Minggu, 20 September 2026
16:26 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Pakubuwana XII

Pakubuwana XII

susuhunan ke-11 dari Kesunanan Surakarta

Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Pakubuwana XII"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Pakubuwana XII
ꦦꦑꦸꦨꦸꦮꦟ꧇꧑꧒꧇
Sri Susuhunan Pakubuwana XII
250px-Sri_Susuhunan_Pakubuwana_XII.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuhunan Surakarta ke-11
Berkuasa11 Juni 1945 – 11 Juni 2004
(59 tahun, 0 hari)
PendahuluSusuhunan Pakubuwana XI
PenerusSusuhunan Pakubuwana XIII
Gubernur Militer JepangYuichiro Nagano
PresidenSoekarno
Soeharto
B.J Habibie
Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
LahirBendara Raden Mas Surya Guritna
(1925-04-14)14 April 1925
Surakarta, Hindia Belanda[1]
Meninggal11 Juni 2004(2004-06-11) (umur 79)
Surakarta, Indonesia[1]
Pemakaman
Gubernur Daerah Istimewa Surakarta
Masa jabatan
1945 –1946 (diturunkan)
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada, jabatan baru
PenggantiJabatan dihapus
Karier militer
Dinas/cabang
40px-Insignia_of_the_Indonesian_Army.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
TNI Angkatan Darat
Pangkat40px-Letjen_pdh_ad.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Letnan Jenderal TNI (Tit.)
40px-Kolonel_pdh_ad.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kolonel TNI
(pangkat resmi)[2]
AyahSusuhunan Pakubuwana XI
IbuGKR. Pakubuwana
Pasangan
  • KRAy. Mandayaningrum
  • KRAy. Rogasmara
  • KRAy. Pradapaningrum
  • KRAy. Kusumaningrum
  • KRAy. Retnadiningrum
  • KRAy. Pujaningrum
Nama takhta
Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Ingkang Jumeneng kaping Kalih Welas ing Nagari Surakarta Hadiningrat
WangsaMataram
Video luar
YouTube logo
Video Untuk Ditonton
PAKU BUWONO XII - Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi[3]
The Last Sunan dan Jejak Revolusi di Solo[4]

Letnan Jenderal TNI (Tit.) Sri Susuhunan Pakubuwana XII (disingkat sebagai PB XII, bahasa Jawa:ꦯꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦢꦊꦩ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦯꦶꦤꦸꦲꦸꦤ꧀ꦑꦁꦗꦼꦁꦯꦸꦱꦸꦲꦸꦤꦤ꧀ꦦꦏꦸꦧꦸꦮꦤ XII; 14 April 1925  11 Juni 2004) adalah susuhunan Surakarta ke-11 yang masa pemerintahannya paling lama di antara raja-raja Jawa yaitu selama 59 tahun, tepatnya mulai tahun 1945 hingga 2004. Dan juga sempat menjadi Gubernur Daerah Istimewa Surakarta dari tahun 1945–1946.

Awal Kehidupan

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuhunan Pakubuwana XII dalam sebuah kesempatan di Sasana Handrawina, Keraton Surakarta, sekitar tahun 1945-1949.

Nama aslinya adalah Bendara Raden Mas Surya Guritna, putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri KRAy. Koespariyah (bergelar GKR. Pakubuwana) pada tanggal 14 April 1925. Ia juga memiliki seorang saudara perempuan seibu bernama GRAy. Koes Sapariyam (bergelar GKR. Kedaton).

Surya Guritna pada masa kecilnya pernah bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) Pasar Legi, Surakarta. Oleh teman-temannya, Surya Guritna sering dipanggil dengan nama Bobby. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra Pakubuwana X yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. Surya Guritna termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman berlangsung akrab, bahkan ketika di sekolah pun ia bergaul tanpa memandang status sosial yang disandangnya. Waktu kecil ia gemar mempelajari tari-tarian klasik, dan yang paling digemari adalah Tari Handaga dan Tari Garuda. Ia juga pemuda yang gemar mengaji pada Bapak Pradjawijata dan Bapak Tjandrawijata dari Mambaul Ulum. Kegemarannya yang lain adalah olahraga panahan. Mulai tahun 1938 Surya Guritna terpaksa berhenti sekolah cukup lama, sekitar lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat mewakili kakeknya, Pakubuwana X, pergi ke Belanda bersama raja-raja di Hindia Belanda saat itu untuk menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan takhta Ratu Wilhelmina.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung, sekarang ditempati SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung) bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar, pecah Perang Pasifik, dan waktu itu bala tentara Jepang menang melawan sekutu dan Hindia Belanda pun jatuh ke tangan Jepang.

Pakubuwana XI memintanya pulang dari Bandung ke Surakarta. Kemudian, ia harus menerima kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, 1 Juni 1945, Pakubuwana XI wafat. Berdasarkan tradisi maka KGPH. Mangkubumi, putra sulung Pakubuwana XI, sesungguhnya yang paling berhak meneruskan takhta. Namun peluang itu tertutup setelah ibundanya, GKR. Kencana (istri pertama Pakubuwana XI), telah mendahului wafat pada tahun 1910 sehingga tidak berkesempatan diangkat sebagai permaisuri tatkala suaminya mewarisi takhta kerajaan. Maka terbukalah peluang bagi Surya Guritna untuk menggantikan Pakubuwana XI,sekalipun berumur paling muda.

Teka-teki itu kian terkuak waktu jenazah Pakubuwana XI dimakamkan di Astana Imogiri, Surya Guritna tidak terlihat hadir di pemakaman. Sebelum naik takhta sebagai raja, Surya Guritna diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Purubaya. Terlepas setuju atau tidak, keluarga keraton harus mulai bisa menerima pertanda itu, sebab berdasarkan kepercayaan adat keraton, bakal raja dipantangkan datang ke pemakaman. Namun versi lain menyebutkan, pengangkatan Surya Guritna itu berkaitan erat dengan peran yang dimainkan Presiden Soekarno. Pakubuwana XII dipilih karena masih muda dan mampu mengikuti perkembangan serta tahan terhadap situasi. Meski raja baru telah disepakati, tetapi bukan berarti seluruh persoalan terselesaikan. Rencana penobatan Surya Guritna itu sempat mendapat tentangan keras dari Kooti Jimu Kyoku Tyokan, Pemerintah Gubernur Jepang. Jepang menyatakan tidak berani menjamin keselamatan calon raja.

Menyatakan Bergabung Dengan Republik Indonesia

330px-Maklumat_SISKS_PB_XII_1945.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Plakat marmer Piagam Maklumat Keistimewaan Negeri Surakarta oleh Susuhunan Pakubuwana XII, dipajang di Museum Keraton Surakarta.

KGPH. Purubaya naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945.[5] Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Karena masih berusia sangat muda, dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, ia sering kali didampingi ibunya, GKR. Pakubuwana, yang dikenal dengan julukan Ibu Ageng. Pakubuwana XII dijuluki Sinuhun Hamardika karena merupakan Susuhunan Surakarta pertama yang memerintah pada era kemerdekaan.

Upacara Penobatan Pakubuwana XII

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, pada 1 September 1945 Pakubuwana XII bersama Mangkunegara VIII, secara terpisah mengeluarkan dekret (maklumat) resmi kerajaan yang berisi pernyataan ucapan selamat dan dukungan terhadap Republik Indonesia, empat hari sebelum maklumat Hamengkubuwana IX dan Pakualam VIII. Lima hari kemudian, 6 September 1945, Kesunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran mendapat Piagam Penetapan Daerah Istimewa dari Presiden Soekarno.

Masa Revolusi Fisik

Selama revolusi fisik Pakubuwana XII memperoleh pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jenderal dari Presiden Soekarno.[6] Kedudukannya itu menjadikan ia sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan pertempuran. Tanggal 12-13 Oktober 1945, Pakubuwana XII sendiri bahkan ikut serta menyerbu markas Kenpetai di Kemlayan. Ia juga berkenan ikut melakukan penyerbuan ke markas Kenpetai di Timuran. Sewaktu melakukan penyerbuan ke markas Kido Butai di daerah Mangkubumen, Pakubuwana XII juga menyempatkan berangkat bersama anggota KNI dan berhasil kembali dengan selamat.

Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda. Pemerintahan Indonesia saat itu dipegang oleh Sutan Syahrir sebagai perdana menteri, selain Presiden Soekarno selaku kepala negara. Sebagaimana umumnya pemerintahan suatu negara, muncul golongan oposisi yang tidak mendukung sistem pemerintahan Perdana Menteri Sutan Syahrir, misalnya kelompok Jenderal Sudirman.

Serangan Umum Surakarta

Sekitar 5 Agustus 1949 sempat terjadi perundingan antara Belanda dengan Keraton, tetapi sesungguhnya pertemuan itu tidak lebih merupakan taktik pendekatan sebagai bagian dari kegiatan sandi TNI guna mengetahui strategi musuh. Hal ini dapat dijelaskan dari dokumen Gubernur Militer TNI yang mengatur tentang mekanisme hubungan Kasunanan dan Mangkunegaran melalui perwira teritorial (P.T.) Mayor Achmadi selaku Komandan Daerah Teritorial Militer (Cdt.Mil) kota yang termuat dalam Surat Keputusan Gubernur Militer Istimewa II No.23/G.M./49 yang dikeluarkan pada tanggal 27 April 1949. Surat Keputusan tersebut menetapkan bahwa

  • Cdt. Mil. Kota Surakarta sebagai satu-satunya instansi yang bernama G.M.SSPM./Div.II berhubungan dengan kedua Raja di Surakarta mengenai urusan Daerah Istimewa (politik)
  • Semua instansi baik Mil. maupun Civiel yang hendak berhubungan dengan kedua Raja tersebut diwajibkan melalui dan dengan sepengetahuan Pt.Cdt. Mil. Kota Surakarta yang memberikan laporan-laporan kepada G.M.SSPM./Div.II[7]

Dibekukannya Daerah Istimewa Surakarta

Karena Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan, secara otomatis Surakarta yang merupakan saingan lama menjadi pusat oposisi. Kaum radikal bernama Barisan Banteng yang dipimpin Dr. Muwardi dengan berani menculik Pakubuwana XII dan Sutan Syahrir sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia[8]

Barisan Banteng berhasil menguasai Surakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya karena pembelaan Jenderal Sudirman. Bahkan, Jenderal Sudirman juga berhasil mendesak pemerintah sehingga membekukan status daerah istimewa yang disandang Surakarta.[9] Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kesunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII berubah menjadi sebagai simbol dan pemangku adat Surakarta.

Usaha mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

330px-Soesoehoenan_Pakoe_Boewono_XII_van_Solo_bij_gewonde_soldaten.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuhunan Pakubuwana XII menjenguk tentara republik yang terluka pada tahun 1949.

Pakubuwana XII juga ikut berjuang bersama rakyat mempertahankan Kemerdekaan Indonesia karena ia menyadari kedudukannya sebagai tokoh masyarakat adat terlebih dirinya adalah seorang Letnan Jenderal (tituler) TKR. Maka Pakubuwana XII bertekad untuk ikut berjuang, salah satunya adalah dengan memberikan asset keraton Surakarta, untuk mendukung kebutuhan perjuangan nasional. Pakubuwana XII juga banyak memberikan asset-asset dan inventaris baik barang maupun keuangan dalam mensuplai kebutuhan logistik dan dana, serta berbagai macam persenjataan. Hampir seluruh kekayaan keraton diberikan tanpa sisa untuk kepentingan perjuangan nasional.[10]

Ketika Agresi Militer Belanda II pecah, ia berulangkali mendampingi Presiden Soekarno melihat front pertempuran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain mendampingi Presiden Soekarno dalam melakukan inspeksi ke berbagai garis depan pertempuran, Pakubuwana XII juga kerap bersinergi dan berkonsolidasi dengan pimpinan TKR di wilayah Surakarta seperti Kolonel Gatot Subroto pada masa masa Agresi Militer Belanda II. Ia juga salah satu tokoh penyusun strategi dan kekuatan, bersama dengan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, dan Mayor Achmadi Hadisoemarto dalam memimpin prajurit TKR pada Serangan Umum 4 Hari Surakarta pada tahun 1949. Pakubuwana XII juga banyak membantu membebaskan sejumlah besar pegawai RI dan Tentara Pelajar (TP) yang semula menjadi tawanan politik maupun tawanan perang Belanda.

Tidak berhenti di situ, Pakubuwana XII juga melibatkan dirinya menjadi salah satu pendamping delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar di Den Haag.[11]

Era Kemerdekaan

250px-Pakubuwana_XII_selepas_kembali_dari_KMB_di_Belanda_%28Foto_telah_di_kompres_resolusi_oleh_uploader_untuk_menghindari_penyalahgunaan%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anggota delegasi Indonesia dalam KMB kembali ke Jakarta (berkostum putih Soekiman Wirjosandjojo, pimpinan Partai Masyumi, dan di tengah adalah Susuhunan Pakubuwana XII).

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding Hamengkubuwana IX di Yogyakarta.

Sebenarnya Pakubuwana XII sudah berusaha untuk mengembalikan status Daerah Istimewa Surakarta. Pada 15 Januari 1952 Pakubuwana XII pernah memberi penjelasan tentang Wilayah Swapraja Surakarta secara panjang lebar pada Dewan Menteri di Jakarta, dalam kesempatan ini ia menjelaskan bahwa Pemerintah Swapraja tidak mampu mengatasi gejolak dan rongrongan yang disertai ancaman bersenjata, sementara Pemerintah Swapraja sendiri tidak mempunyai alat kekuasaan. Namun usaha itu tersendat-sendat karena tak kunjung menemui titik temu. Pada tahun 1954, akhirnya Pakubuwana XII sendiri memutuskan untuk meninggalkan keraton guna menempuh pendidikan di Jakarta. Ia menunjuk KGPH. Kusumayudha, pamannya, sebagai wakil sementara di keraton.[12] Pakubuwana XII juga pernah mengikuti dinas kemiliteran dan lulus dari Sesko pada tahun 1963. Pangkat efektif Pakubuwana XII yang terakhir adalah Kolonel.[2]

Pada masa pemerintahannya, terjadi dua kali musibah yang melanda Keraton Surakarta. Pada tanggal 19 November 1954, bangunan tertinggi di kompleks keraton, yaitu Panggung Sangga Buwana, mengalami kebakaran yang menghancurkan sebagian besar bangunan termasuk atap dan hiasan di puncak bangunan.

Untuk selengkapnya, lihat Kebakaran keraton Surakarta 1985.

Selanjutnya pada tanggal 31 Januari 1985, di malam Jumat Wage, kompleks inti keraton terbakar pada pukul 21.15 WIB. Kebakaran terjadi di bangunan Sasana Parasedya, Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, Dalem Ageng Prabasuyasa, Maligi, dan Paningrat. Seluruh bangunan termasuk segala isi dan perabotannya tersebut musnah dilalap api.[13]

Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 1985, Pakubuwana XII melapor kepada Presiden Soeharto atas musibah yang melanda Keraton Surakarta. Presiden Soeharto pun menindaklanjuti dengan membentuk Panitia 13 guna mengemban tugas untuk melaksanakan rehabilitasi keraton. KRT. Harjanagara, budayawan nasional sekaligus sahabat Pakubuwana XII, termasuk dalam jajaran Panitia 13 ini. Keraton Surakarta berhasil pulih setelah mendapat dana 4 miliar rupiah dari pemerintah pusat, dan pembangunan kembali kompleks inti keraton dapat diselesaikan dan diresmikan pada tahun 1987.

250px-Medali_Perjuangan_Pakubuwana_XII_%283%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuhunan Pakubuwana XII menerima Medali Perjuangan Angkatan 45 yang dipersembahkan oleh ketua Dewan Harian Angkatan 45, Jenderal TNI (Purn.) Soerono, di Keraton Surakarta pada 28 Oktober 1995.

Pada 26 September 1995, lima puluh tahun setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan SK No. 70/SKEP/IX/1995, Pakubuwana XII mendapat pemberian Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan '45 dari pemerintah pusat. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Pakubuwana XII yang pada masa awal kemerdekaan merupakan raja pertama di Indonesia yang menyatakan setia dan berdiri di belakang pemerintah republik. Pakubuwana XII juga secara sukarela menyumbangkan sebagian kekayaan pribadinya maupun kekayaan Keraton Surakarta kepada pemerintah pusat saat itu.[14]

Meskipun pada awal pemerintahannya Pakubuwana XII dapat dikatakan kurang berhasil secara politik, tetapi Pakubuwana XII tetap menjadi sosok figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, seperti Presiden Abdurrahman Wahid, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa.[15]

Mangkat

250px-Mangkatnya_Pakubuwana_XII%284%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jenazah Susuhunan Pakubuwana XII dihantar ke Pajimatan Imogiri.

Pada pertengahan tahun 2004, Pakubuwana XII mengalami koma dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Kosala Dr. Oen Surakarta. Akhirnya pada tanggal 11 Juni 2004, Pakubuwana XII dinyatakan wafat.[16] Wafatnya Pakubuwana XII bersamaan dengan keramaian kampanye Pemilihan Umum Presiden di Surakarta. Sepeninggalnya sempat terjadi perebutan takhta antara KGPH. Hangabehi dangan KGPH. Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII.

Warisan dan suksesi

Setelah wafatnya Pakubuwana XII pada 11 Juni 2004, posisi Susuhunan Surakarta mengalami masa ketidakpastian. Sejumlah putra beliau dari berbagai permaisuri dan garwa selir mengajukan klaim atas takhta Keraton Surakarta Hadiningrat.[17]

Peristiwa ini menimbulkan perpecahan internal di kalangan keluarga keraton. Sebagian pihak mendukung Raden Mas Hangabehi yang kemudian dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII pada tahun 2004 di kompleks utama keraton.[18] Namun, pihak lain yang mendukung Raden Mas Tedjowulan juga melakukan penobatan terpisah di tempat yang berbeda.[19]

Kondisi ini menyebabkan munculnya dua kubu utama di dalam Keraton Surakarta, yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Dalam Negeri beberapa kali berupaya menengahi dan mendorong rekonsiliasi antara kedua pihak.[20]

Terlepas dari polemik suksesi tersebut, Pakubuwana XII dikenal sebagai figur yang berhasil mempertahankan keberlanjutan tradisi budaya Kasunanan Surakarta di tengah perubahan politik Indonesia pada abad ke-20. Warisannya terutama terlihat pada pelestarian seni, arsitektur, dan kegiatan budaya keraton yang tetap hidup hingga kini.[21]

Kehidupan Pribadi

Silsilah

  1. KRAy. Mandayaningrum
  2. KRAy. Rogasmara
  3. KRAy. Pradapaningrum
  4. KRAy. Kusumaningrum
  5. KRAy. Retnadiningrum
  6. KRAy. Pujaningrum
  • Memiliki lima belas putra dan dua puluh putri:[12][22]
  1. GRAy. Koes Handawiyah/GKR. Alit
  2. GRM. Surya Partana/KGPH. Hangabehi (naik takhta sebagai Susuhunan Pakubuwana XIII)
  3. GRM. Surya Suprapta/KGPH. Hadi Prabawa
  4. GRAy. Koes Supiyah/GKR. Galuh Kencana
  5. GRM. Suryana/KGPH. Puspa Hadikusuma
  6. GRAy. Koes Rahmaniyah
  7. GRAy. Koes Saparniyah
  8. GRAy. Koes Handariyah/GKR. Sekar Kencana
  9. GRAy. Koes Kristiyah
  10. GRAy. Koes Sapardiyah
  11. GRAy. Koes Raspiyah
  12. GRM. Surya Susena/KGPH. Kusumayudha
  13. GRAy. Koes Sutriyah
  14. GRAy. Koes Isbandiyah/GKR. Retna Dumilah
  15. GRM. Surya Suteja/KGPH. Panembahan Agung Tejawulan
  16. GRM. Surya Bandana/KGPH. Puger
  17. GRAy. Koes Partinah
  18. GRM. Surya Suparta/KGPH. Dipakusuma
  19. GRM. Surya Sarasa
  20. GRM. Surya Bandriya/KGPH. Benawa
  21. GRAy. Koes Niyah
  22. GRM. Surya Sudhira/GPH. Natakusuma
  23. GRM. Surya Suharsa/GPH. Madukusuma
  24. GRM. Surya Sudarsana/GPH. Wijaya Sudarsana
  25. GRAy. Koes Murtiyah/GKR. Wandansari
  26. GRAy. Koes Sabandiyah
  27. GRAy. Koes Triniyah
  28. GRAy. Koes Indriyah/GKR. Ayu
  29. GRM. Surya Sutrisna/GPH. Surya Wicaksana
  30. GRM. Nur Muhammad/GPH. Cahyaningrat
  31. GRAy. Koes Suwiyah
  32. GRAy. Koes Ismaniyah
  33. GRAy. Koes Samsiyah
  34. GRAy. Koes Saparsiyah
  35. GRM. Surya Wahana/GPH. Surya Mataram

Galeri

Penghargaan

Kepustakaan

  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pranala luar

  • (Indonesia) Biografi Sri Susuhunan Pakubuwono XII (1925-2004)

Referensi

  1. 1 2 Ningsih, Widya Lestari (5 Februari 2023). "Sri Susuhunan Pakubuwono XII, Pernah Diculik Barisan Banteng". Kompas.com. Diakses tanggal 12 Maret 2024. {{cite news}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |coauthors=
  2. 1 2 "Ada Upacara Adat dan Militer di Pemakaman PB XII". detiknews. 26 Februari 2004. Diakses tanggal 12 Juni 2024.
  3. https://youtu.be/Do0JBcKv8pk?si=mxGwpuXwWyk8b066
  4. https://youtu.be/FIVy9DhzEY0?si=VfFmLdWsYd7JBZ-F
  5. "Nampo Hodo (43): Upatjara penobatan Solokoo baru (Djawa) (1945)". Youtube: Nederlands Instituut voor Beeld & Geluid. 2020-08-31. Diakses tanggal 2026-04-06.
  6. Ricky, Mariyana (10 Desember 2022). "Paku Buwono X & XII serta Mangkunegara VII & VIII Pernah Diberi Gelar Tituler". Solo Pos. Diakses tanggal 12 Maret 2024.{{cite news}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |coauthors=
  7. Sasono, MA (2017). "PERAN SRI SUSUHUNAN PAKUBUWONO XII DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (1945-1949)". Risalah. 4: 711–725. Diakses tanggal 21 Maret 2024.{{cite journal}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 41
  8. Ricklefs, Merle Calvin (April 2005). Sejarah Indonesia Modern (1200-2004). Serambi Ilmu Semesta. hlm. 440–447. ISBN 979-16-0012-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link).
  9. Gie, Liang: "Pertumbuhan pemerintah daerah di Indonesia", halaman 232. Liberty, 1993
  10. Setiadi, B. Had:Raja di Alam Republik: Keraton Kasunanan Surakarta dan Pakubuwono XII” halaman 56, Bina Rena Pariwara, 2000
  11. Setiadi, B. Hadi:Raja di Alam Republik: Keraton Kasunanan Surakarta dan Pakubuwono XII” halaman 105, Bina Rena Pariwara, 2000
  12. 1 2 3 The Surakarta Dynasty: GENEALOGY. dari situs The Royal Ark
  13. "Paku Buwono - Keraton Surakarta". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-15. Diakses tanggal 2020-04-13.
  14. Nugroho, Sus Yuto (23 Maret 2021). "Pakubowono XII Raja di Alam Republik". Klik7tv. Diakses tanggal 12 Maret 2024.{{cite news}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |coauthors=
  15. Abdurrahman Wahid: Keraton dan Perjalanan Budayanya. Diarsipkan 2020-07-14 di Wayback Machine. dari situs Santri Gus Dur - Komunitas Pemikiran Gusdur
  16. Solo: Paku Buwono XII Mangkat. dari situs Liputan6.com
  17. Tempo. (2004). "Suksesi di Keraton Surakarta Pasca Wafatnya PB XII". Diakses pada 11 November 2025.
  18. Kompas. (2004). "RM Hangabehi Dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII". Diakses pada 11 November 2025.
  19. Detik.com. (2004). "Dua Penobatan, Dua Susuhunan". Diakses pada 11 November 2025.
  20. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2017). "Upaya Mediasi Konflik Internal Keraton Surakarta". Diakses pada 11 November 2025.
  21. Dinas Kebudayaan Jawa Tengah. (2020). "Peran PB XII dalam Pelestarian Budaya Keraton Surakarta". Diakses pada 11 November 2025.
  22. 1 2 Lestari (2020). Takhta Raja-raja Jawa (dalam bahasa Indonesia). Yogyakarta: Sociality. ISBN 978-623-244-269-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  23. Bina Rena Pariwara, Indonesia (2001). Raja di alam republik Keraton Kasunanan Surakarta dan Paku Buwono XII. Indonesia: Bram Setiadi, Qomarul Hadi, Danang Suryo Tri Handayani. hlm. 97.{{cite book}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 22Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  24. "Maklumat PB XII 1 September 1945, Bagian Penting Eksistensi NKRI (seri 1 – bersambung)". IMNews. 4 September 2023. Diakses tanggal 31 Agustus 2024.{{cite news}}: |first= tidak memiliki |last=; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |coauthors=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

[1]

Lihat pula

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pakubuwono XII.
Jabatan politik
Didahului oleh:
Jabatan Baru
Kepala Daerah Istimewa Surakarta
1945–1946
Diteruskan oleh:
Jabatan Dihapus
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Susuhunan Pakubuwana XI
Susuhunan Surakarta
1945–2004
Diteruskan oleh:
Susuhunan Pakubuwana XIII

Pakubuwana II
PB II
(1745–1749)

Pakubuwana III
PB III
(1749–1788)

Pakubuwana IV
PB IV
(1788–1820)

Pakubuwana V
PB V
(1820–1823)

Pakubuwana VI
PB VI
(1823–1830)

Pakubuwana VII
PB VII
(1830–1858)

Pakubuwana VIII
PB VIII
(1858–1861)

Pakubuwana IX
PB IX
(1861–1893)

Pakubuwana X
PB X
(1893–1939)

Pakubuwana XI
PB XI
(1939–1945)

Pakubuwana XII
PB XII
(1945–2004)

Pakubuwana XIII
PB XIII
(2004–2025)

Pakubuwana XIV (Purbaya)
PB XIV
(Purbaya)

(2025–sekarang)

Pakubuwana XIV (Hangabehi)
PB XIV
(Hangabehi)

(2025–sekarang)

|}

  1. "Dinamika Suksesi Raja Keraton Solo setelah Pakubuwono XIII Wafat". 7 November 2025. Diakses tanggal 12 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan