Senin, 28 September 2026
15:48 WIB
TERKINI
Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan
Joko Tingkir

Joko Tingkir

pendiri dan raja pertama Pajang

Sultan Abdurrohman
lossy-page1-250px-Prince_Raden_Jaka_Tingkir_killing_a_buffalo_under_watch_of_the_Sultan_of_Demak_and_his_retinue_Or._26.639%2C_Or._7398_2.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan klasik Jawa, Joko Tingkir sedang membunuh seekor kerbau di bawah pengawasan Sultan Demak (kemungkinan Sultan Trenggana).
GelarSultan Hadiwijaya
Nasabbin Ki Ageng Pengging
LahirMas Karebet
1554
40px-Id-siak1.GIF?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Pengging, Kesultanan Demak
Meninggal1582
Kesultanan Pajang
Dimakamkan diGedongan, Plupuh, Sragen, Kabupaten Sragen
Nama lainJoko Tingkir
Kebangsaan
DenominasiSunni
Murid dariKi Ageng Pengging, Sunan Kalijaga, dan Guru-gurunya
Pendiri Kesultanan Pajang
1554 - 1582
PendahuluArya Penangsang (Sultan Terakhir Demak)
PenerusArya Pangiri
IstriRatu Mas Cempaka binti Sultan Trenggono
Keturunan
  • Istri Arya Pangiri
  • Istri Arya Pamalad Tuban
  • Istri Raden Pratanu Madura
  • Istri Panji Wiryakrama Surabaya
  • Ratu Glampok Raras Istri (Panembahan Ratu I)
  • Putri Sekar Kedhaton (Kekasih Raden Pabelan)
  • Pangeran Benawa (Putra Mahkota)
Orang tuaKi Ageng Pengging (ayah)
Raden Ajeng Tajug Inten (ibu)

Joko Tingkir, atau kadang ditulis Jaka Tingkir, adalah pendiri dan Sultan pertama Kesultanan Pajang. Ia memerintah dari tahun 1549 hingga 1582. Ia juga dikenal dengan gelar Sultan Adiwijaya.

Asal Usul

Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, lahir pada tanggal 18 Jumadil Akhir tahun Dal mangsa VIII menjelang subuh. Diceritakan bahwa ia lahir ketika Ki Ageng Pengging sedang menggelar pertunjukan wayang beber dan dalangnya adalah Ki Ageng Tingkir. Wayang beber dikenal juga sebagai wayang krèbèt, karena suaranya yang "kemrèbèt" jika tertiup angin. Oleh karena itu bayi itu diberi nama "Mas Karèbèt" oleh Ki Ageng Tingkir. Kedua Ki Ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.[1]: 135,  [2]: 15–16 

Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula.[1]: 136 

Sejak itu, Mas Karèbèt diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir) yang membuat masa remajanya lebih dikenal dengan nama "Jaka Tingkir". Mas Karebet gemar bertapa, berlatih bela diri dan kesaktian, sehingga tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan tampan, ia lalu dijuluki Jaka Tingkir.[1]: 136–137,  [2]: 15–16,  [3]: 237,  [4]: 245 

Guru pertamanya adalah sang ayah (Ki Ageng Kebo Kenanga), dan sang kakek (Jaka Sengara / Pangeran Andayaningrat / Ki Ageng Pengging Sepuh). Selain berguru kepada ayah dan kakeknya, Jaka Tingkir juga belajar dengan Sunan Kalijaga, dan lalu berguru pada Ki Ageng Sela, yang kemudian dipersaudarakan dengan ketiga murid dari Ki Ageng Sela, yaitu: Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Panjawi.

Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Dalam perguruan ini ada murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.

Keluarga

Silsilah Sultan Hadiwijaya :

AndayaningratRatu Ratna Pembayun
Raden Kebo KenangaRaden Ajeng Tajug Inten
Mas Karebet/Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya)

 

Daftar Menantu

Hadiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban.

Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak sultan Demak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang meneruskan garis suksesi Kesultanan Demak dahulu.[5]

Putrinya yang bernama Glampok Raras menikah dengan Panembahan Ratu I dan menjadi permaisuri Cirebon.[6]

Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (Pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi sultan. Pangeran Benawa sang putra mahkota saat itu disingkirkan tetapi masih diberi jabatan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun lalu menjadi sultan di Pajang dengan gelar Ngawantipura.

Mengabdi ke Demak

330px-Prince_Raden_Jaka_Tingkir_killing_a_buffalo_under_watch_of_the_Sultan_of_Demak_and_his_retinue.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jaka Tingkir membunuh Kebo Danu di bawah pengawasan Sultan Demak dan para pengiringnya

Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Beberapa kejadian menarik mengikuti Jaka Tingkir pada saat mengabdi di Demak. Perlu dicatat bahwa para pujangga zaman dahulu mempunyai kebiasaan (atau semacam kode etik) berupa menghaluskan kisah atas suatu kejadian yang menyangkut raja atau istana yang kurang sepantasnya diceritakan, dengan menggunakan kisah kiasan. Ada beberapa kisah kiasan yang mengikuti perjalanan hidup Jaka Tingkir alias Mas Karebet ini.

Sebelum ke Demak, Jaka Tingkir sempat berguru kepada Ki Ageng Sela di Desa Sela, dekat Grobogan sekarang. Ki Ageng Sela itu masih memiliki darah Kerajaan Majapahit, dan berharap bahwa di antara anak keturunannya nanti akan ada yang menjadi penguasa di Jawa. Untuk itu ia kerap melakukan laku berprihatin dan bertapa. Satu ketika, Ki Ageng Sela mengajak muridnya itu untuk menyepi di ladang padi di hutan Rencoh di barat laut Sela. Dalam tirakatnya itu, Ki Ageng sempat tertidur dan bermimpi pergi akan membuka hutan luas sambil membawa parang. Akan tetapi dalam mimpinya itu, ia justru bertemu dengan Jaka Tingkir yang telah selesai menebas dan membuka hutan besar tersebut. Jaka Tingkir terlihat sedang menyeret kayu-kayu besar yang telah roboh dengan enaknya, ditariknya masing-masing di tangan kanan dan kiri. Terkejut dan kagum, Ki Ageng Sela lalu terbangun dan mendapati Jaka Tingkir masih tertidur di dekatnya.[1]: 138–139 

Merasa memperoleh isyarat dalam mimpi, Ki Ageng lalu membangunkan Jaka Tingkir dan mengajaknya bercakap-cakap. Dari situ Ki Ageng memperoleh firasat bahwa Jaka Tingkir nantinya akan memiliki masa depan gemilang, dan ia lalu menyarankan agar muridnya itu mengabdikan diri kepada Raja di Bintara (Demak). Selain itu, iapun meminta kerelaan Jaka Tingkir, agar pada saatnya anak keturunannya nanti dapat berkuasa menyambung wahyu keraton yang akan diperoleh Jaka Tingkir.[1]: 139–140  Sebagaimana kemudian sejarah mencatat, kelak Sutawijaya --yang merupakan buyut Ki Ageng Sela-- berkuasa di Kerajaan Mataram, menggantikan Jaka Tingkir di Pajang.

Jaka Tingkir kemudian pamit kepada ibu angkatnya, Nyai Ageng Tingkir, untuk berangkat ke Demak. Ibunya mengizinkan, namun memintanya menunda keberangkatannya beberapa hari untuk membantu menyiangi ladang padi gaga. Seharian penuh Jaka Tingkir bekerja di ladang, hingga sore harinya lewat di tepi ladang itu seorang wali yakni Sunan Kalijaga. Melihat Jaka Tingkir yang masih asyik bekerja, Sunan Kalijaga berhenti sejenak dan memanggilnya. "Wahai anakku, berhentilah menyiangi padi. Segera mengabdilah ke Demak. Kamu calon raja yang akan menguasai Tanah Jawa," demikian serunya. Mendengar seruan itu Jaka Tingkir segera pulang dan memberitahu ibunya. Dengan sukacita Nyai Ageng lalu memerintahkan dua orang abdi di rumahnya untuk menemani Jaka Tingkir, dan menyuruh mereka segera berangkat ke Demak. Sesampainya ketiga orang itu di Demak, Jaka Tingkir tinggal di rumah pamannya Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir), atau dikenal pula sebagai Kiai Ganjur, yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat Lurah Sranata[1]: 142  (=Suranata? suatu kelompok alim ulama setengah prajurit).[3]: 77–78 

Di Demak, Jaka Tingkir menarik simpati raja Demak Sultan Trenggana atas suatu kejadian. Di Istana Demak terdapat sebuah kolam yang cukup besar. Pada suatu hari ketika Jaka Tingkir sedang berada di tepian kolam masjid, tiba-tiba pamannya berteriak agar dia (Jaka Tingkir) segera menyingkir dari tempatnya, karena Sultan Trenggana segera lewat. Situasinya saat itu cukup sulit bagi orang biasa untuk menyingkir, karena tidak ada ruang buat menyingkir selain melompati kolam yang cukup lebar, sementara Jaka Tingkir berada dalam posisi berjongkok (karena ada rombongan raja). Seketika Jaka Tingkir dengan sigap segera melompati kolam sambil membelakang (melompat mundur), agar tidak mengubah arah hadapnya terhadap Sultan. Sultan Trenggana sangat terkesan melihat kejadian tersebut, sehingga ia lalu diangkat menjadi kepala pasukan prajurit Demak berpangkat Lurah Wiratamtama.[1]: 142–143  Wira Tamtama (atau Pasukan Tamtama) adalah pasukan elit kerajaan, yang diyakini telah ada sejak zaman Majapahit dan terus dipakai penamaannya hingga kini di keraton-keraton Jawa.[3]: 77 

Ada pula satu cerita kiasan dari pujangga, dikisahkan bahwa suatu hari Jaka Tingkir sebagai lurah Wiratamtama bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir lalu menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas karena ditusuk dadanya hanya dengan menggunakan sadak kinang (yakni alat kecil/ alu penumbuk daun sirih, dalam tradisi makan sirih). Akibatnya, Raja menjadi murka dan Jaka Tingkir pun dipecat dari keprajuritan serta diusir dari Demak.[1]: 144–145 

Kejadian sesungguhnya atas versi kisah kiasan Dadungawuk adalah sebagai berikut. Alkisah Sultan Trenggana mempunyai seorang puteri cantik bernama puteri Cempaka. Bukan Jaka Tingkir kalau tidak mengetahui ini dan tidak dapat menaklukkan hati sang puteri. Secara diam-diam Jaka Tingkir menjalin hubungan dengan puteri Cempaka. Namun tindakan tidak terpuji ini sempat ketahuan, sehingga Jaka Tingkir diusir dari Kerajaan Demak. Dadungawuk adalah kiasan Puteri Cempaka, yang hatinya dikalahkan oleh sadak kinang. Daun sirih, dalam upacara perkawinan adat Jawa adalah perlambang cinta dan kasih sayang antara lelaki dan perempuan.[7]

Dalam mengembara setelah terusir dari Demak, Jaka Tingkir lalu bertemu dengan Ki Ageng Butuh, dan kemudian juga Ki Ageng Ngerang, dua adik seperguruan Ki Ageng Pengging murid-murid Syekh Siti Jenar. Menerima banyak nasihat dari kedua ki ageng itu, Jaka Tingkir kemudian mencoba untuk kembali mengadu peruntungannya ke Demak. Sambil berjalan menuju Demak, Jaka Tingkir kemudian singgah di tempat Ki Buyut Banyubiru untuk belajar. Di sana ia kemudian dipersaudarakan dengan anak-anak angkat Ki Buyut, yakni Ki Mas Manca, Jaka Wila, dan Ki Wuragil. Setelah tiga bulan tinggal di Dukuh Banyubiru, Jaka Tingkir disuruh berangkat ke Parwata atau Prawata (kini Desa Prawoto), yang merupakan hutan perburuan dan tempat pesanggrahan Sultan Demak, dengan dikawani oleh ketiga teman seperguruannya itu. Sebelumnya, Ki Buyut telah memberikan wejangan dan petunjuk-petunjuk agar Jaka Tingkir dapat diterima kembali oleh Baginda di Demak.[1]: 149–150 

Singkatnya, dalam perjalanan menuju Prawata, Jaka Tingkir berempat mempergunakan getek (rakit bambu) melalui sungai, yakni Kali Dengkeng dan kemudian Bengawan Picis. Dikisahkan bahwa dalam perjalanan itu di Kedung Srengenge (kedung adalah bagian sungai yang dalam) Jaka Tingkir diserang oleh segerombolan buaya. Karena jagoan, Jaka Tingkir dan kawan-kawan berhasil mengalahkan buaya-buaya tersebut dan sebagai tebusannya dalam melanjutkan ke Demak Jaka Tingkir dikawal oleh buaya-buaya di sebelah kiri, kanan depan dan belakang sebanyak masing-masing 40 ekor. Para pujangga pun menciptakan gending (lagu) atas kejadian tersebut yang terkenal hingga kini, yaitu lagu Sigra Milir.[8]

Sebagaimana dikisahkan dalam lagu itu: "sigra milir / sang gethek sinangga bajul / ...", getek itu lalu segera menghilir tanpa dikayuh, melainkan disangga dan didorong oleh puluhan buaya. Petang harinya mereka tiba di Babagan Butuh, dan karena kelelahan usai bertempur, keempat penumpangnya memutuskan singgah untuk bermalam di tepi sungai. Itulah hari Jum'at malam ketika wahyu keraton berupa cahaya yang memancar seperti daru atau pulung turun dari langit, menyusup ke tubuh Jaka Tingkir sementara keempat orang itu tertidur nyenyak. Peristiwa itu disaksikan oleh Ki Ageng Butuh, yang esoknya kemudian mengundang keempat pemuda itu untuk naik ke darat. Ki Ageng Butuh, dan kemudian juga Ki Ageng Ngerang memberi banyak nasihat dan petunjuk untuk kehidupan mereka di masa depan. Setelah itu mereka berempat turun kembali ke sungai untuk melanjutkan perjalanan.[1]: 152–153 

Diceritakan bahwa pada ketika itu Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawata. Jaka Tingkir dan kawan-kawan, yang mendarat tidak jauh dari Prawata, kemudian masuk ke hutan untuk menangkap seekor kerbau yang dinamakan sebagai Kebo Danu. Mengikuti petunjuk Ki Buyut Banyubiru, Kebo Danu itu diberi tanah yang dibawanya dari Banyubiru pada mulutnya, sehingga kerbau merasa tidak nyaman dan mengamuk. Kerbau itu lalu dilepaskan di Prawata, yang kemudian mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada seorang pun prajurit dan perwira yang mampu menaklukkan si kerbau. Maka hebohlah para prajurit dan orang-orang sekitar, melihat kehebatan kerbau itu mengamuk hingga tiga hari lamanya. Baginda merasa jengkel karena tak ada orang yang mampu mengatasi kerbau itu.[1]: 155–156 

Belakangan Jaka Tingkir dan ketiga kawannya pun muncul dan turut menonton pula bersama orang banyak. Ia terlihat oleh Baginda Sultan yang berdiri di atas panggung, yang lalu memerintahkan Jaka Tingkir untuk melawan Kebo Danu. Jaka Tingkir kemudian tampil menghadapi kerbau yang mengamuk itu, dan dengan mudah ia membunuhnya setelah membuang tanah Banyubiru dari mulut Kebo Danu. Atas jasa mengalahkan Kebo Danu itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah Wiratamtama.[1]: 156–158 

Menjadi Raja Pajang

Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.

Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan Kakak kandung Sultan Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.

Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.

Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.

Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.

Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Sunan Prawoto yang menjadi Adipatinya.

Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.

Sumpah setia Ki Ageng Mataram

Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.

Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.

Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.

Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa tetapi bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.

Menundukkan Jawa Timur

Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.

Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.

Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.

Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.

Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.

Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.

Pemberontakan Sutawijaya

Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.

Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.

Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.

Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.

Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.

Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.

Kematian

Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, tetapi menderita kekalahan. Adiwijaya semakin terguncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.

Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat tetapi tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.

Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.

Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.

Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Kutipan

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Damono, S.D. & S. Sondakh (eds.) (2004). Babad Tanah Jawi (terjemahan). Buku 1. Jakarta: Amanah-Lontar.
  2. 1 2 Graaf, H.J. de. (1987). Awal kebangkitan Mataram: masa pemerintahan Senapati. Jakarta: Grafiti Pers.
  3. 1 2 3 Graaf, H.J. de & Th. Pigeaud. (2001). Kerajaan Islam pertama di Jawa: tinjauan sejarah politik abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. (Terbitan asal: "De eerste Moslimse vorstendommen op Java : studiën over de staatkundige geschiedenis van de 15de en 16de eeuw"). VKI, no 69. Leiden: KITLV.
  4. ↑ Muljana, S. (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.
  5. ↑ Ricklefs, M.C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN 978-0-230-54686-8
  6. ↑ "Perkawinan Panembahan Ratu Dengan Putri Glampok Raras". Sejarah Cirebon. Diakses tanggal 2023-02-02.
  7. ↑ Irianti, R. & Nirmawan. (2023). "Analisis Nilai Budaya Lempar Sirih Pada Pernikahan Adat Jawa di Desa Karang Anyar Kecamatan Aek Kuo Kabupaten Labuhan Batu Utara." Journal of Educational Research and Humaniora (JERH), Vol. 1(3): 12-22, September 2023.
  8. ↑ Barisan.co: Tembang Sigra Milir, Legenda Tentang Joko Tingkir. Artikel tgl 01/09/2022, diakses pada 20/09/2026.

Referensi

  • Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Sunan Prawoto
Raja Pajang
1549—1582
Diteruskan oleh:
Pangeran Benawa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan