Minggu, 18 Oktober 2026
20:34 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Wangsa Mataram

Bagikan:
Wangsa Mataram
ꦮꦁꦯꦩꦠꦫꦴꦩ꧀
NegaraMataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunagaran, Pakualaman
Kelompok etnisJawa
Didirikan1586
PendiriPanembahan Senapati
Kepala saat ini Pakubuwana XIV
Hamengkubuwana X
Mangkunagara X
Paku Alam X
GelarPanembahan
Susuhunan (Sunan)
Sultan
Adipati
Gelar sapaanSri Susuhunan atau Sri Sunan (sapaan resmi dalam bahasa Indonesia untuk Susuhunan Surakarta)
Sri Sultan (sapaan resmi dalam bahasa Indonesia untuk Sultan Yogyakarta)
Sri Paduka (sapaan resmi dalam bahasa Indonesia untuk Adipati Mangkunagaran dan Pakualaman)
EstatMataram

Wangsa Mataram (bahasa Jawa:ꦮꦁꦯꦩꦠꦫꦴꦩ꧀, translit. wangsa mataram, pengucapan bahasa Jawa: [wɔngˈsɔmat̪aram]) merupakan wangsa atau keluarga bangsawan Jawa yang memerintah di tiga kerajaan yaitu Kesultanan Mataram, Kesunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta, serta di dua kadipaten yaitu Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman. Setelah Perang Takhta Jawa Ketiga hingga saat ini, Wangsa Mataram masih memerintah monarki-monarki pecahan Mataram Islam (Catur Sagotra).

Sejarah

Wangsa Mataram merupakan dinasti Jawa terakhir yang berkuasa di Pulau Jawa. Wangsa ini awalnya memerintah negara yang juga memiliki nama yang sama dengan nama keluarga besarnya, yaitu Kesunanan Mataram, sebuah negara yang didirikan di dekat bekas wilayah inti atau pusat pemerintahan Kerajaan Mataram, yang kemudian wilayahnya meluas dan menguasai hampir seluruh Pulau Jawa serta Pulau Madura. Perpecahan internal yang terjadi selanjutnya menyebabkan Kesultanan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan (tahun 1755) dan dua kadipaten (tahun 1757 dan 1813). Masing-masing monarki tersebut, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman, tetap eksis hingga setelah berdirinya Republik Indonesia.

Berdasarkan sejarahnya, penguasa Mataram adalah keturunan dari Ki Ageng Sela (Sela adalah sebuah desa dekat Demak). Salah satu keturunan Ki Ageng Sela yaitu Ki Ageng Enis memiliki putra bernama Ki Ageng Pamanahan, mereka merupakan perintis dan pendiri wangsa Mataram bersama tokoh dari Sela lainnya yaitu Ki Juru Martani dan Ki Panjawi. Para penguasa dari wangsa Mataram umumnya menggunakan gelar-gelar yang diambil dari beberapa bahasa, utamanya dari bahasa Jawa dan Arab. Di antara gelar-gelar yang mereka sandang, susuhunan (sunan) dan sultan adalah gelar yang paling umum diketahui.

Silsilah

Dewasa ini, wilayah Mataram terpecah menjadi empat entitas yang masih berhubungan kerabat. Hal ini merujuk pada keluarga kerajaan penerus wangsa Mataram. Kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunagaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Senapati
Anyakrawati
Anyakrakusuma
Amangkurat I
Amangkurat IIPakubuwana I
Amangkurat IIIAmangkurat IV
Pakubuwana IIHamengkubuwana IP. Mangkunagara
Pakubuwana IIIHamengkubuwana IIPaku Alam IMangkunegara I
Para Susuhunan
Surakarta
Para Sultan
Ngayogyakarta
Para Adipati
Pakualaman
Para Adipati
Mangkunegaran

Daftar penguasa

Kesunanan Mataram

250px-MsGiyanti.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah Perjanjian Giyanti, yang membagi wilayah Mataram menjadi dua kekuasaan, Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
  1. Panembahan Senapati (Danang Sutawijaya) 1586–1601
  2. Susuhunan Anyakrawati (Raden Mas Jolang) 1601–1613
  3. Susuhunan Anyakrakusuma (Raden Mas Jatmika) 1613–1645
  4. Susuhunan Amangkurat I (Raden Mas Sayyidin) 1646–1677
  5. Susuhunan Amangkurat II (Raden Mas Rahmat) 1677–1703
  6. Susuhunan Amangkurat III (Raden Mas Sutikna) 1703–1705
  7. Susuhunan Pakubuwana I (Raden Mas Darajat) 1704–1719
  8. Susuhunan Amangkurat IV (Raden Mas Suryaputra) 1719–1726
  9. Susuhunan Pakubuwana II (Raden Mas Prabasuyasa) 1726–1742 (Periode I)
  10. Susuhunan Amangkurat V (Raden Mas Garendi) 1742–1743
  11. Susuhunan Pakubuwana II (Raden Mas Prabasuyasa) 1743–1745 (Periode II)
250px-Keindahan_Keraton_Kasunanan_Surakarta.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keraton Surakarta, istana resmi para Susuhunan (Sunan) Surakarta.

Kesunanan Surakarta

  1. Susuhunan Pakubuwana II (Raden Mas Prabasuyasa) 1745–1749 (Periode III)
  2. Susuhunan Pakubuwana III (Raden Mas Suryadi) 1755–1788
  3. Susuhunan Pakubuwana IV (Raden Mas Subadya) 1788–1820
  4. Susuhunan Pakubuwana V (Raden Mas Sugandi) 1820–1823
  5. Susuhunan Pakubuwana VI (Raden Mas Sapardan) 1823–1830
  6. Susuhunan Pakubuwana VII (Raden Mas Malikis Solikin) 1830–1858
  7. Susuhunan Pakubuwana VIII (Raden Mas Kuseini) 1858–1860
  8. Susuhunan Pakubuwana IX (Raden Mas Duksina) 1860–1893
  9. Susuhunan Pakubuwana X (Raden Mas Sayyidin Malikul Kusna) 1893–1939
  10. Susuhunan Pakubuwana XI (Raden Mas Antasena) 1939–1945
  11. Susuhunan Pakubuwana XII (Raden Mas Suryo Guritno) 1945–2004
  12. Susuhunan Pakubuwana XIII (Raden Mas Suryo Partono) 2004–2025
  13. Susuhunan Pakubuwana XIV (Raden Mas Suryo Suharto) 2025–Petahana
250px-Kraton_of_Yogyakarta_2017-08-03_%284%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keraton Yogyakarta, istana resmi para Sultan Yogyakarta.

Kesultanan Yogyakarta

  1. Sultan Hamengkubuwana I (BRM Sujana/BPH Mangkubumi) 1755–1792
  2. Sultan Hamengkubuwana II (GRM Sundara) 1792–1810 (Periode I)
  3. Sultan Hamengkubuwana III (GRM Suraja) 1810–1811 (Periode I)
  4. Sultan Hamengkubuwana II (GRM Sundara) 1811–1812 (Periode II)
  5. Sultan Hamengkubuwana III (GRM Suraja) 1812–1814 (Periode II)
  6. Sultan Hamengkubuwana IV (GRM Ibnu Jarot) 1814–1822
  7. Sultan Hamengkubuwana V (GRM Gathot Menol) 1822–1826 (Periode I)
  8. Sultan Hamengkubuwana II (GRM Sundara) 1826–1828 (Periode III)
  9. Sultan Hamengkubuwana V (GRM Gathot Menol) 1828–1855 (Periode II)
  10. Sultan Hamengkubuwana VI (GRM Mustaja/KGPA Mangkubumi) 1855–1877
  11. Sultan Hamengkubuwana VII (GRM Murteja/GPH Hangabehi) 1877–1921
  12. Sultan Hamengkubuwana VIII (GRM Sujadi/GPH Purubaya) 1921–1939
  13. Sultan Hamengkubuwana IX (GRM Darajatun) 1940–1988
  14. Sultan Hamengkubuwana X (BRM Herjuna Darpita/KGPH Mangkubumi) 1989–Petahana
250px-Mangkunegaran_Palace_Java362.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pura Mangkunegaran, istana resmi para Adipati Mangkunegara.

Kadipaten Mangkunegaran

  1. Adipati Mangkunegara I (Raden Mas Said) 1757–1795
  2. Adipati Mangkunegara II (Raden Mas Sulama) 1795–1835
  3. Adipati Mangkunegara III (Raden Mas Sarengat) 1835–1853
  4. Adipati Mangkunegara IV (Raden Mas Sudira) 1853–1881
  5. Adipati Mangkunegara V (Raden Mas Sunita) 1881–1896
  6. Adipati Mangkunegara VI (Raden Mas Suyitna) 1896–1916
  7. Adipati Mangkunegara VII (Raden Mas Surya Suparta) 1916–1944
  8. Adipati Mangkunegara VIII (Raden Mas Hamidjoyo Saroso Notosuparto) 1944–1987
  9. Adipati Mangkunegara IX (Raden Mas Sudjiwo Kusumo) 1988–2021
  10. Adipati Mangkunegara X (GPH. Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo) 2022–Petahana
250px-Entrance_to_Pura_Pakualaman_Yogyakarta%2C_Kota_Jogjakarta_200_Tahun%2C_plate_before_page_57.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pura Pakualaman, istana resmi para Adipati Paku Alam.

Kadipaten Pakualaman

  1. Adipati Paku Alam I (BPH. Natakusuma) 1813–1829
  2. Adipati Paku Alam II (Raden Tumenggung Natadiningrat) 1892–1858
  3. Adipati Paku Alam III (GPH. Sasraningrat) 1858–1864
  4. Adipati Paku Alam IV (Raden Mas Nataningrat) 1864–1878
  5. Adipati Paku Alam V (KPH. Suryadilaga) 1878–1900
  6. Adipati Paku Alam VI (KPH. Natakusuma) 1900–1902
  7. Dewan Perwalian Pakualaman 1902–1906
  8. Adipati Paku Alam VII (Raden Mas Arya Surarja) 1906–1937
  9. Adipati Paku Alam VIII (Raden Mas Arya Sularsa Kunta Suratna) 1937–1998
  10. Adipati Paku Alam IX (Raden Mas Haryo Ambarkusumo) 1999–2015
  11. Adipati Paku Alam X (Raden Mas Wijoseno Haryo Bimo) 2016–Petahana

Pahlawan Nasional Indonesia

Pemakaman

Para penguasa pertama Mataram sebelum Sultan Agung dimakamkan di Pasarean Mataram. Setelah pembangunan Astana Pajimatan Himagiri di Bantul pada tahun 1632, Sultan Agung dan penguasa Mataram setelahnya (Surakarta dan Yogyakarta) juga dimakamkan di sana.

Sementara untuk penguasa Mangkunagaran dimakamkan di Astana Utara di Surakarta, serta Astana Mangadeg dan Astana Girilayu di Karanganyar. Kemudian untuk penguasa Pakualaman dimakamkan di Astana Giriganda di Kulon Progo.

Catur Sagotra

Catur Sagotra merupakan penyatuan empat entitas yang masih memiliki akar tunggal tali kekerabatan. Hal ini merujuk pada keluarga kerajaan penerus wangsa Mataram. Kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

250px-Radyalaksana_The_Emblem_of_Surakarta_Kingdom.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Yogyakarta_Sultanate_Hamengkubhuwono_X_Emblem.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Royal_cypher_of_Mangkunagaran.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Emblem_of_Pakualaman.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sri Radya Laksana, lambang Kasunanan Surakarta Hadiningrat Praja Cihna, lambang Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Lambang Kadipaten Mangkunagaran pada masa pemerintahan Mangkunagara X Poho, lambang Kadipaten Pakualaman

Guna mempererat hubungan baik antar empat entitas pecahan Mataram, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) rutin menyelenggarakan festival Catur Sagotra setiap tahunnya. Festival ini diikuti oleh perwakilan dari keempat wilayah pecahan Mataram. Keempat istana akan menampilkan mahakarya seni dan budaya sesuai dengan gaya masing-masing.

Lihat pula

Referensi


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan