Teuku Umar | |
|---|---|
Teuku Umar, sekitar 1890 | |
| Lahir | 1854 |
| Meninggal | 11 Februari 1899(1899-02-11) (umur 44–45) Suak Ujong Kalak, Meulaboh, Kesultanan Aceh |
Penyebab kematian | Luka tembak dalam pertempuran |
Tempat pemakaman | Mugo Rayeuk, Panton Reu, Aceh Barat |
| Pekerjaan | Uleebalang, panglima perang |
| Masa aktif | 1873–1899 |
| Dikenal karena | Pemimpin perlawanan dalam Perang Aceh |
| Gerakan | Perang Aceh |
| Lawan | Hindia Belanda |
| Pasangan menikah | Nyak Sofiah Nyak Meuligoe/Nyak Malighai Cut Nyak Dhien |
| Anak | termasuk Cut Gambang |
| Ayah | |
| Kerabat | Cut Nyak Dhien (kerabat dan istri) Cut Gambang (putri) |
Teuku Umar (ejaan lama: Teukoe Oemar; 1854 – 11 Februari 1899) adalah seorang bangsawan, uleebalang, dan panglima perang Aceh yang menjadi salah seorang pemimpin utama perlawanan terhadap ekspansi kolonial Hindia Belanda dalam Perang Aceh. Ia terkenal karena kemampuannya memadukan perang gerilya, diplomasi, pembangunan jaringan antarpemimpin Aceh, serta hubungan taktis dengan pemerintah kolonial. Episode yang paling terkenal dalam kehidupannya terjadi ketika ia berada dalam dinas pemerintah Hindia Belanda pada 1893–1896 dengan gelar Teuku Johan Pahlawan dan kemudian meninggalkan pemerintah kolonial bersama pasukannya dengan membawa ratusan pucuk senjata, amunisi, uang, dan perlengkapan militer.[1][2]
Teuku Umar lahir di daerah Meulaboh pada 1854 dari keluarga bangsawan yang mempunyai hubungan dengan lingkungan uleebalang VI Mukim dan penguasa Meulaboh. Garis keluarganya ditelusurkan kepada Makhdum Sati dan keluarga Nanta, yang mempunyai sejarah panjang antara Aceh dan daerah pantai barat Sumatra. Dalam sejumlah sumber populer Makhdum Sati disebut secara sederhana sebagai "orang Minangkabau yang merantau ke Aceh"; sumber lain memberikan gambaran yang lebih kompleks, yakni bahwa Makhdum Sati merupakan keturunan keluarga Panglima Nanta dari Aceh yang pernah ditempatkan di wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh di pantai barat Sumatra, berbaur dengan masyarakat setempat, lalu salah satu keturunannya kembali ke Aceh.[3]
Ketika Perang Aceh pecah pada 1873, Umar yang berusia sekitar sembilan belas tahun ikut melakukan perlawanan. Pengaruhnya meningkat selama dasawarsa berikutnya. Ia menikah dengan beberapa perempuan dari lingkungan bangsawan Aceh, termasuk Cut Nyak Dhien pada sekitar 1880. Hubungan keduanya kemudian berkembang menjadi kemitraan keluarga sekaligus politik dan militer.[1]
Dalam hubungannya dengan Belanda, Teuku Umar sedikitnya dua kali memasuki bentuk akomodasi politik atau kerja sama. Hubungan pertama berlangsung pada awal dasawarsa 1880-an dan berakhir secara dramatis dalam rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan kasus kapal Inggris Nisero. Hubungan yang jauh lebih besar dimulai pada 30 September 1893, ketika ia secara formal menyatakan kesetiaan kepada pemerintah kolonial. Belanda memberinya gelar, rumah di Lampisang, pasukan sendiri, gaji, dan persenjataan modern. Pada akhir Maret 1896 ia berbalik melawan pemerintah kolonial. Peristiwa itu dikenal dalam penulisan Belanda sebagai Het verraad van Teukoe Oemar ("pengkhianatan Teuku Umar").[2]
Setelah kembali ke pihak Aceh, Umar menjadi salah seorang pemimpin terpenting perang. Pada 1898 ia bergabung dengan Sultan Muhammad Daud Syah dan Teuku Panglima Polem Muhammad Daud di Pidie. Sebuah musyawarah pemimpin Aceh di Keude Meulu pada Juli 1898 kemudian mengangkatnya sebagai panglima untuk mengoordinasikan peperangan.[4]
Pada malam 10–11 Februari 1899, ketika merencanakan serangan ke Meulaboh, kelompok Umar memasuki sebuah penyergapan kecil Belanda di bawah Letnan J.J. Verbrugh di kawasan pantai dekat Suak Ujong Kalak. Umar terkena tembakan dan meninggal beberapa saat kemudian. Pengikutnya membawa jenazahnya menjauh dari medan pertempuran agar tidak jatuh ke tangan Belanda dan kemudian memakamkannya di pedalaman Aceh Barat.[5]
Pemerintah Indonesia menetapkan Teuku Umar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973.[6]
Nama dan gelar
Dalam sumber Belanda namanya lazim ditulis Teukoe Oemar. Bentuk Indonesia modern menggunakan Teuku Umar.
Teuku adalah gelar bangsawan laki-laki dalam masyarakat Aceh. Karena itu, Teuku dalam namanya merupakan gelar dan bukan bagian dari nama pribadi sebagaimana dipahami dalam sistem nama keluarga modern.
Ketika berada dalam dinas pemerintah Hindia Belanda pada 1893–1896, Umar memperoleh nama kehormatan Teuku Johan Pahlawan, juga ditulis dalam sumber Belanda sebagai Teukoe Djohan Pahlawan. Dalam dokumen kolonial gelarnya dapat muncul dalam bentuk lebih panjang sebagai Teukoe Djohan Pahlawan Panglima Prang Besar.
Gelar Johan Pahlawan kemudian tetap melekat dalam ingatan masyarakat Aceh meskipun kedudukannya dalam pemerintahan kolonial dicabut setelah ia berbalik melawan Belanda pada 1896.
Kelahiran
Teuku Umar lahir di Meulaboh, pantai barat Aceh, pada 1854.[1]
Bulan dan tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Mardanas Safwan secara khusus menyatakan bahwa tahun 1854 diketahui dalam tradisi biografis, tetapi tidak ditemukan tanggal dan bulan kelahiran yang dapat dipastikan.[1]
Karena itu, tanggal lahir tertentu yang kadang muncul dalam tulisan internet tidak sebaiknya digunakan tanpa sumber tambahan.
Keluarga dan perbedaan silsilah
Ayah dan ibu
Mardanas Safwan menyebut ayah Teuku Umar sebagai Teuku Achmad Mahmud, seorang uleebalang dari lingkungan Meulaboh. Ibunya disebut sebagai adik perempuan Raja Meulaboh.[1]
Namun bagan silsilah yang dipamerkan di Sasana Budaya Cut Nyak Dhien di Lampisang menuliskan nama orang tuanya sebagai Teuku Cut Mahmud dan Cut Mahani.[7]
Bagan tersebut menempatkan Teuku Umar bersama dua saudara laki-laki yang disebut Teuku Cut Ahmad dan Teuku Musa.
Sementara itu, Safwan menyebut Umar mempunyai lima saudara: tiga laki-laki dan dua perempuan.[1] Perbedaan jumlah tersebut tidak harus berarti salah satu sumber sepenuhnya keliru karena bagan silsilah museum dapat saja hanya mencantumkan anggota keluarga yang relevan dengan garis genealogis utama. Namun nama dan jumlah saudara Teuku Umar masih perlu dibedakan menurut sumber.
Makhdum Sati dan keluarga Nanta
Silsilah Teuku Umar berkaitan erat dengan keluarga Cut Nyak Dhien.
Menurut Muchtaruddin Ibrahim, pada masa ketika Kesultanan Aceh menguasai sebagian pantai barat Sumatra, seorang Uleebalang Panglima Nanta dari lingkungan kekuasaan Aceh ditempatkan untuk mengatur dan mengawasi daerah vasal Aceh di kawasan tersebut. Salah seorang keturunannya adalah Makhdum Sati.[3]
Dengan demikian, keluarga tersebut telah menetap selama beberapa generasi di wilayah yang sekarang termasuk Sumatra Barat dan berbaur dengan masyarakat setempat sebelum keturunan mereka kembali bergerak ke utara menuju Aceh.
Tradisi lain menyebut leluhur tersebut sebagai Laksamana Muda Nanta, seorang wakil atau panglima Kesultanan Aceh di Pariaman pada masa Sultan Iskandar Muda. Dalam versi tersebut pula Makhdum Sati disebut sebagai keturunan Nanta.
Terdapat perbedaan kronologi antara versi yang menghubungkan Nanta dengan pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan versi Muchtaruddin Ibrahim yang menghubungkannya dengan pemerintahan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah.
Kembalinya Makhdum Sati ke Aceh
Menurut Muchtaruddin Ibrahim, pada masa pemerintahan Sultan Jamalul Alam, Makhdum Sati bersama rombongan sekitar dua belas perahu berlayar ke utara menyusuri pantai barat Sumatra dan mendarat di sekitar Pasir Karam, dekat Meulaboh.[3]
Mereka kemudian menetap dan membentuk perkampungan baru.
Makhdum Sati dan rombongannya selanjutnya terlibat membantu pihak Aceh dalam konflik setempat. Keturunannya kemudian memperoleh kedudukan dalam struktur kekuasaan Kesultanan Aceh.
Sebuah publikasi mengenai enam Pahlawan Nasional asal Aceh menyebut bahwa atas jasanya kepada Sultan Aceh, Makhdum Sati memperoleh kekuasaan turun-temurun di VI Mukim dan menggunakan gelar Nanta Seutia Raja.[8]
Keturunan keluarga tersebut kemudian terbagi menjadi cabang yang melahirkan Teuku Nanta Muda Seutia—ayah Cut Nyak Dhien—dan cabang Teuku Cut Mahmud, yang menjadi ayah Teuku Umar.
Oleh karena itu, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien mempunyai hubungan kekerabatan sebelum menjadi pasangan suami istri.
Penyederhanaan mengenai "keturunan Minangkabau"
Sejumlah buku pelajaran dan artikel populer menyingkat silsilah tersebut dengan menyebut Teuku Umar sebagai keturunan Minangkabau.
Apabila tradisi keluarga Nanta diperhitungkan, garis tersebut bermula dari lingkungan kekuasaan Aceh yang pernah ditempatkan di pantai barat Sumatra, kemudian menetap dan berbaur di sana selama beberapa generasi, sebelum akhirnya kembali ke wilayah Aceh.
Karena itu, lebih tepat menyebut keluarga Teuku Umar sebagai keluarga Aceh yang mempunyai sejarah selama masa tinggal leluhurnya di rantau pantai barat Sumatra, daripada secara sederhana menggambarkannya sebagai keluarga Minangkabau yang baru bermigrasi ke Aceh.
Masa kecil
Informasi mengenai masa kecil Teuku Umar terbatas.
Biografi nasional menggambarkannya sebagai anak yang mempunyai karakter keras, berani, cepat mengambil keputusan, dan sejak muda sering terlibat dalam perselisihan dengan teman-teman sebayanya.[1]
Ia tidak diketahui memperoleh pendidikan formal Barat.
Pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya berkembang melalui lingkungan keluarga bangsawan, kehidupan masyarakat Aceh, pengalaman politik setempat, hubungan dengan uleebalang lain, serta pengalaman langsung dalam peperangan.
Ketiadaan pendidikan formal tidak menghalanginya menjadi pemimpin yang mampu bernegosiasi dengan pejabat kolonial, memahami politik antarkelompok di Aceh, dan mengorganisasi satuan bersenjata dalam jumlah besar.
Dalam sumber-sumber kolonial kemudian, Umar bahkan digambarkan sebagai tokoh yang mengikuti berita politik dan memiliki kemampuan membaca situasi secara tajam.
Perkawinan
Teuku Umar diketahui mempunyai lebih dari satu istri.
Nyak Sofiah
Sekitar usia dua puluh tahun, Umar menikah dengan Nyak Sofiah atau Nyak Sapiah, putri Uleebalang Glumpang.[1]
Perkawinan tersebut terjadi ketika kedudukannya dalam masyarakat setempat sedang berkembang.
Nyak Malighai atau Nyak Meuligoe
Umar kemudian menikah dengan perempuan yang dalam sumber disebut Nyak Malighai, Nyak Meuligoe, atau variasi ejaan serupa.
Ia merupakan putri dari lingkungan Panglima Sagi XXV Mukim.
Perkawinan ini memperluas hubungan politik Umar dengan bangsawan dan pemimpin di Aceh Besar.
Silsilah keluarga yang beredar menyebut sejumlah anak dari perkawinan ini, antara lain Teuku Sapeh', Teuku Raja Sulaiman, Cut Mariyam, Cut Sjak, Cut Teungoh, dan Teuku Bidin. Namun daftar tersebut tidak dicatat secara sama dalam semua biografi Teuku Umar sehingga sebaiknya diperlakukan sebagai tradisi genealogis keluarga sampai dapat dibandingkan lebih jauh dengan dokumen sezaman.
Cut Nyak Dhien
Sekitar 1880, Teuku Umar menikah dengan Cut Nyak Dhien, yang telah menjadi janda setelah suami pertamanya Teuku Cek Ibrahim Lamnga gugur pada 29 Juni 1878.[3]
Cut Nyak Dhien dan Umar masih mempunyai hubungan kekerabatan melalui keluarga Nanta.
Dalam tradisi biografis, Cut Nyak Dhien pada awalnya tidak langsung menerima lamaran Umar. Ia kemudian bersedia setelah memperoleh jaminan bahwa perkawinan tersebut tidak akan menghalanginya ikut dalam perjuangan melawan Belanda.
Perkawinan keduanya kemudian berkembang menjadi salah satu kemitraan politik dan militer yang paling dikenal dalam sejarah Perang Aceh.
Dari perkawinan tersebut lahir seorang putri bernama Cut Gambang. Muchtaruddin Ibrahim secara eksplisit menyebutnya sebagai anak Cut Nyak Dhien dari Teuku Umar yang lahir ketika kedua orang tuanya hidup dalam pengungsian.[3]
Awal Perang Aceh
Pada 26 Maret 1873 pemerintah Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh.
Teuku Umar ketika itu berusia sekitar sembilan belas tahun.
Ia ikut dalam perlawanan bersama pejuang Aceh lainnya. Menurut biografi nasional, pada tahap awal Umar berjuang di daerah sekitar tempat tinggalnya dan kemudian semakin aktif di kawasan pantai barat Aceh.[1]
Pada usia relatif muda ia disebut telah memperoleh kedudukan sebagai keuchik di salah satu gampong di kawasan Daya–Meulaboh.
Kedudukan sebagai pemimpin lokal memberinya dasar sosial untuk mengumpulkan pengikut.
Perang Aceh selanjutnya berlangsung jauh lebih lama daripada yang diperkirakan pemerintah Belanda. Setelah pusat pemerintahan Kesultanan Aceh di Kutaraja diduduki pada 1874, peperangan berubah menjadi perlawanan yang tersebar di berbagai wilayah.
Umar muncul sebagai salah satu pemimpin lokal yang semakin berpengaruh dalam situasi tersebut.
Perlawanan awal
Dalam dasawarsa 1870-an dan awal 1880-an Umar melakukan serangan terhadap kedudukan dan jalur komunikasi Belanda.
Wilayah geraknya mencakup Aceh Barat dan kemudian daerah Aceh Besar.
Berbeda dari struktur tentara reguler modern, pasukan Aceh pada periode tersebut tersusun atas kelompok-kelompok yang dipimpin uleebalang, ulama, panglima lokal, serta pemimpin keluarga.
Umar membangun pengaruh melalui jaringan tersebut.
Kemampuannya menarik pengikut dan berpindah antara berbagai daerah kemudian menjadi salah satu kekuatan utama strategi militernya.
Hubungan pertama dengan Belanda
Sekitar 1883, Umar memasuki hubungan akomodatif dengan pemerintah kolonial.
Dalam historiografi Indonesia, episode tersebut sering digambarkan sejak awal sebagai siasat berpura-pura menyerah untuk memperoleh senjata Belanda.[1]
Akan tetapi, sumber sezaman dan penulisan kolonial tidak selalu menunjukkan bahwa seluruh hubungan tersebut sejak awal telah dirancang sebagai satu tipu daya jangka panjang.
Pemerintah kolonial sendiri juga mempunyai kepentingan. Gubernur Aceh berusaha menggunakan pengaruh Umar untuk menarik pemimpin dan masyarakat Aceh ke pihak Belanda.
Dengan demikian, hubungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai pertemuan kepentingan yang dapat ditafsirkan berbeda oleh kedua pihak.
Peristiwa Nisero
Terdamparnya kapal
Pada 8 November 1883, kapal dagang Inggris Nisero kandas di pantai barat Aceh dekat wilayah Teunom.[9]
Awak kapal kemudian ditahan oleh penguasa Teunom.
Persoalan tersebut berkembang menjadi masalah diplomatik antara pemerintah Belanda dan Inggris karena Belanda mengklaim kedaulatan atas Aceh tetapi tidak mampu menjamin pembebasan awak kapal.
Pada Januari 1884 sebuah operasi militer Belanda ke Teunom gagal membebaskan para sandera.[9]
Keterlibatan Teuku Umar
Belanda kemudian mencoba menggunakan Teuku Umar untuk membantu penyelesaian perkara tersebut.
Menurut sejumlah biografi Indonesia, Umar bersedia jika diberikan persenjataan dan perlengkapan yang memadai.
Ia berangkat bersama sekitar 32 orang pengikutnya menggunakan kapal pemerintah menuju pantai barat Aceh.[1]
Angka 32 kemudian mengalami kesalahan reproduksi dalam sejumlah tulisan populer yang mengubahnya menjadi 32 tentara Belanda yang dibawa Umar. Dalam versi Safwan dan sumber lain, angka tersebut pada dasarnya merujuk kepada pengikut Umar.
Setelah mendarat, hubungan Umar dengan pengiring atau awak Belanda pecah.
Sebuah kajian mengenai perkara Nisero berdasarkan sumber Belanda menyebut Umar diperlakukan secara merendahkan oleh perwira kapal pemerintah. Setelah tiba di pantai, pengikut Umar menyerang awak perahu yang mengantarnya dan membawa pergi persenjataan serta amunisi.[9]
Umar kemudian kembali berada di pihak perlawanan Aceh.
Masalah tahun 1883 dan 1884
Biografi Mardanas Safwan memuat ketidaksesuaian kronologis: Nisero disebut kandas pada November 1883, tetapi keberangkatan Umar dalam salah satu bagian ditulis 3 Juli 1883.[1]
Tanggal tersebut tidak mungkin terjadi karena kapal belum kandas pada Juli 1883.
Sumber lain dan kronologi internasional perkara Nisero menempatkan keterlibatan Umar pada 1884. Dengan demikian, tahun 1883 dalam keterangan keberangkatan tersebut sangat mungkin merupakan kesalahan pencetakan atau penanggalan.
Pembebasan sandera
Persoalan Nisero tidak selesai melalui operasi Umar.
Setelah negosiasi Inggris–Belanda dan tekanan lebih lanjut terhadap Teunom, para awak akhirnya dibebaskan pada September 1884 dengan pembayaran tebusan yang besar.[9]
Keterlibatan Umar dalam kasus tersebut justru memperburuk reputasinya di mata pemerintah kolonial dan menambah persenjataannya.
Kembali melakukan perlawanan
Setelah peristiwa Nisero, Umar kembali memimpin pasukan Aceh.
Persenjataan yang diperolehnya dibagikan dan digunakan untuk memperkuat kelompok perlawanan.
Umar bersama keluarga Nanta dan Cut Nyak Dhien kemudian berhasil memperkuat kembali kedudukan mereka di VI Mukim.
Mereka akhirnya kembali ke kawasan Lampisang di Aceh Besar.
Rumah keluarga Umar–Cut Nyak Dhien di Lampisang kemudian menjadi salah satu pusat kegiatan politik dan pertemuan tokoh-tokoh perlawanan.
Peristiwa Hok Canton
Pada 1886 nama Teuku Umar kembali menjadi perhatian internasional akibat peristiwa kapal Hok Canton di Rigaih.
Kedatangan kapal
Hok Canton merupakan kapal berbendera Hindia Belanda yang berlayar antara pelabuhan-pelabuhan Aceh dan kawasan Selat Malaka.
Kapal tersebut tiba di perairan Rigaih pada 13 Juni 1886 untuk melakukan transaksi lada.
Nakhodanya adalah seorang warga Denmark bernama Hansen.
Menurut laporan kontemporer, sekitar pukul tujuh pagi pada 14 Juni 1886, beberapa perahu Aceh mendekati kapal. Umar kemudian naik ke kapal bersama sekitar 25–30 pengikut bersenjata.[10]
Tanggal 14 Juni dalam laporan kontemporer berbeda dari 15 Juni yang sering muncul dalam penulisan populer.
Penyerangan
Setelah para pengikut Umar tersebar di kapal, terjadi serangan terhadap awak Eropa.
Perwira pertama dan kepala mesin Robert McCulloch terbunuh dalam perlawanan. Kapten Hansen mengalami luka berat di kepala dan tubuhnya.
Hansen dan istrinya kemudian dibawa ke darat. Hansen meninggal akibat luka-lukanya beberapa hari kemudian.[10]
Karena itu, penulisan yang menyatakan Hansen langsung “ditembak mati oleh Teuku Umar” menyederhanakan peristiwa dan tidak sesuai sepenuhnya dengan laporan kontemporer.
Istri Hansen dan seorang teknisi bernama Fay ditahan.
Enam awak pribumi kapal kemudian dibebaskan.
Umar dan kelompoknya juga mengambil uang, persenjataan, amunisi, serta barang-barang lain dari kapal.
Tuntutan tebusan
Teuku Umar menuntut tebusan sekitar 50.000 dolar untuk para sandera.[10]
Pemerintah kolonial mencoba menggunakan tekanan militer tetapi mengalami kesulitan mencapai penyelesaian.
Dalam perkembangan selanjutnya jumlah tebusan yang dibayarkan disebut sekitar 25.000 dolar.
Peristiwa tersebut menambah reputasi Umar sebagai salah satu tokoh paling berbahaya di pantai barat Aceh.
Dugaan rencana Hansen menangkap Umar
Dalam sejumlah penulisan Indonesia, Hansen dikatakan sebenarnya berniat menjebak dan menangkap Umar untuk memperoleh hadiah yang ditawarkan pemerintah kolonial.
Versi tersebut terutama muncul dalam sejarah Aceh kemudian.
Sebaliknya, laporan pers kontemporer lebih menekankan transaksi lada dan penyerangan mendadak terhadap kapal.
Karena itu, motif Hansen untuk menculik Umar sebaiknya ditulis sebagai versi yang terdapat dalam sumber sejarah Indonesia kemudian, bukan sebagai fakta tunggal yang tidak diperdebatkan.
Perubahan keadaan perang
Memasuki awal 1890-an, sejumlah pemimpin utama Aceh gugur.
Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman meninggal pada 1891. Panglima Polem VIII juga meninggal dalam periode yang berdekatan.
Pada saat yang sama perang telah menguras sumber daya pemerintah Belanda maupun masyarakat Aceh.
Pemerintah kolonial kemudian mencari cara untuk membangun hubungan dengan uleebalang yang masih mempunyai pengaruh besar.
Teuku Umar menjadi salah satu sasaran utama kebijakan tersebut.
Akomodasi dengan Belanda, 1893
Penyerahan formal
Pada 30 September 1893, Teuku Umar datang ke Kutaraja dan secara resmi menyatakan kesetiaan kepada pemerintah kolonial.
Jumlah panglima yang ikut bersamanya berbeda menurut sumber. Penulisan Indonesia lazim menyebut 13 panglima dan sekitar 250 pengikut, sementara beberapa sumber Belanda menyebut sekitar 15 panglima.[2]
Sumpah tersebut dilakukan di lingkungan Peulanggahan di hadapan pejabat Aceh dan pemerintah kolonial.
Pemerintah kolonial menerima Umar dengan antusias karena salah seorang pemimpin perlawanan paling berpengaruh tampaknya telah beralih pihak.
Gelar Teuku Johan Pahlawan
Umar memperoleh gelar Teuku Johan Pahlawan.
Ia juga memperoleh jabatan sebagai panglima dalam struktur militer atau politik pemerintah kolonial.
Pada 1 Januari 1894 ia memperoleh izin membentuk sebuah legiun bersenjata yang berjumlah sekitar 250 orang, dibiayai dan dipersenjatai oleh pemerintah Hindia Belanda.[2]
Karena itu, perlu dibedakan antara tanggal penyerahan dan pemberian gelar pada 1893 dengan pembentukan pasukan resminya pada awal 1894.
Rumah di Lampisang
Pemerintah Belanda membangun atau menyediakan sebuah rumah untuk Umar di Lampisang.
Foto-foto kolonial memperlihatkan Umar bersama pengikutnya di depan rumah tersebut.
Rumah asli kemudian rusak atau dihancurkan dalam operasi Belanda setelah pembelotannya pada 1896. Bangunan yang sekarang dikenal sebagai rumah Cut Nyak Dhien di Lampisang merupakan rekonstruksi yang kemudian dijadikan museum.
Kegiatan dalam dinas Belanda
Selama sekitar dua setengah tahun berikutnya, Umar benar-benar menjalankan sejumlah operasi untuk pemerintah kolonial.
Pasukannya terlibat dalam operasi terhadap daerah-daerah yang belum tunduk dan membantu memperluas posisi Belanda di beberapa bagian XXV, XXVI, dan XXII Mukim.[2]
Hal ini penting karena dalam penulisan Indonesia kemudian seluruh operasi tersebut kadang digambarkan sekadar sebagai pertempuran pura-pura.
Kemungkinan Umar memang berusaha menghindari menghancurkan jaringan perlawanan tertentu dan menggunakan posisinya untuk berkomunikasi dengan pihak Aceh. Namun sumber Belanda menunjukkan bahwa pemerintah kolonial juga memperoleh keuntungan nyata dari operasi pasukannya.
Hubungan 1893–1896 karena itu merupakan salah satu bagian paling kompleks dalam biografi Umar.
Sikap Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien tidak menyambut baik kedekatan suaminya dengan Belanda.
Menurut Muchtaruddin Ibrahim, ia berkali-kali memperingatkan Umar bahwa jika ia benar-benar menjadi alat pemerintah kolonial, namanya akan dikenang masyarakat Aceh sebagai pengkhianat.[3]
Tekanan juga datang dari tokoh-tokoh perlawanan lainnya.
Teungku Fakinah, misalnya, mengirim pesan keras kepada Cut Nyak Dhien ketika pasukan Umar diarahkan menuju pertahanan Lamkrak.
Cut Nyak Dhien menjawab bahwa ia tetap berusaha mendorong suaminya kembali kepada perjuangan Aceh.[3]
Dalam tradisi biografis Indonesia, tekanan Cut Nyak Dhien sering disebut sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan Umar.
Apakah kerja sama 1893 sejak awal merupakan tipu daya?
Historiografi Indonesia pascakemerdekaan umumnya menggambarkan penyerahan Umar pada 1893 sebagai bagian dari satu strategi penyamaran yang telah direncanakan sejak awal untuk memperoleh senjata Belanda.
Interpretasi itu kemudian menjadi salah satu unsur utama citra kepahlawanannya.
Namun sumber sejarah tidak memungkinkan kesimpulan tersebut dibuat secara sederhana.
Selama 1893–1896 Umar benar-benar memimpin operasi untuk pemerintah, menerima jabatan, memperoleh gaji, mengembangkan pasukan, dan membantu pemerintah kolonial memperluas kontrol di beberapa daerah.[2]
Sebaliknya, terdapat pula indikasi bahwa ia tetap mempunyai hubungan dengan kelompok Aceh dan menggunakan sumber daya Belanda untuk memperkuat kedudukannya sendiri.
Bukti yang lebih kuat tersedia mengenai pembelotan pada Maret 1896. Pemerintah kolonial bahkan memperoleh laporan intelijen bahwa Umar akan berbalik beberapa hari sebelum peristiwa tersebut.[2]
Karena itu, dapat dikatakan bahwa pembelotan 1896 dipersiapkan, tetapi hal tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh hubungan yang dimulai pada September 1893 telah dirancang sebagai satu sandiwara sejak hari pertama.
Krisis Maret 1896
Pada Maret 1896 pemerintah Belanda mempersiapkan operasi besar menuju daerah Lamkrak.
Teuku Umar dijadwalkan ikut serta.
Untuk mendukung operasi tersebut pemerintah menyerahkan persenjataan dalam jumlah besar kepadanya.
Persenjataan dan perlengkapan
Paul van 't Veer mencatat bahwa pada 26 Maret 1896 Umar menerima sekitar:
- 380 pucuk senapan modern sistem Beaumont;
- sekitar 500 pucuk senapan lama;
- 25.000 butir peluru;
- sekitar 500 kilogram mesiu;
- sekitar 120.000 kapsul perkusi;
- sekitar 5.000 kilogram timah;
- persediaan candu; dan
- sekitar 18.000 dolar Spanyol.[2]
Permintaannya untuk memperoleh artileri lapangan tidak dikabulkan.
Jumlah tersebut menjelaskan asal angka yang kemudian sering disederhanakan menjadi 800 pucuk senjata, 25.000 peluru, 500 kilogram amunisi, dan 18.000 dolar.
Apabila rincian van 't Veer digunakan, jumlah senjata yang berada di tangannya mencapai kira-kira 880 pucuk yang terdiri atas senjata modern dan senjata lama.
Peringatan intelijen
Pemerintah kolonial sebenarnya telah menerima peringatan.
Pada 27 Maret terdapat informasi dari sumber yang dianggap dapat dipercaya bahwa Umar berniat berbalik.
Pada 28 Maret perilakunya juga dianggap semakin mencurigakan.
Namun Gubernur Deijkerhoff atau Deijkerhoff masih mempercayainya, antara lain karena Umar datang dan memberikan penjelasan yang dianggap meyakinkan.[2]
Pembelotan, 29–30 Maret 1896
Pada 29 Maret 1896, pembelotan pasukan Umar mulai menjadi kenyataan.
Sejumlah bawahannya kembali melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda dengan menggunakan senjata yang baru diperoleh.[2]
Pada 30 Maret, Umar mengirim surat dari Lampisang yang menyatakan bahwa ia tidak dapat mengikuti operasi Belanda ke Lamkrak.
Ia mengemukakan sejumlah alasan, termasuk perlakuan dan penghinaan yang menurutnya diterima dari pejabat Belanda.
Dengan demikian, dua tanggal yang sering muncul dalam sejarahnya sebenarnya merujuk pada tahapan yang berdekatan:
29 Maret 1896 adalah saat pembelotan secara praktis telah terlihat, sedangkan 30 Maret 1896 berkaitan dengan surat atau pemberitahuan Umar kepada pihak kolonial.
Dalam historiografi Belanda peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Het verraad van Teukoe Oemar.
Dampak pembelotan
Berita tersebut menimbulkan krisis politik besar bagi pemerintah Hindia Belanda.
Seorang pemimpin yang selama hampir tiga tahun diberi kepercayaan, pasukan, uang, dan senjata kini menggunakan sumber daya itu untuk kembali melawan pemerintah.
Gubernur Deijkerhoff mendapat kecaman keras karena dianggap terlalu mempercayai Umar.
Pemerintah mengirim pasukan tambahan dan Letnan Jenderal Vetter terlibat dalam tindakan militer berikutnya.
Pada 26 April 1896, Umar secara resmi dicopot dari kedudukan dan gelar yang diberikan pemerintah kolonial.
Belanda juga menyerang daerah kekuasaannya dan menghancurkan kedudukan di Lampisang.
Propaganda Belanda
Pembelotan Umar mendapat perhatian besar di Belanda.
Namanya menjadi simbol rasa malu pemerintah kolonial dan bahan karikatur serta lagu populer.
Salah satu sajak atau lagu jalanan Belanda yang kemudian terkenal menyerukan agar Teuku Umar dan istrinya digantung.
Dalam pers dan karikatur, pemerintah kolonial digambarkan telah tertipu oleh seorang pemimpin Aceh yang sebelumnya telah lama dianggap tidak dapat dipercaya.
Kegagalan tersebut kemudian menjadi salah satu contoh yang digunakan para pengkritik kebijakan Aceh untuk menunjukkan kelemahan administrasi kolonial.
Kembali memimpin perlawanan
Setelah Maret 1896, Umar kembali sepenuhnya ke pihak perlawanan.
Persenjataan modern yang dibawanya meningkatkan kekuatan pasukannya.
Ia juga mendorong uleebalang lain kembali melawan Belanda.
Namun pernyataan bahwa "seluruh komando Perang Aceh langsung berada di tangan Teuku Umar sejak 1896" terlalu sederhana.
Pada waktu itu perlawanan Aceh masih mempunyai banyak pusat kepemimpinan: Sultan Muhammad Daud Syah, Panglima Polem, ulama, serta uleebalang daerah tetap memimpin kelompok masing-masing.
Koordinasi yang lebih formal baru dilakukan kemudian.
Operasi Belanda setelah 1896
Pemerintah kolonial melancarkan operasi besar untuk mengejar Umar.
Pasukannya terus bergerak dari Aceh Besar ke daerah pantai barat dan kemudian ke Pidie.
Perang bergerak berlangsung melalui penyerangan mendadak, penghadangan jalur logistik, penyergapan, serta usaha Belanda memutus hubungan antara Umar dan masyarakat.
Dalam beberapa kesempatan pasukan Belanda hampir berhasil mengepung kelompoknya, tetapi Umar menggunakan pengetahuan medan dan jaringan informasi untuk keluar dari tekanan.
Pertemuan Garot 1897
Pada November 1897 Sultan Muhammad Daud Syah mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Aceh di Garot, Pidie.
Pertemuan tersebut dihadiri Panglima Polem, sejumlah uleebalang, ulama, dan pemimpin perlawanan.
Salah satu keputusan yang diambil adalah mengundang Teuku Umar, yang ketika itu masih memusatkan perjuangannya di wilayah barat Aceh, untuk bergabung dengan kekuatan Sultan.[11]
Pada awal Januari 1898, Umar bersama pasukannya datang dan bergabung dengan Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem.[11]
Sebagian sumber menggunakan Februari 1898 untuk kedatangannya di Pidie; perbedaan tersebut kemungkinan berkaitan dengan perjalanan dan tahapan penggabungan pasukan.
Kesetiaan kepada Sultan
Pada 1898 Umar secara terbuka menempatkan perjuangannya kembali di bawah kepemimpinan Kesultanan Aceh.
Pada 1 April 1898, menurut beberapa sumber, Sultan, Panglima Polem, Umar, uleebalang, dan ulama melakukan pernyataan atau sumpah bersama untuk melanjutkan perlawanan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa setelah meninggalkan Belanda, Umar tidak sekadar memimpin pasukan pribadinya tetapi berusaha membangun kembali koordinasi dengan otoritas kesultanan.
Pengangkatan sebagai panglima perang
Pada Juli 1898 diadakan musyawarah besar pemimpin Aceh di Keude Meulu/Kede Mala di Pidie.
Sumber berbeda mengenai tanggal tepatnya.
Publikasi Peperangan dan Serangan menyebut 23 Juli 1898.[4]
Biografi Mardanas Safwan dan beberapa karya lain menyebut 25 Juli 1898.[1]
Dalam pertemuan tersebut Umar diangkat sebagai pemimpin atau panglima perang untuk mengoordinasikan perjuangan.
Menurut Safwan, pengangkatan dilakukan oleh Sultan Muhammad Daud Syah dengan surat yang menggunakan Cap Sikureueng atau Cap Sembilan.[1]
Pengangkatan ini lebih tepat dijadikan titik ketika Umar memperoleh kedudukan komando yang luas daripada pernyataan populer bahwa ia telah memimpin seluruh perang sejak 1896.
Konsep perang gerilya
Dalam penulisan biografis, Umar menekankan bahwa pasukan Aceh tidak dapat mengalahkan tentara Belanda melalui pertempuran terbuka terus-menerus.
Keterbatasan senjata, pasokan, dan organisasi menuntut penggunaan perang bergerak.
Ia menganjurkan penyergapan, pengalihan informasi, pemanfaatan medan pegunungan dan hutan, serta usaha melelahkan pasukan musuh.[1]
Ia juga menggunakan jaringan informasi dan kontraintelijen.
Keterangan mengenai posisinya sengaja dibuat simpang siur sehingga Belanda sulit memastikan lokasi pasukannya.
Strategi ini menjadi semakin penting ketika J. B. van Heutsz meningkatkan operasi bergerak dengan pasukan yang lebih terlatih menghadapi perang gerilya.
Mundur dari Pidie
Pada Agustus 1898 tekanan militer Belanda di Pidie semakin berat.
Pada 22 Agustus pasukan Belanda menyerang pertahanan Aceh di kawasan tersebut.[11]
Umar kemudian mengundurkan pasukannya kembali ke arah pantai barat.
Ia membangun basis baru di sekitar Woyla, Teunom, dan kawasan pedalaman Meulaboh.
Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem bergerak menuju daerah lain sehingga kepemimpinan perang kembali tersebar.
Operasi terakhir di Aceh Barat
Pada akhir 1898 dan awal 1899 Belanda meningkatkan usaha untuk menghancurkan kekuatan Umar.
Pada September 1898 satuan infanteri dan beberapa brigade Marechaussee dikirim ke wilayah Meulaboh untuk mengejarnya.[5]
Namun Umar mempunyai jaringan mata-mata yang baik sehingga berulang kali dapat menghindari kolone besar Belanda.
Pada awal Februari 1899 Gubernur Militer Joannes Benedictus van Heutsz datang sendiri ke Meulaboh.
Kolone besar Belanda kemudian bergerak menuju pedalaman untuk memotong jalur Umar.
Umar menyadari bahwa sebagian besar pasukan telah meninggalkan Meulaboh dan memutuskan memanfaatkan keadaan tersebut dengan bergerak menuju kota.
Rencana menyerang Meulaboh
Pada 10 Februari 1899 pemerintah Belanda memperoleh informasi bahwa Umar bersama sekitar 400 orang bersenjata sedang bergerak untuk menyerang Meulaboh pada malam berikutnya.[5]
Informasi juga menyebut kelompok Umar telah berada di sekitar Bubon, kira-kira sepuluh kilometer dari Meulaboh.
Van Heutsz kemudian memerintahkan Letnan J.J. Verbrugh keluar dengan sekitar dua puluh serdadu untuk membuat penyergapan di jalur pantai yang diperkirakan akan dilalui Umar.[5]
Pasukan yang digunakan sangat kecil karena sebagian besar kekuatan Belanda sedang berada di pedalaman.
Penyergapan Suak Ujong Kalak
Verbrugh memilih lokasi dekat sebuah aliran atau muara rawa di sepanjang pantai.
Di belakang pantai terbentang rawa sehingga pada malam hari kelompok yang bergerak menuju Meulaboh hampir harus melewati jalur sempit di sepanjang laut.[5]
Pada malam 10 menuju 11 Februari 1899, kelompok Umar mendekati posisi tersebut.
Terjadi kontak senjata.
Dalam pertempuran singkat itu Umar terkena tembakan dan mengalami luka fatal.
Catatan Belanda menyebut ia meninggal beberapa saat kemudian.[5]
Pertempuran ini dalam tradisi lokal dikaitkan dengan kawasan Suak Ujong Kalak.
Siapa yang menembak Teuku Umar?
Identitas orang yang menembakkan peluru fatal tidak diketahui secara pasti dalam sumber-sumber utama.
Catatan mengenai penyergapan menyebut satuan di bawah Letnan Verbrugh sebagai pihak yang melakukan serangan tetapi tidak memberi nama seorang serdadu tertentu sebagai penembak Umar.[5]
Dalam beberapa tulisan internet modern muncul klaim bahwa Umar ditembak oleh seorang anggota Marechaussee bernama Jesajas atau Yesayas Pongoh.
Klaim tersebut tidak ditemukan dalam sumber sejarah utama mengenai penyergapan dan tampaknya berasal dari tulisan modern yang tidak menunjukkan dokumen primer yang dapat diverifikasi.
Tanggal kematian
Tanggal yang paling luas didukung adalah 11 Februari 1899.
Arsip Nasional Republik Indonesia juga mencantumkan 11 Februari 1899 sebagai tanggal gugurnya Teuku Umar.[6]
Sebuah artikel Belanda pada 1924 yang memperingati dua puluh lima tahun kematiannya secara eksplisit berjudul De dood van Toekoe Oemar (11 Februari 1899).[5]
Namun beberapa publikasi Indonesia menggunakan 10 Februari 1899.
Perbedaan tersebut dapat dijelaskan karena gerakan menuju Meulaboh dan persiapan penyergapan berlangsung pada 10 Februari, sedangkan kontak senjata dan kematiannya terjadi pada malam yang melewati pergantian tanggal 10–11 Februari.
Karena itu, 11 Februari 1899 merupakan tanggal yang lebih tepat untuk dicantumkan dalam infobox, sedangkan 10 Februari dapat dijelaskan sebagai tanggal awal rangkaian operasi terakhir.
Tanggal 1 Februari 1899 yang kadang muncul merupakan kesalahan penulisan dan tidak sesuai dengan kronologi operasi.
Penyelamatan jenazah
Pengikut Umar segera membawa jenazahnya agar tidak jatuh ke tangan Belanda.
Menurut catatan Belanda tahun 1924, jenazah pada malam itu dibawa menuju sebuah kampung bernama Rantau Panjang di Sungai Meureubo dan kemudian dimakamkan lebih jauh ke utara, dekat daerah Mugo.[5]
Tradisi lokal memberikan keterangan lebih rinci bahwa jenazah dipindahkan beberapa kali untuk menyembunyikan makam dari Belanda.
Beberapa tempat yang disebut dalam tradisi tersebut antara lain Pucok Lueng, Reudeup, Pasi Meungat, dan akhirnya kawasan Mugo.
Perbedaan tersebut tidak harus saling bertentangan karena pemindahan makam dapat berlangsung dalam beberapa tahap.
Makam yang sekarang dihormati sebagai makam Teuku Umar berada di Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat.
Monumen lokasi gugur
Pemerintah kolonial kemudian mendirikan sebuah tugu di daerah dekat tempat Umar gugur di Meulaboh.
Monumen tersebut dimaksudkan memperingati keberhasilan militer yang menewaskan salah seorang lawan paling terkenal pemerintah kolonial di Aceh.
Dalam perkembangan setelah kemerdekaan, lokasi yang sama justru menjadi bagian dari ingatan lokal mengenai perjuangan Teuku Umar.
Dampak kematian
Kematian Umar menjadi pukulan berat bagi jaringan perlawanan di pantai barat Aceh.
Catatan Belanda menyebut kelompok-kelompok bersenjatanya kemudian tercerai-berai sehingga operasi militer berskala besar di sekitar Meulaboh dapat dikurangi.[5]
Namun perlawanan Aceh tidak berakhir.
Cut Nyak Dhien mengambil peranan lebih besar dalam memimpin kelompok yang tersisa.
Sultan Muhammad Daud Syah, Panglima Polem, keluarga Tiro, serta berbagai kelompok lain masih melanjutkan perlawanan pada tahun-tahun berikutnya.
Cut Nyak Dhien setelah kematian Umar
Setelah menerima kabar kematian suaminya, Cut Nyak Dhien meneruskan perang.
Dalam tradisi biografis terdapat kisah bahwa putrinya, Cut Gambang, menangisi kematian ayahnya dan ditegur ibunya agar tidak menangisi seseorang yang gugur sebagai syahid.
Bentuk kata-kata yang beredar berbeda-beda dan tidak mempunyai catatan verbatim sezaman, sehingga lebih tepat diperlakukan sebagai tradisi biografis.
Cut Nyak Dhien kemudian bergerilya sampai ditangkap pasukan Belanda pada 1905.
Cut Gambang berhasil lolos dari serangan tersebut dan kelak meneruskan perjuangan bersama suaminya, Teungku Chik Mahyeddin di Tiro.
Penilaian terhadap strategi politik Teuku Umar
Teuku Umar merupakan salah satu tokoh Perang Aceh yang paling berbeda penilaiannya antara historiografi kolonial dan Indonesia.
Historiografi kolonial
Bagi banyak penulis Belanda, Umar digambarkan sebagai tokoh yang tidak dapat dipercaya, oportunis, licik, dan berbahaya.
Pembelotannya pada 1896 dianggap sebagai penghinaan besar terhadap pemerintah.
Istilah verraad atau pengkhianatan menjadi sangat melekat pada namanya.
Namun penulis kolonial juga mengakui kemampuan militer, keberanian, kecerdikan, dan pengaruhnya yang besar.
Bahkan catatan mengenai kematiannya pada 1924 menyebut Umar sebagai salah seorang lawan Belanda terbesar di Aceh.[5]
Historiografi Indonesia
Setelah kemerdekaan, penilaian berbalik.
Hubungan Umar dengan Belanda ditafsirkan sebagai strategi infiltrasi untuk memperoleh senjata dan dana bagi perjuangan Aceh.
Dalam narasi ini, Umar digambarkan berhasil memperdaya pemerintah kolonial.
Penafsiran tersebut menjadi dasar citra populer Teuku Umar sebagai ahli strategi.
Namun dalam historiografi yang lebih kritis, hubungan tersebut perlu dilihat sebagai proses politik yang berubah dari waktu ke waktu. Bukti kuat menunjukkan bahwa pembelotan 1896 telah dipersiapkan, tetapi lebih sulit membuktikan bahwa seluruh akomodasi sejak 1893 merupakan rencana tunggal yang telah ditentukan sejak awal.
Hubungan dengan uleebalang dan ulama
Salah satu kekuatan Umar adalah kemampuannya berhubungan dengan dua unsur penting masyarakat politik Aceh: uleebalang dan ulama.
Sebagai anggota keluarga bangsawan, ia memahami jaringan politik uleebalang.
Melalui Cut Nyak Dhien dan lingkungan keluarga VI Mukim, ia juga mempunyai hubungan dengan berbagai kelompok di Aceh Besar.
Di sisi lain ia berinteraksi dengan kalangan ulama seperti lingkungan Teungku Chik di Tiro dan Teungku Fakinah.
Hubungan tersebut tidak selalu harmonis. Ketika berada di pihak Belanda, Umar menerima kritik keras dari ulama dan kelompok perang sabil.
Namun setelah kembali melawan Belanda, ia dapat membangun kembali hubungan tersebut sehingga pada 1898 diterima dalam struktur komando yang dibentuk Sultan, uleebalang, dan ulama.
Kemampuan intelijen
Baik sumber Indonesia maupun Belanda menekankan kemampuan Umar memperoleh informasi mengenai pergerakan lawan.
Ia mempunyai mata-mata di berbagai daerah, termasuk di lingkungan yang telah berada di bawah kekuasaan Belanda.
Pada masa terakhir hidupnya, sistem tersebut memungkinkan Umar beberapa kali menghindari kolone militer yang jauh lebih besar.
Ironisnya, sistem intelijen Belanda pula yang akhirnya mengungkap rencana serangannya ke Meulaboh pada Februari 1899 dan memungkinkan Verbrugh membuat penyergapan.
Taktik gerilya
Taktik Umar mengandalkan mobilitas tinggi.
Kelompoknya tidak mempertahankan satu benteng secara terus-menerus apabila menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.
Pasukan dapat berpindah dari pesisir ke pedalaman dan menggunakan rawa, sungai, bukit, serta hutan sebagai perlindungan.
Serangan ditujukan pada patroli, jalur suplai, kedudukan yang terisolasi, atau pasukan yang kelelahan.
Dalam sumber biografi nasional, prinsip Umar diringkas sebagai gagasan bahwa lawan harus dibuat lelah, ditarik jauh ke medan yang tidak menguntungkan, kemudian disergap.[1]
Kontroversi dan perbedaan sumber
Sejumlah bagian dalam riwayat Teuku Umar mempunyai versi yang berbeda dalam sumber-sumber sejarah. Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan silsilah keluarga, hubungan politiknya dengan pemerintah kolonial, kronologi beberapa peristiwa, serta rincian mengenai kematiannya. Perbedaan-perbedaan itu tidak selalu dapat diselesaikan secara pasti karena sebagian sumber berasal dari tradisi keluarga, historiografi Indonesia kemudian, dan laporan kolonial yang mempunyai sudut pandang berbeda.
| Persoalan | Sumber atau versi pertama | Sumber atau versi lain | Penjelasan |
|---|---|---|---|
| Jumlah saudara | Mardanas Safwan menyebut Teuku Umar mempunyai tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. | Bagan silsilah Sasana Budaya hanya memperlihatkan Teuku Cut Ahmad, Teuku Umar, dan Teuku Musa pada cabang keluarga tersebut. | Bagan museum kemungkinan disusun untuk menunjukkan garis silsilah tertentu dan tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap seluruh anak dalam keluarga. |
| Hubungan dengan Belanda pada awal 1880-an | Historiografi Indonesia sering menggambarkan hubungan Teuku Umar dengan Belanda sejak awal sebagai taktik berpura-pura menyerah untuk memperoleh senjata. | Sumber kolonial menggambarkan adanya proses akomodasi politik yang kemudian berakhir dengan pecahnya hubungan. | Tidak terdapat bukti yang cukup untuk memastikan bahwa seluruh hubungan tersebut sejak permulaan telah dirancang sebagai satu operasi penyamaran jangka panjang. Yang dapat dipastikan adalah Umar kemudian kembali memerangi Belanda. |
| Tanggal keterlibatan dalam perkara Nisero | Dalam salah satu bagian biografi Mardanas Safwan disebut bahwa Umar berangkat pada 3 Juli 1883 untuk menangani perkara Nisero. | Kapal Inggris Nisero baru kandas di pantai Aceh pada 8 November 1883, sementara usaha melibatkan Umar berlangsung pada 1884. | Tanggal Juli 1883 tidak mungkin secara kronologis dan kemungkinan merupakan kesalahan pencetakan atau penanggalan dalam sumber. |
| 32 orang dalam peristiwa Nisero | Sejumlah artikel populer menyatakan Umar berangkat membawa 32 orang tentara Belanda, yang kemudian seluruhnya dibunuh. | Biografi Mardanas Safwan dan rekonstruksi lain menyebut Umar berangkat bersama sekitar 32 orang pengikutnya. | Pernyataan bahwa 32 orang tersebut seluruhnya merupakan serdadu Belanda tampaknya berasal dari kesalahan reproduksi cerita. Komposisi rombongan perlu dibedakan dari awak kapal atau personel Belanda yang kemudian terlibat bentrokan. |
| Tanggal peristiwa Hok Canton | Beberapa penulisan Indonesia menggunakan tanggal 15 Juni 1886. | Laporan kontemporer mengenai Hok Canton menempatkan penyerangan pada 14 Juni 1886, setelah kapal tiba di Rigaih pada 13 Juni. | Tanggal 14 Juni mempunyai dukungan lebih dekat dari laporan sezaman. |
| Kematian Kapten Hansen | Narasi populer sering menyebut Hansen ditembak mati oleh Teuku Umar ketika mencoba menangkapnya. | Laporan kontemporer menyatakan Hansen mengalami luka berat dalam penyerangan dan kemudian meninggal akibat luka tersebut. | Tidak dapat dipastikan bahwa Teuku Umar sendiri yang melepaskan tembakan yang menyebabkan kematian Hansen. |
| Rencana Hansen menangkap Umar | Historiografi Indonesia menyebut Hansen mempunyai rencana menculik Umar dan menyerahkannya kepada Belanda untuk memperoleh hadiah. | Sebagian laporan pers sezaman lebih banyak membahas transaksi lada dan serangan terhadap kapal tanpa menguraikan rencana penculikan tersebut secara jelas. | Rencana penculikan sebaiknya dinyatakan sebagai versi dalam sumber Indonesia apabila belum didukung dokumen sezaman yang lebih kuat. |
| Penyerahan kepada Belanda pada 1893 | Historiografi nasional Indonesia sering menyatakan penyerahan Umar pada 30 September 1893 sejak awal merupakan sandiwara untuk mendapatkan senjata Belanda. | Sumber kolonial menunjukkan bahwa selama hampir tiga tahun Umar benar-benar memimpin operasi untuk pemerintah, menerima jabatan, gaji, pasukan, dan membantu perluasan pengaruh kolonial di sejumlah daerah. | Bukti cukup kuat menunjukkan pembelotan pada 1896 dipersiapkan. Namun hal itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh hubungan sejak September 1893 telah dirancang sebagai satu siasat dari awal. |
| Gelar dan jabatan | Teuku Umar memperoleh gelar Teuku Johan Pahlawan setelah diterima pemerintah kolonial pada 1893. | Pembentukan legiun bersenjata sekitar 250 orang dan penguatan kedudukannya berlangsung terutama pada awal 1894. | Tanggal penerimaan, pemberian gelar, serta pembentukan pasukan resmi perlu dibedakan dan tidak disatukan sebagai satu peristiwa. |
| Sikap Cut Nyak Dhien | Dalam narasi populer, Cut Nyak Dhien sejak awal mengetahui bahwa suaminya sedang menjalankan sandiwara. | Muchtaruddin Ibrahim justru menggambarkan Cut Nyak Dhien sempat sangat marah dan khawatir Umar benar-benar berpihak kepada Belanda. | Narasi bahwa Cut Nyak Dhien mengetahui seluruh rencana sejak awal tidak sejalan dengan semua sumber. Hubungan keduanya selama periode tersebut tampaknya lebih kompleks. |
| Jumlah senjata yang dibawa pada 1896 | Banyak penulisan menyebut sekitar 800 pucuk senjata, 25.000 peluru, 500 kilogram amunisi, dan 18.000 dolar. | Paul van 't Veer merinci sekitar 380 senapan Beaumont modern dan 500 senapan model lama, selain peluru, mesiu, kapsul, timah, candu, dan uang. | Jika kedua kelompok senjata dijumlahkan, persenjataan yang berada di tangan Umar mendekati 880 pucuk. Angka "800" merupakan pembulatan atau penyederhanaan dalam penulisan kemudian. |
| Tanggal pembelotan 1896 | Banyak sumber Indonesia menggunakan 30 Maret 1896. | Sumber Belanda menunjukkan bahwa pada 29 Maret tindakan pasukan Umar telah memperlihatkan pembelotan terbuka, sedangkan pada 30 Maret Umar mengirim surat kepada pemerintah kolonial. | Kedua tanggal merujuk pada tahapan berbeda dalam rangkaian pembelotan yang sama. Periode 29–30 Maret 1896 merupakan formulasi paling lengkap. |
| Apakah Belanda telah diperingatkan? | Narasi populer sering menggambarkan Belanda sama sekali tidak menyadari rencana Umar. | Sumber Belanda menunjukkan pemerintah telah menerima peringatan intelijen pada 27 Maret dan kecurigaan semakin kuat pada 28 Maret. | Pembelotan tetap mengejutkan secara politik, tetapi bukan berarti tidak ada peringatan sebelumnya. Gubernur Deijkerhoff memilih tetap mempercayai Umar meskipun telah menerima informasi mencurigakan. |
| Tanggal musyawarah Keude Meulu | Publikasi Peperangan dan Serangan menggunakan tanggal 23 Juli 1898. | Mardanas Safwan dan beberapa penulis lain menggunakan 25 Juli 1898. | Terdapat perbedaan dua hari yang belum sepenuhnya dapat diselesaikan. Kedua tanggal sebaiknya disebut dengan atribusi. |
| Kedudukan sebagai panglima | Sebagian sumber menyebut Umar sebagai pemimpin tunggal seluruh pasukan Aceh. | Struktur perlawanan Aceh tetap terdiri atas Sultan, Panglima Polem, uleebalang, ulama, dan pasukan daerah yang tidak seluruhnya berada dalam hierarki militer tunggal. | Pengangkatan Umar menunjukkan usaha mengoordinasikan perang, tetapi tidak harus dipahami sebagai pembentukan tentara nasional terpusat dalam pengertian modern. |
| Tanggal kematian | Beberapa sumber menggunakan 10 Februari 1899. | Arsip Nasional Republik Indonesia dan catatan Belanda menyebut 11 Februari 1899. | Pasukan Umar bergerak pada malam 10 Februari dan pertempuran berlangsung melewati pergantian hari. Tanggal kematian yang paling kuat adalah 11 Februari 1899. |
| Siapa yang menembak Umar | Tulisan internet modern menyebut seorang serdadu Minahasa bernama Jesajas atau Yesayas Pongoh. | Catatan historis mengenai pertempuran hanya menyebut pasukan penyergap di bawah Letnan J.J. Verbrugh dan tidak mengidentifikasi penembak individual. | Identitas orang yang melepaskan tembakan fatal belum dapat dipastikan. |
Penetapan sebagai Pahlawan Nasional
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Teuku Umar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973.[6]
Berkas pembinaan Pahlawan Nasional Teuku Umar yang disimpan Arsip Nasional Republik Indonesia memuat riwayat hidup, keputusan pengangkatan, data keluarga, makam, dan ahli waris.[6]
Penetapan tersebut mengubah citra nasional Umar dari tokoh yang dalam arsip kolonial disebut "pengkhianat" menjadi salah satu simbol strategi perlawanan antikolonial.
Makam
Makam Teuku Umar berada di Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat.
Lokasi tersebut berada di pedalaman dari Meulaboh.
Makam menjadi tempat ziarah dan salah satu situs sejarah penting di Aceh Barat.
Tradisi mengenai pemindahan jenazah beberapa kali menjelaskan mengapa makamnya berada cukup jauh dari tempat ia gugur di pantai Meulaboh.
Benda peninggalan
Sejumlah benda yang dikaitkan dengan Teuku Umar berada dalam koleksi museum, khususnya koleksi yang dahulu dimiliki Tropenmuseum dan kini berada dalam jaringan Wereldmuseum di Belanda.
Benda-benda tersebut antara lain tutup kepala atau songkok, tongkat kayu eboni dengan gagang perak, gelas kristal, gelas berkaki, gelang akar bahar, jas resmi, dan tempat tinta.
Atribusi museum terhadap barang-barang tersebut menjadikannya salah satu kelompok peninggalan material penting untuk memahami representasi sosial Umar pada masa ketika ia mempunyai hubungan resmi dengan pemerintah kolonial.
Keberadaan gelas anggur dalam koleksi, misalnya, hanya menunjukkan klasifikasi bentuk benda dalam katalog museum dan tidak dengan sendirinya membuktikan kebiasaan pribadi tertentu.
Foto
Beberapa foto Teuku Umar dapat diketahui berasal dari periode ketika ia mempunyai hubungan dengan pemerintah kolonial pada dasawarsa 1890-an.
Salah satu potret terkenal memperlihatkan Umar mengenakan pakaian resmi dan penutup kepala.
Foto lain memperlihatkannya bersama para pengikut.
Terdapat pula foto Umar dan rombongannya di depan rumah Lampisang.
Koleksi-koleksi tersebut penting karena Teuku Umar termasuk di antara pemimpin Aceh abad ke-19 yang mempunyai dokumentasi fotografis relatif banyak.
Rumah di Lampisang
Rumah Umar dan Cut Nyak Dhien di Lampisang mempunyai kedudukan penting dalam sejarah keduanya.
Bangunan tersebut pernah digunakan sebagai tempat tinggal serta lokasi pertemuan dengan pemimpin Aceh maupun pejabat Belanda.
Setelah pembelotan Umar pada 1896, daerah Lampisang diserang dan rumah yang berkaitan dengannya mengalami kehancuran.
Bangunan yang terdapat di Lampisang sekarang merupakan rekonstruksi dan dijadikan Museum Cut Nyak Dhien atau Sasana Budaya Cut Nyak Dhien.
Di dalam kompleks tersebut terdapat informasi mengenai Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Cut Gambang, dan silsilah keluarga Nanta.
Pengabadian
Nama Teuku Umar digunakan untuk berbagai tempat dan institusi di Indonesia.
Universitas Teuku Umar
Universitas Teuku Umar di Meulaboh menggunakan namanya.
Cikal bakal perguruan tinggi tersebut berasal dari lembaga pendidikan tinggi pertanian di Aceh Barat. Universitas Teuku Umar memperoleh izin sebagai universitas pada 2006 dan kemudian menjadi perguruan tinggi negeri pada 2014.
Nama Teuku Umar dipilih sebagai simbol hubungan perguruan tinggi tersebut dengan sejarah dan masyarakat pantai barat Aceh.
KRI Teuku Umar
TNI Angkatan Laut menggunakan namanya untuk KRI Teuku Umar (385).
Penggunaan nama tersebut merupakan bagian dari tradisi Angkatan Laut Indonesia menamai kapal perang dengan nama tokoh-tokoh sejarah dan Pahlawan Nasional.
Mata uang
Potret Teuku Umar pernah digunakan pada uang kertas rupiah pecahan Rp5.000 emisi 1986.
Penggunaan wajahnya pada mata uang memperluas pengenalannya sebagai tokoh nasional di luar Aceh.
Jalan
Nama Jalan Teuku Umar digunakan di banyak kota Indonesia, termasuk Jakarta, Banda Aceh, Denpasar, Medan, dan kota-kota lain.
Kecamatan Johan Pahlawan
Nama gelar Johan Pahlawan yang pernah disandang Umar juga digunakan sebagai nama salah satu kecamatan di wilayah Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.
Monumen
Monumen Teuku Umar didirikan di Meulaboh dan sejumlah daerah lain untuk memperingati perjuangannya.
Lokasi tempat ia gugur di sekitar Suak Ujong Kalak juga menjadi bagian dari situs ingatan sejarah di Aceh Barat.
Dalam budaya populer
Dalam film sejarah Tjoet Nja' Dhien (1988), Teuku Umar diperankan oleh Slamet Rahardjo.
Film tersebut terutama menceritakan kehidupan Cut Nyak Dhien tetapi menampilkan Umar sebagai pasangan sekaligus rekan perjuangannya.
Karena merupakan karya dramatik, dialog, motif, dan urutan peristiwa dalam film tidak semuanya dapat digunakan sebagai sumber sejarah.
Teuku Umar juga sering menjadi tokoh dalam buku cerita sejarah, komik, pertunjukan sekolah, drama, novel, dan karya populer mengenai Perang Aceh.
Dalam ingatan Aceh
Di Aceh, Umar mempunyai tempat khusus karena strategi politiknya berbeda dari banyak pemimpin lain.
Ia tidak hanya dikenang karena pertempuran yang dipimpinnya, tetapi karena kemampuannya memanfaatkan persaingan politik, diplomasi, dan sumber daya lawan.
Istilah seperti "siasat Teuku Umar" kemudian sering digunakan sebagai metafora untuk strategi masuk ke lingkungan lawan sebelum kembali kepada pihak sendiri.
Namun penggunaan metafora modern tersebut tidak selalu mencerminkan kompleksitas keputusan politik Umar pada 1880-an dan 1890-an.
Kedudukan historiografis
Riwayat Teuku Umar memperlihatkan persoalan penting dalam penulisan sejarah kolonial.
Satu tindakan yang dalam arsip Belanda disebut "pengkhianatan" dapat ditafsirkan dalam historiografi Indonesia sebagai "siasat perjuangan".
Kedua istilah membawa posisi politik masing-masing.
Pendekatan historiografis yang lebih netral membedakan antara fakta peristiwa dan interpretasinya.
Fakta yang relatif dapat dibuktikan adalah bahwa Umar menyatakan kesetiaan kepada pemerintah pada 1893, menerima jabatan, pasukan dan persenjataan, menjalankan sejumlah operasi bagi pihak Belanda, kemudian pada akhir Maret 1896 memutus hubungan dan menggunakan pasukan serta perlengkapan tersebut untuk kembali berperang melawan pemerintah kolonial.
Apakah keputusan pada 1896 merupakan tujuan yang sudah dipikirkan sejak September 1893 atau berkembang selama masa kerja sama merupakan persoalan interpretasi yang belum sepenuhnya dapat dibuktikan.
== Galeri ==
- Potret Teuku Umar, sekitar 1890.
- Teuku Umar bersama pengikutnya.
- Teuku Umar dan pengikut di depan rumahnya di Lampisang.
- Rumah Teuku Umar di Lampisang pada masa kolonial.
- Operasi Belanda terhadap rumah Umar di Lampisang setelah pembelotan 1896.
- Makam Teuku Umar di Mugo Rayeuk.
- Monumen kolonial di sekitar lokasi gugurnya Teuku Umar.
- Penutup kepala yang dikaitkan dengan Teuku Umar.
- Tongkat kayu eboni bergagang perak milik Teuku Umar.
- Gelas kristal yang dikaitkan dengan Teuku Umar.
- Gelas berkaki dalam koleksi benda Teuku Umar.
- Gelang akar bahar yang dikaitkan dengan Teuku Umar.
- Jas resmi Teuku Umar Johan Pahlawan.
- Tempat tinta yang dikaitkan dengan Teuku Umar.
Catatan
- ↑ Nama ayah Teuku Umar tidak ditulis secara seragam. Mardanas Safwan menggunakan bentuk Teuku Achmad Mahmud, sedangkan bagan silsilah Sasana Budaya Cut Nyak Dhien mencantumkan Teuku Cut Mahmud. Lihat bagian Keluarga dan perbedaan silsilah.
- ↑ Bagan silsilah Sasana Budaya Cut Nyak Dhien mencantumkan Cut Mahani sebagai istri Teuku Cut Mahmud dan ibu Teuku Umar. Literatur lain hanya menyebut ibunya sebagai adik perempuan Raja Meulaboh.
Lihat pula
- Perang Aceh
- Cut Nyak Dhien
- Pocut Mirah Gambang
- Sultan Muhammad Daud Syah
- Panglima Polem
- Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman
- Teungku Fakinah
- Korps Marechaussee te voet
- Nisero
- Museum Cut Nyak Dhien
- KRI Teuku Umar (385)
- Universitas Teuku Umar
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Safwan, Mardanas (2007). Teuku Umar. Jakarta: Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. ISBN 9789798250231.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 van 't Veer, Paul (1980). De Atjeh-oorlog (dalam bahasa Belanda). Amsterdam: De Arbeiderspers.
- 1 2 3 4 5 6 7 Ibrahim, Muchtaruddin (1996). Cut Nyak Din (Edisi 3). Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
- 1 2 Peperangan dan Serangan. Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "De dood van Toekoe Oemar (11 Februari 1899)". Het Indische Leven (dalam bahasa Belanda). 5: 514–515. 1924.
- 1 2 3 4 Inventaris Arsip Tekstual Departemen Sosial RI 1950–2014. Arsip Nasional Republik Indonesia. hlm. 149.
- ↑ Arkeologi Ujung Utara Pulau Sumatera. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banda Aceh. hlm. 71.
- ↑ Enam Pahlawan Nasional Asal Aceh. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh.
- 1 2 3 4 Lanzing, Fred (2007). "De Nisero-affaire: Een internationaal gijzelingsdrama in Atjeh 1883–1884". Indische Letteren (dalam bahasa Belanda). 22.
- 1 2 3 "Kronieken 1886: HOK CANTON". Maritiem Historische Data (dalam bahasa Belanda). Stichting Maritiem Historische Data.
{{cite web}}:|url=tidak ada atau kosong - 1 2 3 "Biografi Tokoh". Haba. Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh.
Daftar pustaka
- Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- Ibrahim, Muchtaruddin (1996). Cut Nyak Din (Edisi 3). Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
- Lanzing, Fred (2007). "De Nisero-affaire: Een internationaal gijzelingsdrama in Atjeh 1883–1884". Indische Letteren (dalam bahasa Belanda). 22.
- Safwan, Mardanas (2007). Teuku Umar. Jakarta: Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. ISBN 9789798250231.
- Said, Mohammad. Aceh Sepanjang Abad. Vol. II. Medan: Waspada.
- van 't Veer, Paul (1980). De Atjeh-oorlog (dalam bahasa Belanda). Amsterdam: De Arbeiderspers.
- "De dood van Toekoe Oemar (11 Februari 1899)". Het Indische Leven (dalam bahasa Belanda). 5: 514–515. 1924.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |