Jumat, 16 Oktober 2026
19:11 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Pakubuwana VI

Pakubuwana VI

susuhunan ke-5 dari Kesunanan Surakarta & Pahlawan Nasional Indonesia

Bagikan:
Pakubuwana VI
ꦥꦏꦸꦧꦸꦮꦤ꧇꧖꧇
Sri Susuhunan Pakubuwana VI
250px-Portret_van_Pakoeboewono_VI_van_Soerakarta.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuhunan Surakarta ke-5
Berkuasa1823 – 1830
Penobatan15 September 1823
PendahuluSusuhunan Pakubuwana V
PenerusSusuhunan Pakubuwana VII
Gubernur JenderalG.A.G.Ph. van der Capellen
Leonard Pierre Joseph du Bus de Gisignies
Johannes van den Bosch
Lahir26 April 1807
Surakarta, Hindia Belanda
Meninggal2 Juni 1849(1849-06-02) (umur 42)
Kota Ambon, Hindia Belanda
Pemakaman
AyahSusuhunan Pakubuwana V
IbuKRAy. Sasrakusuma
PasanganGKR. Kedaton
GKR. Ageng
GKR. Anom
KRAy. Asmaraningrum
KRAy. Himbaningrum
KRAy. Retnaasmara
KRAy. Tejaningrum
Nama lengkap
Raden Mas Sapardan
Nama takhta
Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng kaping Enem ing Nagari Surakarta Hadiningrat
WangsaMataram
AgamaIslam
Pahlawan nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 294/TK/1964 tanggal 17 November 1964.

Sri Susuhunan Pakubuwana VI (disingkat sebagai PB VI; 26 April 1807 – 2 Juni 1849) adalah susuhunan Surakarta kelima yang memerintah tahun 1823–1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa karena kegemarannya melakukan tapa brata.

Sunan Pakubuwana VI telah resmi akui ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan nasional berdasarkan S.K. Presiden RI No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.

Riwayat hidup

lossy-page1-250px-Ratoe_Hageng%2C_moeder_van_Pakoe_Boewono_IX_%2C_weduwe_van_Pakoe_Boewono_VI%2C_te_Soerakarta%2C_KITLV_7846.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gusti Kanjeng Ratu Ageng, permaisuri Pakubuwana VI sekaligus ibu suri Pakubuwana IX

Nama aslinya adalah Raden Mas Sapardan, putra Pakubuwana V, anak lelaki ke-11 yang lahir dari istri KRAy. Sasrakusuma, keturunan Ki Juru Martani, patih pertama dalam sejarah Kesultanan Mataram, dari garis darah ibunya. Raden Mas Sapardan dilahirkan pada 26 April 1807. Pakubuwana VI naik takhta tanggal 15 September 1823, selang sepuluh hari setelah kematian ayahnya, pada usia menginjak 16 tahun.[1]

Hubungan dengan Diponegoro

Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1825. Namun, sebagai seorang raja yang terikat perjanjian dengan Belanda, Pakubuwana VI berusaha menutupi persekutuannya itu.

Agar pertemuan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro tidak diketahui oleh Belanda maka dibuatlah siasat-siasat yang hanya diketahui oleh mereka. Beberapa siasat-siasat yang pernah digunakan seperti siasat mimis kencana, sebuah siasat di mana mereka berpura-pura saling berperang agar pihak Belanda mengira mereka saling bermusuhan. Selain itu ada siasat candradimuka, sebuah siasat yang penamaanya bersumber dari cerita wayang gatotkaca. Siasat ini digunakan untuk membicarakan tentang jalannya perang melawan Belanda.[2]

Pangeran Diponegoro juga pernah menyusup ke dalam keraton Surakarta untuk berunding dengan Pakubuwana VI seputar sikap Mangkunegaran dan Madura. Ketika Belanda tiba, mereka pura-pura bertikai dan saling menyerang yang diakiri dengan Diponegoro yang melarikan diri dari istana.[1]

Dalam perang melawan Pangeran Diponegoro, Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda. Di samping memberikan bantuan dan dukungan, ia juga mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda. Pujangga besar Ranggawarsita mengaku semasa muda dirinya pernah ikut serta dalam pasukan sandiwara tersebut.

Penangkapan oleh Belanda

250px-Pahlawan_Pakubuwana_VI.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Pakubuwana VI di Keraton Surakarta.

Belanda akhirnya berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Sasaran berikutnya ialah Pakubuwana VI. Kecurigaan Belanda dilatarbelakangi oleh penolakan Pakubuwana VI atas penyerahan beberapa wilayah Surakarta kepada Belanda.

Belanda berusaha mencari bukti untuk menangkap Pakubuwana VI. Juru tulis keraton yang bernama Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita) ditangkap untuk dimintai keterangan. Sebagai anggota keluarga Yasadipura yang anti Belanda, Pajangswara menolak membocorkan hubungan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Ia akhirnya meninggal setelah disiksa secara kejam. Oleh Belanda, mayatnya dibuang ke tengah laut.[1] Pada tanggal 8 Juni 1830 Pakubuwana VI ditangkap di Mancingan oleh Residen Yogyakarka Van Nes dan Letnan Kolonel B. Sollewijn. Belanda memutuskan untuk mengasingkan Pakubuwana VI ke luar Jawa karena ditakutkan akan melakukan pemberontakan. Pakubuwana VI dibuang ke Ambon pada 8 Juli 1830.[2]

Fitnah yang dilancarkan pihak Belanda ini kelak berakibat buruk pada hubungan antara putra Pakubuwana VI, yaitu Pakubuwana IX dengan putra Mas Pajangswara, yaitu Ranggawarsita. Pakubuwana IX sendiri masih berada dalam kandungan ketika Pakubuwana VI berangkat ke Ambon. Takhta Surakarta kemudian jatuh kepada paman Pakubuwana VI, yang bergelar Pakubuwana VII.[2]

Misteri kematian

Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut.

Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jenderal GPH. Jatikusumo (salah satu putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan baker.

Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas tidak wafat karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan wafat dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.

Referensi

  1. 1 2 3 Iswara N Raditya (2017). "Peran Ganda Raja Surakarta Berujung Petaka". Tirto.id. Diakses tanggal 27 Januari 2021.
  2. 1 2 3 Sukrismiyati (2015). "Strategi Politik Pakubuwana VI Melawan Kolonial Belanda Tahun 1823 – 1830". Candi. 12 (2). Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Sebelas Maret: 142-146. ISSN 2086-2717.

Bacaan lanjutan

  • Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Joko Subroto & Suripto. 1995. Ikhtisar Biografi Pahlawan-Pahlawan Indonesia. Solo: CV Aneka
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pakubuwono VI.
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Susuhunan Pakubuwana V
Susuhunan Surakarta
1823-1830
Diteruskan oleh:
Susuhunan Pakubuwana VII
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa

Pakubuwana II
PB II
(1745–1749)

Pakubuwana III
PB III
(1749–1788)

Pakubuwana IV
PB IV
(1788–1820)

Pakubuwana V
PB V
(1820–1823)

Pakubuwana VI
PB VI
(1823–1830)

Pakubuwana VII
PB VII
(1830–1858)

Pakubuwana VIII
PB VIII
(1858–1861)

Pakubuwana IX
PB IX
(1861–1893)

Pakubuwana X
PB X
(1893–1939)

Pakubuwana XI
PB XI
(1939–1945)

Pakubuwana XII
PB XII
(1945–2004)

Pakubuwana XIII
PB XIII
(2004–2025)

Pakubuwana XIV (Purbaya)
PB XIV
(Purbaya)

(2025–sekarang)

Pakubuwana XIV (Hangabehi)
PB XIV
(Hangabehi)

(2025–sekarang)

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan