Minggu, 18 Oktober 2026
02:49 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Paku Alam IV

Adipati dari Pakualaman

Bagikan:
Paku Alam IV
ꦦꦏꦸꦄꦭꦩ꧀꧇꧔꧇
Adipati Kadipaten Pakualaman
keempat
Bertakhta1864-1878
Penobatan1 Desember 1864
PendahuluPaku Alam III
PenerusPaku Alam V
LahirRaden Mas Nataningrat
25 Oktober 1841
Kadipaten Pakualaman, Keresidenan Yogyakarta, Hindia Belanda
Meninggal25 September 1878(1878-09-25) (umur 36)
Kadipaten Pakualaman, Keresidenan Yogyakarta, Hindia Belanda
Pemakaman
AyahGRMH Nataningprang
IstriGKR Ayu Hamengkubuwana VI
Nama takhta
Sampeyan Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam ingkang Jumeneng Kaping Sekawan
WangsaMataram
AgamaIslam

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam IV dilahirkan 25 Oktober 1841 (versi lain 1840) di Yogyakarta. Ia adalah adipati Kadipaten Pakualaman yang keempat. Ia adalah keponakan dari penguasa sebelumnya, Paku Alam III. Ayahnya bernama GRMH Nataningprang, yang merupakan saudara kandung dari Paku Alam III dan Paku Alam V.

Penobatan

Nataningrat diperjuangkan GK Ratu Ayu permaisuri Paku Alam II untuk menjadi pewaris takhta. Di sini sekali lagi dapat dilihat peranan perempuan dalam mengatur pemerintahan pada zaman kerajaan (bandingkan dengan pengaruh besar ibu Hamengkubuwono III dalam mendudukkan putranya dengan mendongkel kedudukan suaminya).

Pada 1 Desember 1864 RM Nataningrat ditakhtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat menggantikan almarhum pamannya.

Sebagai Adipati Pakualaman

Masa pemerintahannya ditandai dengan kemunduran Kadipaten Pakualaman. Banyak dari kebijakan yang dibuatnya menimbulkan ketidakpuasan. Selain itu ia tidak begitu mahir dalam hal kesusastraan dan kebudayaan. Di keluarga besar Paku Alam pun terjadi beberapa perubahan yang cenderung kurang baik akibat sering bergaul dengan orang-orang Belanda. Kemewahan dan foya-foya menjadi penyebab kehancuran beberapa anggota keluarga Paku Alam.

Namun di samping itu, dengan perjanjian politik 1870, Kadipaten Pakualaman diperkenankan memiliki setengah batalyon infantri dan satu kompi kavaleri. Legiun ini lebih besar dari angkatan perang yang diperbolehkan pada masa para pendahulunya. Perlu ditambahkan pula, Paku Alam IV mengirim seorang pegawai laki-lakinya untuk menuntut ilmu di Kweekschool Surakarta dan seorang pegawai perempuannya untuk menuntut ilmu kebidanan di Jakarta. Agaknya inilah yang akan mendorong para Paku Alam selanjutnya untuk menyekolahkan anggota keluarga besar Paku Alam ke sekolah Belanda.

Kehidupan Pribadi

lossy-page1-250px-Nata_Ningprang%2C_kleinzoon_van_de_Pakoe_Alam_te_Jogjakarta%2C_KITLV_91157.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
GRMH Nataningprang, putra Paku Alam II sekaligus ayah dari Paku Alam IV

Paku Alam IV menikah pertama kali dengan Putri Bupati Banyumas yang kemudian diceraikan karena sakit. Perkawinan yang kedua dengan GKR Ayu, putri Hamengkubuwono VI. Namun lagi-lagi seperti perkawinan yang pertama ia tidak memperoleh anak. GKR Ayu selanjutnya juga diceraikan. Perlu dicatat GKR Ayu kemudian menikah dengan bupati Demak, Hadingrat, paman RA Kartini.[1] Paku Alam IV hanya memiliki 2 putra-putri yang berasal dari selir.

Pada 24 September 1878 ia mangkat dan dimakamkan di Kota Gede Yogyakarta. Paku Alam IV menjadi adipati Pakualaman terakhir yang dimakamkan di pemakaman Kotagede, karena penguasa setelahnya, Paku Alam V mendirikan Astana Giriganda di Adikarto (kini termasuk Temon, Kabupaten Kulon Progo)sebagai pemakaman resmi milik Pura Pakualaman.

Referensi

Soedarisman Poerwokoesoemo, KPH, Mr (1985) KADIPATEN PAKUALAMAN, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pranala luar

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Paku Alam III
Pangeran Paku Alam di Yogyakarta
1864-1878
Diteruskan oleh:
Paku Alam V
  1. ↑ Mandoyokusumo (1976). Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat. Bebadan Museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Gusti Kangjeng Ratu Ayu, krama hangsal Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Paku Alam IV, hing sasampunipun pegat, lajeng katrimakaken Bupati Demak, Raden Mas Adipati Harya Hadiningrat.{{cite book}}: no-break space karakter dalam |quote= pada posisi 77
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan