Jumat, 06 November 2026
03:21 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Bupati

Bupati

kepala daerah tingkat II kabupaten di Indonesia

Bagikan:
Bagian dari seri Politik
Bentuk-bentuk dasar pemerintahan
Daftar bentuk · Daftar negara
icon PortalPolitik
250px-02_Mashudan_Ridder_Bupati_Mojokerto_07.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Raden Adipati Arya Kromodyo Adinegoro IV (Raden Mashudan) Bupati Mojokerto Ridder tahun 1896-1916 M.

Bupati adalah sebutan untuk kepala daerah kabupaten di Indonesia. Seorang bupati kewenangannya sejajar dengan wali kota, yakni kepala daerah untuk daerah kota. Pada dasarnya, bupati memiliki tugas dan wewenang atasan penyelenggaraan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Bupati dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat (masyarakat) di kabupaten setempat. Bupati merupakan jabatan politik (karena diusung oleh partai politik), dan bukan Pegawai Negeri Sipil.[1]

Istilah ini sebenarnya merupakan warisan dari jaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebelum tahun 1945, gelar bupati sebenarnya hanya dipakai di pulau Jawa, Pulau Madura, dan Bali. Dalam bahasa Belanda, bahasa administrasi resmi pada masa Hindia Belanda, istilah bupati disebut sebagai regent, dan istilah inilah yang dipakai sebagai padanan bupati dalam bahasa Inggris.[2] Semenjak kemerdekaan, istilah bupati dipakai untuk menggantikan regent di seluruh wilayah Indonesia.[3][4]

Sejarah

Istilah bupati berasal dari bahasa Jawa, yang sendirinya berasal dari bahasa Sanskerta aksara Kawi varian Melayu kuno, yaitu zaman Kerajaan-kerajaan Melayu yang muncul dari Abad ke-12 Masehi sampai dengan Abad ke-19 Masehi bahasa yang dipergunakan tidak lagi di pengaruhi oleh bahasa Sanskerta. Raja-raja yang berkuasa pada saat itu berketurunan Melayu.[5]

Dalam prasasti Telaga Batu, yang ditemukan di kampung tersebut dekat Palembang dan berisi pemujaan terhadap raja Sriwijaya, kemungkinan terdapat kata bhupati. Prasasti tersebut diperkirakan dari akhir Abad ke-7 Masehi, Pakar prasasti Indonesia Johannes Gijsbertus de Casparis menterjemahkan bhupati dengan istilah "kepala" (hoofd dalam bahasa Belanda), kata bhupati juga ditemukan dalam prasasti Ligor, yang ditemukan di Provinsi Nakhon Si Thammarat di Muangthai, Pada Abad ke-17, orang Eropa menyebut daerah tersebut dengan nama "Ligor", prasasti ini teridentifikasi Tahun 775 Masehi Abad ke-7 Masehi, istilah bhupati digunakan untuk menyebut raja Sriwijaya yuwaraja pada Abad ke-9 Masehi dengan raja terahir Ratu Sekerummong Abad ke-12 zaman setelah masa Kulothunga Chola I.[6][7][8][9]

Dalam bukunya Océanie ou cinquième partie du monde: revue géographique et ethnographique de la Malaisie, de la Micronésie, de la Polynésie et de la Mélanésie, ainsi que ses nouvelles classifications et divisions de ces contrées ("Oceania atau bagian dunia yang kelima: majalah geografi dan etnografi tentang Malaysia, Mikronesia, Polynesia dan Melanesia, dan klasifikasi dan divisi baru untuk kawasan tersebut"), penjelajah asal Prancis Gérard Louis Domeny de Rienzi (1834) mencatat istilah "bapati".[10][11]

Referensi

  1. ↑ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/tata-kota-pandeglang-warisan-kolonial-rasa-lokal/
  2. ↑ Sebetulnya dalam bahasa Inggris, regent, dari bahasa Prancis régent, menunjuk seorang yang memimpin kerajaan selama raja yang bertahta masih di bawah umur.
  3. ↑ "Ternyata Ini Alasan Mengapa Pemimpin Kabupaten adalah Seorang Bupati Bukan Pakpati". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2026-09-18.
  4. ↑ https://www.jogjakota.go.id/pages/sejarah-kota
  5. ↑ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/perkembangan-bahasa-melayu/
  6. ↑ Kompasiana.com (2020-12-30). "Prasasti Ligor, Jejak Historis Raja Jawa di Semenanjung Melayu pada Abad Kedelapan Masehi". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-09-18.
  7. ↑ Media, Kompas Cyber (2021-05-30). "Kerajaan Sriwijaya: Letak, Raja-raja, Masa Kejayaan, dan Peninggalan Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-09-23. Diakses tanggal 2026-09-18.
  8. ↑ "Account Suspended". rasindogroup.com. Diakses tanggal 2026-09-18.
  9. ↑ Anton O. Zakharov, « Constructing the polity of Sriwijaya in the 7th-8th centuries: The view according to the inscriptions », Indonesian Studies Working Papers, No. 9, juillet 2009
  10. ↑ Grégoire Louis Domeny de Rienzi, Océanie ou cinquième partie du monde: revue géographique et ethnographique de la Malaisie, de la Micronésie, de la Polynésie et de la Mélanésie, ainsi que ses nouvelles classifications et divisions de ces contrées, Firmin Didot Frères, Paris, 1834
  11. ↑ "Sejarah". anri.go.id. Diakses tanggal 2026-09-18.

Perpustakaan

  • Bertrand, Romain, Etat colonial, noblesse et nationalisme à Java, Karthala, 2005
  • Soemarsaid Moertono, State and Statecraft in Old Java, Cornell University Modern Indonesia Project
  • Sutherland, Heather, "Notes on Java's Regent Families: Part I" in Indonesia, Volume 16 (October 1973), 113-147

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Regents and vice regents of Indonesia.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan