Jumat, 16 Oktober 2026
16:21 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Maluku Utara

Maluku Utara

provinsi di Kepulauan Maluku, Indonesia

Bagikan:
Untuk kegunaan lain, lihat Maluku (disambiguasi).
Maluku Utara
Transkripsi bahasa daerah
250px-Kadato_Kie.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kedaton Sultan Tidore
250px-Pemandangan_Ternate_dari_Tidore.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pantai di Tidore
250px-Pantai_Kolorai%2C_Maluku_Utara.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pantai Kolorai
Bendera Maluku Utara
Bendera
Julukan: 
Negeri rempah-rempah[1]
Negeri para raja
Motto: 
Marimoi ngone futuru
(Ternate) Bersatu kita teguh
osm-intl,a,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Maluku_Utara&revid=29851488&groups=_d918dcaa2f5151a90452ebaf791119776e77dae0&parser=parsoid
Peta interaktif Maluku Utara
Koordinat: 0°47′N 127°22′E / 0.78°N 127.37°E / 0.78; 127.37
Negara Indonesia
Dasar hukum pendirianUU RI No. 46 Tahun 1999
UU RI No. 6 Tahun 2003
Hari jadi30 Desember 1967 (sebagai Kabupaten Maluku Utara)
12 Oktober 1999 (resmi dari pemekaran Provinsi Maluku)[2]
Ibu kota
Kota besar lainnya
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kabupaten: 8
  • Kota: 2
  • Kecamatan: 112
  • Kelurahan: 1071
Pemerintahan
 • GubernurSherly Tjoanda
 • Wakil GubernurSarbin Sehe
 • Sekretaris DaerahSamsuddin Abdul Kadir
 • Ketua DPRDIqbal Ruray
Luas
 • Total31.982,50 km2 (12,348,51 sq mi)
Populasi
 (31 Desember 2024)[3][4]
 • Total1.394.231
 • Kepadatan44/km2 (110/sq mi)
Demografi
 • Agama
 • BahasaIndonesia (resmi), Melayu Ternate (lingua franca), Galela, Tobelo, Loloda, Ternate, Tidore, Sula
 • IPMKenaikan 71,84 (2024)
 tinggi [6]
Zona waktuUTC+09:00 (WIT)
Kode pos
977xx-978xx
Kode area telepon
Daftar
  • 0921 - Soasiu, Sofifi
  • 0922 - Jailolo
  • 0923 - Morotai
  • 0924 - Tobelo
  • 0927 - Labuha
  • 0929 - Sanana
Kode ISO 3166ID-MU
Pelat kendaraanDG
Kode Kemendagri82 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS82 Suntingan nilai di Wikidata
DAURp 1.377.253.571.000,00- (2020) [7]
Lagu daerah"Borero"
"Ngofa Se Dano"
"Sogoliho Laha"
Rumah adat
Senjata tradisionalParang Salawaku
Flora resmiCengkih
Fauna resmiBidadari halmahera
Situs webwww.malutprov.go.id

Maluku Utara (diakronimkan: Malut) merupakan sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kota provinsi ini terletak di Sofifi (Kota Tidore Kepulauan). Provinsi ini terletak di bagian timur Indonesia yang resmi terbentuk pada 4 Oktober 1999, yang sebelumnya menjadi kabupaten dari Provinsi Maluku bersama dengan Kabupaten Halmahera Tengah, berdasarkan UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor Tahun 2003. Jumlah penduduk Provinsi Maluku Utara pada akhir tahun 2024 mencapai 1.394.231 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 44 jiwa/km2.[3]

Saat awal pendirian Provinsi Maluku Utara, ibu kota provinsi ini rencananya ditempatkan di Kota Ternate yang berlokasi di Pulau Ternate, tepatnya di kaki Gunung Gamalama dalam kurun waktu kurang lebih 11 tahun, hingga pada 4 Agustus 2010 setelah adanya masa transisi dan persiapan pembangunan, Maluku Utara memindahkan ibu kota provinsi ke Kota Sofifi yang terletak di Pulau Halmahera, tepatnya di wilayah Kelurahan Sofifi, Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan.[8][9]

Etimologi

Istilah Maluku pada awalnya merujuk pada keempat pusat kesultanan di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Suatu bentuk konfederasi tertentu dari keempat kerajaan tersebut yang kemungkinan besar muncul pada abad ke-14, disebut Moloku Kie Raha atau "Empat Gunung Maluku". Walaupun kemudian keempat kerajaan itu berekspansi dan mencakup seluruh wilayah Maluku Utara (sekarang) dan sebagian wilayah Sulawesi dan Papua, tetapi wilayah ekspansi itu tidak termasuk dalam istilah Maluku yang hanya merujuk pada keempat pusat kesultanan di Maluku Utara.

Kata pertama yang dapat diidentifikasi dengan Maluku berasal dari Nagarakretagama, sebuah kakawin berbahasa Jawa Kuno dari tahun 1365. Pupuh 14 bait 5 menyebutkan Maloko, yang Pigeaud identifikasikan dengan Ternate atau Maluku.[10]: 17 [11]: 34 

Geografis

Provinsi Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89 dan sisanya sebanyak 1.385 tidak berpenghuni.

PulauArea (km2)Populasi
2010
KepadatanTitik TertinggiKetinggianGeolokasi
Morotai2.266,452.69723,25/km2Gunung Sabatai1.250 m (4.101 ft)2°19′N 128°46′E / 2.32°N 128.77°E / 2.32; 128.77
Halmahera18.039,6449.93824,94/km2Gunung Gamkonora1.635 m (5.364 ft)0°36′N 127°52′E / 0.60°N 127.87°E / 0.60; 127.87
Ternate106,2185.7051.748,63/km2Gunung Gamalama1.715 m (5.625 ft)0°49′N 127°20′E / 0.81°N 127.33°E / 0.81; 127.33
Tidore116,1111.000455,09/km2Kie Matubu1.730 m (5.680 ft)0°40′N 127°24′E / 0.66°N 127.40°E / 0.66; 127.40
Makian113,112.394109,58/km2Kie Besi1.357 m (4.452 ft)0°19′N 127°24′E / 0.32°N 127.40°E / 0.32; 127.40
Kayoa72,7116.707229,78/km2Gunung Tigalalu422 m (1.385 ft)0°03′N 127°26′E / 0.05°N 127.44°E / 0.05; 127.44
Gebe143,224.46331,16/km2Bukit Elfanoen396 m (1.299 ft)0°05′S 129°27′E / 0.08°S 129.45°E / -0.08; 129.45
Kasiruta472,68.36817,71/km2Buku Kabau824 m (2.703 m)0°22′S 127°12′E / 0.37°S 127.20°E / -0.37; 127.20
Bacan1.899,860.74231,97/km2Buku Sibela2.111 m (6.926 ft)0°37′S 127°32′E / 0.62°S 127.53°E / -0.62; 127.53
Mandioli229,88.78838,24/km2Buku Gaku331 m (1.086 ft)0°42′S 127°11′E / 0.70°S 127.18°E / -0.70; 127.18
Obi2.542,329.64212,66/km2-1.611 m (5.285 ft)1°32′S 127°46′E / 1.53°S 127.77°E / -1.53; 127.77
Taliabu2.913,247.30916,24/km2Gunung Lida Godo1.380 m (4.528 ft)1°47′S 124°52′E / 1.78°S 124.87°E / -1.78; 124.87
Mangole1.228,536.32329,57/km2-1.147 m (3.763 ft)1°51′S 125°50′E / 1.85°S 125.83°E / -1.85; 125.83
Sulabesi557,848.89287,65/km2-678 m (2.224 ft)2°14′S 125°56′E / 2.23°S 125.93°E / -2.23; 125.93

Geologi

Kepulauan Maluku Utara terbentuk dari pergerakan tiga lempeng tektonik, yaitu Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia yang terjadi sejak zaman kapur. pergerakan ini membentuk busur kepulauan gunung api kuarter yang membentang dari utara ke selatan di Halmahera bagian barat, di antaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare, dan Pulau Makian. Pulau Halmahera sendiri merupakan pulau vulkanik meskipun aktivitas vulkanik yang terjadi hanya pada sebagian wilayahnya.

NamaBentukKetinggianPulauGeolokasi
Gunung Tarakankerucut piroklastik318 m (1.043 ft)Halmahera1°50′N 127°50′E / 1.83°N 127.83°E / 1.83; 127.83
Gunung Dukonokompleks1.229 m (4.031 ft)Halmahera1°41′N 127°53′E / 1.68°N 127.88°E / 1.68; 127.88
Gunung Tobarustratovulkan1.035 m (3.396 ft)Halmahera1°38′N 127°40′E / 1.63°N 127.67°E / 1.63; 127.67
Gunung Ibustratovulkan1.325 m (4.347 ft)Halmahera1°29′N 127°38′E / 1.49°N 127.63°E / 1.49; 127.63
Gunung Gamkonorastratovulkan1.635 m (5.364 ft)Halmahera1°23′N 127°32′E / 1.38°N 127.53°E / 1.38; 127.53
Gunung Todoko-Ranukaldera979 m (3.212 ft)Halmahera1°15′N 127°28′E / 1.25°N 127.47°E / 1.25; 127.47
Gunung Jailolostratovulkan1.130 m (3.710 ft)Halmahera1°05′N 127°25′E / 1.08°N 127.42°E / 1.08; 127.42
Gunung Hiristratovulkan630 m (2.070 ft)Hiri0°54′N 127°19′E / 0.90°N 127.32°E / 0.90; 127.32
Gunung Gamalamastratovulkan1.715 m (5.627 ft)Ternate0°49′N 127°20′E / 0.81°N 127.33°E / 0.81; 127.33
Kie Matubustratovulkan1.730 m (5.680 ft)Tidore0°40′N 127°24′E / 0.66°N 127.40°E / 0.66; 127.40
Gunung Marestratovulkan308 m (1.010 ft)Mare0°34′N 127°24′E / 0.57°N 127.40°E / 0.57; 127.40
Gunung Motistratovulkan950 m (3,120 ft)Moti0°27′N 127°24′E / 0.45°N 127.40°E / 0.45; 127.40
Kie Besistratovulkan1.357 m (4.452 ft)Makian0°19′N 127°24′E / 0.32°N 127.40°E / 0.32; 127.40
Gunung Tigalalustratovulkan422 m (1.385 ft)Kayoa0°04′N 127°25′E / 0.07°N 127.42°E / 0.07; 127.42
Bukit Amasingstratovulkan1.030 m (3.380 ft)Bacan0°32′S 127°29′E / 0.53°S 127.48°E / -0.53; 127.48
Bukit Bibinoistratovulkan900 m (3.000 ft)Bacan0°46′S 127°43′E / 0.77°S 127.72°E / -0.77; 127.72
Sumber: Global Volcanism Program.[12]

Sejarah

Artikel utama: Sejarah Maluku Utara
250px-Willem_Blaeu00.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Kepulauan Maluku Utara karya seorang kartografer Belanda, Willem Janszoon Blaeu, pada tahun 1630. Arah utara berada di sebelah kanan, dengan Pulau Ternate terletak di ujung kanan, diikuti oleh Pulau Tidore, Mare, Moti dan Kepulauan Makian. Pada bagian bawah adalah Gilolo (Jailolo atau Halmahera). Inset yang berada di atas menunjukkan Pulau Bacan.

Kerajaan Moloku Kie Raha

Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku), sultan Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja–raja Maluku yang lain untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini kemudian dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond. Butir penting dari pertemuan ini selain terjalinnya persekutuan adalah penyeragaman bentuk kelembagaan kerajaan di Maluku. Oleh karena pertemuan ini dihadiri 4 raja Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku Kie Raha. Walau ada Kerajaan Loloda yang tidak dianggap setingkat dengan kerajaan lainnya. Keempat kerajaan tersebut adalah:

Kolonialisme

Portugis

Portugis merupakan bangsa eropa pertama yang datang ke Kepulauan Maluku yaitu di banda pada tahun 1511, dan sampai di Ternate pada masa pemerintahan Sultan Bayanullah tahun 1512 dibawah pimpinan Francisco Serrão, mereka membangun sebuah benteng di Ternate pada tahun 1522 dan selesai pada tahun 1523. Benteng ini merupakan benteng kolonial pertama di Kepulauan Maluku yang diberi nama São João Batista (Benteng Kastela).

Portugis juga diberi kedudukan dan hak istimewa sebagai mitra dan penasihat kesultanan. Pada 25 Februari 1570 Gubernur Portugis Lopez de Mezquita menjebak dan membunuh Sultan Khairun pada saat jamuan makan di Benteng Kastella. Pasca kematian Sultan Khairun, Sultan Baabullah dinobatkan menjadi sultan menggantikan ayahnya dan berjuang melawan Portugis. Sultan Baabullah mengepung Benteng Kastela selama lima tahun, dan pada tanggal 15 Juli 1575 Portugis akhirnya menyerahkan benteng tersebut dan mundur ke Ambon.

Spanyol

Elcano.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Juan Sebastián Elcano, penjelajah Spanyol yang berhasil sampai di Tidore pada tahun 1521.

Spanyol tiba di Tidore pada tanggal 6 November 1521 dipimpin oleh Juan Sebastián Elcano dengan kapal Trinidad dan Victoria. Kedatangan Spanyol disambut oleh Sultan Tidore pada saat itu Sultan Al-Mansur. Hal ini dicatat oleh Antonio Pigafetta, seorang sejarawan dan penjelajah dari Venesia yang ikut dalam pelayaran tersebut.

Kesultanan Tidore menjadikan Spanyol sebagai sekutu untuk melawan dominasi Kesultanan Ternate yang pada masa itu bekerjasama dengan Portugis. Pada tahun 1610 Gubernur Spanyol Cristobal de Azcqueta Menchacha memerintahkan untuk membangun sebuah benteng di Tidore yang diberi nama Santiago de los Caballeros de Tidore. Pembangunan benteng ini selesai pada tahun 1615 saat Gubernur Spanyol Don Jeronimo de Silva menjabat dan mengganti nama benteng ini menjadi Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore (Benteng Tahula). Kedatangan Spanyol menjadi ancaman bagi Portugis.

Sebab saat itu Portugis memonopoli perdagangan di Kepulauan Maluku. Portugis melayangkan protes kepada pihak Spanyol karena telah melanggar Perjanjian Tordesillas yang dibuat pada tahun 1494. Karena perselisihan tersebut, pada tanggal 22 April 1529 Paus Aleksander VI memprakarsai Perjanjian Zaragoza antara Raja John III dan Raja Charles V di Zaragoza, Aragon. Di mana Spanyol harus meninggalkan Maluku. Sementara Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku. Sebagai gantinya Raja John III diharuskan membayar 350.000 Dukat kepada Raja Charles V. Spanyol akhirnya meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatan mereka di Filipina.

Pendudukan Jepang

Kekaisaran Jepang menginvasi Maluku pada awal tahun 1942 sebagai bagian dari Kampanye Perang Dunia II Hindia Belanda, mengusir Belanda dari wilayah tersebut. Halmahera menjadi situs pangkalan angkatan laut Jepang di Teluk Kao. 2 tahun kemudian, pasukan AS dan sekutu mereka melancarkan Pertempuran Morotai pada tahun 1944; membom pulau itu pada bulan Agustus dan menyerang pada bulan September. Pasukan Kekaisaran Jepang di Morotai bertahan sampai 1945 tetapi gagal mengusir Sekutu.

Pada akhir tahun 1944, 61.000 personel AS mendarat di Morotai.[13] Dua pertiga dari mereka adalah insinyur, yang dengan cepat membangun fasilitas termasuk pelabuhan dan dua lapangan terbang[13] ditambah tempat pengisian bahan bakar. Penyerahan resmi Tentara Jepang Kedua terjadi di Morotai pada 9 September 1945. Serdadu Jepang terakhir yang menolak menyerah, Prajurit Teruo Nakamura (Amis: Attun Palalin), ditemukan oleh Angkatan Udara Indonesia di Morotai, dan menyerah ke patroli pencarian pada 18 Desember 1974.[14]

Zaman Kemerdekaan

Orde Lama

Pada era ini, posisi dan peran Maluku Utara terus mengalami kemorosotan, kedudukannya sebagai keresidenan sempat dinikmati Ternate antara tahun 1945-1957. Setelah itu kedudukannya dibagi ke dalam beberapa Daerah Tingkat II (kabupaten).

Upaya merintis pembentukan Provinsi Maluku Utara telah dimulai sejak 19 September 1957. Ketika itu DPRD peralihan mengeluarkan keputusan untuk membentuk Provinsi Maluku Utara untuk mendukung perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat melalui Undang-undang Nomor 15 Tahun 1956, tetapi upaya ini terhenti setelah munculnya peristiwa pemberontakan Permesta.

Pada tahun 1963, sejumlah tokoh partai politik seperti Partindo, PSII, NU, Partai Katolik dan Parkindo melanjutkan upaya yang pernah dilakukan dengan mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-Gotong Royong (DPRD-GR) untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi Maluku Utara. DPRD-GR merespons upaya ini dengan mengeluarkan resolusi Nomor 4/DPRD-GR/1964 yang intinya memberikan dukungan atas upaya pembentukan Provinsi Maluku Utara. Namun pergantian pemerintahan dari orde lama ke orde baru mengakibatkan upaya-upaya rintisan yang telah dilakukan tersebut tidak mendapat tindak lanjut yang konkret.

Orde Baru

Pada masa Orde Baru, daerah Moloku Kie Raha ini terbagi menjadi dua kabupaten dan satu kota administratif. Kabupaten Maluku Utara beribu kota di Ternate, Kabupaten Halmahera Tengah beribu kota di Soa Sio, Tidore dan Kota Administratif Ternate beribu kota di Kota Ternate. Ketiga daerah kabupaten/kota ini masih termasuk wilayah Provinsi Maluku.

Orde Reformasi

Pada masa pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, muncul pemikiran untuk melakukan percepatan pembangunan di beberapa wilayah potensial dengan membentuk provinsi-provinsi baru. Provinsi Maluku termasuk salah satu wilayah potensial yang perlu dilakukan percepatan pembangunan melalui pemekaran wilayah provinsi, terutama karena laju pembangunan antara wilayah utara dan selatan dan atau antara wilayah tengah dan tenggara yang tidak serasi.

Atas dasar itu, pemerintah membentuk Provinsi Maluku Utara (dengan ibu kota sementara di Ternate) yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 tentang Pemekaran Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat.[15]

Dengan demikian provinsi ini secara resmi berdiri pada tanggal 12 Oktober 1999 sebagai pemekaran dari Provinsi Maluku dengan wilayah administrasi terdiri atas Kabupaten Maluku Utara, Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Tengah.

Selanjutnya dibentuk lagi beberapa daerah otonom baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula dan Kota Tidore.

Pemerintahan

Gubernur

Gubernur Maluku Utara bertanggungjawab atas wilayah provinsi Maluku Utara. Saat ini, gubernur atau kepala daerah yang menjabat di provinsi Maluku Utara ialah Sherly Tjoanda, dengan wakil gubernur Sarbin Sehe. Mereka menang pada Pemilihan umum Gubernur Maluku Utara 2024. Sherly Tjoanda merupakan Gubernur perempuan pertama di Maluku Utara. Sherly dan Sarbin dilantik oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada 20 Februari 2025 di Jakarta.[16]

40px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Gubernur Maluku Utara 40px-Coat_of_arms_of_North_Maluku.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nomor urut Gubernur Potret Awal Akhir Masa jabatan Periode Wakil Gubernur Potret Ref.
3 Sherly Tjoanda 120px-Sherly_Tjoanda%2C_Gubernur_Maluku_Utara_%282025%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 20 Februari 2025 Petahana 1 tahun, 238 hari V
(2024)
Sarbin Sehe 120px-Wakil_Gubernur_Maluku_Utara%2C_Sarbin_Sehe.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail [16]

Perwakilan

DPRD Maluku Utara beranggotakan 45 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali.

Pimpinan DPRD Maluku Utara terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak.

Anggota DPRD Maluku Utara yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2024 yang dilantik pada 23 September 2024 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Maluku Utara, Ahmad Shalihin, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Provinsi Maluku Utara.[17][18] Komposisi anggota DPRD Maluku Utara periode 2024-2029 terdiri dari 12 partai politik dimana Partai Golkar adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 8 kursi, kemudian disusul oleh PDI Perjuangan, Partai NasDem, PKS, dan Partai Hanura yang masing-masing meraih 5 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Maluku Utara dalam tiga periode terakhir.[19][20][21][22][23][24][25][26]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024 2024-2029
PKB 1 Steady 1 Kenaikan 4
Gerindra 3 Kenaikan 5 Penurunan 4
PDI-P 7 Kenaikan 8 Penurunan 5
Golkar 8 Steady 8 Steady 8
NasDem 5 Penurunan 4 Kenaikan 5
PKS 5 Penurunan 2 Kenaikan 5
PPP 1 Penurunan 0 Steady 0
PAN 3 Kenaikan 4 Penurunan 3
Hanura 4 Penurunan 2 Kenaikan 5
Demokrat 3 Kenaikan 4 Penurunan 3
PBB 3 Penurunan 2 Penurunan 1
PKPI 2 Penurunan 0
Garuda (baru) 1 Steady 1
Berkarya (baru) 2
Perindo (baru) 2 Penurunan 1
Jumlah Anggota 45 Steady 45 Steady 45
Jumlah Partai 12 Kenaikan 13 Penurunan 12

Pembagian wilayah administrasi

No. Kabupaten/kota Ibu kota Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[27] Jumlah penduduk (2025)[27] Kecamatan Kelurahan/desa Lambang
Peta lokasi
1Kabupaten Halmahera BaratJailoloJames Uang 2.237,391 139.7648-/169
60px-Lambang_Kabupaten_Halmahera_Barat.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.01.00_MalukuUtara_Halmahera_Barat.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
2Kabupaten Halmahera SelatanLabuhaHasan Ali Bassam Kasuba 8.102,000 258.56430-/249
60px-Lambang_Kabupaten_Halmahera_Selatan.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.04.00_MalukuUtara_Halmahera_Selatan.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
3Kabupaten Halmahera TengahWedaIkram Malan Sangadji 2.272,261 106.50010-/61
60px-Lambang_Kabupaten_Halmahera_Tengah.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.02.00_MalukuUtara_Halmahera_Tengah.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
4Kabupaten Halmahera TimurKota MabaUbaid Yakub 6.487,633 100.47310-/102
60px-Lambang_Kabupaten_Halmahera_Timur.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.06.00_MalukuUtara_Halmahera_Timur.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
5Kabupaten Halmahera UtaraTobeloPiet Hein Babua 3.402,937 206.23317-/196
60px-Lambang_Kabupaten_Halmahera_Utara.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.03.00_MalukuUtara_Halmahera_Utara.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
6Kabupaten Kepulauan SulaSananaFifian Adeningsi Mus 1.777,021 100.39112-/78
60px-Lambang_Kabupaten_Kepulauan_Sula.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.05.00_MalukuUtara_Kepulauan_Sula.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
7Kabupaten Pulau MorotaiDarubaRusli Sibua 2.337,056 82.9135-/88
60px-Lambang_Kabupaten_Pulau_Morotai.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.07.00_MalukuUtara_Morotai.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
8Kabupaten Pulau TaliabuBobongSashabila Mus 2.984,011 66.3618-/71
60px-Lambang_Kabupaten_Pulau_Taliabu.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.08.00_MalukuUtara_Taliabu.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
9Kota Ternate-M. Tauhid Soleman 162,040 210.836777/-
60px-Lambang_Kota_Ternate.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.71.00_MalukuUtara_Ternate.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
10Kota Tidore Kepulauan-Muhammad Sinen 1.703,427 121.952840/49
60px-Lambang_Kota_Tidore_Kepulauan.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-82.72.00_MalukuUtara_Tidore_Kepulauan.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Demografi

Populasi

Penduduk Provinsi Maluku Utara pada tahun 2019 adalah 1.282.937 jiwa yang tersebar di 10 kabupaten/kota, sementara pada tahun 2021 berjumlah 1.316.973 jiwa penduduk.[3] Kabupaten Halmahera Selatan merupakan daerah yang memiliki jumlah penduduk terbesar yaitu 252.780 jiwa, menyusul Kota Ternate dengan jumlah 201.244 jiwa, dan daerah yang memiliki jumlah penduduk palnig sedikit yaitu Kabupaten Pulau Taliabu sebanyak 75.199 jiwa.[3]

Laju pertumbuhan penduduk di provinsi Maluku Utara adalah 1,98% per tahun. Kabupaten Halmahera Tengah merupakan daerah dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi yaitu sebesar 2,92% per tahun, sedangkan daerah dengan laju pertumbuhan penduduk terendah adalah yaitu Kota Tidore Kepulaun sebesar 1,15% per tahun. Dengan luas 31.982 km² dan jumlah penduduk mencapai 1,2 juta pada tahun 2017, tingkat kepadatan penduduk di Provinsi Maluku Utara adalah 38/km². Daerah dengan tingkat kepadatan tertinggi adalah Kota Ternate dengan tingkat kepadatan mencapai 2.003/km², sedangkan wilayah dengan tingkat kepadatan terendah adalah Kabupaten Halmahera Timur dengan tingkat kepadatan hanya 14/km².

Menurut data pada Juni 2021, sebanyak 981.120 penduduk Maluku Utara adalah Muslim, 328.859 adalah Protestan, 6.606 adalah Katolik, 139 adalah Buddha, 113 adalah Hindu dan 10 adalah lainnya[28]

Suku bangsa

Masyarakat di Maluku Utara terdiri dari berbagai suku bangsa yang sangat beragam. Total ada sekitar 28 kelompok etnis dan bahasa di Maluku Utara. Mereka dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan bahasa yang digunakan, yaitu Austronesia and non-Austronesia. Kelompok Austronesia tinggal di bagian selatan, tengah, dan timur Halmahera. Mereka di antaranya adalah suku Buli, suku Maba, suku Patani, suku Sawai, dan suku Weda.

Di Bagian utara dan barat Halmahera adalah kelompok bahasa non-Austronesia terdiri dari suku Galela, suku Tobelo, suku Loloda, suku Tobaru, suku Modole, suku Togutil, suku Pagu, suku Waioli, suku Ibu, suku Sahu, suku Ternate, suku Tidore, dan suku Makian (sebagian). Di Kepulauan Sula ada beberapa kelompok etnis seperti suku Sula, suku Mangole, suku Kadai, suku Mange, dan suku Siboyo. Sebagian besar masyarakat di daerah ini menggunakan bahasa Melayu Sula, sebuah ragam bahasa Melayu pasar turunan dari bahasa Melayu Maluku Utara.[29]

Berdasarkan data dari Sensus Penduduk Indonesia 2010, berikut ini komposisi etnis atau suku bangsa di provinsi Maluku Utara:[30]

No Suku Jumlah 2010 %
1 Asal Maluku 687.003 66,35%
2 Asal Sulawesi 240.427 23,22%
3 Jawa 42.724 4,13%
4 Bugis 20.634 1,99%
5 Minahasa 8.986 0,87%
6 Gorontalo 7.423 0,72%
7 Asal Papua 6.313 0,61%
8 Suku lainnya 21.915 2,11%
Maluku Utara 1.035.425 100%

Bahasa

Maluku Utara memiliki 37 bahasa di antaranya Bacan, Bajo, Bicoli, Buli, Buton, Galela, Gamkonora, Gane, Gebe, Gorap, Ibu, Kadai, Kao, Kayoa, Koloncucu, Laba, Loloda, Maba, Makian Dalam, Makian Luar, Melayu Ternate, Modole, Pagu, Patani, Sahu, Saketa, Sanger, Sawai, Sula, Taliabu, Tidore, Ternate, Ternateno, Tobelo, Tobaru, Waioli, dan Weda.[31] Bahasa Bacan, penutur bahasa ini merupakan masyarakat di desa Amasing Kota kecamatan Bacan, Kabaputen Halmahera Selatan.

Agama

Artikel utama: Agama di Maluku Utara
Agama di Maluku Utara 2021[4]
Agama Persen(%)
Islam
  
74,50%
Protestan
  
24,97%
Katolik
  
0,50%
Hindu
  
0,01%
Buddha
  
0,01%
Konghucu
  
0,01%

Sebagian besar penduduk di Maluku Utara beragama Islam, dengan orang-orang Kristen (kebanyakan Protestan) merupakan minoritas dengan jumlah yang signifikan. Agama Hindu, Buddha, Konghucu dan berbagai agama lokal lainnya dipraktikkan oleh sebagian kecil dari populasi. Menurut data Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2021, komposisi agama di provinsi ini adalah Islam 74,50%, kemudian Kristen 25,47% di mana Protestan 24,97% dan Katolik 0,50%. Selebihnya beragama Hindu 0,01%, Budha 0,01% dan Konghucu sebanyak 0,01%.[3]

Agama Islam mencakup seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara. Sedangkan penganut agama Kristen menjadi mayoritas di Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Halmahera Barat, dan juga memiliki jumlah yang cukup signifikan di Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan dan Kabupaten Pulau Morotai. Sementara pemeluk Hindu, Buddha dan Konghucu umumnya berada di Kota Ternate.[3][4]

Ekonomi

250px-Jathi_21052011184.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buah Pala merupakan komoditas utama di Maluku Utara

Pariwisata

Maluku Utara memiliki objek wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias beragam jenis. Ada juga hutan wisata sekaligus taman nasional dengan spesies endemik ranking ke 10 di dunia. Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun di perairan laut seperti Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu dan Cagar Alam di Pulau Seho. Kawasan Cagar Alam Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalaan tersebar di wilayah Provinsi Maluku Utara meliputi cagar alam budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Halmahera Utara.

Selain itu, di kecamatan Sulabesi Timur juga terdapat sebuah destinasi wisata bernama Tanjung Waka

Keanekaragaman hayati

Kepulauan Maluku merupakan bagian dari kawasan Malesia yang dikenal memiliki keanekaragaman flora dan tipe vegetasi yang tertinggi di dunia. Secara geografis kepulauan ini berposisi di antara Asia-Malesia Barat dan Australia-Pasifik, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran flora dan fauna dari 2 wilayah tersebut dan memperkaya keanekaragaman hayati kepulauan tersebut. Ekoregion ini mewakili hutan hujan di Halmahera, Morotai, Obi, Bacan, dan Kepulauan Maluku terdekat lainnya.

250px-Roti_Kenari_%28side_view%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Roti kenari, kue kering olahan khas Maluku Utara

Kawasan hutan tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi antara lain berbagai jenis flora seperti Damar (Agathis dammara), Bintangur (Calophyllum inophyllum), Benuang (Octomeles sumatrana), Kayu Bugis (Koordersiodendron pinnatum), Matoa (Pometia pinnata), Merbau (Intsia bijuga), Kenari (Canarium mehenbethene gaerta) dan Nyatoh (Palaquium obtusifolium).

Maluku Utara menduduki peringkat 10 Daerah EBA (Endemic Bird Area) terpenting dunia berdasarkan jumlah jenis burung endemik. Daerah Maluku Utara dalam EBA ini mencakup kelompok Halmahera yang terdiri dari pulau-pulau utama yaitu Halmahera, Morotai, Bacan dan Obi, serta jajaran pulau-pulau gunung api kecil yang memanjang dari utara ke selatan di sebelah barat Halmahera.

Sekitar 223 spesies burung ditemukan di daerah ini, 43 spesies termasuk endemik kawasan EBA Maluku Utara. Empat spesies di antaranya bergenus tunggal, yaitu Habroptila, Melitorgrais, Lycocorax, dan Semioptera. Spesies ini adalah Mandar Gendang (Habroptila wallacii), Cikukua Halmahera (Melitograis gilolensis), Cenderawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus) dan Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii).[32]

Beberapa Mamalia endemik juga ditemukan di kepulauan ini seperti Tikus Ekor Mosaik Obi (Melomys obiensis), Kelelawar Bertopeng (Pteropus personatus), dan tiga marsupial arboreal, Kuskus Maluku (Phalanger ornatus), Kuskus Rothschild (Phalanger rothschildi), Kuskus Bermata Biru (Phalenger matabiru) dan Kuskus Gebe (Phalanger alexandrae). Kepulauan ini juga merupakan habitat lebah terbesar di dunia Lebah Raksasa Wallace (Megachile pluto) masyarakat setempat menamakan lebah ini O Ofungu Ma Koana yang artinya Lebah Raja[33]

Referensi

  1. ↑ Spice Island. Rosenberg. 2013. ISBN 9781459672758.
  2. ↑ "Meriahkan HUT Ke-21 Provinsi Maluku Utara". www.bpkp.go.id. (2020). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-04-18. Diakses tanggal 18 Maret 2022. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. 1 2 3 4 5 6 7 "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2024" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 24 Agustus 2025.
  4. 1 2 3 "Provinsi Maluku Utara Dalam Angka 2021" (pdf). www.malut.bps.go.id. hlm. 66, 222. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-08-13. Diakses tanggal 13 Agustus 2021.
  5. ↑ "Data Umat Berdasar Jumlah Pemeluk Agama di Indonesia 2019". www.data.kemenag.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-03. Diakses tanggal 18 Februari 2021.
  6. ↑ "Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku Utara 2024 mencapai 71,84 meningkat 0,86 poin (1,21 persen) dibandingkan tahun sebelumnya (70,98)". www.malut.bps.go.id. Diakses tanggal 16 Maret 2025.
  7. ↑ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 18 Februari 2021. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  8. ↑ Fatah, Abdul. Budiman, Budisantoso (ed.). "Perangkat Kesultanan Tidore tetap menolak pemekaran Sofifi". ANTARA News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-24. Diakses tanggal 2021-04-27.
  9. ↑ "Tentang Maluku Utara - MalutProv.go.id". www.malutprov.go.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-01-29. Diakses tanggal 2021-01-24.
  10. ↑ Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1960c). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume III: Translations (Edisi 3 (revisi)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-011-8772-5.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggalPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1962). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume IV: Commentaries and Recapitulations (Edisi 3 (revisi)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-017-7133-7.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggalPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ↑ "Volcanoes of Indonesia - Halmahera". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2006-12-30. Diakses tanggal 2006-11-17.
  13. 1 2 Conboy & Morrison 1999, hlm. 102. sfn error: tanpa target: CITEREFConboyMorrison1999 (bantuan)
  14. ↑ "The Last Last Soldier?", Time, Januari 13, 1975, diarsipkan dari asli tanggal 2013-05-22, diakses tanggal 2020-04-03{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link).
  15. ↑ Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negera Nomor 3895
  16. 1 2 "Presiden RI Prabowo Subianto Resmi Melantik Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara". www.malutprov.go.id. 21 Februari 2025. Diakses tanggal 27 Februari 2025.{{cite web}}: |archive-date= memerlukan |archive-url=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. ↑ Fatah, Abdul (24-09-2024). "45 anggota DPRD Maluku Utara 2024-2029 resmi dilantik". ANTARA Maluku. Diakses tanggal 26-10-2024. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  18. ↑ "45 Anggota DPRD Maluku Utara Dilantik, Terbanyak dari Golkar". Kompas.com. 23-09-2024. Diakses tanggal 26-10-2024. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  19. ↑ "Data Perolehan Kursi DPRD Provinsi Maluku Utara - Pileg 2014". kpu.go.id. KPU Provinsi Maluku Utara. Diakses tanggal 14-10-2019. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=[pranala nonaktif permanen]
  20. ↑ "Ini 45 Anggota DPRD Provinsi Malut Periode 2019-2024". indotimur.com. 12-05-2019. Diakses tanggal 14-10-2019. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  21. ↑ "KPU Maluku Utara Tetapkan Perolehan Kursi 45 Anggota DPRD Provinsi". porostimur.com. Diakses tanggal 14-10-2019. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  22. ↑ "KPU Malut umumkan 45 caleg terpilih 2019". antaranews.com. ANTARA MALUKU. 14-08-2019. Diakses tanggal 14-10-2019. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  23. ↑ "Daftar Caleg dan Partai Peraih Kursi di DPRD Maluku Utara". Kieraha. 2019-05-12. Diakses tanggal 2019-10-14.[pranala nonaktif permanen]
  24. ↑ "45 Anggota DPRD Provinsi Ditetapkan". news.malutpost.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-10-14.[pranala nonaktif permanen]
  25. ↑ "Penetapan Kursi Parpol dan Calon Anggota DPRD Provinsi Malut Terpilih". malut.kpu.go.id. Diakses tanggal 2019-10-14.[pranala nonaktif permanen]
  26. ↑ "Keputusan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Maluku Utara Nomor 24 Tahun 2024 Tentang Penetapan Perolehan Kursi Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Maluku Utara Dalam Pemilihan Umum Tahun 2024" (PDF). Komisi Pemilihan Umum Provinsi Maluku Utara. 15-06-2024. Diakses tanggal 01-02-2025. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  27. 1 2 "Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau". Paralegal.id. Diakses tanggal 2026-04-06.
  28. ↑ Kusnandar, Viva Budy. "Mayoritas Penduduk Maluku Utara Beragama Islam". Katadata. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-09. Diakses tanggal 2021-12-07.
  29. ↑ Iem Brown (2009). The Territories of Indonesia. Routledge. hlm. 176. ISBN 978-185743-215-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-24. Diakses tanggal 2016-04-04.
  30. ↑ "Kewarganegaraan Suku Bangsa, Agama, Bahasa 2010" (PDF). demografi.bps.go.id. Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 23, 36–41. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-12. Diakses tanggal 18 Oktober 2021.
  31. ↑ Peta Bahasa. "Bahasa di Provinsi Maluku Utara". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-05-15. Diakses tanggal 24 Januari 2021.
  32. ↑ "Halmahera Rain Forests". World Wide Fund for Nature. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-06-25. Diakses tanggal 25 Mei 2016.
  33. ↑ ,Putri, Gloria Setyvani. Putri, Gloria Setyvani (ed.). "Sembunyi Hampir 40 Tahun, Lebah Terbesar di Dunia Ditemukan di Maluku". Kompas.com. Kompas. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-11-02. Diakses tanggal 2020-04-06.

Pranala luar

(Indonesia) Utara/Ekonomi.htm Profil Ekonomi Maluku Utara(Indonesia) Utara/Wisata.htm Profil Wisata Maluku Utara(Indonesia) Utara/ Ekonomi Regional Maluku Utara(Indonesia) Utara/ Statistik Regional Maluku Utara
Laut Maluku
 Sulawesi Utara
Samudera Pasifik •  Filipina Samudera Pasifik •  Palau
Laut Maluku •  Sulawesi Utara •  Sulawesi Tengah Laut Halmahera •  Papua Barat
Barat
   Maluku Utara  
Timur
Laut Banda
 Sulawesi Tengah
 Sulawesi Tenggara
Laut Seram •  Maluku Laut Halmahera •  Papua Barat
Sumatra
Garuda Pancasila
Jawa
Nusa Tenggara
Kalimantan
Sulawesi
Maluku
Papua

0°23′S 126°54′E / 0.383°S 126.900°E / -0.383; 126.900

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan