Senin, 28 September 2026
08:12 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Hotel Toegoe

Hotel Toegoe

hotel di Kota Yogyakarta

Hotel Toegoe
330px-Hotel_Toegoe_2020.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hotel Toegoe setelah atapnya roboh, 2020
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Hotel_Toegoe&revid=29833432&groups=_3714494d47a714c446f516ec2dfb0ee80d9005c8&parser=parsoid
Peta interaktif area Hotel Toegoe
Informasi umum
Gaya arsitekturHindia
AlamatJalan Margo Utomo 2
Koordinat7°47′21″S 110°21′59″E / 7.78924°S 110.36641°E / -7.78924; 110.36641
Tahun dibangun1876
Dibuka1 Mei 1876?
Ditutup2012
PemilikProbosutedjo
Informasi lain
Jumlah kamar40
Akses transportasi umum40px-TransJogja_Line_1A_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_2A_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_8_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_13_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Grand Zuri
40px-TransJogja_Line_1A_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_2A_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_3A_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_8_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_10_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_13_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 40px-TransJogja_Line_15_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Malioboro 1
JenisBangunan
KriteriaNasional
Ditetapkan26 Maret 2007
Bagian dariSumbu Filosofis Yogyakarta
No. referensiCB.6060.19700101.00881
Nomor SKPM.25/PW.007/MKP/2007

Hotel Toegoe adalah sebuah bangunan yang terletak di Jalan Margo Utomo 2, Yogyakarta, tepatnya di sebelah timur Stasiun Yogyakarta, yang awalnya difungsikan sebagai hotel bernama sama.[1] Saat ini bangunan Hotel Toegoe masih berdiri dan ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Menteri No. PM.25/PW.007/MKP/2007 dan SK Menteri No013/M/2014 sebagai bangunan cagar budaya peringkat nasional.[2]

Sejarah

Abad ke-19

Asal-usul berdirinya Hotel Toegoe masih tidak jelas. Surat kabar De Locomotief terbitan 12 April 1876 pernah memberitakan tentang pembukaan "sebuah hotel di Toegoe" dengan harapan besar dapat memicu lonjakan angka kunjungan wisatawan ke Yogyakarta pada era tersebut.[3] Kejelasan mengenai penginapan ini baru mulai terkuak pada 26 April 1876, ketika H.L. Odenwalder memasang iklan di surat kabar yang sama. Ia mengumumkan bahwa sebuah logement (losmen) bernama Logement Toegoe akan segera beroperasi mulai 1 Mei 1876. Penginapan ini secara khusus menyasar para penumpang kereta api yang turun di Station Djokja S/V NIS (sekarang Stasiun Lempuyangan) dengan menyediakan fasilitas transportasi penjemputan langsung dari stasiun menuju penginapan.[4]

Sayangnya, operasional Logement Toegoe di bawah kepemimpinan Odenwalder tidak berlangsung lama dan harus menghadapi kendala finansial yang serius. Pada 1 November 1878, penginapan tersebut ditutup lantaran pihak manajemen terus-menerus menunggak utang.[5] Setelah masa keterpurukan tersebut, seorang manajer bernama C. von Kriegenberg membuka sebuah hotel baru bernama Hotel de Volharding te Toegoe pada 1 Juni 1882, menandai babak baru transisi penginapan di kawasan Toegoe.[6]

Dokumen tertulis terawal yang memuat nama Hotel Toegoe secara langsung ditemukan dalam iklan surat kabar De Locomotief edisi 20 Mei 1884.[7] Bersamaan dengan periode tersebut, kawasan di sekitarnya mengalami perkembangan pesat, terutama saat Station Djocja Toegoe (Stasiun Yogyakarta) mulai dibangun tepat di depan area hotel. Keberadaan stasiun baru ini secara otomatis mendongkrak kelas dan gengsi Hotel Toegoe menjadi semakin mewah, bahkan sampai memicu daya saing ketika seorang warga keturunan Tionghoa berupaya merenovasi rumah pribadinya menjadi penginapan untuk menyaingi kepopuleran hotel tersebut.[8]

Reputasi Hotel Toegoe sebagai layanan hospitality kelas atas kian meningkat pada era 1890-an berkat kedatangan tamu penting dari mancanegara. Salah satu peristiwa paling bersejarah terjadi pada rentang bulan Juni hingga Juli 1896, ketika Raja Siam (Thailand), Chulalongkorn, melakukan kunjungan diplomatik ke Hindia Belanda. Dalam lawatannya ke Yogyakarta, sang Raja memilih untuk menginap di Hotel Toegoe, sebuah momen prestisius yang makin melambungkan nama hotel tersebut di mata publik internasional maupun pemerintah kolonial kala itu.[9]

Menanggapi kemajuan bisnis yang kian pesat dan reputasinya yang terus meroket, langkah restrukturisasi dilakukan pada bulan September 1896. Saat itu, Hotel Toegoe berada di bawah kepemilikan firma A.A. Don Griot & Co. Untuk memperkuat tata kelola dan legalitas usahanya, manajemen sepakat mendirikan badan hukum resmi berbentuk Naamloze Vennootschap dengan nama N.V. Maatschappij Hotel Toegoe. Perusahaan ini didirikan dengan suntikan modal awal 100.000 gulden, serta didukung oleh struktur kepemimpinan yang terdiri dari dua orang komisaris dan satu orang direktur utama.[10]

Abad ke-20

lossy-page1-250px-KITLV_-_1402621_-_Kurkdjian_-_%22Hotel_Toegoe_Djocja_%28Java%29.%22_%28Yogyakarta%29_-_circa_1900.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hotel Toegoe pada tahun 1900-an.

Membuka awal abad ke-20, Hotel Toegoe terus mengukuhkan posisinya dengan mengeklaim sebagai penginapan terbaik di sepanjang kawasan strategis Malioboro, bersaing ketat dalam hal fasilitas maupun pelayanan dengan rival utamanya, Hotel Mataram.[11] Perkembangan di sekitar area hotel pun kian pesat, ditandai dengan hadirnya sebuah toko roti dan kue pada awal tahun 1908 yang beroperasi tepat di dekat lokasi hotel.[12] Pembaruan besar-besaran terjadi saat manajemen beralih ke tangan A. Herscheit. Di bawah kepemimpinannya, manajemen diperbaiki secara menyeluruh serta fisik bangunan dimodernisasi. Hotel yang memiliki total 40 kamar ini mulai memperkenalkan teknologi modern pada masanya berupa bel listrik di setiap kamar guna mempermudah tamu dalam memanggil pelayan.[13]

Memasuki tahun 1911, persaingan bisnis akomodasi di Yogyakarta semakin memanas seiring dimulainya pembangunan Grand Hotel de Djokja.[14] Kehadiran hotel megah tersebut memaksa para pengelola penginapan lama, termasuk Hotel Toegoe, untuk terus berinvestasi demi menjaga daya saing mereka. Sebagai langkah inovatif pada tahun 1912, Hotel Toegoe mulai menyediakan layanan bus pariwisata dengan unit bermerek Fiat yang melayani rute perjalanan mengantar para wisatawan menuju Borobudur dengan tarif 10 gulden.[15] Kendati demikian, tekanan kompetisi yang tinggi dari Grand Hotel lambat laun membuat posisi Hotel Toegoe kian terpuruk.[16][17]

Guna menyelamatkan keberlangsungannya, pada tahun 1917 Herscheit akhirnya menawarkan kepemilikan Hotel Toegoe kepada pihak N.V. Grand Hotel de Djokja seharga 176.000 gulden. Penawaran ini disambut baik karena Grand Hotel membutuhkan kapasitas kamar tambahan untuk mengatasi lonjakan tamu yang kerap penuh pada puncak musim liburan. Kesepakatan jual beli kepemilikan hotel resmi ditandatangani pada 30 Januari 1917. Hubungan bisnis ini semakin erat ketika pada 6 Juni 1921, jaringan hotel ternama Nederlandsch-Indische Hotel Vereeniging (NIHV)—yang terkenal mengelola Hotel Tosari, Nongkodjadjar, Tjisoeroepan, dan Ngamplang—mengakuisisi N.V. Hotel Toegoe beserta N.V. Grand Hotel de Djokja.[16][17]

Meskipun NIHV harus menelan pahitnya kebangkrutan pada tahun 1932, Hotel Toegoe tetap dapat beroperasi berkat diangkatnya Stigter (Direktur Grand Hotel) sebagai Direktur ad interim.[18][19] Pada era ini, Hotel Toegoe bersama Grand Hotel de Djokja semakin digemari wisatawan, salah satunya berkat sajian kuliner rijsttafel-nya yang sangat nikmat.[20] Memasuki era Perang Dunia II, fungsi hotel mulai bergeser seiring dengan situasi keamanan yang semakin tak terkendali; pada 10 November 1939, sebuah sirene peringatan dipasang dan diuji coba di puncak menara Hotel Toegoe beserta sudut kota lainnya.[21] Akhirnya, pada masa pendudukan Jepang, bangunan hotel ini disita dan dimanfaatkan sebagai tempat penginapan bagi para perwira serta tentara Jepang.

Perkembangan pascakemerdekaan

lossy-page1-250px-KITLV_-_1402623_-_Kurkdjian_-_Hotel_Toegoe_Djocja_%28Yogyakarta%2C_Java%29._Dining-room_-_circa_1900.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ruang makan Hotel Toegoe

Pasca-proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, fungsi Hotel Toegoe mengalami pergeseran signifikan dari penginapan komersial menjadi salah satu pusat aktivitas perjuangan nasional. Pada tahun 1947, Hotel Toegoe difungsikan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Djawatan Penerbangan. Keputusan ini diambil karena markas utama TKR Djawatan Penerbangan yang berlokasi di Jalan Taman Terban 1 memiliki kapasitas yang sangat terbatas dan hanya mampu menampung sekitar 30 personel. Oleh karena itu, prajurit yang tidak tertampung dialokasikan ke dua tempat lain, yakni kantor personalia di wilayah Jetis serta Hotel Toegoe, yang kemudian difungsikan sekaligus sebagai Mess Perwira dan pusat kantor urusan pendidikan militer penerbangan.[22]

Peran strategis Hotel Toegoe dalam panggung diplomasi nasional makin menguat pada tahun 1949. Hotel ini dipilih menjadi lokasi penyelenggaraan rapat penting antara perwakilan pemerintah Indonesia dengan Komisi Jasa-jasa Baik PBB (yang lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara dan beranggotakan Australia, Belgia, serta Amerika Serikat). Pertemuan tingkat tinggi bersejarah tersebut dinamai "Konferensi Inter-Indonesia", yang difokuskan sebagai konsolidasi dan persiapan matang menjelang perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.[2] Di sisi lain, pada era bergejolak tersebut, keberadaan Hotel Toegoe yang sempat direbut dan dijadikan markas oleh pasukan militer Belanda membuatnya turut menjadi salah satu target utama dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.[2]

Memasuki era setelah berakhirnya perang kemerdekaan, Hotel Toegoe tetap digunakan sebagai instalasi militer selama beberapa dekade. Sepanjang kurun waktu dasawarsa 1960-an hingga 1970-an, kompleks bangunan ini dimanfaatkan sebagai markas utama Komando Distrik Militer (Kodim). Perubahan status kepemilikan baru terjadi pada tanggal 26 Mei 1982, ketika aset bangunan secara resmi berpindah tangan ke keluarga besar pengusaha nasional Probosutedjo.[23] Di bawah naungan pemilik baru ini, pada 10 Februari 1986, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi kantor cabang Bank Jakarta, lembaga perbankan yang juga dimiliki oleh Probosutedjo, hingga akhirnya dilikuidasi oleh pemerintah pada 1 November 1997.[24][25]

Memasuki pertengahan 2000-an, bangunan bekas hotel ini mulai dimanfaatkan untuk kegiatan ritel oleh Kedaung Group (KIG). Kedaung menyewa dan mengubah fungsi bekas Hotel Toegoe menjadi pusat penjualan perabotan rumah tangga serta pecah belah dengan nama "Kedaung Table Top Plaza". Memasuki tahun 2008, peruntukan bangunan ini kembali berganti menjadi fasilitas pendidikan, yakni difungsikan sebagai Unit II Kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Dinamika pemanfaatan gedung yang terus berganti ini mencerminkan fleksibilitas ruang sejarah Hotel Toegoe dalam mengadaptasi berbagai perkembangan fungsi sosial dan ekonomi di pusat Kota Yogyakarta dari masa ke masa.[26]

Sayangnya, memasuki tahun 2012, penggunaan bangunan bersejarah ini dihentikan sepenuhnya dan menjadi tidak berpenghuni. Pihak keluarga Probosutedjo selaku pemilik aset kemudian menutup rapat sekeliling area bekas hotel menggunakan lembaran-lembaran seng. Tindakan penutupan ini memicu kritik keras dari berbagai komunitas pecinta dan pelestari warisan budaya di Yogyakarta. Penutupan fisik bangunan dinilai mengabaikan nilai historis dan estetika kawasan, terlebih lagi pada masa itu proses penetapan Hotel Toegoe sebagai situs cagar budaya yang dilindungi oleh negara sedang gencar diperjuangkan.[27]

Bangunan

Hotel Toegoe dibangun di atas lahan seluas 6.320 m2 dengan luas bangunan 1.527,63 m2. Hotel Toegoe terdiri dari 1 (satu) bangunan induk yang diapit oleh dua bangunan lain yang lebih kecil di samping kanan dan kirinya. Bangunan utama hotel memiliki luas 642,68 m2 dan terdiri dari 2 (dua) lantai. Lantai 1 (satu) memiliki ukuran panjang 31,8 m dan lebar 17,50 m, sedangkan lantai 2 (dua) memiliki panjang 11,46 m, lebar 7,52 m, dengan tinggi seluruh bangunan yaitu 14,40 m. Sayap utara bangunan memiliki luas 553,65 m2 dengan rincian ukuran panjang 63,42 m, lebar 8,73 m, tinggi bangunan depan 8,00 m, dan tinggi bangunan belakangnya yaitu 6,00 m. Sedangkan sayap selatan bangunan memiliki luas 331,30 m2 dengan ukuran panjang 41,31 m, lebar 8,02 m, tinggi bangunan depan 8,20 m, serta bangunan belakangnya memiliki ketinggian 6,90 m.

Bangunan Hotel Toegoe yang bergaya kolonial ini beratap pelana dengan kemiringan tajam, berdenah persegi panjang yang menghadap ke barat, serta memiliki fasad yang sangat menonjol dan tinggi hingga menutupi atapnya. Fasad bangunan pengapit pada bagian atas memiliki ornamen berupa tiang-tiang pendek berjenjang yang tersusun secara simetris memuncak di bagian tengahnya. Sedangkan bangunan induk yang meski memiliki bentuk fasad yang sama dengan bangunan pengapitnya memiliki dua menara yaitu di sisi kanan dan kiri pada bagian atapnya. Berdirinya kedua menara inilah yang membedakan bentuk fasad serta atap antara bangunan induk dan pengapitnya. Bangunan Hotel Toegoe memiliki pintu dan jendela yang berukuran besar dengan plafon yang tinggi sehingga pencahayaan dan sirkulasi udara relatif baik. Jendela bagian atas (bouvenlicht) berbentuk lengkung dengan hiasan kaca patri berwarna-warni. Dinding bagian luar terlihat polos, tetapi dinding bagian dalam hall dihiasi panil-panil relief dengan motif bunga.

Kondisi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992, Hotel Toegoe ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya yang memiliki luas 2.395 m2.[2] Namun pada tahun 2004 terjadi pembongkaran bagian belakang bangunan induk dan bangunan di sisi selatan untuk bangunan baru sehingga luasnya berkurang menjadi 1.527,63 m2.[2] Hal ini menyebabkan adanya permohonan revisi peraturan terkait luas area Hotel Toegoe yang tercantum dalam surat Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman kepada Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 712/srt/Dir.PCBM/Bud/IV/2013 tgl 1 April 2013 perihal ralat Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007.[2]

Pada awal tahun 2019, sebagian atap Hotel Toegoe dikabarkan roboh.[28] Sebelumnya, kondisi atap banyak yang bocor dan beberapa kayu penyangga telah lapuk. Dalam rangka pembersihan, Hotel Toegoe dikelilingi pagar dengan pintu masuk terkunci.[28]

Referensi

  1. ↑ "Hotel Toegoe Perlu Difungsikan Kembali". krjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-07-15.
  2. 1 2 3 4 5 6 "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-22. Diakses tanggal 2019-02-22.
  3. ↑ "Vervolg der Nieuwstijdingen". De Locomotief. 12 April 1876. Diakses tanggal 2023-07-14.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Odenwalder, H.L. (26 April 1876). "Bekendmaking". De Locomotief. Diakses tanggal 2023-07-14.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Odenwalder, H.L. (30 Oktober 1878). "Bekendmaking". De Locomotief. hlm. 4. Diakses tanggal 2024-08-15.
  6. ↑ von Kriegenberg, C. (26 Mei 1882). "Bekendmaking". De Locomotief. Diakses tanggal 2024-08-15.
  7. ↑ "Het Hotel Toegoe (advertentie)". De Locomotief. 20 Mei 1876.
  8. ↑ "Uit Djokja". De Locomotief. 16 Juni 1887.
  9. ↑ "Nederlandsch-Indie". Bataviaasch nieuwsblad. 1 Juli 1896.
  10. ↑ van Kesteren, C.E. (ed.). De Indische gids. Amsterdam: J.H. de Bussy. hlm. 1791.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ "Hotel Toegoe". De Locomotief. 19 Maret 1900. Diakses tanggal 2023-07-15.
  12. ↑ "Brieven uit Djokja". Soerabaijasch handelsblad. 13 Januari 1908.
  13. ↑ "Zaterdagsche Causerie". Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 29 Februari 1908.
  14. ↑ "Gemengd". De Locomotief. 12 September 1911. hlm. 5.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ "Vreemdelingenverkeer". Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant. 24 Mei 1912. hlm. 6.
  16. 1 2 "Hotelwezen". Bataviaasch nieuwsblad. 30 Januari 1917. hlm. 6.
  17. 1 2 "Verspreide berichten". De nieuwe vorstenlanden. 31 Januari 1917. hlm. 2.
  18. ↑ "Hotelbedrijf Failiet: N.I. Hotel Vereeniging zal faillissement aanvragen". De Locomotief. 29 Agustus 1932. hlm. 9.
  19. ↑ "Leiding Hotel Toegoe". Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië. 7 September 1932. hlm. 2.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Rahman, Fadly (2016). Rijsttafel: budaya kuliner di Indonesia masa kolonial 1870-1942. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 58. ISBN 978-602-03-3603-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  21. ↑ "Proeven met sirenes". De Locomotief. 10 November 1939. hlm. 4.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Dinas Penerangan TNI AU (2004). Sejarah TNI Angkatan Udara. Vol. 1 (1945-1949). Subdisjarah Diswatpersau. hlm. 49.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. ↑ "Hotel Toegoe". Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. 01 April 2012. Diakses tanggal 2023-07-15.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  24. ↑ "Indikator". Majalah Tempo: 74. 15 Februari 1986.
  25. ↑ Edward, D. (2010). BLBI extraordinary crime. Bantul: LKiS. hlm. 37. ISBN 9789792553109.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  26. ↑ Media, Harian Jogja Digital. "Bangunan di Depan Stasiun Tugu Ini Bikin Warganet Penasaran, Ada yang Punya Kenangan?". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-07-15.
  27. ↑ "Madya Pertanyakan Bangunan Cagar Budaya Ditutup Seng". Tribunjogja.com. Diakses tanggal 2023-07-15.
  28. 1 2 https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4393762/atap-eks-hotel-toegoe-yogya-milik-probosutedjo-ambrol
Cagar budaya peringkat nasional di Indonesia
Benda
Bangunan
Struktur
Situs
Kawasan
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan