Senin, 19 Oktober 2026
03:52 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Hamengkubuwana VI

Hamengkubuwana VI

sultan Yogyakarta

Bagikan:
Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Hamengkubuwana VI" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Hamengkubuwana VI
ꦲꦩꦼꦁꦑꦸꦨꦸꦮꦟ꧇꧖꧇
Sri Sultan Hamengkubuwana VI
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_de_Sultan_van_Djogjakarta_Hamengkoe_Boewono_VI_%281855-1877%29_TMnr_60009394.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sri Sultan Hamengkubuwana VI
Sultan Yogyakarta
ke-6
Bertakhta5 Juli 1855 - 20 Juli 1877
Penobatan5 Juli 1855[1]
PendahuluSultan Hamengkubuwana V
PenerusSultan Hamengkubuwana VII
LahirGusti Raden Mas Mustaja
10 Agustus 1821 (Ahad Pon, 21 Dulkaidah Ehe 1748)
Kraton Yogyakarta, Yogyakarta
Meninggal20 Juli 1877(1877-07-20) (umur 55)
Kraton Yogyakarta, Yogyakarta[1]
Pemakaman
AyahSultan Hamengkubuwana IV
IbuGusti Kangjeng Ratu Kencana[1]
Permaisuri
  • Gusti Kangjeng Ratu Kencana
  • Gusti Kangjeng Ratu Sultan
Nama lengkap
Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga 'Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Enem ing Ngayogyakarta Hadiningrat
WangsaMataram
AgamaIslam

Sri Sultan Hamengkubuwana VI (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono VI, 10 Agustus 1821 – 20 Juli 1877) adalah sultan keenam Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1855 – 1877, bergelar Sinuhun Mangkubumi. Dia menggantikan Hamengkubuwana V, yang meninggal mendadak.

Riwayat Pemerintahan

Nama asli Sultan Hamengkubuwana VI adalah Raden Mas Mustojo, merupakan putra Sultan Hamengkubuwana IV yang lahir pada tahun 1821 dari seorang selir.

Hamengkubuwana VI naik takhta menggantikan Hamengkubuwana V pada tahun 1855, setelah Hamengkubuwana V meninggal mendadak. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gedhe (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kesultanan Yogyakarta.

Pada masa Hamengkubuwana V, RM Mustojo adalah seorang penentang keras kebijakan politik kooperatif HB V yang menjalankan hubungan dekat dengan pemerintahan Hindia Belanda yang ada di bawah Kerajaan Belanda. Namun, setelah HB V meninggal dan dia dinobatkan menjadi raja, HB VI pun menjalankan pemerintahan yang masih kooperatif meskipun tidak sepatuh pendahulunya.

Semasa pemerintahan Hamengkubuwana VI Hubungan dengan berbagai kerajaan pun terjalin, apalagi setelah beliau menikah dengan putri Kesultanan Brunai.

Walaupun sempat menimbulkan beberapa sengketa dengan kerajaan-kerajaan lain, tercatat bahwa Sultan Hamengkubuwono VI dapat mengatasinya dengan arif bijaksana. Akan tetapi, lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia Belanda agak mulai menuai konflik terutama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Belanda.

Pemerintahan Hamengkubuwana VI berakhir ketika ia meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 1877. Ia digantikan putra tertuanya, GRM Murteja, sebagai sultan selanjutnya bergelar Hamengkubuwana VII.

Naiknya Hamengkubuwana VII menggantikan ayahnya Hamengkubuwana VI sebagai raja Yogyakarta yang baru mendapat tanggapan ketidakpuasan dari pihak permaisuri almarhum Sultan Hamengkubuwana V, GKR Sekar Kedhaton dan GRM Timur Muhammad. Mereka bependapat GRM Timur Muhammad (putra Hamengkubuwana V) lebih berhak untuk meneruskan tahta kerajaan. Keduanya lalu ditangkap dengan tudingan telah melakukan pembangkangan terhadap raja dan istana. GKR Sekar Kedhaton dan GRM Timur Muhammad harus menjalani pengasingan ke Manado, Sulawesi Utara, hingga keduanya meninggal dunia di sana.[2]

Kehidupan Pribadi

lossy-page1-250px-Groepsportret_met_Pakoe_Boewono_VIII_%282e_v.l.%29%2C_soesoehoenan_van_Soerakarta%2C_KITLV_183759.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Salah satu permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu Kencana, bersama ayahnya, Pakubuwana VIII, dan dua saudaranya

Permaisuri (garwa padmi)

  1. Gusti Kangjeng Ratu Kencana
    putri Pakubuwana VIII dari Surakarta. Ia kemudian bergelar Gusti Kangjeng Ratu Hamengkubuwana.
  2. Gusti Kangjeng Ratu Sultan
    putri Ki Ageng Prawirarejasa. Ia kemudian bergelar Gusti Kangjeng Ratu Hageng.

Selir (garwa ampeyan)

  1. Bendara Raden Ayu Tejaningrum
  2. Bendara Raden Ayu Pujaratna
  3. Bendara Raden Ayu Ratnaningdia
  4. Bendara Raden Ayu Sasmitaningrum
  5. Bendara Raden Ayu Puspitaningrum
  6. Bendara Raden Ayu Murtiningrum
  7. Bendara Raden Ayu Ratna Adiningrum
  8. Bendara Raden Ayu Dewaningrum

Anak

  1. Gusti Raden Mas Murteja
    lahir dari GKR Sultan. Naik takhta sebagai Hamengkubuwana VII
  2. Bendara Raden Mas Sulaiman
    lahir dari BRAy Pujaratna, meninggal di usia muda
  3. Bendara Pangeran Harya Purbaya
    lahir dari BRAy Ratnaningdia
  4. Gusti Pangeran Harya Surya Mataram
    lahir dari GKR Sultan
  5. Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi
    lahir dari GKR Sultan. Ia adalah kakek Hamengkubuwana IX dari pihak ibu.
  6. Bendara Pangeran Harya Hadiwinata
    lahir dari BRAy Puspitaningrum.
  7. Bendara Pangeran Harya Hadiwijaya
    lahir dari BRAy Ratna Adiningrum
  8. Gusti Pangeran Harya Buminata
    lahir dari GKR Sultan
  9. Gusti Pangeran Harya Puger
    lahir dari GKR Sultan
  10. Gusti Pangeran Harya Suryaputra
    lahir dari GKR Sultan
  11. Gusti Pangeran Harya Anom
    lahir dari GKR Sultan
  12. Bendara Raden Ajeng Samilah
    lahir dari BRAy Tejaningrum, meninggal di usia muda
  13. Gusti Kangjeng Ratu Hangger
    lahir dari GKR Sultan. Menikah dengan Kangjeng Raden Adipati Danureja VI, Patih Yogyakarta.
  14. Gusti Kangjeng Ratu Pembayun
    lahir dari GKR Sultan. Menikah dengan Kangjeng Raden Adipati Danureja V, Patih Yogyakarta[3]
  15. Gusti Kangjeng Ratu Anom
    lahir dari GKR Sultan. Menikah dengan Kangjeng Raden Tumenggung Dhanuningrat
  16. Bendara Raden Ayu Purwadiningrat
    lahir dari BRAy Sasmitaningrum. Menikah dengan Kangjeng Raden Tumenggung Purwadiningrat
  17. Gusti Kangjeng Ratu Hayu
    lahir dari GKR Sultan. Menikah dengan Paku Alam IV, bercerai, kemudian menikah lagi dengan Raden Mas Adipati Harya Hadiningrat, Bupati Demak (putra ke-6 dari Pangeran Arya Tjandranagara IV).
  18. Gusti Kangjeng Ratu Bendara
    lahir dari GKR Sultan. Menikah dengan Kangjeng Raden Tumenggung Wijil
  19. Gusti Raden Ajeng Kusdilah
    lahir dari GKR Kencana, meninggal di usia muda
  20. Gusti Kangjeng Ratu Sasi
    lahir dari GKR Kencana. Menikah dengan Kangjeng Bendara Pangeran Harya Suryaning-Ngalaga putra Hamengkubuwana V, kemudian dengan Kangjeng Raden Tumenggung Suryadirja atau Kangjeng Raden Tumenggung Jayawinata
  21. Bendara Raden Ayu Natayudha
    lahir dari BRAy Murtiningrum. Menikah dengan Kangjeng Raden Tumemggung Natayudha
  22. Bendara Raden Ayu Mangkuyudha
    lahir dari BRAy Ratna Adiningrum. Menikah dengan Kangjeng Raden Tumenggung Mangkuyudha
  23. Bendara Raden Ayu Suryamurcita
    lahir dari BRAy Dewaningrum. Menikah dengan Kangjeng Raden Tumenggung Suryamurcita

Galeri foto

  • Sri Sultan Hamengkubuwana VI
    Sri Sultan Hamengkubuwana VI
  • 120px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Hamangkoe_Boewono_VI_Sultan_van_Jogjakarta_%281855-1877%29.._TMnr_60002128.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 120px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Sultan_Hamangkoe_Boewono_VI_van_Jogjakarta_%281855-1877%29._TMnr_60002136.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Pranala luar

Kepustakaan

  1. 1 2 3 Biografi singkat HB VI Diarsipkan 2019-04-07 di Wayback Machine. Website resmi kraton Yogyakarta. 2019. Diakses tanggal 22/07/2019
  2. ↑ Tragedi pembunuhan Hamengkubuwana V Diarsipkan 2019-06-15 di Wayback Machine. tirto.id. 5 Juni 2019. Diakses tanggal 22/07/2019
  3. ↑ crew, kraton. "Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-09-30. Diakses tanggal 2022-09-30.
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
  • Fredy Heryanto. 2007. Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Hamengkubuwana V
Raja Kesultanan Yogyakarta
1855-1877
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwana VII

Hamengkubuwana I
HB I
(1755–1792)

Hamengkubuwana II
HB II
(1792–1810)

Hamengkubuwana III
HB III
(1810–1811)

Hamengkubuwana II
HB II
(1811–1812)

Hamengkubuwana III
HB III
(1812–1814)

Hamengkubuwana IV
HB IV
(1814–1822)

Hamengkubuwana V
HB V
(1822–1826)

Hamengkubuwana II
HB II
(1826–1828)

Hamengkubuwana V
HB V
(1828–1855)

Hamengkubuwana VI
HB VI
(1855–1877)

Hamengkubuwana VII
HB VII
(1877–1921)

Hamengkubuwana VIII
HB VIII
(1921–1939)

Hamengkubuwana IX
HB IX
(1940–1988)

Hamengkubuwana X
HB X
(1989–sekarang)

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan