Selasa, 20 Oktober 2026
04:38 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Timur Muhammad

Timur Muhammad

Pangeran Kesultanan Yogyakarta

Bagikan:
GRM Timur Muhammad
Kanjeng Pangeran Haryo Suryaning Ngalaga
330px-Makam_Ratu_Kedaton_%26_GRM_Timur_Muhammad.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam GRM Timur Muhammad di TPU Muslim Mahakeret Timur, Manado, Sulawesi Utara.
LahirGusti Raden Mas Timur Muhammad
17 Juni 1855
Kraton Yogyakarta, Yogyakarta
Meninggal12 Januari 1901(1901-01-12) (umur 45)
Wenang, Manado, Sulawesi Utara
Pemakaman
AyahHamengkubuwana V
IbuGusti Kanjeng Ratu Kedhaton
KeturunanRaden Mas Abdul Razak[2]
WangsaMataram
AgamaIslam

Gusti Raden Mas Timur Muhammad atau disebut juga Pangeran Suryeng Ingalaga (17 Juni 1855 – 12 Januari 1901) adalah seorang putra satu-satunya dari Sultan Hamengkubuwono V dan permaisurinya Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton yang lahir 13 hari setelah ayahnya wafat (5 Juni 1855).

Kehidupan awal

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Ratoe_Kedaton_de_hoofdvrouw_van_Hamengkoe_Boewono_V_van_Djogjakarta_TMnr_60009408.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret GKR Ratu Kedhaton, permaisuri Sultan Hamengkubuwana V dan juga ibunda dari GRM Timur Muhammad, tahun 1865

Timur Muhammad atau Gusti Raden Mas Timur Muhammad yang setelah dewasa kemudian bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Suryaning Alaga lahir setelah 13 hari kematian ayahandanya Sultan Hamengkubuwana V. Timur Muhammad sejatinya adalah pewaris takhta Kesultanan Yogyakarta, tetapi karena ia lahir setelah kematian ayahnya, ia kehilangan hak takhta atas kesultanan Yogyakarta. Permaisuri Sultan Hamengkubuwana V, GKR Ratu Kedaton berusaha meminta hak takhta raja atas putranya itu tetapi Gusti Raden Mas Mustojo adik Hamengkubuwana V (kelak naik takhta bergelar Hamengkubuwana VI) menolak klaim takhta GKR Ratu Kedaton untuk putranya, GRM Mustojo bersikukuh bahwa seorang putra mahkota yang lahir setelah raja meninggal menurut adat Jawa tidak berhak atas takhta.[1][3] Akhirnya GRM Mustojo yang naik tahta menggantikan kakaknya Hamengkubuwana V dengan kesepakatan jika GRM Timur Muhammad nanti sudah dewasa akan naik takhta menggantikannya.

Meninggal di pengasingan

Setelah Hamengkubuwono VI meninggal dunia, sesuai kesepakatan seharusnya GRM Timur Muhammad putra Hamengkubuwana V yang menggantikanya naik takhta, tetapi sebelum meninggal, Hamengkubuwana VI telah menunjuk putranya GRM Murtejo yang akan menggantikanya kelak.

Hal ini mendapat tentangan dari GKR Ratu Kedaton, permaisuri almarhum Hamengkubuwana V (ibunda GRM Timur Muhammad), setelah sekian lama usahanya untuk menjadikan GRM Timur Muhammad sebagai raja gagal akhirnya GKR Ratu Kedhaton dan GRM Timur Muhammad dan pengikutnya memilih jalan kekerasan memberontak dengan mengangkat senjata. Sayangnya, usahanya gagal, keduanya tertangkap saat melakukan perlawanan pada 8 April 1883.[1]

Saat itu juga Bastiaan Van Baak,[4] Residen Yogyakarta ke 8 yang mendukung Hamengkubuwana VII mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal Frederik s'Jacob di Batavia yang berisi permintaan untuk mengasingkan GKR Ratu Kedaton dan Pangeran Timur Muhammad ke Manado, Sulawesi Utara.

Pada tanggal 11 April 1883, Sultan Hamengkubuwana VII mengeluarkan surat keputusan yang di bacakan oleh Patih Danureja didampingi Residen B. van Baak yang berbunyi:

Surat Peringatan, Aku Kanjeng Narendra yang menguasai Negeri Kerajaan Ngayogyakarta bersabda:

Gusti Kanjeng Prameswari dan Kangmas Pangeran Suryaning Alogo berdua, aku pindahkan dari Negeri Ngayogyakarta ke Negeri Manado, sebab Uwa, Kangmas berani membangkang (mbalelo) kepada Raja. Pergi dari kota tanpa pamit, serta berbuat perang sabil, membunuh Prajurit Usar Abdi Kanjeng Gupermen Belanda. Karena itu Kangmas serta Uwa Jeng Prameswari membangkang Pemerintah Raja,

Tanggal 11 April 1883.

— Sultan Hamengkubuwana VII, "Surat Keputusan Raja Kesultanan Yogyakarta, 1883", [2]

Setelah dikeluarkannya surat keputusan raja pada tanggal 11 April 1883, kemudian dilaksanakan proses pengasingan GRM Timur Muhammad dan GKR Ratu Kedaton ke Manado, dengan dikawal ketat oleh sepasukan Belanda yang dipimpin langsung oleh Residen Yogyakarta dan Asisten Residen, rombongan GRM Timur Muhammad naik kereta api ke Semarang kemudian naik Kapal Uap Cheribon menuju Surabaya. Di Surabaya rombongan ini tinggal selama sebulan. Setelah keluarnya Surat Keputusan (bahasa Belanda:besluit) Gubernur Jenderal Hindia Belanda Frederik s'Jacob Nomor 28 tanggal 10 Mei 1883, GRM Timur Muhammad serta GKR Kedaton dan pengikutnya kemudian dikirim ke Manado, Sulawesi Utara untuk menjalani hukuman pembuangan.[2]

Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan GRM Timur Muhammad tinggal di Kampung Pondol, Wenang Selatan, Wenang, Manado hingga meninggal dunia. GKR Ratu Kedaton meninggal pada 25 Mei 1918, sedangkan Pangeran Timur Muhammad meninggal pada 12 Januari 1901.[1] Dengan meninggalnya GKR Ratu Kedaton dan GRM Timur Muhammad garis keturunan penguasa Yogyakarta pun berubah hingga saat ini.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Makam ratu dan pangeran Yogyakarta di Manado. musabab.com. 3 November 2017. Diakses tanggal 22/07/2019
  2. 1 2 3 Kembuan, R.A.C. (2020). "Sejarah Kampung Pondol dan Komunitas Eksil Muslim di Kota Manado". Aqlam: Journal of Islam and Plurality (2): 184. Diakses tanggal 10 Apr 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Raja Raja | Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat - Kraton Jogja". kratonjogja.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-07-04. Diakses tanggal 2018-07-23.{{cite web}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |4=
  4. ↑ GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA (ISTANA KEPRESIDENAN DI YOGYAKARTA) (PDF). Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1985. hlm. 49.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan