Selasa, 22 September 2026
05:52 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya

Vipāka

istilah Buddhisme untuk konsekuensi dari karma

Artikel ini bukan mengenai Phala.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Vipāka (Sanskerta dan Pali), umum diterjemahkan sebagai akibat, efek, hasil, atau resultan, adalah istilah dalam tradisi Buddhis dan Jain yang merujuk pada pematangan atau hasil dari karma (Pali: kamma), yakni perbuatan yang dilakukan dengan niat atau kehendak (cetanā). Konsep tentang hubungan antara perbuatan dan akibatnya (kamma-vipāka) merupakan salah satu ajaran pokok dalam Buddhisme.

Etimologi

Vipāka berasal dari vi+pac, yang secara literal berarti "buah" atau "hasil".[1][2] Kata kerja vipaccati berarti "dimasak" atau "berbuah", oleh karena itu secara kiasan vipāka melambangkan sesuatu yang telah siap melalui pemasakan atau pematangan.[2]

Gambaran umum

Dalam Tripitaka Pali, istilah vipāka sering disandingkan dengan phala (secara harfiah berarti "buah"),[web 1] seperti pada frasa kammānaṁ phalaṁ vipāko (phala dan vipāka dari kamma) yang menggambarkan hubungan kausalitas antara perbuatan dan konsekuensinya.[web 2][3] Nyanatiloka mengartikan vipāka sebagai hasil dari tindakan berkehendak (karma) di kehidupan ini maupun masa lalu.[4] Mahasi Sayadaw menjelaskan bahwa vipāka biasanya disertai dengan kondisi-kondisi eksternal baik yang menguntungkan (ānisaṁsa) maupun yang tidak menguntungkan (ādīnava). Seperti halnya karma yang didasari oleh niat, vipāka juga berhubungan dengan fenomena batin.[3] Menurut Nyanatiloka, vipāka merupakan fenomena mental yang bersifat netral secara moral, seperti perasaan menyenangkan atau menyakitkan.[4]

Lebih lanjut, pandangan bahwa segala hal semata-mata merupakan akibat dari perbuatan masa lalu dianggap sebagai pandangan keliru.[5][4][web 3] Meskipun kondisi dari fenomena dan pengalaman saat ini dipengaruhi oleh karma, tetapi kondisi tersebut juga disebabkan oleh sebab-sebab lain dan bukan semata-mata akibat karma.[a][6] Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan:[7]

Resultan (vipāka) adalah wujud alamiah yang asalnya dari kamma baik (kusala) atau kamma tidak baik (akusala) yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya (aññamaññaviruddhānaṃ kusalākusalānaṃ pākāti vipākā, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Abhidhammatthavibhāvinīṭīkā).

Kata pāka di vipāka berarti masak atau matang—merujuk kepada keadaan buah yang sudah masak. Akan tetapi, di sini kita terjemahkan menjadi resultan. Resultan yang tidak-baik (akusala-vipāka), dengan demikian, berarti buah dari kamma tidak-baik yang telah dilakukan di masa lalu. Sebaliknya, resultan yang baik (kusala-vipāka) adalah buah dari kamma baik yang telah dilakukan di masa lalu.

Istilah resultan di sini hanya merujuk kepada dhamma nonmateri (arūpa dhamma) dan bukan merujuk kepada dhamma yang bersifat materi (rūpa). Memang benar bahwa di antara materi-materi tertentu terdapat materi yang berasal dari kamma, misalnya sensitivitas-mata dan lain-lain; tetapi materi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai resultan. Dengan demikian, maka kesadaran (citta) yang merupakan buah dari kamma yang tidak-baik disebut sebagai kesadaran-resultan yang tidak-baik.

Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, secara teknis, kesadaran resultan (vipākacitta) muncul sebagai akibat masaknya benih kamma. Kesadaran resultan yang tidak-baik (akusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-buruk; sedangkan kesadaran resultan yang baik (kusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-baik.[8]

Terjemahan alternatif

Istilah vipāka sering diterjemahkan sebagai:

  • akibat atau efek (bahasa Inggris: effect) (Ven. D. Mahinda Thera[9])
  • pematangan (maturation) (Keown, 2000, loc 810–813)
  • pemasakan (ripening) (Harvey, 1990, hlm. 39[10])
  • hasil
  • resultan

Lihat juga

Catatan

  1. Walaupun perbuatan lampau bukanlah satu-satunya penentu pengalaman, perbuatan masa lalu tetap akan menghasilkan akibat. Artinya, kondisi pengalaman saat ini memang bergantung pada berbagai sebab dan hal lain selain akibat karma, namun hal itu tidak berarti bahwa perbuatan sama sekali tidak menimbulkan hasil. Berdasarkan Sāmaññaphalasutta, pandangan bahwa karma tidak memiliki akibat apapun adalah paham Materialisme yang dikemukakan oleh Ajita Kesakambalī. Lihat entry Vipāka bagian Vipāka and the Denial of Causality di Malalasekera 1961, hlm. 669

Referensi

  1. "Definitions for vipaccati". SuttaCentral (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-29.
  2. 1 2 Malalasekera 1961, hlm. 669.
  3. 1 2 Mahasi 2003, hlm. 16-17.
  4. 1 2 3 Nyanatiloka 2004, hlm. 230.
  5. Mahasi 2003, hlm. 10.
  6. Gombrich 2009, hlm. 20.
  7. Kheminda 2024, hlm. 244.
  8. Kheminda 2024, hlm. 177.
  9. Buddhist Points Misunderstood, by Ven. D. Mahinda Thera
  10. Harvey 1990, hlm. 39-40.

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber web

  1. "A Glossary of Pali and Buddhist Terms: Phala". Access to Insight. Diakses tanggal 20 April 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Sujato, Bhikkhu. "Majjhima Nikāya 117: Mahācattārīsakasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 20 April 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. Widyadharma, Pandita S. (2010-11-02). "Bab II - Ajaran Sang Buddha". Samaggi Phala (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2026-02-04.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan