| Panembahan Agung Tedjowulan ꦠꦺꦗꦺꦴꦮꦸꦭꦤ꧀ | |
|---|---|
Tedjowulan, 2026 | |
| Ketum FSKN ke - 2 [1] | |
| Mulai menjabat | 2013 – 2018 |
| Pendahulu | Sultan Khairul Saleh (Sultan Banjar) |
| Penerus | Ida Tjokorda Ngurah Jambe (Raja Denpasar) |
| Mahamenteri Kasunanan Surakartake-1 | |
| Mulai menjabat 16 Mei 2012 (2012-05-16) (14 tahun, 135 hari lalu) | |
| Penguasa monarki | Pakubuwana XIII (2012–2025) |
| Presiden | |
| Pendahulu | Jabatan baru |
| Lahir | Gusti Raden Mas Soerjo Soetedjo 3 Agustus 1954 (umur 72) |
| Ayah | Pakubuwana XII |
| Ibu | K.R.Ay. Retnodiningrum |
| Permaisuri | G.K.R. Mas |
| Keturunan | 5 |
| Dinasti | Mataram |
| Karier militer | |
| Dinas/cabang | |
| Pangkat | |
| Kesatuan | Infanteri |
Kolonel Inf (Purn.) Kangjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung Tedjowulan (bahasa Jawa:ꦠꦺꦗꦺꦴꦮꦸꦭꦤ꧀; lahir 3 Agustus 1954) adalah mahamenteri Kasunanan Surakarta sejak 2012.[2]
Pengukuhannya sebagai mahamenteri merupakan bagian dari upaya rekonsiliasi untuk mengakhiri konflik keraton Surakarta sepeninggal Pakubuwana XII pada 2004.[3][4][5]
Pada 5 November 2025, setelah meninggalnya Pakubuwana XIII, Tedjowulan mengumumkan diri sebagai raja ad interim hingga pihak kerabat istana dapat bermufakat terkait Susuhunan Surakarta selanjutnya.[6] Oleh pemerintah, melalui Kementerian Kebudayaan, ia kemudian diangkat menjadi Pelaksana pelindungan, pengembangan, dan atau pemanfaatan Keraton Solo.[7][8]
Kehidupan pribadi
Lahir sebagai Gusti Raden Mas Soerjo Soetedjo, Tedjowulan merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Pakubuwana XII dan istri keduanya, K.R.Ay. Retnodiningrum.[9]
Saat bersekolah di SMAN 1 Surakarta, Tedjowulan terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Nasional tahun 1972, mewakili Jawa Tengah.[10]
Tedjowulan menamatkan pendidikan militer di Akademi Militer Magelang pada 1981. Setelahnya ia berkarir di Angkatan Darat hingga mencapai pangkat terakhir Kolonel.[11]
Sejak 1982, ia membina rumah tangga dengan Rr. Nanik Indiastuti, kelak bergelar G.K.R. Mas.[12] Pasangan ini memiliki 2 anak, yakni G.R.Ay. Putri Woelan Sari Dewi yang saat ini menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Kebudayaan dan G.R.Aj. Dewi Wulandari Srirahadiastuti.
Selain itu, Tedjowulan juga sempat menikahi 2 perempuan lain dan dengan mereka memiliki 3 orang anak. Dengan Vidia Iswari, S.Sn.(menikah 2005) terlahir Ratu Dyahwulan Nariswari. Sementara dengan Sri Wulan Madiyo Wati (menikah 2009) terlahir G.B.R.M. Mario Wulan Soedibjo Rojo Putro dan G.B.R.Aj. Maharani Wulan Yesia Tejaningsih.
Kehidupan sebagai pangeran
Dinobatkan sebagai Susuhunan
Setelah Pakubuwana XII meninggal pada 11 Juni 2004, proses suksesi berjalan alot. Meski sudah beberapa kali diadakan rembuk keluarga, namun belum ada kata sepakat. Di tengah kebuntuan tersebut, pada 24 Juni 2004 K.G.P.H. Hangabehi, anak lelaki tertua, secara sepihak diumumkan akan bertakhta. Sebagian besar penyokong langkah ini adalah saudara-saudara seibu Hangabehi.
Pengumuman tersebut menuai pro dan kontra. Penolakan pertama muncul dari sebuah kelompok yang menamakan diri Forum Bela Raos Abdi Dalem. Selanjutnya pada 3 Agustus 2004 giliran rapat kerabat istana di rumah Mooryati Soedibyo di Jakarta yang menyatakan tidak setuju.[13]
Puncaknya, pada 31 Agustus 2004, Tedjowulan dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII melalui surat keputusan yang ditandatangani 3 pejabat tinggi Kesunanan: K.G.P.H. Dipokusumo, K.G.P.H. Hadiprabowo, dan G.K.R. Alit. Di Sasana Purnama, Badran ia diberikan gelar Sahandhap Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono XIII Senopati ing Alogo Abdurrachman Sayidin Panotogomo Khalifatullah Tanah Jawi.[14]
Selang 10 hari, giliran Hangabehi yang dinobatkan untuk kedudukan dan gelar yang sama, melahirkan 2 raja di Kesunanan.[15]
Rekonsiliasi

Meski sebagai susuhunan, Tedjowulan praktis tidak memiliki kewenangan di dalam Keraton, namun keberadaan raja kembar ini tak pelak memicu konflik berkepanjangan. Selain perpecahan di kalangan kerabat, konflik juga menghambat kerja-kerja kebudayaan.[5]
Atas kesulitan-kesulitan tersebut, sejak 2011 mulai diadakan mediasi oleh pemerintah. Puncaknya pada 16 Mei 2012 di Hotel Gran Mahakam Jakarta, Hangabehi dan Tedjowulan sepakat untuk islah. Hangabehi akan terus bertakhta, sementara Tedjowulan diangkat menjadi mahamenteri, semacam wakil raja.[16]
Rekonsiliasi ini bagaimanapun juga sempat ditolak sejumlah kerabat, dimotori oleh G.K.R. Wandansari dan Lembaga Dewan Adat. Proses ini dianggap cacat hukum dan menormalisasi pelanggaran hukum adat yang dilakukan Tedjowulan.[17]
Pendiri FSKN dan Ketua FSKN ke 2
Panembahan Agung Tedjowulan bersama Ida Tjokorda Ngurah Jambe (Raja Denpasar ke IX) merupakan tokoh kunci pendiri Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN). Perjalanan sejarah berdirinya organisasi ini tidak lepas dari komitmen dan gagasan besar kedua tokoh tersebut dalam menyatukan serta melestarikan eksistensi keraton di seluruh penjuru tanah air. Atas dedikasinya, Maha Menteri Kasunanan Surakarta ini kemudian dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum kedua FSKN untuk periode 2013–2018 menggantikan ketua umum pertama, Ida Tjokorda Ngurah Jambe (Raja Denpasar ke IX). Kiprah kepemimpinan dan nilai-nilai perjuangan beliau dalam merajut silaturahmi adat Nusantara ini terus dilanjutkan pada kepengurusan FSKN periode 2018–2023 dan 2023–2028 hasil Munas III dan Munas IV Jakarta, dengan terpilihnya Sultan Khairul Saleh Al Mu'tashim Billah (Sultan Banjar) sebagai Ketum FSKN berikutnya dan Prof. Dr. Dr. Ir. KRAy. Naniek Widayati Priyomarsono, M.T. (Guru Besar Universitas Tarumanagara Jakarta) yang bertugas sebagai Sekretaris Jenderal berikutnya.[18]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Kota, Warta (2013-04-19). "Ini Ajakan Keraton Surakatara Kepada Para Raja Nusantara". wartakota.tribunnews.com. Diakses tanggal 08-06-2026.
{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date= - ↑ "REKONSILIASI KERATON SOLO: Tedjowulan Kini Jadi Mahapatih". Espos. 20 Mei 2012.
- ↑ "Berakhir Dualisme Kepemimpinan di Keraton Surakarta". Kompas.com. 31 Mei 2012.
- ↑ Prasetyo, Andreas Yoga (15 November 2025). "Jejak Seteru di Singgasana Keraton Surakarta". Kompas.id.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Muharrom, Muhammad Agus Salim (2014). Keraton dan Politik: Konflik Keraton Surakarta Hadiningrat Pasca Wafatnya Paku Buwono XII (S1 tesis). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
- ↑ Ryanthie, Septia (5 November 2025). "Tedjowulan Jalankan Tugas Ad Interim Raja Keraton Surakarta". Tempo (majalah).
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Menbud Serahkan SK untuk Keraton Solo, Tedjowulan Jadi Pelindung Cagar Budaya". Solo Pos. 18 Januari 2026.
- ↑ "Tedjowulan Mulai Bertugas di Keraton Surakarta". Tempo (majalah). 20 Januari 2026.
- ↑ Puspaningrat, Surjandjari (2006). Putra putri dalem Karaton Surakarta. Cendrawasih.
- ↑ Daftar Nama Purna Paskibraka Tingkat Nasional 1967-2007 (PDF) (Laporan). Paguyuban Paskibraka 1978.
- ↑ Sodiq, Fajar (15 April 2010). "Raja Solo "Disemprit" Pengawas Pilkada". Viva.co.id.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Menikahkan putranya". Tempo (majalah). 27 Februari 1982.
- ↑ Poespaningrat, Pranoedjoe (2008). Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan: Dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru. B.P. Kedaulatan Rakyat.
- ↑ "Kolonel (Inf) Tedjowulan Resmi Dinobatkan Sebagai PB XIII". Detik.com. 31 Agustus 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Februari 2017.
- ↑ "Ontran-ontran Raja Kembar". Gatra. 2004.
- ↑ "Era Baru Keraton Surakarta Dipimpin Dwi-Tunggal Hangabehi-Tedjowulan". Tabloid Nova. 30 Mei 2012.
- ↑ "Adu mulut warnai aksi rekonsiliasi keraton Surakarta". Merdeka.com. 4 Juni 2012.
- ↑ Kota, Warta (2013-04-19). "Ini Ajakan Keraton Surakatara Kepada Para Raja Nusantara". wartakota.tribunnews.com. Diakses tanggal 08-06-2026.
{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date=
| Hanya gelar saja | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Susuhunan Pakubuwana XII |
— TITULER — Susuhunan Surakarta 2004–2012 Alasan kegagalan suksesi: Bukan Anak Sulung |
Diteruskan oleh: Susuhunan Pakubuwana XIII |