Peta Pulau Bacan | |
![]() Peta interaktif Bacan | |
| Geografi | |
| Lokasi | Indonesia |
| Koordinat | 0°40′0″LS, 127°30′0″BT |
| Kepulauan | Kepulauan Maluku |
| Luas | 2.053 km2 |
| Titik tertinggi | Gunung Sibela (2.111 m) |
| Pemerintahan | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Maluku Utara |
| Kota terbesar | Labuha(42.521 jiwa) |
| Kependudukan | |
| Penduduk | 85.396 jiwa(31 Desember 2023[1]) |
| Kepadatan | 42 jiwa/km2 |
| Kelompok etnik | Suku Bacan, Suku Galela, Suku Tobelo, Suku Makean, Suku Ternate, Suku Tidore, Suku Buton, Bugis, |

Pulau Bacan adalah sebuah pulau yang terdapat di Kepulauan Maluku tepatnya di sebelah barat daya Pulau Halmahera, Indonesia. Secara administratif Pulau Bacan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara mencakup 7 kecamatan di kabupaten tersebut. Di pulau Bacan inilah, Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan berada. Pulau Bacan memiliki luas 2.053 km² dengan Gunung Batusibela (2.111 Mdpl) sebagai titik tertingginya.
Perjalanan Alfred Russel Wallace
Pulau Bacan menjadi salah satu tempat pengumpulan spesimen Alfred Russel Wallace di Maluku antara Oktober 1858 dan April 1859. Dalam The Malay Archipelago, Wallace menguraikan kegiatan di sekitar permukiman, jalan menuju tambang batu bara, kawasan hutan, dan beberapa tempat yang dicapainya melalui perjalanan dengan perahu. Catatannya meliputi pengumpulan burung dan serangga, tumbuhan yang diamati, serta pemanfaatan hasil hutan oleh penduduk.[2]
Tempat tinggal dan kegiatan lapangan
Setelah tiba, Wallace menerima tawaran menggunakan rumah yang disediakan bagi Residen Ternate. Ia kemudian memilih rumah kecil milik sultan di luar permukiman karena letaknya lebih dekat dengan aliran air dan jalan menuju hutan. Bangunan itu terutama dibuat dari pelepah sagu yang disebut gaba-gaba. Atapnya diperbaiki, sedangkan perabot kerja dibuat atau disusun dari bambu, papan, dan bahan yang dibawanya.[2]
Jalan menuju tambang melewati dataran berawa, aliran sungai, dan lereng berhutan. Wallace mencatat bahwa pembukaan hutan dan jalan setapak menyediakan lokasi untuk mencari serangga. Ia juga menerangkan bahwa tambang awal telah ditinggalkan setelah mutu batu baranya dinilai tidak memadai untuk uji penggunaan pada kapal uap Belanda. Ketika dikunjungi, pekerjaan telah dimulai pada lokasi lain untuk mencari lapisan batu bara yang lebih baik.[2]
Pengumpulan burung dan kupu-kupu
Pada awal masa tinggal di Bacan, Ali, salah satu asisten Wallace, membawa burung dengan bulu dada hijau dan dua pasang bulu putih memanjang dari bagian sayap. Wallace menguraikan spesimen tersebut sebagai bentuk cenderawasih yang berbeda dari burung yang telah dikenalnya. Buku mencatat penamaan burung itu sebagai Semioptera wallacei oleh George Robert Gray. Uraian tersebut menyebut peran Ali dalam memperoleh spesimen yang diperiksa Wallace.[2]
Wallace juga mengumpulkan kupu-kupu yang dinamainya Ornithoptera croesus. Pengamatan awal dilakukan di hutan, sedangkan penangkapan berikutnya berlangsung di sekitar tumbuhan Mussaenda dan sungai berbatu. Lahi membantu mencari spesimen di sungai ketika kondisi alirannya menyulitkan Wallace. Pengumpulan berlangsung selama beberapa bulan dan menghasilkan lebih dari seratus individu jantan serta betina, dengan kondisi spesimen yang beragam.[2]
Tumbuhan dan hasil hutan
Dalam perjalanan ke Langundi dan lokasi lain di sekitar Bacan, Wallace mencatat beberapa bentuk pandan, pohon penghasil damar, kenari, dan berbagai palem. Daun pandan dimanfaatkan untuk tikar, sementara damar diolah menjadi bahan penerangan dengan memasukkannya ke dalam tabung daun palem. Ia mengamati pengumpulan damar oleh penduduk serta pengirimannya untuk pasar Ternate. Di kawasan lain, tumbuhan yang dicatat mencakup palem berbuah merah, paku memanjat, dan pisang liar. Wallace meninggalkan Bacan pada 13 April menggunakan perahu pemerintah yang datang membawa beras bagi pasukan.[2]
Tempat menarik
Selain menjadi tempat ibu kota kabupaten, di pulau Bacan juga terdapat:
- Bandar Udara Oesman Sadik
- Keraton Sultan Bacan
- Benteng Bernevald (dibangun Portugis untuk menahan serangan Spanyol)
- Pantai Pawete
- Sungai Inggoi
- Cagar Alam
- Gunung Batusibela (2.111 m dpl)
- Masjid Sultan Bacan (berusia lebih dari satu abad)
- Makam beberapa sultan dan para ulama dari negeri Jiran
Lihat pula
Referensi
- ↑ "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2023". Diakses tanggal 2024-05-27.
- 1 2 3 4 5 6 Wallace, Alfred Russel (2024). Sejarah Nusantara (The Malay Archipelago): Perjalanan, Penjelajahan, serta Kajian Manusia dan Alam Indonesia. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. ISBN 978-623-164-492-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
Artikel bertopik pulau di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
