Sabtu, 17 Oktober 2026
10:26 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super

Pasukan Inong Balee

Bagikan:
Inong Balee
Inong Balèë
AktifAkhir abad ke-16
NegaraKesultanan Aceh
AliansiSultan Aceh
CabangAngkatan laut Kesultanan Aceh
Tipe unitSatuan militer perempuan
PeranPertahanan maritim dan pesisir
Jumlah personelSekitar 1.000–2.000 menurut historiografi modern
PangkalanLam Kuta–Krueng Raya, Aceh Besar
PertempuranKonflik Aceh–Portugis dan Aceh–Belanda menurut historiografi modern
Tokoh
Tokoh berjasaLaksamana Malahayati

Inong Balee (juga ditulis Inöng Balèë) adalah nama yang digunakan dalam historiografi Aceh untuk sebuah satuan militer perempuan Kesultanan Aceh yang ditempatkan pada masa pemerintahan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1589–1604). Satuan tersebut digambarkan terutama terdiri atas para janda prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan dan berada di bawah pimpinan Laksamana Malahayati.[1][2]

Dalam penulisan sejarah modern, Inong Balee ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan maritim Aceh yang beroperasi di Selat Malaka, pantai timur Sumatra, dan kawasan Semenanjung Malaya. Jumlah anggotanya paling sering disebut sekitar 1.000 orang pada tahap awal dan kemudian meningkat menjadi sekitar 2.000 orang, meskipun terdapat versi lain mengenai jumlah dan susunan pasukan tersebut.[3][2]

Sumber sezaman mengenai struktur Kesultanan Aceh pada akhir abad ke-16 tidak menyebut nama Inong Balee. Navigator Inggris John Davis, yang berada di Aceh pada 1599, mencatat keberadaan seorang perempuan yang memegang jabatan laksamana, tetapi tidak menyebut nama perempuan tersebut maupun satuan yang dipimpinnya.[4][5] Oleh karena itu, rincian mengenai pembentukan, jumlah anggota, struktur organisasi, dan kegiatan Inong Balee terutama diketahui melalui historiografi Aceh abad ke-20 dan tradisi lokal.

Nama Inong Balee kemudian digunakan kembali pada masa konflik Aceh untuk menyebut perempuan yang terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Penggunaan tersebut tidak menunjukkan kesinambungan organisasi dengan satuan yang dikaitkan dengan Kesultanan Aceh.[5]

Nama dan etimologi

Dalam bahasa Aceh, inöng berarti perempuan, sedangkan balèë menunjukkan keadaan seseorang yang tidak lagi mempunyai pasangan karena kematian atau perpisahan (janda). Kamus Basa Acèh karya Bukhari Daud dan Mark Durie mencatat balee dengan arti "duda, janda", agam balee sebagai "duda", dan inong balee sebagai "janda".[6]

Dengan demikian, inong balee pada dasarnya merupakan istilah sosial untuk perempuan yang menjadi janda dan bukan istilah yang secara harfiah berarti "tentara perempuan". Penggunaannya sebagai nama satuan militer berasal dari narasi mengenai para janda prajurit yang kemudian dihimpun menjadi pasukan.[7]

Ejaan istilah tersebut berbeda menurut sistem penulisan yang digunakan. Literatur Indonesia umumnya memakai bentuk Inong Balee, sedangkan sejumlah penelitian akademik mengenai Aceh menggunakan bentuk inong balèë.[5]

Latar belakang

Kesultanan Aceh berkembang sebagai salah satu kekuatan politik dan perdagangan utama di bagian utara Sumatra pada abad ke-16. Setelah Malaka dikuasai Portugis pada 1511, hubungan Aceh dengan Portugis berlangsung dalam bentuk persaingan perdagangan, diplomasi, dan beberapa rangkaian peperangan di Selat Malaka.[8]

Dalam periode tersebut perempuan diketahui mempunyai sejumlah kedudukan dalam masyarakat dan lingkungan istana Aceh. John Davis, yang mengunjungi Aceh pada 1599, menyebut perempuan sebagai bagian dari lingkungan penasihat Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan mencatat bahwa seorang perempuan menjabat sebagai laksamana.[4]

Catatan itu menjadi sumber sezaman utama mengenai keberadaan perempuan dalam kedudukan tinggi angkatan laut Aceh. Namun Davis tidak memberikan nama laksamana tersebut, tidak menyebut istilah Inong Balee, dan tidak menjelaskan struktur pasukan perempuan yang berada di bawah komandonya.[5]

Pembentukan

Dalam historiografi Aceh modern, pembentukan Inong Balee dikaitkan dengan banyaknya prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan melawan Portugis. Para istri yang ditinggalkan kemudian dihimpun menjadi satu kesatuan di bawah Malahayati.[1][2]

Ery Soedewo, dengan merujuk A. Hasjmy, menempatkan pembentukan Armada Inong Balé pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil, yang memerintah pada 1589–1604. Ia menyebut kesatuan itu terdiri atas para janda prajurit yang telah gugur dan dipimpin oleh Laksamana Malahayati, yang juga dikisahkan kehilangan suaminya dalam pertempuran laut.[1]

Deni Sutrisna memberikan uraian serupa. Menurutnya, pada masa pemerintahan al-Mukammil dibentuk sebuah armada yang sebagian prajuritnya terdiri atas janda-janda. Armada tersebut disebut berulang kali terlibat dalam pertempuran di Selat Malaka, pantai timur Sumatra, dan Malaya.[2]

Kematian suami Malahayati

Kematian suami Malahayati merupakan bagian penting dalam cerita pembentukan Inong Balee, tetapi sumber-sumber modern berbeda mengenai nama dan peristiwa kematiannya.

Hasbullah dalam Haba pada 2017 menyebut suami Malahayati sebagai Laksamana Zainal Abidin dan menyatakan bahwa ia gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru. Setelah kematiannya, Malahayati disebut dipercaya Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil untuk memegang jabatan laksamana.[3]

Tradisi biografis lain menggunakan nama yang berbeda. Adi Pewara dalam Malahayati: Singa Betina dari Aceh menyebut suaminya sebagai Laksamana Muda Ibrahim, seorang Panglima Armada V yang dalam narasinya gugur akibat tembakan meriam Portugis dalam pertempuran di Tanjung Parit.[9]

Sementara itu, karya fiksi sejarah Endang Moerdopo menggunakan nama Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief dan menghubungkan kematiannya dengan pertempuran di Teluk Haru.[10]

Solichin Salam mencatat bahwa nama suami Malahayati belum diketahui secara pasti.[11] Karena tidak terdapat penyebutan nama suami laksamana perempuan dalam sumber sezaman yang diketahui, ketiga nama tersebut tidak dapat dipastikan merujuk kepada tokoh historis yang sama.

Jumlah dan susunan pasukan

Jumlah anggota Inong Balee berbeda dalam berbagai publikasi modern. Angka yang paling sering disebut adalah sekitar 2.000 prajurit perempuan. Sutrisna, dengan merujuk A. Hasjmy, menyebut armada Malahayati terdiri atas sekitar 2.000 perempuan.[2]

Versi lain menyatakan bahwa satuan tersebut mula-mula berkekuatan sekitar 1.000 janda dan kemudian bertambah menjadi sekitar 2.000 anggota setelah perempuan lain ikut bergabung.[3]

Publikasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh pada 2014 memberikan angka yang berbeda. Dalam versi tersebut, armada awal berjumlah sekitar 1.000 janda muda dan kemudian dikatakan bertambah dengan masuknya sekitar 2.000 perempuan muda yang belum menikah.[12]

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka kekuatan Inong Balee berasal dari penulisan sejarah modern dan bukan dari daftar personel atau dokumen militer abad ke-16 yang diketahui. Karena itu, angka 1.000 atau 2.000 tidak dapat diperlakukan sebagai jumlah yang pasti.[5]

Beberapa publikasi juga menghubungkan Inong Balee dengan armada yang terdiri atas sejumlah besar kapal perang Aceh. Akan tetapi, sumber yang menyebut kekuatan keseluruhan angkatan laut Kesultanan Aceh tidak selalu membedakan kapal yang berada langsung di bawah Inong Balee dengan kapal dari satuan angkatan laut lainnya. Dengan demikian, jumlah kapal tidak dapat digunakan secara langsung untuk menentukan kekuatan satuan Inong Balee.

Pelatihan dan tugas

Literatur modern menggambarkan para anggota Inong Balee mendapat latihan militer di bawah Malahayati. Sutrisna menyebut para janda dilatih menjadi prajurit di Benteng Inong Balee, sedangkan Fatma Susanti menyebut latihan penggunaan senjata dan pengendalian kapal.[2][7]

Rincian mengenai kurikulum latihan tidak diketahui dari dokumen sezaman. Klaim yang sering ditemukan dalam tulisan populer mengenai penggunaan rencong, pedang, senjata api, meriam, navigasi, dan taktik tempur laut tidak seluruhnya dapat dilacak kepada sumber abad ke-16.

Tidak terdapat pula bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa anggota Inong Balee secara umum menempuh pendidikan di Ma'had Baitul Maqdis. Lembaga tersebut terutama disebut dalam biografi modern Malahayati sebagai tempat pendidikan militernya dan tidak terdapat daftar anggota Inong Balee yang pernah belajar di sana.[5][11]

Dalam historiografi modern, tugas Inong Balee terutama dikaitkan dengan:

  • pertahanan pantai dan pelabuhan Aceh;
  • pengawasan jalur pelayaran di sekitar Krueng Raya dan Selat Malaka;
  • peperangan laut;
  • penjagaan pangkalan;
  • serta dukungan logistik bagi pertahanan Kesultanan Aceh.[2]

Kegiatan militer

Konflik dengan Portugis

Pembentukan Inong Balee umumnya ditempatkan dalam konteks peperangan berkepanjangan antara Kesultanan Aceh dan Portugis di kawasan Selat Malaka. Dalam tradisi historiografis, para anggota awalnya merupakan janda prajurit yang gugur dalam peperangan melawan Portugis.[1][3]

Sutrisna menyebut armada tersebut beberapa kali terlibat dalam peperangan di Selat Malaka, pantai timur Sumatra, dan wilayah Malaya. Keterangan tersebut terutama mengikuti literatur sejarah Aceh abad ke-20 dan tidak disertai daftar pertempuran yang dapat diverifikasi melalui laporan sezaman.[2]

Salah satu peristiwa yang sering dikaitkan dengan asal-usul satuan itu adalah Pertempuran Teluk Haru. Dalam versi Hasbullah, Laksamana Zainal Abidin, yang disebut sebagai suami Malahayati, gugur dalam pertempuran tersebut.[3] Versi Adi Pewara menempatkan kematian suami Malahayati dalam pertempuran berbeda di Tanjung Parit.[9]

Konflik dengan armada De Houtman

Pada 1599 armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman tiba di Aceh. Hubungan antara rombongan Belanda dan pihak Aceh kemudian berubah menjadi konflik. Cornelis de Houtman tewas, sedangkan Frederick ditawan oleh pihak Aceh.[8]

Dalam penulisan sejarah Indonesia, Inong Balee sering ditempatkan sebagai pasukan yang dipimpin Malahayati dalam konflik tersebut. Kisah yang paling terkenal menyebut Malahayati membunuh Cornelis de Houtman dalam pertarungan langsung di atas kapal.

Catatan John Davis, yang merupakan anggota ekspedisi De Houtman dan berada di Aceh pada waktu itu, memang menyebut bahwa seorang perempuan menjadi laksamana Sultan Aceh. Namun, ia tidak menyebut bahwa perempuan tersebut bernama Malahayati, tidak menyebut Inong Balee, dan tidak menyatakan bahwa sang laksamana secara pribadi membunuh Cornelis.[4][5]

Frederick de Houtman juga tidak mencatat cerita mengenai Malahayati atau Inong Balee dalam hubungannya dengan kematian saudaranya sebagaimana ditunjukkan dalam kajian Clavé-Çelik.[5] Karena itu, keterlibatan Inong Balee dalam bentuk yang digambarkan oleh biografi modern merupakan bagian dari historiografi kemudian dan belum dapat dikonfirmasi dari sumber sezaman.

Pangkalan di Krueng Raya

Berkas:Benteng Inong Balee.jpg
Sisa Benteng Inong Balee di Lamreh, Aceh Besar.

Literatur mengenai Malahayati menempatkan pangkalan Inong Balee di Lam Kuta atau kawasan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Deni Sutrisna menyebut markasnya berada di Lam Kuta, Krueng Raya, sedangkan tradisi lokal menghubungkan pasukan tersebut dengan benteng yang kini dikenal sebagai Benteng Inong Balee atau Benteng Malahayati.[2]

Kawasan tersebut berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya menghadap jalur laut di kawasan Selat Malaka dan berada dalam sebuah lanskap arkeologis yang juga mencakup Benteng Kuta Lubok, kompleks makam, temuan keramik, tembikar, dan jejak pelabuhan lama.

Benteng Inong Balee

Artikel utama: Benteng Inong Balee

Benteng Inong Balee berada di tepi perbukitan pantai Lamreh. Penelitian Deni Sutrisna mendeskripsikan benteng tersebut sebagai bangunan berdenah persegi panjang yang menghadap ke barat atau ke arah laut.[2]

Sisa dinding pada bagian barat mempunyai panjang sekitar 60 meter, tebal 2 meter, dan tinggi sekitar 2,5 meter. Dinding bagian utara memiliki panjang sekitar 40 meter dengan ketebalan sekitar 2 meter, sedangkan dinding sisi selatan mempunyai panjang sekitar 60 meter. Pada sisi timur masih ditemukan struktur pondasi sepanjang kurang lebih 20 meter.[2]

Material dinding terdiri atas batu alam yang direkatkan dengan spesi kapur. Pada dinding barat terdapat empat bukaan yang bentuknya menyerupai tapal kuda dan ditafsirkan sebagai lubang pengintaian. Posisi benteng yang menghadap laut memungkinkan pengawasan terhadap pelayaran di sekitar pesisir Lamreh.[2]

Sutrisna menghubungkan benteng tersebut dengan fungsi pertahanan, tempat tinggal anggota Inong Balee, latihan militer, dan penyimpanan logistik.[2]

Namun, penelitian Ery Soedewo pada 2001 memberikan penilaian yang lebih berhati-hati. Ia mencatat bahwa masyarakat setempat menyebut sisa benteng di Lamreh sebagai Benteng Inong Balee, tetapi hubungan arkeologis langsung antara bangunan tersebut, Malahayati, dan satuan Inong Balee belum dapat dipastikan.[1]

Dengan demikian, keberadaan bangunan benteng merupakan fakta arkeologis, sedangkan identifikasinya secara khusus sebagai markas pasukan Malahayati sebagian bergantung pada tradisi lokal dan historiografi modern.

Lanskap arkeologis Lamreh

Benteng Inong Balee merupakan bagian dari kawasan arkeologis Lamreh yang memiliki sejarah lebih panjang daripada periode yang dikaitkan dengan Malahayati. Penelitian arkeologi di kawasan pantai Lamreh menemukan dua benteng utama, yaitu Kuta Lubok dan Kuta Inong Balee, serta berbagai kelompok makam, keramik, tembikar, dan tinggalan permukiman.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Lamreh telah menjadi kawasan permukiman dan aktivitas maritim sebelum akhir abad ke-16. Karena itu, tidak seluruh tinggalan arkeologis di sekitar Benteng Inong Balee dapat langsung dihubungkan dengan Malahayati atau pasukannya.

Kompleks makam yang secara tradisional dianggap sebagai makam Malahayati berada sekitar tiga kilometer dari benteng.[2]

Pasukan perempuan sesudah Inong Balee

Sumber historiografis mengenai Aceh juga mencatat keberadaan satuan perempuan lain sesudah masa yang dikaitkan dengan Inong Balee.

Pada masa Sultan Muda Ali Riayat Syah V, sekitar 1604–1607, disebut terdapat kesatuan bernama Sukey Kaway Istana. Anggotanya digambarkan sebagai Si Pa-i Inong atau prajurit perempuan dan dipimpin oleh Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun.[1][2]

Dalam tradisi yang sama, keduanya dikaitkan dengan pembebasan Darma Wangsa, yang kemudian menjadi Iskandar Muda, dari tahanan.[2]

Pada masa pemerintahan Iskandar Muda, sejumlah sumber historiografis menyebut keberadaan satuan pengawal perempuan di bawah seorang pemimpin yang disebut Jenderal Keumala Cahaya. Sebagian anggotanya bertugas sebagai kawal kehormatan istana.[1]

Catatan pelancong Eropa abad ke-17 juga memberikan keterangan mengenai perempuan bersenjata dan pengawal perempuan di lingkungan istana Aceh, meskipun kesatuan-kesatuan tersebut tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai kelanjutan langsung Inong Balee.[5]

Historiografi

Riwayat Inong Balee berkaitan erat dengan persoalan sumber mengenai Malahayati. Banyak unsur cerita yang sekarang dikenal luas berasal dari karya sejarah lokal dan biografi yang terbit pada abad ke-20.

Sumber sezaman paling penting adalah catatan John Davis pada 1599. Davis menyebut bahwa Sultan Aceh mempunyai seorang perempuan sebagai laksamana, tetapi tidak memberi nama perempuan itu dan tidak menyebut Inong Balee.[4]

Clavé-Çelik membandingkan narasi Malahayati dengan laporan perjalanan Eropa dan menunjukkan bahwa kisah mengenai Malahayati, pembunuhan Cornelis de Houtman, serta sejumlah rincian kehidupan dan pasukannya tidak ditemukan dalam laporan sezaman yang biasanya dijadikan rujukan.[5]

Pada abad ke-20, cerita Malahayati dan Inong Balee dikembangkan antara lain dalam karya A. Hasjmy, Rusdi Sufi, Emi Suhaimi, Solichin Salam, dan penulis lain. Karya-karya tersebut kemudian menjadi sumber bagi publikasi pemerintah, buku populer, media, dan representasi budaya mengenai Inong Balee.[5]

Kajian arkeologi juga menghasilkan kesimpulan yang berbeda tingkat kepastiannya. Sutrisna pada 2006 menggunakan Benteng Inong Balee sebagai bagian dari rekonstruksi sejarah Malahayati, sedangkan Soedewo sebelumnya menekankan bahwa hubungan benteng dengan Malahayati dan pasukannya belum dapat dipastikan secara langsung melalui data arkeologi.[1][2]

Perbedaan tersebut tidak membuktikan bahwa tidak pernah terdapat perempuan bersenjata di Aceh. Catatan Davis memberikan bukti sezaman tentang keberadaan seorang laksamana perempuan, sedangkan sumber abad ke-17 juga mencatat perempuan dalam lingkungan penjagaan istana. Persoalan historiografisnya terletak pada hubungan antara bukti tersebut dengan nama, struktur, jumlah, dan kegiatan satuan yang kemudian disebut Inong Balee.[5]

Penggunaan nama pada masa konflik Aceh

Istilah Inong Balee digunakan kembali dalam konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia. Dalam konteks tersebut, istilah itu merujuk kepada perempuan yang terlibat dalam jaringan atau satuan GAM dan tidak terbatas pada perempuan yang berstatus janda.[5][7]

Fatma Susanti menulis bahwa dalam penggunaan kontemporer, anggotanya mencakup janda, perempuan yang sudah menikah, dan perempuan yang belum menikah. Ia menempatkan kemunculan satuan yang menggunakan nama tersebut sekitar akhir 1980-an dan mengaitkan penggunaan nama Inong Balee dengan Panglima GAM Abdullah Syafei.[7]

Clavé-Çelik membahas Inong Balèë kontemporer sebagai perempuan yang terlibat dalam konflik Aceh 1976–2005 dan menunjukkan bahwa posisi mereka tidak selalu mendapat pengakuan yang sama dalam proses reintegrasi pascakonflik.[5]

Penggunaan nama tersebut merupakan pengambilan simbol dan istilah dari historiografi Aceh lama. Tidak terdapat dasar untuk menganggap satuan perempuan GAM sebagai kelanjutan organisasi dari Inong Balee Kesultanan Aceh.

Dalam budaya populer

Inong Balee telah muncul dalam sejumlah karya yang mengambil tema Malahayati dan sejarah maritim Aceh.

Pada 19 Maret 2022, Gema Citra Nusantara bersama Papatong Artspace mementaskan drama musikal Keumalahayati – Laskar Inong Balee di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan tersebut mengambil latar peperangan Aceh–Portugis, kematian suami Malahayati, dan pembentukan Inong Balee.[13]

Kisah Inong Balee juga menjadi bagian dari pertunjukan teater Jalasena Laksamana Malahayati yang dipentaskan pada 2023. Produksi tersebut menampilkan Malahayati, lingkungan istana Aceh, dan pasukan perempuan dalam dramatiasi riwayat hidupnya.

Pada 2026, Manara Films memproduksi film aksi sejarah-fantasi Pasukan 1000 Janda yang terinspirasi oleh Malahayati dan Inong Balee. Film tersebut ditulis dan disutradarai Archie Hekagery, dengan Atiqah Hasiholan sebagai Malahayati.[14]

Teaser film diluncurkan pada September 2026. Film tersebut dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 12 November 2026. Produksinya menyatakan bahwa cerita menggunakan pendekatan historical fantasy action, sehingga unsur-unsur dalam film tidak dimaksudkan sebagai rekonstruksi dokumenter seluruh peristiwa sejarah.[15]

Warisan nama

Nama Inong Balee tetap digunakan dalam penulisan sejarah, kegiatan kebudayaan, dan penamaan tempat di Aceh. Benteng Inong Balee di Lamreh merupakan situs yang paling erat dikaitkan dengan nama tersebut.

Penggunaan kembali istilah Inong Balee oleh perempuan GAM pada akhir abad ke-20 menunjukkan bahwa nama tersebut juga memperoleh makna politik baru dalam konflik Aceh modern. Dalam penggunaan sehari-hari bahasa Aceh, inong balee tetap mempunyai arti dasarnya sebagai perempuan yang berstatus janda.[6]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Soedewo, Ery (2001). "Para Wanita di Medan Laga: Sebuah Tinjauan Sosio-Religi terhadap Peran Wanita di Dunia Kemiliteran". Berkala Arkeologi Sangkhakala (9). Balai Arkeologi Medan: 20–29. ISSN 1410-3974.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Sutrisna, Deni (2006). "Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam". Berkala Arkeologi Sangkhakala. 9 (18): 8–15. doi:10.24832/bas.v9i18.339.
  3. 1 2 3 4 5 Hasbullah (2017). "Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati: Dari Kedatangan Houtman hingga Pembebasan Iskandar Muda". Haba (85). Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh: 7–15. ISSN 1410-3877.
  4. 1 2 3 4 Davis, John (1880). Markham, Albert Hastings (ed.). The Voyages and Works of John Davis, the Navigator. London: Hakluyt Society. hlm. 150.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Clavé-Çelik, Elsa (2014). "Silenced Fighters: An Insight into Women Combatants' History in Aceh (17th–20th c.)". Archipel. 87: 273–306. doi:10.3406/arch.2014.4465.
  6. 1 2 Daud, Bukhari; Durie, Mark (1999). Kamus Basa Acèh = Kamus Bahasa Aceh = Acehnese-Indonesian-English Thesaurus. Pacific Linguistics Series C. Vol. 151. Canberra: Pacific Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University. doi:10.15144/PL-C151. ISBN 0-85883-506-1.
  7. 1 2 3 4 Susanti, Fatma (2015). "Pasukan Inong Balee dalam Sejarah Aceh". Haba (77). Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh: 28–33. ISSN 1410-3877.
  8. 1 2 Lombard, Denys (1991) [1967]. Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Diterjemahkan oleh Arifin, Winarsih (Edisi 2). Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 979-407-310-5.
  9. 1 2 Pewara, Adi (1991). Malahayati: Singa Betina dari Aceh. Surabaya: Karya Anda.
  10. ↑ Moerdopo, Endang (2008). Perempuan Keumala: Sebuah Epos untuk Nanggroe. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 9789790254770.
  11. 1 2 Salam, Solichin (1995). Malahayati: Srikandi dari Aceh. Jakarta: Gema Salam.
  12. ↑ Hermaliza, Essi (2014). Aceh "Pungoe": Karakter di Balik Istilah Provokatif. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh. ISBN 978-602-9457-34-6.
  13. ↑ "Drama Musikal Keumalahayati - Laskar Inong Balee". ANTARA. 21 Maret 2022.
  14. ↑ Asnurida, Rani (24 Februari 2026). "Sinopsis Film Pasukan 1000 Janda, Adaptasi Kisah Laksamana Malahayati". IDN Times.
  15. ↑ Muchsen, Fachrul (18 September 2026). "Pasukan 1000 Janda Tayang 12 November 2026". DemiFilm.{{cite web}}: |url= tidak ada atau kosongPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Daftar pustaka

  • Clavé-Çelik, Elsa (2014). "Silenced Fighters: An Insight into Women Combatants' History in Aceh (17th–20th c.)". Archipel. 87: 273–306. doi:10.3406/arch.2014.4465.
  • Daud, Bukhari; Durie, Mark (1999). Kamus Basa Acèh = Kamus Bahasa Aceh = Acehnese-Indonesian-English Thesaurus. Pacific Linguistics Series C. Vol. 151. Canberra: Pacific Linguistics. doi:10.15144/PL-C151. ISBN 0-85883-506-1.
  • Davis, John (1880). Markham, Albert Hastings (ed.). The Voyages and Works of John Davis, the Navigator. London: Hakluyt Society.
  • Hasbullah (2017). "Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati: Dari Kedatangan Houtman hingga Pembebasan Iskandar Muda". Haba (85). Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh: 7–15.
  • Hermaliza, Essi (2014). Aceh "Pungoe": Karakter di Balik Istilah Provokatif. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh. ISBN 978-602-9457-34-6.
  • Lombard, Denys (1991) [1967]. Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Diterjemahkan oleh Arifin, Winarsih (Edisi 2). Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 979-407-310-5.
  • Salam, Solichin (1995). Malahayati: Srikandi dari Aceh. Jakarta: Gema Salam.
  • Soedewo, Ery (2001). "Para Wanita di Medan Laga: Sebuah Tinjauan Sosio-Religi terhadap Peran Wanita di Dunia Kemiliteran". Berkala Arkeologi Sangkhakala (9). Balai Arkeologi Medan: 20–29.
  • Susanti, Fatma (2015). "Pasukan Inong Balee dalam Sejarah Aceh". Haba (77). Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh: 28–33.
  • Sutrisna, Deni (2006). "Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam". Berkala Arkeologi Sangkhakala. 9 (18): 8–15. doi:10.24832/bas.v9i18.339.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan