awalnya menolak, Tiku akhirnya luluh setelah didesak warga sipil yang mengingatkannya bahwa jenazah ibunya—yang wafat selama masa pengepungan—harus segera dimakamkan secara layak.[31] Setelah kedua belah pihak berbaur secara damai selama tiga hari, pada malam 30 Oktober pasukan Belanda mengambil alih benteng secara sepihak, menyita seluruh persenjataan, dan menangkap Tiku. Ia bersama pasukannya kemudian digiring ke Tondon.[32]

Perlawanan lanjutan dan kematian

Di Tondon, Tiku mulai mempersiapkan upacara pemakaman ibunya, yang dalam tradisi masyarakat Toraja membutuhkan waktu berbulan-bulan. Di sela-sela persiapan tersebut, ia mengutus seorang penasihat untuk menghimpun senjata secara rahasia, sementara utusan lainnya dikirim ke benteng-bentengnya di Alla' dan Ambeso.[33] Tiku kemudian menyusun rencana pelarian dari tahanan Belanda. Ia juga mengembalikan seluruh harta benda yang pernah ia sita selama berkuasa, menyadari bahwa ia tidak akan membutuhkannya lagi. Selama berada di Tondon, serdadu Belanda dilaporkan sempat memperlakukan pemimpin Toraja tersebut secara semena-mena.[31] Pada malam sebelum upacara pemakaman ibunya dilangsungkan pada Januari 1907, Tiku bersama 300 pengikutnya melarikan diri dari Tondon menuju ke arah selatan.[34]

Setelah mengetahui bahwa pihak Belanda membuntutinya, Tiku memerintahkan sebagian besar pengikutnya kembali ke Tondon, sementara ia bersama rombongan kecil beranggotakan 15 orang, termasuk dua istrinya, terus bergerak ke selatan.[35] Mereka awalnya tiba di Ambeso, tetapi benteng pertahanan di sana jatuh beberapa hari kemudian, memaksa mereka mengungsi ke Alla'. Benteng Alla' pun jatuh pada akhir Maret 1907, hingga Tiku berupaya kembali ke Tondon dengan menyusuri hutan lebat. Ia bersama para pemimpin lainnya, baik dari kalangan Bugis maupun Toraja, terus diburu oleh pasukan Belanda.[36] Para pemimpin lainnya akhirnya menyerah kepada Belanda dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara di Makassar atau diasingkan ke Buton.[37] Sementara itu, Tiku tetap bertahan dan bergerilya di dalam hutan.[38]

Pada 30 Juni 1907, Tiku dan dua anak buahnya tertangkap oleh pasukan Belanda; ia merupakan pemimpin gerilya terakhir yang berhasil diringkus. Setelah ditahan selama beberapa hari,[39] pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak mati oleh serdadu Belanda di tepi Sungai Sa'dan; sejumlah sumber menyebutkan bahwa ia ditembak saat sedang mandi.[27] Jenazahnya dimakamkan bersama keluarganya di Tondon, sementara sepupunya, Tandibua', diangkat menjadi penguasa pribumi Pangala' di bawah kendali pemerintah Belanda.[40]

Warisan

Sepeninggal Tiku, pemerintah kolonial berharap sosoknya akan segera dilupakan, tetapi harapan tersebut tidak terwujud;[27] Tandibua' melancarkan pemberontakan pada tahun 1917, dan berbagai perlawanan lokal lainnya bermunculan di sejumlah wilayah Sulawesi hingga Belanda hengkang menyusul pendudukan Jepang.[40] Selama masa pendudukan tersebut, tentara Jepang memanfaatkan ketokohan Tiku sebagai simbol perlawanan masyarakat Toraja terhadap agresi kolonial guna menyatukan rakyat menentang bangsa Eropa. Kendati demikian, narasi ini ditanggapi dingin di wilayah-wilayah yang pernah ditaklukkannya seperti Baruppu'[41] dan Sesean, tempat Tiku lebih dikenang sebagai sosok yang membantai pria demi merebut istri-istri mereka.[42]

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menetapkan Tiku sebagai pahlawan daerah pada tahun 1964,[28] dan pada tahun 1970 sebuah monumen peringatan didirikan untuknya di tepi Sungai Sa'dan.[27] Tiku kemudian secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 073/TK/2002 pada 6 November 2002.[43] Setiap tanggal peringatan gugurnya Tiku, upacara penghormatan rutin digelar di ibu kota provinsi di Makassar.[27] Selain diabadikan sebagai nama sejumlah ruas jalan, namanya juga disematkan pada Bandar Udara Pongtiku di Tana Toraja.[44]

Catatan

  1. ↑ Dinamai berdasarkan penutup kepala mereka yang berwarna merah. Dalam bahasa setempat, songko' berarti topi atau songkok, sedangkan borrong berarti merah.
  2. ↑ Pasukan pribumi tersebut utamanya terdiri atas serdadu wajib militer dari suku Ambon, Batak, Jawa, dan Timor.[23]

Referensi

Catatan kaki
  1. 1 2 Draeger 1992, hlm. 218.
  2. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 1.
  3. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 2.
  4. ↑ Bigalke 2005, hlm. 43.
  5. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 3.
  6. ↑ Bigalke 2005, hlm. 27.
  7. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 4–5.
  8. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 6.
  9. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 7.
  10. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 8–9.
  11. ↑ Bigalke 2005, hlm. 34–35.
  12. 1 2 Bigalke 2005, hlm. 44.
  13. ↑ Bigalke 2005, hlm. 57.
  14. ↑ Bigalke 2005, hlm. 51.
  15. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 10–13.
  16. ↑ Bigalke 2005, hlm. 53–54.
  17. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 14.
  18. 1 2 Bigalke 2005, hlm. 52.
  19. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 16-17.
  20. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 18.
  21. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 19–20.
  22. ↑ Bigalke 2005, hlm. 56.
  23. 1 2 3 4 Bigalke 2005, hlm. 58.
  24. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 21–26.
  25. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 27–28.
  26. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 32.
  27. 1 2 3 4 5 Adams 2006, hlm. 143.
  28. 1 2 Friend 2003, hlm. 352.
  29. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 30.
  30. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 33–36.
  31. 1 2 Bigalke 2005, hlm. 60.
  32. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 47–50.
  33. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 51–52.
  34. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 54–55.
  35. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 56.
  36. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 60–61.
  37. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 62.
  38. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 63.
  39. ↑ Tangdilintin 1976, hlm. 64.
  40. 1 2 Tangdilintin 1976, hlm. 65–66.
  41. ↑ Bigalke 2005, hlm. 199.
  42. ↑ Volkman 1985, hlm. 27.
  43. ↑ Indonesian Social Ministry, Daftar Nama Pahlawan.
  44. ↑ Volkman 1985, hlm. 166.
Daftar pustaka
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan