Selasa, 03 November 2026
09:08 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Rondahaim Saragih Garingging

Pahlawan Nasional Indonesia

Bagikan:
Ini adalah nama Batak Simalungun, marganya adalah Saragih Garingging.
Rondahaim Saragih Garingging
Tuan Raya XIV
PendahuluTuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog
(Tuan Raya XIII)
PenerusTuan Sumayan Saragih Garingging gelar Tuan Kapoltakan
(Raja Raya XV)
Lahir1828
MeninggalJuli 1891
Pemakaman
AyahTuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog
IbuPuang Ramonta br. Purba Dasuha
Nama lengkap
Tuan Rondahaim Saragih Garingging
1848–1891
WangsaPartuanan Raya

Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan[a] (1828–1891) adalah penguasa keempatbelas Partuanan Raya yang dijuluki Pemerintah Kolonial Belanda sebagai Napoleon der Bataks (bahasa Indonesia:Napoleon-nya orang-orang Batak) karena perlawanannya hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging. Barulah pada tahun 1901, sepuluh tahun setelah wafatnya Tuan Rondahaim, Partuanan Raya takluk kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, Partuanan Raya dipimpin oleh putra Tuan Rondahaim yang bernama Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.[2]

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih Garingging.[3]

Riwayat hidup

Kehidupan awal

Rondahaim Saragih Garingging lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, Sinondang, Pamatang Raya, ibu kota Partuanan Raya. Ayahnya, Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog, adalah penguasa Partuanan Raya. Ibunya, Puang Ramonta boru Purba Dasuha, adalah putri dari Guru Raya. Oleh karena Puang Ramonta hanyalah selir dari Tuan Jimmahadim, kehidupan Rondahaim dan ibunya serba kekurangan.[4] Pada masa kecilnya, Rondahaim telah diperkenalkan oleh keempat pamannya, yakni Guru Murjama, Guru Onding, Guru Nuan, dan Guru Juhang, kepada Raja Padang Tengku Muhammad Nurdin. Rondahaim belajar bahasa Melayu dan ilmu pemerintahan selama tinggal di Kerajaan Padang.[5] Pada tahun 1840, saat Rondahaim berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kekuasaan ayahnya kemudian digantikan oleh pamannya, Tuan Murmahata Saragih Garingging gelar Tuan Sinondang, sebagai pemangku raja. Tuan Murmahata juga menikahi ibu Rondahaim. [6]

Perjuangan melawan Belanda

Selama berkuasa, Tuan Rondahaim aktif memperluas wilayah kekuasaannya sekaligus menentang aneksasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Sumatera Timur. Tuan Rondahaim mempersatukan raja-raja di Simalungun untuk melawan Pemerintah Kolonial yang saat itu melakukan ekspansi perkebunan.

Pada tahun 1860-an, Belanda sedang melakukan ekspansi perkebunan di daerah Sumatera Timur dengan membuka hutan belantara lalu mengubahnya menjadi perkebunan tembakau, karet, kakao, kopi, dan lain sebagainya. Seiring ekspansi perkebunan ini, intervensi birokrasi kekuasaan kolonial pun semakin meningkat di daerah Sumatera Timur. Belanda melakukan tekanan politik kepada kekuasaan-kekuasaan tradisional. Bahkan, apabila ingin melakukan sirkulasi kekuasaan politik, para raja lokal harus mendapat persetujuan Belanda, baik melalui residen maupun asisten residen. Raja-raja di Sumatera Timur pun menjadi bagian dalam birokrasi kolonial. Perusahaan perkebunan Belanda memberikan semacam konsesi yang dibayar kepada kekuasaan lokal. Bayaran itu menjadi sumber pendapatan para raja lokal.[7]

Di tengah ekspansi ini, Tuan Rondahaim dengan tegas menolak tunduk pada Belanda. Ia justru mempersatukan raja-raja lokal dan panglima perang di Simalungun yang waktu itu terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Raja-raja yang berhasil dipersatukan antara lain Raja Siantar, Bandar, Sidamanik, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Silimakuta, dan Dolok Silau.[7]

Saat itu, Tuan Rondahaim bergelar Raja Goraha, semacam panglima perang kerajaan. Pada tahun 1880-an, Tuan Rondahaim mengadakan pertemuan dengan para raja Simalungun untuk memikirkan ancaman Hindia Belanda yang hendak menguasai Simalungun. Para raja di Simalungun lalu bersepakat untuk menentang Belanda.

Tuan Rondahaim lalu menggalang kekuatan rakyat yang siap bertempur, sekaligus menjaling jejaring politik di Semenanjung Melayu. Ia juga membangun koneksi dengan pialang senjata modern di Penang. Senjata modern dibarter dengan lada, komoditas laris dari pantai timur Sumatera.[7]

Tuan Rondahaim membentuk pasukan tempur dengan dipimpin Panglima Besar Torangin Damanik yang berasal dari Kerajaan Sidamanik. Setelah berhasil melakukan konsolidasi kekuatan, Tuan Rondahaim menyusun strategi perang. Pasukannya mulai menyerang markas-markas Belanda pada waktu-waktu tertentu. Dengan gerilya malam, pasukan Tuan Rondahaim muncul tiba-tiba di hadapan pasukan Belanda. Pasukannya juga melancarkan Perang Raya pada 1887, dengan membakar dan memusnahkan gudang-gudang perkebunan Belanda. Pertempurannya melawan upaya aneksasi Belanda terhadap wilayah kekuasaannya, antara lain terjadi pada 21 Oktober 1887 di Dolok Merawan dan 12 Oktober 1889 di Bandar Padang.[8] Tuan Rondahaim sangat ditakuti Belanda hingga mendapat julukan "Napoleon der Bataks," yang berarti Napoleon-nya orang-orang Batak.

Suatu ketika, Belanda mengajak Tuan Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Tuan Rondahaim mencurigai ajakan tersebut. Lalu, ia mengumpulkan pasukannya dan memilih orang yang paling mirip dengannya. Orang itu juga dipakaikan baju raja.

Sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.[7]

Akhir hidup

Pada tahun 1887, pasukan kolonial Belanda berhasil memukul mundur pasukan Partuanan Raya. Sejak serangan ke Bajalinggei pada bulan Februari 1888, tidak ada lagi konflik terbuka antara pasukan kolonial Belanda dengan pasukan Tuan Rondahaim. Selain itu, Tuan Rondahaim juga menghadapi pemberontakan internal di wilayah kekuasaannya. Ada dua orang bangsawan yang menduduki beberapa kampung di wilayah kekuasannya dan melakukan kontak dengan Belanda. Kesehatan Tuan Rondahaim pun berangsur-angsur memburuk. Sekujur tubuhnya membengkak dan tidak dapat diobati oleh satu pun tabib di Raya. Pada Juli 1891, Tuan Rondahaim meninggal dunia di Rumah Bolon Raya. Menurut catatan Jaulung Wismar Saragih, kematian Tuan Rondahaim diratapi oleh semua orang di Raya.[9]

Sampai akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tidak pernah ditangkap dan tidak pernah menyerah pada kekuasaan Belanda. Namun, setelah Tuan Rondahaim meninggal, tidak ada lagi perlawanan besar dari Simalungun. Raja-raja lokal di Simalungun akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda, menjadi bagian dari birokrasi kolonial dan akhirnya menerima uang konsesi dari hasil perkebunan yang digarap perusahaan Belanda.

Penghargaan

Pahlawan nasional

250px-Conferment_of_the_Title_of_National_Hero_to_Rondahaim_Saragih_Garingging_at_the_State_Palace.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Rondahaim Saragih Garingging (foto di sebelah kiri) di Istana Negara, Jakarta, 10 November 2025. Perwakilan marga Saragih Garingging, Bungaran Saragih, menerima plakat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (kanan).

Setelah lima tahun diusulkan, Tuan Rondahaim akhirnya ditetapkan menjadi pahlawan nasional di bidang angkatan bersenjata pada 10 November 2025.[7]

Bintang Jasa

Atas jasa-jasanya dalam melawan kolonialisme di Sumatera Timur, Tuan Rondahaim mendapatkan tanda kehormatan berupa Bintang Jasa Utama dari Presiden B.J. Habibie pada 13 Agustus 1999 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 077/TK/Tahun 1999.[10][11][12]

Rumah sakit

Pemerintah Kabupaten Simalungun menamai rumah sakit daerahnya dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Tuan Rondahaim Saragih untuk mengenang jasa-jasa Tuan Rondahaim.

Nama jalan

Salah satu ruas jalan di Kota Pematangsiantar dinamai dengan nama Tuan Rondahaim untuk mengenang jasa-jasanya.

Catatan

  1. ↑ Dalam bahasa Batak Simalungun, artinya Raja Raya yang bengis.[1]

Referensi

  1. ↑ Gereja Kristen Protestan Simalungun (1963). 60 Tahun Indjil Kristus di Simalungun, 2 Sept. 1903 s/d 2 Sept. 1963. GKPS. hlm. 6.
  2. ↑ "Mengenal Raja Rondahaim, Sang Napoleon Batak yang Tak Pernah Kalah Perang Lawan Belanda". iNews.id. 21 Agustus 2021. Diakses tanggal 25 Juli 2022.
  3. ↑ Safitri, Eva. "Prabowo Resmi Anugerahkan Gelar Pahlawan ke 10 Tokoh: Soeharto hingga Gus Dur". detiknews. Diakses tanggal 2025-11-10.
  4. ↑ Saragih et al. 2013, hlm. 49-50. sfn error: tanpa target: CITEREFSaragihAgustonoSuprayitnoDasuha2013 (bantuan)
  5. ↑ Saragih et al. 2013, hlm. 56. sfn error: tanpa target: CITEREFSaragihAgustonoSuprayitnoDasuha2013 (bantuan)
  6. ↑ Saragih et al. 2013, hlm. 58. sfn error: tanpa target: CITEREFSaragihAgustonoSuprayitnoDasuha2013 (bantuan)
  7. 1 2 3 4 5 Nikson Sinaga (12 November 2025) "Rondahaim Saragih : Napoleon der Bataks" Kompas. hal 11
  8. ↑ Saragih 2019, hlm. 34.
  9. ↑ Saragih et al. 2013, hlm. 130. sfn error: tanpa target: CITEREFSaragihAgustonoSuprayitnoDasuha2013 (bantuan)
  10. ↑ Sinaga, Nikson (13 Oktober 2023). "Rondahaim Saragih, Mempersatukan Simalungun Melawan Penjajah". Kompas. Diarsipkan dari asli tanggal 04 Mei 2024. Diakses tanggal 1 Maret 2024.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan); Periksa nilai tanggal dalam: |archive-date=
  11. ↑ Suwarta, Thomas Harming (9 Oktober 2023). "Tuan Rondahaim Saragih Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional". Media Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 04 Mei 2024. Diakses tanggal 1 Maret 2024.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan); Periksa nilai tanggal dalam: |archive-date=
  12. ↑ "Tuan Rondahaim Saragih Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Tunggu Keputusan Presiden Jokowi". JPNN. 29 Oktober 2023. Diarsipkan dari asli tanggal 04 Mei 2024. Diakses tanggal 2 Maret 2024.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan); Periksa nilai tanggal dalam: |archive-date=

Daftar pustaka

Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan