| Laksamana Malahayati | |
|---|---|
Lukisan Laksamana Malahayati | |
| Nama asli | Keumalahayati |
| Lahir | ca 1550[1] Aceh Besar, Kesultanan Aceh |
| Meninggal | ca 1615[1] Kesultanan Aceh |
| Dikebumikan | Lamreh, Mesjid Raya, Aceh Besar, Aceh (5°35′28.9″N 95°31′40.3″E / 5.591361°N 95.527861°E / 5.591361; 95.527861) |
| Pengabdian | Kesultanan Aceh |
| Dinas/cabang | Angkatan Laut Kesultanan Aceh |
| Pangkat | Laksamana |
| Kesatuan | Inong Balee |
| Komandan |
|
| Perang dan pertempuran | |
| Penghargaan | Pahlawan Nasional Indonesia Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017, 6 November 2017[8] |
| Peringatan |
|
| Pasangan |
|
| Jabatan di Kesultanan Aceh | |
| Jabatan utama | Panglima Armada Inong Balee |
| Penguasa | Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil |
| Masa jabatan | Akhir abad ke-16 |
| Markas | Lamreh–Krueng Raya, Aceh Besar |
| Kekuatan | Sekitar 1.000–2.000 anggota menurut historiografi modern[4][2] |
| Jabatan istana | |
| Jabatan | Komandan Protokol Istana Darud-Dunia |
| Penguasa | Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil |
| Periode | Masa pemerintahan al-Mukammil (1589–1604)[4] |
| Jabatan lain yang dinisbatkan | |
| Istana | Kepala Barisan Pengawal Istana; Panglima/Jawatan Rahasia |
| Militer | Panglima Armada V (versi Adi Pewara) |
Keumalahayati, lebih dikenal sebagai Malahayati, adalah tokoh perempuan Kesultanan Aceh yang dalam historiografi Indonesia dikenal sebagai laksamana dan panglima angkatan laut pada masa pemerintahan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1589–1604). Literatur Indonesia umumnya menempatkan masa hidupnya pada sekitar 1550–1615, meskipun tanggal kelahiran dan kematiannya tidak diketahui secara pasti dari sumber sezaman.[4][1]
Salah satu bukti sezaman mengenai keberadaan seorang perempuan yang menduduki jabatan laksamana di Aceh berasal dari navigator Inggris John Davis, yang berada di Aceh bersama armada Belanda pada 1599. Dalam catatan perjalanannya Davis menyebut bahwa salah seorang perempuan di lingkungan Sultan Aceh menjabat sebagai laksamana. Ia tidak menyebut nama perempuan tersebut.[7][10]
Dalam historiografi Aceh modern, Malahayati dikaitkan dengan pembentukan pasukan perempuan Inong Balee, yang disebut terdiri terutama atas janda-janda prajurit Aceh yang gugur melawan Portugis. Salah seorang yang disebut gugur adalah suaminya, yang dalam sejumlah publikasi Indonesia kemudian dikenal sebagai Laksamana Zainal Abidin.[5] Tradisi biografis tersebut menghubungkan kematian suaminya dengan pertempuran laut Aceh–Portugis di Teluk Haru dan pembentukan Inong Balee sesudahnya.[4]
Nama Malahayati juga dikaitkan dengan konflik antara Aceh dan ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman pada 1599. Cornelis terbunuh dalam pertempuran di Aceh, sedangkan saudaranya, Frederick de Houtman, ditawan selama lebih dari dua tahun.[6] Cerita bahwa Cornelis tewas dalam duel langsung dengan Malahayati berkembang dalam historiografi Indonesia pada abad ke-20, tetapi tidak disebutkan dalam laporan John Davis maupun Frederik de Houtman yang diketahui.[10]
Pemerintah Indonesia menetapkan Malahayati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.[8] Pada 2023, Sidang Umum UNESCO ke-42 menyetujui pengasosiasian UNESCO dengan peringatan 475 tahun kelahirannya pada 2025.[1]
Nama
Nama tokoh ini ditulis dalam berbagai bentuk, antara lain Keumalahayati, Keumala Hayati, Malahayati, dan Hayati. Dalam literatur Aceh modern, unsur keumala dihubungkan dengan kata kemala, yaitu batu berharga atau permata, sedangkan hayati dikaitkan dengan kata Arab ḥayāt yang berarti "kehidupan".[4]
Solichin Salam mencatat bahwa bentuk Keumalahayati kemudian lebih sering disingkat menjadi Malahayati atau Hayati dalam penuturan mengenai tokoh tersebut.[4]
Latar belakang sejarah
Malahayati ditempatkan dalam sejarah Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil. Sultan tersebut naik takhta pada 1589 dan memerintah sampai 1604. Pada masa pemerintahannya, Aceh merupakan salah satu kerajaan pelabuhan utama di bagian utara Sumatra dan terlibat dalam jaringan perdagangan Samudra Hindia dan Selat Malaka.[6]
Sejak jatuhnya Melaka ke tangan Portugis pada 1511, hubungan antara Aceh dan Portugis ditandai oleh persaingan atas jalur perdagangan dan beberapa peperangan. Penguasa-penguasa Aceh berusaha mengembangkan angkatan laut, memperluas pengaruh ke pantai timur Sumatra dan Semenanjung Malaya, serta membangun hubungan dengan kekuatan-kekuatan Muslim lain di Samudra Hindia.
Aceh juga menjalin hubungan dengan Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-16. Bantuan militer dan teknis dari dunia Utsmaniyah, termasuk persenjataan dan tenaga ahli, disebut dalam sumber-sumber mengenai hubungan Aceh dengan Turki. Dalam historiografi Aceh modern, hubungan tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan pendidikan dan teknologi militer di Aceh.[4]
Kedatangan pedagang Belanda dan Inggris pada penghujung abad ke-16 menambah kelompok kekuatan Eropa yang berusaha memperoleh akses langsung terhadap perdagangan lada Aceh. Cornelis dan Frederik de Houtman tiba pada 1599, sedangkan ekspedisi Perusahaan Hindia Timur Britania Raya di bawah James Lancaster tiba pada 1602.[6]
Keluarga dan silsilah
Dalam karya-karya biografis Indonesia, Malahayati disebut berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki hubungan dengan dinasti Kesultanan Aceh. Rusdi Sufi dan Solichin Salam menyebut ayahnya sebagai Laksamana Mahmud Syah dan kakeknya dari garis ayah sebagai Laksamana Muhammad Said Syah. Muhammad Said Syah disebut sebagai putra Sultan Salahuddin, penguasa Aceh pada dekade 1530-an, dan cucu Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh.[11][4]
Menurut Salam, silsilah tersebut dikaitkan dengan sebuah manuskrip bertarikh 1254 H yang pada saat penulisannya disebut tersimpan di Universiti Kebangsaan Malaysia.[4] Identifikasi dan isi lengkap manuskrip tersebut belum banyak dibahas dalam kajian sumber primer mengenai Malahayati.
Tahun kelahirannya juga tidak diketahui dengan pasti. Salam menyatakan bahwa tahun kelahiran dan wafat Malahayati tidak diketahui dari catatan yang tersedia kepadanya.[4] Angka 1550 kemudian banyak dipakai dalam biografi, publikasi pemerintah, dan peringatan resmi di Indonesia.[1]
Pendidikan
Biografi Malahayati yang berkembang pada abad ke-20 menyebut bahwa ia memperoleh pendidikan di lingkungan istana sebelum mengikuti pendidikan militer di sebuah lembaga yang disebut Ma'had Baitul Makdis atau Baitul Maqdis.[4][12]
Dalam versi tersebut, lembaga itu didirikan setelah Aceh menerima bantuan militer Utsmaniyah pada paruh kedua abad ke-16. Pendidikan dibagi menjadi bidang darat dan laut, dengan sejumlah perwira atau tenaga militer Turki bertindak sebagai pengajar. Malahayati disebut memilih pendidikan angkatan laut.[4]
Salam menempatkan Ma'had Baitul Makdis di sekitar Bitai atau Bitay, dekat Banda Aceh, dan menghubungkan pembentukannya dengan kedatangan bantuan Utsmaniyah setelah 1567.[4] Rincian mengenai pendidikan pribadi Malahayati di lembaga tersebut tidak terdapat dalam catatan John Davis atau laporan Belanda dari 1599 dan dikenal terutama melalui literatur biografis Aceh modern.[10]
Perkawinan dan identitas suami
Sumber-sumber modern memberikan keterangan yang berbeda mengenai identitas suami Malahayati. Tidak ada sumber sezaman yang sejauh ini diketahui menyebut nama suaminya. Oleh sebab itu, beberapa nama yang muncul dalam karya-karya mengenai Malahayati tidak dapat dipastikan merujuk kepada tokoh yang sama.[10]
Dalam kata pengantar A. Hasjmy untuk buku Malahayati: Srikandi dari Aceh karya Solichin Salam, Malahayati disebut menikah dengan seorang perwira muda yang kemudian ditugaskan memimpin armada Aceh di Selat Malaka. Namun, nama perwira tersebut tidak disebutkan dalam keterangan itu.[4] Salam sendiri menyatakan bahwa nama suami Malahayati belum diketahui secara pasti.[4]
Laksamana Muda Ibrahim
Salah satu versi menyebut suami Malahayati sebagai Laksamana Muda Ibrahim. Nama tersebut terdapat dalam buku Adi Pewara, Malahayati: Singa Betina dari Aceh, yang terbit pada 1991.[3]
Menurut Pewara, Ibrahim merupakan salah seorang perwira bawahan Laksamana Mahmud Syah, ayah Malahayati. Ia disebut pernah ikut memperkuat armada Aceh dalam peperangan melawan Portugis di Melaka. Setelah menikah dengan Malahayati, Ibrahim diangkat menjadi Panglima Armada V Kesultanan Aceh dan ditempatkan di Pulau Rupat.[3]
Dalam versi tersebut, Malahayati mengikuti suaminya selama penugasannya. Ketika kapal-kapal Aceh berpatroli di sekitar Pulau Alang Besar, mereka menemukan kapal pedagang Banten yang sebelumnya diserang dan dirampas oleh Portugis. Ibrahim kemudian memimpin pengejaran dengan kapal komando bernama Kuta Alam.[3]
Enam kapal Portugis akhirnya ditemukan di sekitar Tanjung Parit. Ketika kapal Portugis menolak pemeriksaan, terjadi pertempuran laut. Ibrahim memimpin pertempuran dengan dibantu Malahayati, tetapi terkena tembakan meriam Portugis dan gugur di atas kapal Kuta Alam.[3]
Pewara menceritakan bahwa Malahayati tidak segera mengumumkan kematian suaminya karena khawatir akan menurunkan moral pasukan. Ia kemudian mengambil alih komando pertempuran. Dalam narasi tersebut, tiga kapal Portugis ditenggelamkan, dua ditawan, dan satu berhasil meloloskan diri. Seusai pertempuran, Sultan Aceh memberikan penghargaan kepada Malahayati dan menyampaikan belasungkawa atas kematian Ibrahim.[3]
Nama Ibrahim juga dicatat dalam kajian sejarah mengenai hubungan militer Aceh dengan Kesultanan Utsmaniyah. Lukman Hakim, dengan merujuk Malahayati: Srikandi dari Aceh dan karya Adi Pewara, menyatakan bahwa Malahayati menikah dengan seorang perwira muda yang kemudian menjadi laksamana armada Selat Malaka dan bahwa dalam karya Pewara perwira tersebut bernama Laksamana Muda Ibrahim.[13]
Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief
Versi lain menggunakan nama Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief—juga ditulis Mahmudin bin Said Al Latief—sebagai suami Malahayati. Nama ini dikenal terutama melalui novel sejarah Perempuan Keumala karya Endang Moerdopo, yang pertama kali diterbitkan pada 2008 dan kemudian diterbitkan kembali dengan judul Laksamana Malahayati: Sang Perempuan Keumala.[9]
Dalam cerita Moerdopo, Mahmuddin merupakan taruna senior di akademi militer Mahad Baitul Maqdis ketika bertemu dengan Malahayati. Keduanya menikah setelah menyelesaikan pendidikan. Mahmuddin kemudian menjadi Panglima Armada Selat Malaka, sedangkan Malahayati disebut menjabat sebagai Komandan Protokol Istana.[9]
Mahmuddin dalam novel tersebut diceritakan gugur ketika memimpin pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru. Kematian suaminya kemudian menjadi salah satu latar pembentukan pasukan Inong Balee dan pengangkatan Malahayati sebagai pemimpin armada Selat Malaka.[9]
Karena Perempuan Keumala merupakan karya fiksi sejarah, keterangan tentang Mahmuddin bin Said al-Latief merupakan bagian dari representasi sastra mengenai Malahayati dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa nama tersebut merupakan nama historis suaminya.
Laksamana Zainal Abidin
Nama lain yang banyak digunakan dalam publikasi Indonesia adalah Laksamana Zainal Abidin. Dalam Haba No. 85 yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh pada 2017, Hasbullah menyebut Zainal Abidin sebagai suami Malahayati yang gugur ketika pasukan Aceh mengusir Portugis di Selat Malaka, tepatnya di Teluk Haru.[5]
Versi Zainal Abidin kemudian digunakan dalam sejumlah publikasi pemerintah, media, dan tulisan mengenai Malahayati. Dalam versi tersebut, kematian Zainal Abidin dan prajurit-prajurit Aceh lainnya di Teluk Haru menjadi latar pembentukan Inong Balee yang beranggotakan para janda prajurit.[5]
Sebagian tulisan populer menggabungkan kedua tradisi tersebut dengan menyebut suami Malahayati sebagai Laksamana Muda Ibrahim Zainal Abidin. Namun, belum ditemukan sumber sezaman atau kajian sejarah yang menunjukkan bahwa Ibrahim dan Zainal Abidin merupakan dua unsur nama dari orang yang sama. Karena itu, bentuk gabungan tersebut tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan perbedaan penamaan dalam sumber-sumber modern.
Jabatan di istana
Sebelum dikenal sebagai panglima angkatan laut, Malahayati dalam tulisan Rusdi Sufi, A. Hasjmy, dan Solichin Salam disebut pernah menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia pada masa Alauddin Riayat Syah al-Mukammil.[11][4]
Jabatan tersebut digambarkan berkaitan dengan pengaturan protokol di lingkungan istana dan pengamanan penguasa. Dalam periode yang sama, sumber-sumber historiografi Aceh juga menyebut seorang perempuan bernama Cut Limpah sebagai pemimpin dewan rahasia atau bagian intelijen istana.[11]
Catatan John Davis memberikan gambaran yang lebih umum mengenai kedudukan perempuan di sekitar sultan. Ia mencatat bahwa perempuan termasuk dalam lingkungan penasihat penguasa dan bahwa seorang perempuan menduduki jabatan laksamana.[7] Keterangan tersebut merupakan salah satu sumber sezaman terpenting dalam pembahasan mengenai laksamana perempuan Aceh pada akhir abad ke-16.
Kematian suami dan peperangan melawan Portugis
Kematian suami Malahayati merupakan salah satu peristiwa yang paling sering dihubungkan dengan awal karier militernya, tetapi lokasi pertempuran, nama suaminya, dan rincian peristiwa berbeda menurut sumber yang digunakan.
Versi Tanjung Parit
Dalam karya Adi Pewara, suami Malahayati adalah Laksamana Muda Ibrahim. Ia disebut menjabat sebagai Panglima Armada V Kesultanan Aceh dan berpangkalan di Pulau Rupat.[3]
Menurut cerita tersebut, sebuah patroli Aceh menemukan dua kapal pedagang Banten di sekitar Pulau Alang Besar. Para pedagang melaporkan bahwa beberapa kapal mereka diserang Portugis dan muatan rempah-rempah dirampas. Armada Aceh kemudian melakukan pengejaran.[3]
Laksamana Muda Ibrahim memimpin operasi dari kapal komando Kuta Alam. Enam kapal Portugis ditemukan di sekitar Tanjung Parit. Setelah pihak Portugis menolak pemeriksaan, pecah pertempuran laut. Ibrahim dan Malahayati bersama-sama mengatur gerakan kapal Aceh.[3]
Dalam pertempuran tersebut, sebuah tembakan meriam Portugis mengenai Ibrahim dan mengakibatkan kematiannya. Malahayati kemudian mengambil alih pimpinan armada. Pewara menyebut tiga kapal Portugis berhasil ditenggelamkan, dua kapal ditawan, sedangkan satu kapal lainnya berhasil melarikan diri.[3]
Setelah pertempuran, Sultan Maulana Yusuf dari Banten dalam cerita tersebut mengirimkan ucapan selamat kepada Aceh dan menyampaikan terima kasih karena armada Aceh telah membantu pedagang Banten. Sultan Aceh juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Ibrahim. Beberapa waktu kemudian Malahayati disebut memperoleh jabatan yang lebih tinggi di Armada V.[3]
Keterangan mengenai Tanjung Parit tersebut berasal dari karya Pewara dan belum ditemukan dalam sumber Portugis atau laporan sezaman yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi rincian pertempurannya.
Versi Teluk Haru
Tradisi historiografis lainnya menempatkan kematian suami Malahayati dalam pertempuran Aceh–Portugis di Teluk Haru atau Teluk Aru, kawasan yang berhubungan dengan jalur pelayaran Selat Malaka.
Dalam sejumlah tulisan Indonesia, armada Aceh digambarkan menghadapi Portugis dalam pertempuran besar yang mengakibatkan banyak prajurit Aceh gugur. Para janda yang ditinggalkan oleh prajurit-prajurit tersebut kemudian menjadi inti pasukan yang dikenal sebagai Inong Balee.[4]
Identitas laksamana yang gugur dalam versi Teluk Haru berbeda-beda. Hasbullah menyebutnya sebagai Laksamana Zainal Abidin, sedangkan novel sejarah Endang Moerdopo menggunakan nama Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief.[5][9]
Dalam versi Zainal Abidin, setelah suaminya gugur Malahayati dipercaya Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil untuk menduduki jabatan laksamana.[5] Dalam cerita Moerdopo, Mahmuddin merupakan Panglima Armada Selat Malaka dan kematiannya di Teluk Haru menjadi titik balik kehidupan Malahayati.[9]
Tidak ditemukannya nama suami Malahayati dalam laporan Eropa sezaman menyebabkan ketiga tradisi penamaan—Laksamana Muda Ibrahim, Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief, dan Laksamana Zainal Abidin—belum dapat direkonsiliasi secara pasti.
Inong Balee

Inong Balee merupakan nama yang dalam historiografi Aceh dikaitkan dengan satuan perempuan yang dipimpin Malahayati. Dalam bahasa Aceh, inong berarti perempuan, sedangkan balee digunakan untuk menyebut perempuan yang telah kehilangan suaminya atau janda.[4]
Menurut A. Hasjmy dan Solichin Salam, pembentukan pasukan tersebut berawal setelah Pertempuran Teluk Haru. Anggota awalnya disebut terdiri atas sekitar 1.000 janda prajurit yang gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Jumlah itu kemudian disebut bertambah hingga sekitar 2.000 anggota setelah perempuan yang belum menikah juga diterima ke dalam kesatuan tersebut.[12][4]
Malahayati disebut mengajukan pembentukan armada kepada Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan kemudian diangkat sebagai panglimanya. Pangkalan pasukan ditempatkan di kawasan Teluk Lamreh–Krueng Raya, Aceh Besar.[4]
Rincian mengenai jumlah 1.000 atau 2.000 anggota dan organisasi formal Inong Balee berasal terutama dari historiografi Aceh abad ke-20. Kajian Elsa Clavé-Çelik mencatat bahwa laporan Eropa sezaman tidak memberikan uraian yang dapat memverifikasi seluruh rincian tersebut.[10]
Meskipun demikian, keberadaan perempuan bersenjata dalam lingkungan istana Aceh juga tercatat pada sumber-sumber Eropa pada abad ke-17. Penulis seperti Augustin de Beaulieu kemudian mencatat keberadaan perempuan penjaga istana pada masa pemerintahan Iskandar Muda.[10]
Benteng Inong Balee
Benteng yang sekarang dikenal sebagai Benteng Inong Balee atau Kuta Inong Balee berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Situs tersebut berdiri pada kawasan perbukitan yang menghadap ke laut dan berada dalam lanskap arkeologis Lamreh.[14]
Benteng berorientasi ke arah laut dan memiliki dinding yang dibangun menggunakan batu dan karang dengan bahan perekat. Bagian yang masih dapat diamati mencakup struktur tembok di sisi utara dan timur serta fondasi pada bagian lain. Beberapa bagian dinding memiliki bukaan yang ditafsirkan sebagai lubang pengamatan atau bagian pertahanan.[14]
Tradisi lokal menghubungkan benteng tersebut dengan pangkalan dan tempat tinggal pasukan Inong Balee. Dalam tulisan-tulisan mengenai Malahayati, benteng juga disebut sebagai tempat latihan serta penampungan para janda prajurit Aceh.[14]
Kawasan Lamreh sendiri memiliki tinggalan arkeologi dari periode yang lebih panjang daripada masa Malahayati. Temuan makam, keramik, tembikar, dan struktur pertahanan menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah menjadi bagian dari jaringan permukiman dan perdagangan pesisir sejak beberapa abad sebelumnya.[15]
Menjadi laksamana
Dalam historiografi Indonesia, Malahayati disebut memperoleh pangkat laksamana setelah pembentukan Inong Balee dan kemudian memimpin bagian dari angkatan laut Aceh.[11][4]
Bukti sezaman yang paling sering dikaitkan dengan jabatan tersebut adalah catatan John Davis. Ketika menjelaskan pemerintahan Aceh, Davis menulis bahwa perempuan merupakan bagian dari lingkungan penasihat sultan dan menyatakan bahwa seorang perempuan menjadi laksamana karena sultan tidak mempercayakan jabatan itu kepada laki-laki.[7]
Davis tidak mencantumkan nama laksamana perempuan tersebut. Karena itu, identifikasi perempuan itu sebagai Malahayati berasal dari historiografi selanjutnya. Clavé-Çelik membedakan antara keterangan Davis, yang membuktikan keberadaan seorang laksamana perempuan di bawah Alauddin Riayat Syah, dan biografi rinci Malahayati yang sebagian besar disusun beberapa abad kemudian.[10]
Penyebutan Malahayati sebagai "laksamana perempuan pertama di dunia" sering ditemukan dalam publikasi Indonesia. Sebutan itu tidak memiliki standar historis yang seragam karena istilah dan struktur pangkat angkatan laut berbeda antara masyarakat dan periode sejarah. Dalam konteks Aceh, catatan Davis tetap merupakan bukti langsung mengenai keberadaan perempuan pada jabatan laksamana menjelang 1600.[7]
Kedatangan Cornelis dan Frederik de Houtman
Pada 1599, dua kapal Belanda yang dipimpin Cornelis dan Frederik de Houtman tiba di Aceh. Ekspedisi tersebut merupakan pelayaran kedua Cornelis ke kepulauan Asia Tenggara setelah ekspedisi pertamanya ke Banten pada 1596.[6]
John Davis ikut dalam perjalanan tersebut sebagai navigator. Menurut perhitungan kalender yang digunakan Davis, kapal-kapal itu tiba pada 21 Juni 1599. Catatan Belanda memberikan tanggal 30 Juni karena perbedaan sistem kalender pada masa itu.[16]
Pada awalnya, hubungan dengan pihak Aceh berlangsung secara damai. Sultan mengirim pejabat untuk memeriksa kapal dan persenjataan Belanda. Cornelis kemudian diterima oleh sultan dan memperoleh kesempatan melakukan perdagangan lada.[6]
Hubungan itu kemudian memburuk dan berakhir dengan pertempuran pada September 1599. Cornelis de Houtman terbunuh, sedangkan Frederik ditangkap dan ditahan oleh pihak Aceh.[6]
Pertempuran 1599 dan kematian Cornelis de Houtman
Dalam biografi Malahayati yang berkembang di Indonesia, konflik 1599 digambarkan sebagai pertempuran antara pasukan Inong Balee dan armada De Houtman. Versi yang populer menyebut Malahayati bertarung langsung dengan Cornelis de Houtman di atas kapal dan membunuhnya menggunakan rencong.[4]
Solichin Salam mendasarkan bagian dari kisah tersebut pada tulisan A. Hasjmy serta karya berbahasa Belanda Oude Glorie karya Marie van Zeggelen.[4]
Sumber sezaman memberikan informasi yang lebih terbatas. John Davis memang berada dalam ekspedisi itu dan mencatat adanya seorang laksamana perempuan di Aceh, tetapi tidak menulis bahwa perempuan tersebut bertarung atau membunuh Cornelis.[7][10]
Frederik de Houtman, yang kemudian menghabiskan lebih dari dua tahun sebagai tawanan Aceh, juga tidak menyebut seorang perempuan bernama Malahayati sebagai pembunuh saudaranya dalam catatan yang dibahas oleh penelitian modern.[10]
Denys Lombard menyimpulkan dari sumber-sumber perjalanan awal bahwa hubungan Belanda dengan Aceh berakhir dengan perkelahian, Cornelis meninggal dalam pertempuran, dan Frederik ditawan di Pidie sebelum akhirnya dibebaskan pada 1601.[6]
Dengan demikian, kematian Cornelis dalam bentrokan dengan pihak Aceh merupakan peristiwa yang tercatat, sedangkan identifikasi Malahayati sebagai orang yang secara langsung membunuhnya berasal dari tradisi biografis dan historiografi Indonesia yang lebih kemudian.[10]
Penahanan Frederik de Houtman
Setelah pertempuran 1599, Frederik de Houtman menjadi tawanan Aceh. Ia berada dalam tahanan di penjara Pidie selama lebih dari dua tahun sebelum memperoleh kebebasan dan meninggalkan Aceh pada akhir 1601.[6]
Selama berada di Sumatra, Frederik mengumpulkan bahan mengenai bahasa Melayu dan pengamatan astronomi. Setelah kembali ke Belanda, ia menerbitkan karya yang memuat kosakata Melayu dan Malagasi serta bahan-bahan yang diperolehnya selama perjalanan.[6]
Dalam biografi Malahayati, penahanan Frederik sering dikaitkan langsung dengan kemenangan Malahayati atas ekspedisi Belanda. Sumber Belanda membuktikan penahanannya oleh pihak Aceh, tetapi tidak menyebut Malahayati sebagai orang yang secara pribadi menangkapnya.[10]
Hubungan Aceh–Belanda setelah 1599
Setelah peristiwa De Houtman, kapal-kapal Belanda kembali mendatangi Aceh. Salah satu insiden yang disebut dalam sumber-sumber tentang hubungan Aceh–Belanda melibatkan Paulus van Caerden, yang pada 1600 merampas muatan lada dari sebuah kapal Aceh.[4]
Pada 1601, utusan-utusan Belanda kembali berhubungan dengan Sultan Aceh. Historiografi Malahayati menyebut Laurens Bicker dan Gerard de Roy sebagai wakil Belanda yang melakukan perundingan dengan pihak Aceh dan menghubungkan Malahayati dengan negosiasi tersebut.[4]
Dalam versi Solichin Salam dan A. Hasjmy, perundingan menghasilkan perbaikan hubungan antara kedua pihak, pembebasan Frederik de Houtman, serta pembayaran ganti rugi oleh Belanda atas tindakan Van Caerden. Jumlah ganti rugi yang disebut adalah 50.000 gulden.[4]
Sesudah hubungan membaik, Sultan Aceh mengirim delegasi ke Belanda. Literatur Indonesia menyebut anggota delegasi tersebut antara lain Abdul Hamid, Sri Muhammad, dan Mir Hassan.[4]
Keberangkatan utusan Aceh ke Belanda pada awal abad ke-17 juga tercatat dalam kajian hubungan internasional Kesultanan Aceh. Abdul Hamid meninggal selama berada di Belanda, sedangkan anggota delegasi lainnya kemudian kembali ke Aceh.
Kajian Clavé-Çelik mencatat bahwa laporan Paulus van Caerden, Jacob van Neck, Gerard de Roy, dan Laurens Bicker tidak menyebut nama Malahayati. Karena itu, keterlibatan pribadinya dalam rincian diplomasi Aceh–Belanda terutama diketahui dari historiografi Aceh modern.[10]
Hubungan dengan Inggris
Pada 1602, armada Perusahaan Hindia Timur Britania Raya di bawah James Lancaster tiba di Aceh. Lancaster membawa surat dari Elizabeth I dari Inggris kepada Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan berusaha memperoleh hak dagang bagi Inggris.[6]
Sultan menerima Lancaster dan memberikan beberapa hak perdagangan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tahap awal hubungan resmi antara Kesultanan Aceh dengan Inggris.[17]
Dalam tulisan Rusdi Sufi dan Solichin Salam, penyambutan Lancaster dikaitkan dengan Malahayati. Ia disebut menerima rombongan Inggris dan terlibat dalam perundingan sebelum Lancaster bertemu dengan Sultan.[11][4]
Sumber Inggris mengenai ekspedisi Lancaster memastikan berlangsungnya penerimaan resmi dan hubungan diplomatik dengan Sultan Aceh, tetapi tidak memberikan keterangan yang sebanding dengan biografi Indonesia mengenai peran pribadi Malahayati. Karena itu, perannya dalam perundingan Inggris–Aceh terutama dikenal melalui historiografi nasional.
Sumber sezaman dan historiografi
Riwayat Malahayati memiliki perbedaan cukup besar antara catatan yang berasal dari akhir abad ke-16 dan karya biografis yang terbit pada abad ke-20.
Catatan John Davis merupakan sumber sezaman utama mengenai keberadaan seorang laksamana perempuan pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah. Davis secara jelas menyebut adanya perempuan yang menjadi laksamana, tetapi tidak menuliskan namanya, asal-usulnya, struktur pasukannya, atau rincian kehidupannya.[7]
Frederik de Houtman berada di Aceh selama lebih dari dua tahun setelah kematian Cornelis. Meskipun demikian, catatannya tidak menyebut bahwa seorang laksamana perempuan bernama Malahayati membunuh Cornelis atau menangkap dirinya.[10]
Menurut Clavé-Çelik, laporan pelancong Belanda lain seperti Paulus van Caerden, Jacob van Neck, Gerard de Roy, dan Laurens Bicker juga tidak menyebut nama Keumalahayati.[10]
Salah satu teks Belanda yang secara eksplisit memuat nama yang menyerupai Malahayati adalah Oude Glorie karya Marie van Zeggelen, terbit pada 1935. Buku tersebut merupakan karya sastra berlatar sejarah. Van Zeggelen menggunakan nama "Hajati" dalam narasi mengenai peristiwa De Houtman.[10]
Pada paruh kedua abad ke-20, riwayat Malahayati dikembangkan melalui karya-karya sejarah Indonesia. Di antara penulis yang banyak membentuk biografinya adalah H.M. Zainuddin, A. Hasjmy, Rusdi Sufi, Emi Suhaimi, dan Solichin Salam.[10][11][4]
Karya-karya tersebut memuat rincian silsilah keluarga, pendidikan di Baitul Makdis, perkawinan, gugurnya suami dalam pertempuran Teluk Haru, pembentukan Inong Balee, jumlah pasukan, Benteng Inong Balee, duel dengan Cornelis de Houtman, serta aktivitas diplomatiknya.
Clavé-Çelik mencatat bahwa sejumlah karya biografis tersebut saling merujuk sehingga beberapa informasi yang berasal dari tradisi lisan atau karya sastra kemudian berulang sebagai bagian dari historiografi Malahayati.[10]
Kajian tersebut tidak meniadakan keterangan Davis mengenai laksamana perempuan di Aceh. Perbedaannya terletak pada sejauh mana laksamana perempuan tanpa nama dalam catatan 1599 dapat diidentifikasi dengan seluruh rincian biografi Keumalahayati yang muncul kemudian.[10]
Perempuan dalam lingkungan militer dan istana Aceh
Keberadaan perempuan di lingkungan pemerintahan Aceh tidak hanya dijumpai dalam kisah Malahayati. Sumber Eropa abad ke-17 menyebut adanya perempuan yang menjalankan tugas penjagaan di lingkungan istana.
Pada masa Iskandar Muda, penjelajah Prancis Augustin de Beaulieu mencatat adanya kelompok perempuan yang bertugas di dalam istana dan berada di bawah pimpinan perempuan. Sejumlah sumber lain mengenai istana Aceh juga menggambarkan perempuan sebagai bagian dari lingkungan pengawal dan rumah tangga kerajaan.[10]
Perempuan kemudian juga menduduki kedudukan tertinggi pemerintahan Kesultanan Aceh. Mulai 1641, Aceh diperintah secara berturut-turut oleh empat sultanah, yaitu Taj ul-Alam, Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Inayat Zakiatuddin Syah, dan Kamalat Syah, sampai 1699.
Konteks tersebut menunjukkan bahwa laporan Davis mengenai seorang laksamana perempuan pada 1599 muncul dalam masyarakat istana yang memberikan ruang politik tertentu kepada perempuan, meskipun struktur dan kewenangan jabatan tersebut tidak dapat direkonstruksi secara lengkap dari sumber yang tersisa.
Wafat
Tahun kematian Malahayati tidak diketahui secara pasti dari sumber sezaman. Solichin Salam menyatakan bahwa baik tahun kelahiran maupun tahun kematiannya belum diketahui dengan pasti.[4]
Sejumlah publikasi modern menggunakan tahun 1615 sebagai tahun wafatnya. Kronologi 1550–1615 juga digunakan dalam pengusulan dan peringatan resmi Indonesia yang berkaitan dengan UNESCO.[1]
Versi lain menghubungkan kematian Malahayati dengan pertempuran laut melawan Portugis di kawasan Krueng Raya. Dalam biografi Solichin Salam, ia diceritakan gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Teluk Krueng Raya.[4]
Sumber sezaman yang dapat menentukan tanggal, lokasi, dan keadaan kematiannya belum diketahui. Oleh karena itu, tahun 1615 dan kisah gugur di Krueng Raya merupakan bagian dari tradisi biografis Malahayati yang digunakan dalam publikasi modern.
Makam
Kompleks yang dikenal sebagai Makam Laksamana Malahayati berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya berada di atas bukit yang tidak jauh dari kawasan pesisir Krueng Raya dan Benteng Inong Balee.[14]
Penelitian Deni Sutrisna dari Balai Arkeologi Medan mencatat tiga makam di dalam kompleks tersebut. Nisan-nisannya berbentuk pipih, terdiri atas tipe bersayap dan tidak bersayap, serta mempunyai hiasan flora, geometris, dan panel kaligrafi.[14]
Makam pertama mempunyai sepasang nisan pipih bersayap dengan kaki berbentuk balok, hiasan teratai, panel kaligrafi, sulur, dan bagian puncak menyerupai atap limasan. Makam kedua menggunakan nisan pipih tanpa sayap dengan panel kaligrafi dan mahkota teratai. Makam ketiga memiliki ukuran lebih kecil dan sebagian nisannya telah rusak.[18]
Identifikasi kompleks tersebut sebagai makam Malahayati terutama hidup dalam tradisi lokal dan historiografi modern. Situs tersebut sekarang menjadi salah satu lokasi sejarah yang dikaitkan dengan Malahayati di Aceh Besar.
Pahlawan Nasional
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Malahayati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.[8]
Penganugerahan dilaksanakan di Istana Negara pada 9 November 2017 oleh Presiden Joko Widodo. Pada saat yang sama gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Sultan Mahmud Riayat Syah, dan Lafran Pane.[8]
Peringatan UNESCO
Pada Sidang Umum UNESCO ke-42 di Paris pada November 2023, usulan Indonesia mengenai pengasosiasian UNESCO dengan peringatan 475 tahun kelahiran Keumalahayati pada 2025 disetujui.[1]
Pengajuan tersebut menggunakan kronologi 1550–1615 dan memperoleh dukungan antara lain dari Malaysia, Federasi Rusia, Thailand, dan Togo.[1]
Pengasosiasian tersebut merupakan bagian dari program UNESCO untuk memperingati hari jadi tokoh dan peristiwa sejarah yang dinilai berkaitan dengan bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, komunikasi, dan misi organisasi.
Pengabadian nama
Nama Malahayati digunakan untuk sejumlah fasilitas, institusi, dan kapal di Indonesia.
Pelabuhan Malahayati
Pelabuhan Malahayati berada di kawasan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu pelabuhan di pesisir utara Aceh dan sekarang dikelola dalam jaringan Pelindo.[19]
Penamaan pelabuhan tersebut berhubungan dengan tradisi maritim Malahayati dan letaknya yang berdekatan dengan kawasan Lamreh dan Krueng Raya yang dikaitkan dengan kehidupannya.
KRI Malahayati

TNI Angkatan Laut menggunakan nama Malahayati untuk KRI Malahayati (362), fregat kelas Fatahillah. Kapal tersebut dibangun di Belanda dan menjadi salah satu kapal kombatan TNI Angkatan Laut.
Penamaan kapal dengan nama Malahayati mengikuti tradisi penggunaan nama tokoh sejarah dan pahlawan maritim pada kapal perang Indonesia.
Pendidikan
Nama Malahayati juga digunakan pada sejumlah lembaga pendidikan. Politeknik Pelayaran Malahayati merupakan perguruan tinggi bidang pelayaran yang berada di Aceh dan berada di lingkungan Kementerian Perhubungan.
Di Bandar Lampung terdapat Universitas Malahayati, perguruan tinggi swasta yang menggunakan nama tokoh tersebut.
Nama Malahayati juga digunakan untuk sekolah, jalan, rumah sakit, organisasi, dan berbagai fasilitas publik di beberapa daerah Indonesia.
Dalam budaya populer
Riwayat Malahayati telah diadaptasi ke berbagai bentuk budaya populer, antara lain film televisi dan layar lebar, teater, drama musikal, musik, novel, dan komik. Sejumlah karya menggunakan biografi Malahayati secara langsung, sedangkan karya lainnya berfokus pada pembentukan Inong Balee, peperangan melawan armada Eropa, atau representasinya sebagai tokoh perempuan dalam sejarah maritim Aceh.
Film dan audiovisual
Pada 2007, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga memproduksi film drama sejarah berjudul Laksamana Keumalahayati. Film berdurasi sekitar 90 menit tersebut diluncurkan di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta, pada 10 November 2007 bertepatan dengan Hari Pahlawan.[20] Film itu kemudian ditayangkan di televisi nasional dan kembali diputar di Banda Aceh pada Desember 2007 dalam rangka peringatan tiga tahun gempa bumi dan tsunami Aceh.[21]
Film 2007 tersebut digarap oleh H. Alfadin dan menampilkan Ine Febriyanti sebagai Malahayati. Pemeran lainnya antara lain Soultan Saladin sebagai Sultan Alauddin Riayat Syah, Nizar Zulmi sebagai Sultan Ali Riayat Syah, dan Lusi Faisol sebagai Cut Limpah.[22] Produksinya berasal dari program Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga pada masa Adhyaksa Dault.[23]
Pada 2022, pertunjukan musikal Keumalahayati – Laskar Inong Balee juga dibuat dalam format film. Versi audiovisual tersebut ditayangkan melalui kanal digital Gema Citra Nusantara pada 10 November 2022 setelah pementasan panggungnya pada tahun yang sama.[24]
Proyek film animasi mengenai Malahayati juga dikembangkan dengan dukungan sejumlah lembaga pemerintah dan Perum Produksi Film Negara. Proyek tersebut pada awalnya direncanakan selesai pada 2024, tetapi proses produksinya berlanjut. Pada Februari 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyatakan bahwa naskah film masih dalam proses peninjauan dan produksinya direncanakan untuk diluncurkan pada 2026.[25] Pemerintah Aceh sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pengembangan film animasi tersebut pada Juli 2024.[26]
Pada 2026, kisah Malahayati dan Inong Balee diangkat kembali ke layar lebar melalui film Pasukan 1000 Janda. Film tersebut ditulis dan disutradarai oleh Archie Hekagery serta diproduksi Manara Films dengan Yuda Wirafianto sebagai produser. Film itu menggunakan pendekatan historical fantasy action dan mengambil inspirasi dari pembentukan pasukan perempuan Aceh setelah para suami mereka gugur dalam peperangan.[27]
Atiqah Hasiholan memerankan Laksamana Malahayati, sedangkan Emil Kusumo memerankan Mahmuddin. Pemeran lainnya mencakup Cut Mini, Ully Triani, Muzakki Ramdhan, Syaura Salsabila, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, Dafina Jamasir, Vincent Verhaag, dan aktor Belanda Ron Smoorenburg.[27][28]
Teaser trailer dan poster pertama Pasukan 1000 Janda diluncurkan pada 17 September 2026. Film tersebut dijadwalkan mulai ditayangkan di bioskop Indonesia pada 12 November 2026.[27] Dalam film itu, Inong Balee digambarkan sebagai kelompok perempuan Aceh yang mengambil alih peran di medan perang setelah kehilangan suami mereka dalam peperangan.
Teater dan drama musikal
Pada 19 Maret 2022, Gema Citra Nusantara bersama Papatong Artspace mementaskan drama musikal Keumalahayati – Laskar Inong Balee di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan berlangsung dalam dua sesi dan menggabungkan drama, musik, koreografi perang, serta tari tradisional Aceh.[29]
Cerita dalam musikal tersebut dimulai dari pertempuran antara Kesultanan Aceh dan Portugis di Teluk Haru, kematian suami Malahayati, hingga pembentukan Inong Balee. Pertunjukan menggunakan Tari Rapai Kipah, Ranup Lampuan, dan Tari Rencong dalam koreografi baru, sedangkan adegan perang ditampilkan melalui koreografi tari.[29] Teuku Rifnu Wikana terlibat dalam penyutradaraan dan juga memerankan Sultan Aceh.[30]
Kelanjutan proyek Keumalahayati – Laskar Inong Balee direncanakan dalam bentuk pementasan kedua, produksi film, musik, dan animasi. Pada November 2022, Gema Citra Nusantara mengadakan sarasehan di Perpustakaan Nasional untuk mengembangkan naskah pementasan berikutnya.[24]
Pada September 2023, kisah Malahayati kembali dipentaskan dalam teater kolosal Jalasena Laksamana Malahayati di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pementasan tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-78 TNI Angkatan Laut.[31]
Marcella Zalianty bertindak sebagai produser sekaligus memerankan Malahayati. Pemeran lainnya antara lain Arswendi Bening sebagai Sultan Aceh, Cut Mini sebagai ibu Malahayati, Teuku Rifnu Wikana sebagai suaminya, dan Aulia Sarah sebagai Cut Limpah.[32] Iswadi Pratama bertindak sebagai sutradara, sedangkan Jay Subyakto menjadi pengarah artistik.[33]
Produksi Jalasena Laksamana Malahayati melibatkan sekitar 62 pemain, termasuk aktor profesional, pemain Teater Koma, Wayang Orang Bharata, personel Korps Wanita TNI Angkatan Laut, dan Korps Marinir. Panggungnya menggunakan replika kapal perang berukuran besar dan teknologi video mapping untuk merekonstruksi adegan pertempuran laut antara armada Aceh dan Belanda.[31]
Pada 1 Januari 2024, dalam peringatan hari kelahiran Malahayati yang diselenggarakan Majelis Seniman Aceh di Taman Budaya Banda Aceh, ditampilkan sebuah karya drama bertajuk Laksamana Malahayati produksi Voice Over Aceh.[34]
Pada tahun yang sama, Sekolah Cikal menampilkan drama musikal kolosal mengenai legenda Malahayati dalam rangka Playground of Samudera Pasai 2024. Pertunjukan tersebut menggunakan bahasa Inggris dan menceritakan Malahayati sejak masa kanak-kanak hingga perjalanan maritimnya. Pementasan melibatkan siswa dari kelompok bermain hingga tingkat sekolah menengah atas.[35]
Malahayati juga direpresentasikan dalam tari kolosal Aceh Teuka pada pembukaan PON XXI Aceh–Sumatera Utara di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, pada 9 September 2024. Pertunjukan tersebut melibatkan 873 penari dan menggunakan sosok Malahayati sebagai salah satu representasi sejarah dan semangat perjuangan Aceh.[36]
Musik
Musisi Iwan Fals merekam lagu berjudul "Malahayati". Lirik lagu tersebut ditulis oleh Endang Moerdopo, sedangkan musik dan aransemennya dikerjakan oleh Iwan Fals. Lagu tersebut pertama kali dibawakan dalam konser Hikayat Rindu Tiga Maestro di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, pada 21 April 2007. Dalam konser itu Iwan tampil bersama Sawung Jabo dan W.S. Rendra.[37]
"Malahayati" kemudian direkam dalam album Keseimbangan yang dirilis Iwan Fals pada 20 Februari 2010.[38] Lagu tersebut menggambarkan Malahayati sebagai panglima dan mengaitkannya dengan perempuan Aceh serta ingatan terhadap perjuangannya. Endang Moerdopo menulis liriknya ketika sedang mengembangkan novel tentang kehidupan Malahayati.[37]
Kelompok musik etnik Aceh Keubitbit juga menciptakan lagu berjudul "Malahayati". Versi rekaman langsung lagu tersebut telah dipublikasikan pada 2016 dan kemudian dimasukkan dalam album Story of Aceh yang dirilis pada 2017.[39] Keubitbit menyatakan bahwa lagu tersebut secara khusus menceritakan Laksamana Keumalahayati dan menggunakan unsur musik kontemporer yang dipadukan dengan instrumen serta corak musik Aceh.[40]
Pada 2021, grup Artera merilis lagu berjudul "Malahayati" dalam rilisan kolaboratif Doa Dara Dara. Lagu tersebut diciptakan oleh Juan Alberto, Yuniarta Situmorang, dan Iqbal Pratama.[41]
Musikal Keumalahayati – Laskar Inong Balee menghasilkan lagu "Kerinduan", yang diambil dari salah satu adegan pertunjukan. Lagu tersebut dibawakan oleh Haikal Baron, Gema Citra Nusantara, dan Karissa Soerja, dengan komposisi dan aransemen oleh Leodet. Lagu itu dirilis secara digital pada 29 Oktober 2022.[42][24]
Pada 2024, Sekolah Cikal Surabaya menghasilkan lagu "Malahayati" sebagai salah satu lagu tema dalam proyek Playground of Samudera Pasai. Lagu tersebut ditulis, diarahkan vokalnya, dan diarahkan musiknya oleh Ikhwanuddin Hasan, serta dinyanyikan Ayunda Damai Fatmarani dengan vokal latar Nur Kamilia, Sirakh Dini Lestari, Ikhwanuddin Hasan, dan Ading Agusta.[43]
Pada Februari 2026, penyanyi Gayo Rizky merilis lagu "Malahayati". Lagu tersebut merupakan karya M. Aris Dahlan, seniman Gayo dari kelompok didong Teruna Jaya, dengan aransemen musik oleh Rio Fiendy.[44]
Sastra dan komik
Pada 2008, Endang Moerdopo menerbitkan novel Perempuan Keumala: Sebuah Epos untuk Nanggroe. Novel tersebut menggabungkan latar sejarah Kesultanan Aceh dengan cerita mengenai pendidikan Malahayati di Mahad Baitul Maqdis, hubungannya dengan Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief, pembentukan Inong Balee, serta konflik dengan Cornelis de Houtman.[45]
Novel tersebut kemudian diterbitkan kembali pada 2018 dengan judul Laksamana Malahayati: Sang Perempuan Keumala.[46]
Pada Mei 2018, Marcella Zalianty dan Keana Films meluncurkan komik Keumalahayati: Laksamana Perempuan Pertama. Proyek komik tersebut dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan Malahayati kepada pembaca muda dan pada saat peluncurannya juga direncanakan untuk dikembangkan menjadi film layar lebar.[47]
Tim kreatif komik tersebut melibatkan sejumlah komikus dan ilustrator Indonesia, termasuk Ardian Syaf, Rudy Ao, Chis Arieswendha, Aris Naka Abee, dan Ibenk Irawan.[48]
Pada 2023, Nurul Chomaria menerbitkan komik sejarah berjudul Laksamana Malahayati: Pejuang Wanita Penjaga Nusantara. Buku tersebut mengangkat perjuangan Malahayati bersama pasukan Inong Balee dalam menghadapi Portugis dan Belanda.[49]
Warisan historiografis
Malahayati menempati posisi tersendiri dalam historiografi Aceh karena berada pada pertemuan antara sumber perjalanan Eropa abad ke-16, tradisi lokal, karya sejarah Aceh modern, dan pembentukan ingatan nasional Indonesia.
Catatan Davis memberikan bukti sezaman mengenai seorang laksamana perempuan. Sumber itu tidak menyediakan nama maupun biografi pribadi. Sebaliknya, literatur Indonesia abad ke-20 memberikan narasi yang jauh lebih rinci, termasuk silsilah, pendidikan, perkawinan, Inong Balee, Benteng Inong Balee, konflik dengan Belanda, dan diplomasi internasional.[10]
Perbedaan sifat sumber tersebut menyebabkan sejumlah bagian dalam riwayat Malahayati mempunyai tingkat kepastian yang berbeda. Keberadaan perempuan pada jabatan laksamana di Aceh dan kematian Cornelis de Houtman dalam konflik 1599 mempunyai sumber sezaman. Nama Keumalahayati, jumlah anggota Inong Balee, kisah duel dengan Cornelis, nama suaminya sebagai Zainal Abidin, dan beberapa rincian kegiatan diplomatik diketahui terutama dari historiografi yang berkembang kemudian.[10][5][4]
Dalam historiografi Indonesia, riwayat tersebut telah menjadikan Malahayati salah satu figur utama dalam pembahasan sejarah maritim Aceh dan sejarah perempuan dalam lingkungan politik dan militer Nusantara.
Lihat pula
- Inong Balee
- Benteng Inong Balee
- Kesultanan Aceh
- Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil
- Cornelis de Houtman
- Frederick de Houtman
- James Lancaster
- Konflik Aceh–Portugal
- Konflik Aceh–Belanda
- Taj ul-Alam
- KRI Malahayati (362)
- Pelabuhan Malahayati
- Artemisia I dari Caria
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9
- 1 2
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Pewara, Adi (1991). Malahayati: Singa Betina dari Aceh. Surabaya: Karya Anda.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Salam, Solichin (1995). Malahayati: Srikandi dari Aceh. Jakarta: Gema Salam. ISBN 979-95005-0-8.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Hasbullah (2017). "Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati: Dari Kedatangan Houtman hingga Pembebasan Iskandar Muda" (PDF). Haba (85). Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Lombard, Denys (1991) [1967]. Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Diterjemahkan oleh Arifin, Winarsih (Edisi 2). Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 29–30. ISBN 979-407-310-5.
- 1 2 3 4 5 6 7 Davis, John (1880). Markham, Albert Hastings (ed.). The Voyages and Works of John Davis, the Navigator. London: Hakluyt Society. hlm. 150.
- 1 2 3 4 "Presiden Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional Untuk 4 Tokoh". Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 9 November 2017. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 Moerdopo, Endang (2018). Laksamana Malahayati: Sang Perempuan Keumala. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 9786024526535.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Clavé-Çelik, Elsa (2014). "Silenced Fighters: An Insight into Women Combatants' History in Aceh (17th–20th c.)". Archipel. 87: 273–306. doi:10.3406/arch.2014.4465.
- 1 2 3 4 5 6 Sufi, Rusdi (1994). "Laksamana Keumalahayati". Dalam Sofyan, Ismail; Alfian, Ibrahim; Basry, M. Hasan (ed.). Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Jayakarta Agung Offset. hlm. 29–36.
- 1 2 Hasjmy, A. (1993). Wanita Aceh dalam Pemerintahan dan Peperangan. Disadur oleh Emi Suhaimi. Banda Aceh: Yayasan Pendidikan A. Hasjmy.
- ↑ Hakim, Lukman (2022). Military Alignment Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Usmani Tahun 1562–1640 M (PDF) (Disertasi). Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. hlm. 167.
- 1 2 3 4 5 Sutrisna, Deni (2006). "Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam". Berkala Arkeologi Sangkhakala. 9 (18). Balai Arkeologi Medan. doi:10.24832/bas.v9i18.339.
- ↑ Inagurasi, Libra Hari. Kemaritiman Nusantara (PDF). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
- ↑ Unger, W. S. (1948). De Oudste Reizen van de Zeeuwen naar Oost-Indië, 1598–1604. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
- ↑ Lombard, Denys (1991). Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 979-407-310-5.
- ↑ Berkala Arkeologi Sangkhakala No. 18 (PDF). Balai Arkeologi Medan. 2006.
- ↑ "Pelabuhan Malahayati". PT Pelabuhan Indonesia. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Film Laksamana Keumalahayati Dirilis". Liputan6.com. 11 November 2007. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Film Laksamana Malahayati Dalam Peringatan Tiga Tahun Tsunami Aceh". ANTARA. 25 Desember 2007. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bhawono, Aryo (10 November 2017). "Jejak Malahayati dalam Sinema". detikcom. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Mennegpora dan Film Laksamana Malahayati". ANTARA. 5 November 2007. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Anggie, Hernowo (14 November 2022). "Keumalahayati - Laskar Inong Bale Bakal Punya Pentas Seri Kedua pada 2023, Jadi Film Animasi Tahun 2024". Liputan6.com. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Mendiktisaintek Harap Film Animasi Laksamana Malahayati Segera Rampung". Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. 15 Februari 2025. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Pemprov Aceh dukung pembuatan film Laksamana Malahayati untuk edukasi". ANTARA. 25 Juli 2024. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Muchsen, Fachrul (18 September 2026). "Pasukan 1000 Janda Tayang 12 November 2026". DemiFilm. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Asnurida, Rani (24 Februari 2026). "Sinopsis Film Pasukan 1000 Janda, Adaptasi Kisah Laksamana Malahayati". IDN Times. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Drama Musikal Keumalahayati - Laskar Inong Balee". ANTARA. 21 Maret 2022. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rismoyo, Mauludi (19 Maret 2022). "Kisah Perjuangan Keumalahayati Diangkat ke Panggung Teater". detikcom. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Sakina, Pamela (29 Agustus 2023). "Kisah Laksamana Malahayati dari Aceh diangkat jadi pertunjukan teater". ANTARA. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Pertunjukan Teater Jalasena Laksamana Malahayati Angkat Kisah Heroik Pejuang Perempuan". Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat. 13 September 2023. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Astuti, Tia Agnes (22 Agustus 2023). "Sosok Malahayati Diadaptasi ke Panggung Teater, Gelar Pertunjukan Teatrikal". detikcom. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Juli, Muhajir (3 Januari 2024). "Peringatan Hari Lahir Ke-473 Malahayati: Seni & Sejarah Menyatu di Taman Budaya". Komparatif.ID. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Potret Playground of Samudera Pasai Sekolah Cikal Tahun 2024". Sekolah Cikal. 2024. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Upacara pembukaan PON Aceh-Sumut 2024 berlangsung meriah". ANTARA. 9 September 2024. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Cerita di Balik Lagu Malahayati oleh Iwan Fals". detikcom. 10 November 2017. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Malahayati". Apple Music. Apple. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Music – Story of Aceh". Keubitbit. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Keubitbit - Malahayati (Live Studio Version)". YouTube. Keubitbit Atjeh Ethnic Music. 10 Februari 2016. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Doa Dara Dara". Qobuz. 8 Januari 2021. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Kerinduan (Taken from "Keumalahayati - Laskar Inong Balee the Musical")". Amazon Music. 29 Oktober 2022. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Malahayati - Theme Song Playground of Samudera Pasai". YouTube. Sekolah Cikal. 29 Februari 2024. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Lagu Gayo 2026 - Malahayati - Rizky". YouTube. Khairu Rizki Official. 9 Februari 2026. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Moerdopo, Endang (2008). Perempuan Keumala: Sebuah Epos untuk Nanggroe. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 9789790254770.
- ↑ "Laksamana Malahayati: Sang Perempuan Keumala". Perpustakaan Jakarta. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Komik Laksamana Keumalahayati Inspirasi Pejuang Perempuan Indonesia". Okezone. 1 Januari 2020. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kusumanto, Dody (12 Oktober 2017). "Laksamana Keumalahayati akan Diangkat Menjadi Film dan Komik?". KAORI Nusantara. Diakses tanggal 18 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chomaria, Nurul (2023). Laksamana Malahayati: Pejuang Wanita Penjaga Nusantara. Salsabila. ISBN 9786238019090.
Daftar pustaka
- Clavé-Çelik, Elsa (2014). "Silenced Fighters: An Insight into Women Combatants' History in Aceh (17th–20th c.)". Archipel. 87: 273–306. doi:10.3406/arch.2014.4465.
- Davis, John (1880). Markham, Albert Hastings (ed.). The Voyages and Works of John Davis, the Navigator. London: Hakluyt Society.
- Hasjmy, A. (1993). Wanita Aceh dalam Pemerintahan dan Peperangan. Disadur oleh Emi Suhaimi. Banda Aceh: Yayasan Pendidikan A. Hasjmy.
- Lombard, Denys (1991) [1967]. Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Diterjemahkan oleh Arifin, Winarsih (Edisi 2). Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 979-407-310-5.
- Salam, Solichin (1995). Malahayati: Srikandi dari Aceh. Jakarta: Gema Salam. ISBN 979-95005-0-8.
- Sufi, Rusdi (1994). "Laksamana Keumalahayati". Dalam Sofyan, Ismail; Alfian, Ibrahim; Basry, M. Hasan (ed.). Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Jayakarta Agung Offset.
- Sutrisna, Deni (2006). "Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam". Berkala Arkeologi Sangkhakala. 9 (18). Balai Arkeologi Medan. doi:10.24832/bas.v9i18.339.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |