Senin, 21 September 2026
06:07 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Adipati

Adipati

gelar kebangsawanan untuk kepala wilayah

60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Adipati"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Peringkat raja-raja, kaum bangsawan, dan
kesatria
Mahkota Kekaisaran Susuhunan Surakarta
Kaisar / Padisyah / Maharaja / Rajadiraja / Raja Agung / Sultan Agung / Susuhunan
Raja / Aji / Somba
Mo'ang Ratu / Sultan
Adipati Utama  / Penembahan Agung
Pangeran Agung / Panembahan
Adipati Agung / Haryapatih
Mahasenapati
Pangeran Darah  / Infante
Adipati
Senapati
Pangeran Berdaulat / Fürst / Datu / Umbu / Arung Matoa
Kakang / Mo'ang / Fettor / Karaeng / Arung
Tumenggung / Marquis / Margraf / Landgraf /
Penglingsir Puri
Bupati / Kepala Suku / Sibayak / Po (Suku Lema)
Bupati Muda / Tuan Muda / Urung
Baron / Raden / Penghulu Kampung / Tana Alant / Tuan Tanah
Baronet  / Mas
Kesatria Turunan
Kesatria
Bentara
Bangsawan / Raden / Priayi

Adipati (bahasa Sanskerta अधिपति, adhipati: "tuan, kepala, atasan; pangeran, tuan tertinggi kadipatian, raja negara bagian) adalah sebuah gelar kebangsawanan untuk orang yang menjabat sebagai kepala wilayah yang tunduk/bawahan dalam struktur pemerintahan kerajaan di Nusantara, seperti di Jawa dan Kalimantan. Wilayah yang dikepalai oleh seorang Adipati dinamakan Kadipaten.

Adipati Agung atau Haryapatih merupakan gelar yang lebih tinggi dari Adipati, sedangkan wilayah yang dikepalainya dinamakan Kadipaten Agung atau Keharyapatihan.

Adipati setara dengan jabatan Residen (pemimpin karesidenan di negara republik) ,sedangkan Haryapatih setara dengan Jabatan Gubernur Jendral (pemimpin negara republik persemakmuran)

Indonesia

Jawa

Jabatan adipati mulai diketahui dipakai semenjak periode Islam dalam sejarah raja-raja di Jawa. Jabatan ini tampaknya dipakai untuk menggantikan sebutan "bhre" yang lebih dahulu dipakai dalam periode Buddha-Hindu. Adipati berbeda dengan bupati terutama dilihat dari kepentingan wilayah, luas wilayah, dan alasan strategi politik. Adipati dianggap memiliki kekuasaan lebih tinggi daripada bupati. Suatu kadipaten dapat memiliki beberapa kabupaten.

Setelah terpecahnya wangsa Mataram, wilayah Kasunanan Surakarta harus menyerahkan hampir separuh wilayahnya kepada Keadipatian (Kadipaten) Mangkunegaran (1757). Mangkunegaran merupakan keadipatian otonom, dalam arti dapat mengurus wilayah kekuasaannya tanpa harus berkonsultasi dengan Kasunanan. Hal ini merupakan suatu hal yang baru dalam sejarah kekuasaan di Jawa. Sekitar enam puluh tahun kemudian (1813), giliran Kesultanan Yogyakarta harus menyerahkan sebagian kekuasaannya untuk menjadi Keadipatian Pakualaman, yang juga bersifat otonom. Ada juga kadipaten kecil yang merdeka dengan fungsi buffer state misal Kadipaten Dayeuhluhur di perbatasan wilayah Sunda dan Jawa.

Kesultanan Banjar

Di dalam Hikayat Banjar terdapat istilah Dipati dan Pangeran Dipati, misalnya Dipati Sukadana sebutan untuk penguasa kerajaan Sukadana, Dipati Sambas sebutan untuk penguasa kerajaan Sambas, Dipati Martapura sebutan untuk penguasa kerajaan Martapura, Dipati Ngganding seorang adipati Kotawaringin, Pangeran Dipati Anta-Kasuma, Pangeran Dipati Tuha, Pangeran Dipati Anom dan lain-lain.

Pada masa Sultan Adam, dilantik seorang keponakan permaisurinya yaitu Kiai Adipatie Danoe Radja, untuk memimpin Banua Lima, yang merupakan suatu wilayah keadipatian dari Kesultanan Banjar yang merupakan gabungan dari lima lalawangan/distrik/katamanggungan. Pada masa kolonial Hindia Belanda, Kiai Adipati Danu Raja tetap memimpin wilayah yang sama dan dilantik sebagai wali penguasa dengan gelar Raden Adipati Danu Raja.

Lalawangan yaitu suatu wilayah yang dipimpin Kiai Tumenggung (setara dengan jabatan bupati di Jawa).

Kesultanan Brunei

Sulaiman (?–1511) adalah sultan ketiga Brunei Darussalam. Pada tahun 1432, naik takhta. Sultan yang menyambung usaha membangun Kota Batu. Berusaha meluaskan penyebaran Islam, terkenal dengan nama Adipati Agong atau Sang Aji Brunei. Ia turun takhta pada tahun 1485.

Asia

Tiongkok

Gelar adipati di Tiongkok pada masa-masa dinasti disebut dengan gelar Gong (公; diterjemahkan sebagai Adipati). Gelar ini kadang diberikan pada masa Dinasti Zhou dibawah sistem fengjian. Dibawah sistem Dua Mahkota dan Tiga Penghormatan, keluarga ningrat yang merupakan penguasa tiga dinasti sebelumnya diberikan gelar Adipati walaupun sejarawan berdebat bahwa Dinasti Zhou Barat tidak memulai tradisi ini. Untuk Dinasti Zhou, kehormatan ini diberikan kepada mantan keluarga ningrat Dinasti Xia dan Shang. Wilayah kekuasaan mereka menganggap adipati ini lebih seperti seorang pangeran.

Beberapa tokoh dalam sejarah Tiongkok memegang gelar ini seperti Wang Mang, Cao Cao dan Sima Zhao.

Eropa

Gelar Adipati dan Haryapatih dipadankan dengan gelar dalam bahasa Inggris Duke dan Grand Duke untuk bangsawan di Eropa.

Seorang Adipati (Duke) atau Adipati wanita (Duchess) bisa merupakan seorang yang menguasai sebuah Kadipaten (Duchy) atau seorang anggota sebuah keluarga Bangsawan yang secara historis berada satu peringkat di bawah raja/ratu yang berkuasa. Istilah ini berasal dari bahasa latin yaitu dux yang berarti pemimpin yang digunakan pada masa Republik Romawi kepada seorang pemimpin militer tanpa suatu pangkat resmi (khususnya untuk yang memiliki keturunan Jermanik dan Kelt), lalu istilah ini kemudian digunakan kepada seorang panglima militer yang memimpin suatu provinsi Romawi.

Selama Abad Pertengahan gelar ini mulai menonjol pertama kali di antara kerajaan-kerajaan Jermanik. Para Adipati merupakan penguasa dari Provinsi dan atasan daripada Count di perkotaan lalu kemudian, dalam Monarki Feodalisme merupakan gelar bangsawan tertinggi setelah raja. Seorang Adipati secara ipso facto bisa saja atau bukan anggota dari kaum bangsawanan suatu negara: di Britania Raya dan Spanyol semua Adipati merupakan bangsawan kerajaan tersebut, sementara di Prancis ada yang merupakan bangsawan dan ada juga yang tidak.

Selama abad ke-19 masehi banyak negara-negara kecil di Jerman dan Italia diperintah oleh seorang Adipati juga Haryapatih (Grand Duke). Namun saat ini, dengan pengecualian Keharyapatihan Luksemburg, tidak ada Adipati Eropa yang berkuasa. Saat ini gelar Adipati tetap merupakan gelar bangsawan tertinggi turun-temurun di Portugal, Skandinavia, Spanyol dan Britania Raya. Seorang Paus Vatikan, sebagai penguasa duniawi juga telah, meskipun jarang, memberikan gelar Adipati kepada seseorang untuk pengabdiannya terhadap Tahta Suci. Di beberapa kerajaan Eropa hubungan status antara gelar Pangeran dan Adipati sebagai gelar dari kebangsawanan bukan gelar untuk anggota wangsa yang berkuasa, bervariasi contohnya di Belanda dan Italia.

Gelar Haryapatih (Grand duke) digunakan di Eropa Barat terutama negara-negara Jermanik untuk penguasa dari suatu provinsi. Tingkat dari seorang Haryapatih berada di bawah Raja tetapi lebih tinggi dari seorang Adipati yang berkuasa. Wilayah yang diperintah oleh seorang Haryapatih dinamakan Keharyapatihan (Grand duchy).

Gelar Adipati Agung (Archduke atau Erzherzog) atau Adipati Agung Wanita (Archduchess atau Erzherzogin) dibawa oleh para penguasa wangsa Habsburg dari Kadipaten Agung Austria yang kemudian menjadi gelar untuk setiap anggota dari wangsa tersebut. Di Kekaisaran Romawi Suci tingkatan ini berada di bawah Raja dan di atas Adipati (herzog). Gelar ini berbeda dari Haryapatih (großherzog).

Galeri

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan