Selasa, 03 November 2026
16:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Kerajaan Sawitto

kerajaan di Asia Tenggara

Bagikan:

Kerajaan Sawitto adalah salah satu kerajaan yang tergabung dalam konfederasi Ajatappareng.[1] Wilayah kekuasaannya berada di pesisir barat Sulawesi Selatan.[2] Wilayahnya merupakan persawahan, sehingga masyarakatnya bekerja sebagai petani.[3] Kerajaan Sawitto didirikan oleh bangsawan keturunan dari Simbuang, Toraja bagian barat. Dalam perkembangannya, Kadatuan Sawitto mengalami pem-Bugis-an melalui konflik maupun melalui pernikahan para bangsawan kerajaan-kerajaan di Sulawesi bagian selatan. Pemerintah Kerajaan Sawitto meninggalkan peninggalan arkeologi berupa benteng tanah dan istana.[4] Selain itu, juga ditemukan peninggalan berupa tempayan, makam, masjid dan keramik.[5]

Kehidupan Masyarakat

Masyarakat Kerajaan Sawitto bekerja sebagai petani, karena wilayahnya merupakan persawahan yang sangat luas. Pertanian dilakukan di Tiroang, Rangamea, Loloang, dan Langnga. Tanaman pertanian yang ada meliputi padi, ubi, kacang, dan wijen.[3]

Politik

Kerajaan Sawitto tergabung dalam konfederasi Ajatappareng. Dalam konfederasi ini, Kerajaan Sawitto bersekutu dengan Kerajaan Sidenreng, Kerajaan Rappang, Kedatuan Suppa dan Kerajaan Alitta. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya, menegaskan persatuan dan persaudaraan serta menjadi kekuatan dalam menghadapi serangan dari kerajaan-kerajaan lain.[6] Kerajaan Sawitto juga membangun kerja sama dalam bidang pertahanan dan keamanan dengan persekutuan Massenrengpulu.[7]

Kerajaan Sawitto dan Kedatuan Suppa kemudian bekerja sama untuk menguasai daerah-daerah di pesisir barat Sulawesi Selatan. Tujuannya adalah menjadikan Kerajaan Suppa sebagai bandar perdagangan terbesar di pesisir barat Sulawesi Selatan. Dalam hal ini keduanya menguasai daerah Leworeng, Lemo-Lemo, Bulu Kapa, Bonto-Bonto, Bantaeng, Segeri, dan Passokoreng. Selain itu, keduanya juga menaklukkan daerah Baroko, Mamuju, Kaili, Kali dan Toli-Toli.[2]

Kelima raja yang membuat Konfederasi Ajatappareng pada dasarnya saling berkerabat karena terjadinya pernikahan antar para bangsawan, termasuk Kerajaan Sawitto. Selama pendiriannya, Kerajaan Sawitto telah dipimpin oleh 25 orang raja dengan 9 di antaranya adalah perempuan.[8] Kerajaan Sawitto juga menjalin pernikahan politik dengan anggota Konfederasi Ajatappareng yaitu Kedatuan Suppa, Kerajaan Sidenreng, dan Kerajaan Alitta. Selain itu, kerajaan Sawitto menjalin pernikahan politik dengan Kerajaan Bone, Kerajaan Soppeng, Kerajaan Wajo, Kerajaan Tanete, dan Kerajaan Balanipa.[9]

Peninggalan Arkeologi

Peninggalan arkeologi yang berkaitan dengan pemerintah Kerajaan Sawitto berupa benteng tanah dan istana kerajaan. Benteng tanah ini berbentuk lingkaran. Bentuknya sudah berubah akibat dijadikan sebagai pematang sawah dan persawahan. Istana Kerajaan Sawitto sendiri berada di jalan poros Pinrang-Sidenreng Rappang. Istana ini sebelumnya terbuat dari kayu, tetapi telah diperbaiki dan keseluruhan bangunannya diganti dengan bahan batuan.[4]

Kerajaan Sawitto juga memiliki peninggalan arkeologi yang berhubungan dengan masyarakatnya, yaitu:[5]

  1. Tempayan kremasi yang ditemukan pada sebuah makam kuno di Kelurahan Memorang.
  2. Makam-makam di kompleks makam Latenri Tatta Matinroe.
  3. Masjid Lapamessang yang didirikan pada tahun 1750 M di Desa Lapamessang. Bentuknya persegi empat dengan atap tumpang.
  4. Keramik dari Dinasti Yuan (abad 13-14), keramik Sawankhalok (abad 14-16) dan keramik Dinasti Ming (abad 15-16).

Referensi

Daftar Pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan