Senin, 26 Oktober 2026
17:38 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Astana Giriganda

Astana Giriganda

pemakaman di Yogyakarta

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Astana Giriganda" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Agustus 2026)
Astana Giriganda
ꦥꦱꦫꦺꦪꦤ꧀ꦲꦱ꧀ꦠꦤꦒꦶꦫꦶꦒꦤ꧀ꦢ
lossy-page1-250px-Poort_van_de_begraafplaats_Girigonda_van_Pakoe_Alam_V_en_VI%2C_vermoedelijk_te_Jogjakarta%2C_KITLV_106747.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Astana Giriganda pada awal dekade 1900-an
osm-intl,10,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Astana_Giriganda&revid=29636902&groups=_ae24e9d2ae8a2568b0b76ae227d1a32a0f30349f&parser=parsoid
Peta interaktif Astana Giriganda
Rincian
Didirikan1900
Lokasi
NegaraIndonesia
Koordinat7°52′13″S 110°05′24″E / 7.8702485°S 110.0899371°E / -7.8702485; 110.0899371
JenisPemakaman berteras
PemilikKadipaten Pakualaman
Nama resmiKompleks Makam Girigondo
JenisSitus
KriteriaNasional
Ditetapkan17 Oktober 2011
No. referensiCB.5050.20151009.00001
Nomor SKPM.89/PW.007/MKP/2011

Astana Giriganda atau Pasarean Giriganda (bahasa Jawa:ꦥꦱꦉꦪꦤ꧀ꦒꦶꦫꦶꦒꦤ꧀ꦢ, translit. Pasarean Giriganda) adalah tempat pemakaman dan peristirahatan terakhir untuk Adipati Pakualaman beserta para kerabatnya. Lokasi Komplek pemakaman ini terletak di atas Perbukitan Menoreh di Kalurahan Kaligintung, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta berjarak sekitar 10 km dari kota Wates.

Sejarah

Berdasarkan sejarah turun temurun, tempat ini dulu bernama Gunung Keling. Sebelum tahun 1900 diminta Paku Alam V untuk dibuat makam. Angka tahun ini tertera pada prasasti di pintu gerbang di halaman/teras I. Di pemakaman tersebut sampai saat ini dimakamkan Paku Alam V sampai dengan Paku Alam IX. Para Adipati Paku Alam sebelum itu masih dimakamkan di Pasarean Hastana Kitha Ageng di Kotagede. Selain itu lokasi makam karena asal Paku Alam V, dia adalah anak dari dari Garwo Ampeyan Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulon Progo.

Komplek Pemakaman

Secara garis besar komplek pemakaman ini terdiri dari 6 teras dan setiap teras dihubungkan dengan tangga atau trab. Teras pertama merupakan teras tertinggi dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 meter dengan gapura dan pintu gerbang terbuat dari besi. Area teras satu sebesar 3,2 x 2,155 meter ini dimakamkan keluarga Pakualaman yakni isteri, anak dan menantu, sudah terdapat 32 makam, teras 2 terletak disebelah Selatan teras 1, dihubungkan dengan trap, telah berisi 8 buah makam, teras 3 sudah terdapat 2 makam, teras 4 sudah terdapat 3 buah makam yang merupakan kerabat jauh Pakualaman, teras 5 masih kosong, dan teras ke 6 terbagi menjadi 2 bagian yakni sebelah barat sudah ada 2 makam dan sebelah Timur sudah ada 7 makam. Bagi pengunjung atau peziarah ke makam ini tidak dipungut biaya apapun.

Suasana Makam

Memasuki area makam pengunjung disambut dengan menaiki anak tangga jumlahnya sekitar 258 buah. Setelah itu disambut dengan wangi bunga dan dupa dari makam-makam tersebut. Seperti halnya makam-makam raja yang lain, pemandangan dari bagian atas tampak indah dan sakral.

Makam Paku Alam

Referensi

Pustaka

Pranala luar

Gubernur: Hamengkubawana X  · Wakil Gubernur: Paku Alam X
Arsitektur bersejarah
120px-Coat_of_arms_of_Yogyakarta.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Candi
Monumen dan museum
Transportasi
Objek wisata alam
Tempat ibadah
Wisata belanja, hiburan,
hotel, dan kuliner
Pendidikan
Olahraga
Militer dan kepolisian
Kebudayaan
Makanan dan minuman
tradisional khas Yogyakarta
Festival dan pesta rakyat
Media
Topik lainnya
Lihat pula: Kategori
Proyek  · Portal
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan