Sabtu, 24 Oktober 2026
04:55 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Islam di Kalimantan Timur

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:

Islam di Kalimantan Timur adalah agama mayoritas di provinsi ini. Menurut Kementerian Dalam Negeri (2021), terdapat 3.320.000 Muslim di provinsi tersebut yang membentuk 87.41% dari populasi Kalimantan Timur.[1]

Sejarah

Diterimanya Islam dan kesultanan Islam

Masuknya Islam di Kalimantan timur di mulai pada abad ke – 17, berawal dari Kerajaan Bajar yang berasal dari Kalimantan selatan yang di komandai oleh Dato Ribandang dan Tuan Tunggang Parangan. Ekspedisi mereka berjalan dengan lancar, setelah itu Dato Ribandang kembali ke Makassar dan Tuan Tunggang Parangan menetap di Kutai, pada masa ini lah Raja Mahkota mulai menganut ajaran Islam. Selain daerah ini, Islam juga datang dari arah Timur, yang di bawah oleh pedagang Bugis-Makassar. Islam yang datang diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai dan kemudian berubah menjadi kesultanan pada abad ke-18. Sultan pertama yang memerintah di Kesultanan Kutai adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1732-1739).

Pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Idris, beliau pergi ke Sulawesi Selatan untuk menolong rakyat Sulawesi yang sedang berperang melawan penjajahan Belanda. Sehingga tahta kesultanan Kutai direbut oleh Aji Kado yang resmi menjadi Sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyuddin (1739-1780). Tahta kesultanan kutai sebenarnya akan diberikan kepada Aji Imbut putra mahkota Sultan Aji Muhammad Idris , tetapi karena usianya yang masih belia, Aji Kado mengambil alih kesultanannya.

Setelah Aji Imbut dewasa dan dinobatkan sebagai Sultan Kutai denga gelar Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816). Sejak itu dimulai perlawanan terhadap Aji Muhammad Aliyuddin. Karena Aji Muhammad Muslihuddin mendapat bannyak bantuan dari rakyat sehingga ia dapat memenangi perlawanan tersebut, dan akhirnya Aji Muhammad Aliyuddin dihukum mati.

Dalam kesultanan Kutai Islam dijadikan sebagai agama resmi Negara. Para ulama mendapat kedudukan terhormat sebagai penasehat sultan dan pejabat-pejabat kesultanan, di samping sebagai hakim. Hukum Islam diberlakukan dalam menyelesaikan perkara perdata dan keluarga. Sehingga ajaran Islam sangat berpengaruh di daerah tersebut.

Masa kejayaan Kesultanan Kutai ialah pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Muslihuddin (1739-1782) dan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salihuddin (1782-1850). Pada masa itu Kesultanan Kutai tampi sebagai daerah maritim yang memiliki armada pelayaran yang meramikan perdagangan. Hasil rempah yang di hasilkan Kesultanan Kutai diantaranya adalah lada, kopi, kopra dan rempah-rempah. Sedangkan barang yang masuk ke daerah Kutai yaitu sutra, porselin dan lain-lain. Para pedagang dari Kesultanan Kutai sangat aktif berlayar di Kepulauan Nusantara, bahkan sampai ke Singapura, Filipina, dan Tiongkok.

Keruntuhan Kesultanan Kutai

Mundurnya Kerajaan Kutai diawali dengan kontaknya dengan bangsa Eropa pada tahun 1844, ketika kapal Inggris di bawah pimpinan Erskine Murray datang ke wilyah ini. Rakyat Kutai merasa tidak senang dengan kesombongan orang-orang Inggris tersebut, sehingga rakyat Kutai melakukan perlawanan terhadap orang-orang Inggris. Dalam perlawanan itu rakyat Kutai mencapai kemenangan, bahkan Erskine Murray mati terbunuh dalam peristiwa ini.

Ketika Belanda datang dari Makassar dan menyerang Tenggarong yang merupakan sebagai pusat Kesultanan Kutai, akhirnya dapat dikuasai oleh bangsa Eropa. Tenggarong berhasil dihancurkan Belanda pada tahun 1844. Sultan Muhammad Salihuddin terpaksa melakukan perjanjian damai, yang dikenal dengan perjanjian Tepian Pandat Traktat. Perjanjian ini merupakan akhir dari kemerdekaan Kutai, karena setelah perjanjian tersebut Kesultanan Kutai tunduk di bawah residen Belanda[2]

Demografi

Tempat ibadah

Tabel ini menyajikan jumlah masjid dan mushola per kota/kabupaten di Kalimantan Timur menurut BPS Kalimantan Timur (2020)[3]

Kota/kabupaten Masjid Mushola
Paser 356 166
Kutai Barat 135 106
Kutai Kartanegara 802 902
Kutai Timur 462 374
Berau 211 152
Penajam Paser Utara 197 206
Mahakam Ulu 1 16
Kota Balikpapan 457 276
Kota Samarinda 391 724
Kota Bontang 122 51
TOTAL 3.134 2.973

Distribusi geografi

Tabel ini menyajikan persentase dan populasi Muslim per kota/kabupaten menurut data Kementerian Dalam Negeri per 31 Desember 2024.[4]

Kota/kabupaten Muslim %
Paser 288.245 93,08%
Kutai Barat 89.872 48,17%
Kutai Kartanegara 744.039 92,20%
Kutai Timur 366.386 81,63%
Berau 252.241 84,36%
Penajam Paser Utara 191.257 94,65%
Mahakam Ulu 9.678 24,70%
Kota Balikpapan 682.954 90,17%
Kota Samarinda 804.197 91,26%
Kota Bontang 172.307 89,83%
TOTAL 3.600.816 87,33%

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Kusnandar, Viva Budy. "Sebanyak 87% Penduduk Kalimantan Timur Beragama Islam pada Juni 2021". Katadata. Diakses tanggal 2022-01-06.
  2. ↑ "Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Timur". Kota Islam (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-06.
  3. ↑ "Badan Pusat Statistik". kaltim.bps.go.id. Diakses tanggal 2022-01-06.
  4. ↑ "Visualisasi Data Kependudukan". gis.dukcapil.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-06-12.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan