Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Somba" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (November 2025) |
Somba adalah gelar pemimpin tertinggi monarki Makassar. Somba setara dengan Raja. Dalam bahasa Makassar kata Somba artinya "sembah" atau "pujaan" atau "junjungan", somba secara harfiah berarti "Raja yang disembah atau sangat dihormati".[1]
Penyebutan somba mulai di gunakan setelah unifikasi kerajaan Gowa dan tallo membentuk kerajaan bersatu yang dikemudikan hari di sebut kesultanan Makassar, dalam perjanjian penyatuan kerajaan, raja Gowa menjadi raja di atas semua Kraeng, sedangkan raja tallo diturunkan posisinya menjadi karaeng, namun diberikan posisi sebagai Tumabicara Butta, wizurai yang berkuasa atas Tallo, namun dibawah raja Gowa. Seiring berjalannya waktu, marussu, Galesong, banteng, siang, Sumbawa, dll ikut menyatakan diri bergabung dengan kerajaan bersatu "kesultanan Makassar". Ke-arung-an (Akkarungeng) Bone, juga pernah menjadi bagian dari kesultanan Makassar pasca perang pengislaman, tercatat ada 3 somba yang secara de facto memerintah kerajaan Bone karena kekosongan takhta akibat perang pengislaman, yaitu sombayya sultan Alauddin, Muhamad said, dan sultan Hasanuddin.
Para penguasa di monarki-monarki bawahan tersebut tetap diberikan hak untuk memimpin daerah masing masing dengan kekuasaan terbatas. Para penguasa ini bertanggung jawab langsung kepada somba atas tanah yg mereka perintah,
Referensi
- ↑ Rachmawati, Anis Fitri (2021-01-31). "ANALISIS MUATAN KARAKTER BAB KESULTANAN-KESULTANAN MARITIM MASA ISLAM DI NUSANTARA DALAM BUKU TEKS SEJARAH KELAS XI KURIKULUM 2013 REVISI 2016". Historiography. 1 (1): 18. doi:10.17977/um081v1i12021p18-25. ISSN 2798-4907.