Minggu, 11 Oktober 2026
02:00 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober
Kesultanan Demak

Kesultanan Demak

kerajaan 1478-1554 di Asia Tenggara

Bagikan:
Kesultanan Demak
ꦏꦱꦸꦭ꧀ꦠꦤꦤ꧀ ꦢꦼꦩꦏ꧀  (Jawa)
کسلطانن دمق (Pegon)
1475–1568
Koin Raden Patah, kemungkinan dicetak sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Koin tersebut dipajang di Museum Uang Sumatera di Medan. Depan: سلطان دمق فقرن الفـَـاتح (Sultan Demak Pangeran al-Fatih (Raden Patah)), Belakang: محمد صل وسلم عليه (selawat); keduanya ditulis dalam aksara perso-arab. Demak
Koin Raden Patah, kemungkinan dicetak sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Koin tersebut dipajang di Museum Uang Sumatera di Medan. Depan: سلطان دمق فقرن الفـَـاتح (Sultan Demak Pangeran al-Fatih (Raden Patah)), Belakang: محمد صل وسلم عليه (selawat); keduanya ditulis dalam aksara perso-arab.[2]
Jangkauan operasi militer Demak yang diketahui hingga masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521–1546)
Jangkauan operasi militer Demak yang diketahui hingga masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521–1546)
StatusNegara bawahan Majapahit
(1475–1478)
Kerajaan
(1478–1546)
Ibu kotaBintoro
Bahasa umumJawa
Agama Islam Sunni
PemerintahanKesultanan
Sultan 
• 1475–1518 1
Raden Patah
• 1518–1521
Pati Unus
• 1521–1546
Trenggana
• 1546–1549
Sunan Prawoto
• 1549–1568
Arya Penangsang
Sejarah 
• Pendirian kota pelabuhan Demak
1475
• Ibu kota Demak dipindahkan ke Pajang oleh Sultan Hadiwijaya
1568
Didahului olehDigantikan oleh
Majapahit
kslKesultanan
Pajang
krjKerajaan
Kalinyamat
kslKesultanan
Palembang
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
250px-Nicolaes_Visscher_Indiae_Orientalis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kerajaan Kutai 400–1635
Tarumanagara 450–600
Kerajaan Kalingga 500–782
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–1957
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Garis waktu
20px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalIndonesia

Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa yang berdiri pada perempat akhir abad ke-15 di Demak. Demak sebelumnya merupakan Kadipaten Majapahit yang telah melemah saat itu untuk beberapa tahun, sebelum melepaskan diri. Dalam cerita tradisional Jawa yang muncul di kemudian hari, kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah, yang diklaim sebagai keturunan dari keluarga dinasti Majapahit.[3][4]

Demak memainkan peran penting dalam mengakhiri kekuasaan Majapahit dan penyebaran Islam di Jawa.[5] Sepanjang awal hingga pertengahan abad ke-16, Demak berada pada puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Trenggana. Pada masanya, ia melakukan penaklukkan ke pelabuhan-pelabuhan utama di Pulau Jawa hingga ke pedalaman yang mungkin belum tersentuh Islam.[6] Salah satu pelabuhan yang ditaklukkan Demak adalah Sunda Kelapa, yang pada waktu itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Hubungan aliansinya dengan Imperium Portugal sejak 1511 menjadi ancaman bagi Demak. Pada 1527, pasukan dari Kesultanan Demak dan Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah melancarkan serangan sukses ke Sunda Kelapa yang memukul mundur Portugal dan Sunda. Fatahillah kemudian mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta.[7] Dan Sebelumnya Pada Tahun 1523 Kesultanan Demak dan Pasukan Cirebon berhasil Merebut Girang Bantam Dari Kerajaan Pajajaran Dan Kesultanan Demak Menguasaii luar Jawa, Demak memiliki kekuasaan atas Jambi dan Palembang di Sumatra bagian timur.[8]

Kerajaan mulai mengalami kemunduran ketika Trenggana terbunuh dalam perang melawan Panarukan pada 1546. Sunan Prawoto kemudian naik takhta menggantikannya, tetapi dibunuh pada 1547 oleh suruhan Arya Panangsang, penguasa Jipang yang ingin menjadi raja Demak.[9] Perang perebutan takhta segera terjadi dan berakhir dengan dibunuhnya Arya Penangsang oleh Joko Tingkir, penguasa Pajang, sebagai hukuman. Joko Tingkir kemudian memindahkan Ibukota Kerajaan Demak ke Pajang, tempat kekuasaannya, dan pad tahun 1554 mendirikan Kesultanan Pajang.[7][10]

Toponimi

Demak bermula dari pemukiman yang bernama Bintoro. Pemukiman ini aslinya adalah hutan yang dibuka oleh Raden Patah setelah ia berguru pada Sunan Ampel dan menjadi menantunya. Di hutan tersebut, terdapat rumput gelagah yang baunya wangi. Karena itu, tempat tersebut juga dikenal dengan nama Glagahwangi.[11]

Ada beberapa usul mengenai asal-usul nama Demak. Menurut Poerbatjaraka, namanya berasal dari bahasa Jawa yaitu delemak yang berarti "rawa". Menurut Hamka, namanya berasal dari bahasa Arab yaitu dimak yang berarti "mata air" (atau "air mata"). Menurut sejarawan lainnya, yaitu Sutjipto Wiryosuparto, namanya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Kawi yang berarti "hadiah" atau "pusaka".[12]

Sejarah

Pendirian

Asal-usulnya tidak dapat diketahui dengan jelas. Sejarawan M. C. Ricklefs menulis bahwa Demak tampaknya didirikan pada bagian akhir 1400-an oleh seorang Muslim luar, kemungkinan seorang Tionghoa, yang mungkin bernama Cek-ko-po. Anaknya mungkin adalah orang yang disebut oleh Tomé Pires, dalam Suma Oriental, sebagai "Rodim".[8][13]

Cerita tradisional Mataram yang lebih populer menceritakan bahwa Demak didirikan oleh Raden Patah, anak raja Majapahit terakhir [3][14] Meskipun sejarawan T.G.Th. Pigeaud dan H. J. de Graaf menyatakan bahwa ceritanya tidak dapat dipercaya, mereka menyimpulkan bahwa nenek moyang para penguasa Demak tampaknya merupakan seorang pendatang Muslim asal Tiongkok yang pertama kali mendarat di Gresik dan kemudian menetap di Demak.[15]

Penaklukkan militer

Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Kemudian beberapa kali ia mengirimkan armada lautnya untuk menyerang Portugis di Malaka.[16]

Di bawah Trenggana

Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawahnya, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), serta wilayah-wilayah bekas Majapahit di Jawa Timur seperti Tuban (1527), Madura (1528), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527–1529), Kediri (1529), dan Malang (1529–1545.

Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Panarukan, Situbondo, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. Dengan demikian Demak belum menyentuh wilayah Kerajaan Blambangan.

Salah seorang panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatra), yang juga menjadi menantu raja Trenggana. Sementara Maulana Hasanuddin putra Sunan Gunung Jati diperintah oleh Trenggana untuk menundukkan Banten Girang. Kemudian hari keturunan Maulana Hasanudin menjadikan Banten sebagai kerajaan mandiri. Sedangkan Sunan Kudus merupakan imam di Masjid Demak juga pemimpin utama dalam penaklukan Majapahit sebelum pindah ke Kudus.[17]

Kemunduran

Suksesi raja Demak ketiga tidak berlangsung mulus, terjadi persaingan panas antara Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar dan Trenggana yang berlanjut dengan di bunuhnya Pangeran Surowiyoto oleh Sunan Prawoto (anak Trenggana). Peristiwa ini terjadi di tepi sungai saat Surowiyoto pulang dari Masjid sehabis sholat Jum'at. Sejak peristiwa itu Surowiyoto dikenal dengan sebutan Sekar Sedo Lepen yang artinya sekar gugur di sungai. Pada tahun 1546 Trenggana wafat dan tampuk kekuasaan dipegang oleh Sunan Prawoto, anak Trenggana, sebagai raja Demak keempat, akan tetapi pada tahun 1547 Sunan Prawoto dan isterinya dibunuh oleh Rungkud pengikut Pangeran Arya Penangsang, putra Pangeran Surowiyoto. Pangeran Arya Penangsang adalah Adipati Jipang pada waktu itu, Adipati Arya Penangsang adalah murid terkasih dari Sunan Kudus. Diceritakan bahwa Pengikut Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri, penguasa Jepara atau Kalinyamat (Suami Ratu Kalinyamat). Hal ini menyebabkan adipati-adipati di bawah Demak memusuhi Pangeran Arya Penangsang, salah satunya adalah menantu Sultan Trenggono Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.

Puncak dari peristiwa ini Arya Penangsang dibunuh oleh Sutawijaya anak angkat Joko Tingkir yang tergabung dalam Pasukan Pajang saat menyerang Jipang. Dengan terbunuhnya Arya Penangsang, maka berakhirlah era Kesultanan Demak. Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang dan mendirikan Kerajaan Pajang atau Kesultanan Pajang. Usia kerajaan ini tidak panjang yaitu hanya berumur 79 tahun.

Klaim pendirian kembali

Pada tahun 7 Oktober 2009, Raden Suminto Joyokusumo yang dikenal sebagai Ketua Yayasan Keraton Glagahwangi Dhimak mengklaim pendirian kembali Demak dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.[18]

Ekonomi

250px-MUS_Koin_Kesultanan_Demak_1475-1518%3B_3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-MUS_Koin_Malaka-Portugis_1511-1641%3B_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-MDDS_06.0001_Koin_Cina_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Contoh koin yang pernah digunakan di
Kesultanan Demak: Koin lokal Demak (atas),
koin Melaka Portugis (tengah), dan koin
Dinasti Ming (bawah).

Tomé Pires pada abad ke-16 mencatat bahwa komoditas utama yang menjadi ekspor Demak adalah beras, rempah-rempah, dan buah-buahan. Tujuan ekspor komoditas tersebut adalah Melaka dan Maluku yang diangkut dengan jung dan penjajap. Pires juga mencatat bahwa Demak telah menjadi tempat penimbunan padi yang berasal dari daerah-daerah pertanian di sekitarnya. Peranannya dalam menjadi pusat kegiatan ekonomi pertanian semakin penting setelah keruntuhan Juwana pada 1513. Selain itu, perbudakan juga disebut Pires sebagai salah satu komoditas Demak, tetapi tidak diketahui apakah perdagangan budak masih terjadi pada masa itu. Demak juga melakukan kegiatan impor berupa hewan-hewan dan pakaian dari Melaka, Gujarat, dan Benggala.[19]

Sistem perekonomian Demak juga didukung dengan penggunaan mata uang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebuah Berita Tiongkok dari awal abad ke-15 menyebutkan bahwa mata uang tembaga dari Tiongkok umum digunakan sebagai mata uang di Jawa. Pires juga mencatat demikian, dan selain itu mencatat bahwa mata uang Portugis juga dikenal dan disukai oleh orang Jawa. Terdapat juga mata uang lokal Jawa, yang disebut Pires sebagai tumdaya atau tael.[20]

Daftar Sultan dan Pejabat

Daftar Sultan

No. Sultan Mulai Jabatan Akhir Jabatan Jabatan
Sebelumnya
Termuat Dalam
1. Raden Patah (Pate Rodim) [21] 1478 1504 Adipati Demak *Babad Tanah Jawi *Suma Oriental
2. Trenggana[21] 1505 1518 *Babad Tanah Jawi *Suma Oriental
3. Pati Unus[21] 1518 1521 Adipati Jepara *Babad Tanah Jawi *Suma Oriental
4. Trenggana 1521 1546 *Babad Tanah Jawi *Suma Oriental
5. Sunan Prawoto[21] 1546 1547 *Babad Tanah Jawi*kronik Tiongkok
6. Arya Penangsang 1547 1554 Adipati Jipang Babad Tanah Jawi

Daftar Panglima Perang

NamaJabatanTermuat Dalam
Sunan NgudungPanglima Perang Ke-I Babad Tanah Jawi
Sunan KudusPanglima Perang Ke-II Babad Tanah Jawi
Pati UnusPanglima Perang Ke-III Babad Tanah Jawi
FatahillahPanglima Perang Ke-IV Babad Tanah Jawi

Daftar Kepala Daerah

NamaJabatanTermuat Dalam
Sunan Ampel Adipati Surabaya (Kabupaten Surabaya) Sedjarah Regent Soerabaja
Pati UnusAdipati Jepara ( Kabupaten Jepara ) Babad Tanah Jawi
Ratu KalinyamatAdipati Kalinyamat ( Kabupaten Jepara ) Babad Tanah Jawi
Ki Ageng PenggingAdipati Pengging (Kabupaten Boyolali ) Babad Tanah Jawi
Joko TingkirAdipati Pajang ( Kota Surakarta ) Babad Tanah Jawi
Arya PanangsangAdipati Jipang (Kabupaten Blora ) Babad Tanah Jawi
Raden KusenAdipati Terung (Kabupaten Sidoarjo ) Babad Tanah Jawi
Ki Ageng Pandan ArangAdipati Pandanaran I ( Kota Semarang ) Babad Tanah Jawi
Sunan BayatAdipati Pandanaran II ( Kota Semarang ) Babad Tanah Jawi

Galeri

  • Bagian dalam Masjid Agung Demak yang terdapat saka guru atau empat tiang kayu utama. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Vernakular Jawa.
    Bagian dalam Masjid Agung Demak yang terdapat saka guru atau empat tiang kayu utama. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Vernakular Jawa.
  • Masjid Agung Demak yang dibangun pada akhir abad ke-15  dan merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak.
    Masjid Agung Demak yang dibangun pada akhir abad ke-15 dan merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak.

Lihat pula

Referensi

  1. "Mata Uang Picis Demak Abad ke-15". Laduni.id. Diakses tanggal 11 Maret 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Mata Uang Picis Demak Abad ke-15". Laduni.id. Diakses tanggal 11 Maret 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Ricklefs 2008, hlm. 70.
  4. ↑ Raffles 1817, hlm. 127.
  5. ↑ Ooi 2004, hlm. 864.
  6. ↑ Ricklefs 2008, hlm. 71.
  7. 1 2 Ooi 2004, hlm. 410.
  8. 1 2 Cortesão 1944, hlm. 154-155.
  9. ↑ Raffles 1817, hlm. 153–154.
  10. ↑ Pigeaud & De Graaf 1976, hlm. 9.
  11. ↑ Ramelan 1997, hlm. 54.
  12. ↑ Amar 1996, hlm. 14. sfn error: tanpa target: CITEREFAmar1996 (bantuan)
  13. ↑ Ricklefs 2008, hlm. 69.
  14. ↑ Pigeaud & De Graaf 1976, hlm. 7.
  15. ↑ Pigeaud & De Graaf 1976, hlm. 6–7.
  16. ↑ Cortesão 1944.
  17. ↑ Ricklefs 2008.
  18. ↑ Kompasiana.com (2013-09-11). "Mengenal Sultan Demak II". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-17.
  19. ↑ Ramelan 1997, hlm. 64–70.
  20. ↑ Ramelan 1997, hlm. 70–71.
  21. 1 2 3 4 Hägerdal, Hans (2023-02-01), Kerajaan-kerajaan Indonesia (dalam bahasa Inggris), hlm. 83, diakses tanggal 2025-06-05

Daftar Pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan