
Benteng Oranje adalah benteng yang dulunya ditinggali Bangsa Portugis dan Belanda, sebagai penanda kekuasaan bangsa tersebut untuk menguasai cengkeh dan hasil alam lainnya dari Ternate. Di sekitar kawasan Benteng Oranje terdapat permukiman yang secara historis dihuni oleh komunitas pedagang dari Tiongkok, Arab, Melayu, dan Makassar. Di dalam benteng terdapat bangunan dengan langgam arsitektur Indis, sedangkan kawasan di luar benteng pada awalnya memiliki ruang terbuka dengan vegetasi.[1]
Setelah kemerdekaan Indonesia, kawasan Benteng Oranje digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk berbagai fungsi, antara lain perkantoran, perumahan, dan rumah sakit. Perkembangan Kota Ternate kemudian memengaruhi perubahan fungsi dan tata ruang di sekitar kawasan benteng. Perluasan permukiman dan kegiatan komersial menyebabkan perubahan pada ruang terbuka serta berkurangnya vegetasi di sekitar benteng.[1]
Sebuah penelitian mengenai kawasan Benteng Oranje mengidentifikasi perubahan pada karakter fisik bangunan dan lingkungan di dalam maupun di luar benteng. Di dalam benteng, perubahan terjadi pada tampilan bangunan dan tata ruang. Sementara itu, kawasan di luar benteng mengalami perubahan tata ruang dan pemanfaatan lahan, termasuk perubahan ruang terbuka di sekitar benteng menjadi kawasan permukiman.[1]
Sejarah

Benteng Oranje didirikan pada tanggal 26 Mei 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge. Nama benteng ini baru diberikan pada tahun 1609 pada masa pemerintahan Sultan Mudaffar. Pemberian nama oleh Francois Wiltlentt.[2] Benteng Oranje ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang dibangun oleh Bangsa Portugis dan dihuni oleh orang Melayu sehingga dberi nama Benteng Melayu.[3]
Kini terdapat sejumlah perubahan kawasan dengan perkembangan Kota Ternate yang sempat menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara selama 1999-2010, serta posisi kawasan Benteng Oranje yang berada di pusat kota. Perubahan tersebut turut memengaruhi fungsi kawasan sebagai kawasan cagar budaya, pariwisata, pendidikan, dan salah satu penanda kota Ternate.[1] Tujuan pemerintah yakni membuka potensi wilayah benteng agar menjadi tujuan pariwisata sekaligus cagar budaya dan edukasi masyarakat. Apabila berkunjung ke sekitar lokasi Benteng Oranje, kini terdapat ragam kafe, ditambah adanya tempat kain tenun sehingga masyarakat bisa menambah pengetahuan di bidang wastra. Konsep penataan kawasan pusaka Benteng Oranje mencakup perlindungan terhadap elemen bangunan yang memiliki nilai sejarah, dengan memperhatikan keselarasan lingkungan dan kearifan lokal.[4]

Lokasi
Letak Benteng Oranje berada di pusat Kota Ternate, Maluku Utara.[5] Lokasi Benteng Orange termasuk dalam wilayah Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah.[6] Alamat lengkapnya berada di Jalan Hasan Boesoeri. Lokasi Benteng Oranje dahulu berada di tepi pantai. Namun lokasinya menjadi berada di tengah kota karena adanya reklamasi.[butuh rujukan]
Kawasan Benteng Oranje terletak di Jalan Hasan Boesoeri, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate. Kawasan ini berjarak sekitar 3,5 kilometer dari Bandar Udara Sultan Babullah dan dapat ditempuh melalui jalur darat dalam waktu sekitar 20 menit.[4]

Fungsi
Sejak tahun 2016, Benteng Oranje telah beralih fungsi menjadi lokasi wisata benteng di Kota Ternate. Pada bagian depan Benteng Oranje telah dibangun taman kota serta pertokoan. Dengan letak yang strategis tersebut menjadikan benteng ini semakin mudah untuk dikunjungi para wisatawan.[butuh rujukan]
Kawasan tersebut memiliki fungsi sebagai bagian dari kawasan wisata sejarah dan budaya Kota Ternate. Penataan kawasan pusaka dilakukan sebagai bagian dari upaya pengembangan kawasan, termasuk pemanfaatan potensi pariwisata dan kegiatan ekonomi kreatif. Serah terima pengelolaan paket pekerjaan penataan kawasan dilaksanakan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Maluku Utara kepada Pemerintah Kota Ternate pada 19 Desember 2024.[4]
Referensi
- 1 2 3 4 Ibrahim, Maulana (2007). "Strategi penataan kawasan Benteng Oranje Ternate berdasarkan karakter asli". Universitas Gadjah Mada.
{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan|journal= - ↑ Oesman, H., dkk. (Februari 2023). Can, L. R., dan Djana, A. (ed.). Fort Oranje: Identitas, Integrasi, Ruang Permukiman (PDF). Purbalingga: Eureka Media Aksara. hlm. 17. ISBN 978-623-487-686-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Kejayaan Penguasa Belanda Di Benteng Oranye". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-10-05.
- 1 2 3 Media, Kompas Cyber (2025-01-25). "Penataan Benteng Oranje di Ternate Rampung, Dorong Ekonomi Kreatif". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-10-05.
- ↑ Aksa, Laode Muhammad (2014). "Benteng Oranje: Rowayatmu Dulu" (PDF). Korakora (Edisi 1). Kota Ternate: Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate: 11.
- ↑ Santoso, I., dan Poerwoningsih, D. (8 Agustus 2014). "Pusaka Bersejarah Benteng Orange sebagai Aspek Kekuatan Pertahanan yang Handal bagi Penguasa Kaum Kolonial Masa Lalu di Ternate, Maluku Utara" (PDF). Seminar Nasional Arsitektur Pertahanan (Arshan) 2014: Insting Teritorial dan Ruang Pertahanan. Program Studi Arsitektur, UPN “Veteran” Jatim: 8.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
Pranala luar
Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |