Minggu, 01 November 2026
14:36 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Tuanku Nan Tuo

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Tuanku Nan Tuo Koto Tuo IV Koto, moyang Hamka.
Infobox orangTuanku Nan Tuo
Biografi
Kelahiran1723 Suntingan nilai di Wikidata
Ampek Angkek Suntingan nilai di Wikidata
Kematian1830 Suntingan nilai di Wikidata (106/107 tahun)
Data pribadi
Kelompok etnikOrang Minangkabau Suntingan nilai di Wikidata
AgamaIslām Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanimam Suntingan nilai di Wikidata
Murid dariTuanku Mansiangan Nan Tuo dan Abdoel Aziz Toeankoe Nan Ketjil Suntingan nilai di Wikidata
Keluarga
AnakJalaluddin Faqih Shaghir Suntingan nilai di Wikidata

Tuanku Nan Tuo (lahir di Koto Tuo, Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Minangkabau, tahun 1723 - meninggal tahun 1830, pada umur 107 tahun) adalah salah seorang ulama Minangkabau terkemuka.[1] Ia dikenal sebagai ulama yang moderat, yang banyak melakukan pembaruan serta pemurnian Islam di kawasan Agam, Sumatera Barat. Selain sebagai seorang sufi, Tuanku Nan Tuo juga dikenal sebagai tokoh yang cukup berpengaruh dalam kelahiran kaum Padri. Meskipun begitu ia tidak setuju dengan pandangan radikal golongan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh, salah satu muridnya.

Tuanku Nan Tuo memiliki anak bernama Jalaluddin gelar Fakih Shagir. Salah seorang cucu Jalaluddin, yakni Tahir Jalaluddin, seorang ulama ahli falak.[2]

Tuanku Nan Tuo sering disamakan dengan Tuanku Nan Tuo Koto Tuo IV Koto (nama kecil Abdullah Arif dan juga bergelar Tuanku Pariaman), moyang Hamka.[3]

Kehidupan

Tuanku Nan Tuo lahir di Koto Tuo, Balai Gurah, IV Angkek, Agam, pada tahun 1723. Pada masa mudanya ia salah seorang remaja yang bersemangat dalam menimba ilmu-ilmu agama. Hampir keseluruhan cabang ilmu agama ia kuasai. Dia belajar ilmu agama dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo di Paninjauan, Tanah Datar. Memperoleh ilmu mantiq dan ma'ani dari Tuanku Nan Kaciak di Koto Gadang, Agam, mempelajari ilmu sharaf dari Tuanku di Talang, ilmu nahwu dari Tuanku di Salayo, serta ilmu hadits, tafsir, dan faraidh dari Tuanku di Sumanik.[4]

Pada tahun 1784, Tuanku Nan Tuo menjadi kepala surau Tarekat Syattariyah di Koto Tuo, IV Angkek, Agam.[5] Ketika menjadi kepala surau ia berhasil menarik ribuan murid dari nagari-nagari di sekitarnya. Salah satu muridnya yang cukup cemerlang, Haji Miskin, ikut bersamanya dalam menyebarkan syariat Islam di kawasan Agam Tuo. Selain itu, beberapa muridnya yang cukup militan juga ditugaskan untuk berdakwah keluar IV Angkek, terutama ke nagari-nagari yang menghalangi usaha perdagangan. Beberapa muridnya yang meneruskan usahanya dalam menanamkan syariat Islam di Minangkabau ialah Jalaluddin gelar Fakih Shagir yang mendirikan surau di Candung Koto Laweh, Agam. Kemudian Tuanku Bandaro dari Alahan Panjang, meneruskan pembaruan di Bonjol bersama Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao di Rao mengambil alih pimpinan nagari dan berdakwah di tanah kelahirannya, serta Saidi Muning bergelar Tuanku Lintau berdakwah di Lintau, Tanah Datar.

Pendidikan lainnya di surau Tuanku Nan Tuo ialah ilmu bela diri pencak silat. Ilmu ini diberikan agar setiap murid terampil dan mampu menggunakan senjata di medan laga. Berkat usahanya, menjelang tahun 1790-an di daerah IV Angkek, Agam, banyak mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang. Sejak saat itu ia dikenal sebagai "pelindung para pedagang".[6]

Referensi

  1. ↑ Kaum Sufi dalam Sejarah di Minangkabau Diarsipkan 2013-12-11 di Wayback Machine Harian Singgalang, 30 Maret 2012. Diakses 8 Desember 2013.
  2. ↑ MA, Prof Dr H. Saifullah SA; M.Hum, Dr Febri Yulika, S. Ag (2017-12-01). PERTAUTAN BUDAYA - SEJARAH MINANGKABAU & NEGERI SEMBILAN. ISI Padangpanjang. ISBN 978-602-50846-6-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  3. ↑ https://books.google.co.id/books?id=tLYXAAAAIAAJ&q=%22Tuanku+Nan+Tuo+yang+kita+perkatakan+ini%22&dq=%22Tuanku+Nan+Tuo+yang+kita+perkatakan+ini%22&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiK27-XluXoAhWO-HMBHcjED54Q6AEIKDAA
  4. ↑ Hamka, Antara Fakta Dan Khayal:Tuanku Rao, 1974:110-112,156-157, dari J J de Hollander: “Hikayat Syaich Djalaluddin”, E J Brill, Leiden, 1857
  5. ↑ Dobbin, Christine (2008). Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847. Depok: Komunitas Bambu. hlm. 198. ISBN 979-3731-26-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Christine Dobbin, Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement, 1784 - 1830, 1977
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan