Jumat, 30 Oktober 2026
16:50 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Buddhisme Nikāya

Bagikan:
Untuk penggunaan istilah nikāya dalam berbagai konteks, lihat Nikāya.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Awal
120px-Ashoka_Chakra_Y.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme

*Daftar ini merupakan penyederhanaan. Kemungkinan besar, perkembangan aliran-aliran Buddhis tidaklah linear. Terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan para cendekiawan.

icon PortalBuddhisme
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Istilah Buddhisme Nikāya diciptakan oleh Masatoshi Nagatomi sebagai pengganti yang tidak merendahkan dari istilah "Hīnayāna", yang berarti aliran-aliran Buddhis awal.[1] Contoh kelompok ini adalah Buddhisme prasektarian dan berbagai aliran Buddhis awal. Beberapa cendekiawan mengecualikan Buddhisme prasektarian ketika menggunakan istilah tersebut. Istilah Theravāda merujuk pada praktik-praktik Buddhisme yang berdasarkan pada ajaran-ajaran awal ini, sebagaimana tercantum dalam Kanon Pāli.

Etimologi

Nikāya adalah kata Pali yang berarti "kelompok" atau "perkumpulan". Dalam konteks istilah "Buddhisme Nikāya", istilah ini mengacu pada kumpulan aliran Buddhis awal atau aliran non-Mahāyāna.

Dalam Buddhisme India

Gambaran umum

Buddhisme awal di India secara umum terbagi menjadi berbagai persaudaraan monastik, atau nikāya. Secara konvensional, nikāya tersebut berjumlah delapan belas, tetapi jumlah sebenarnya bervariasi dari waktu ke waktu. Orientasi doktrinal masing-masing aliran agak berbeda, demikian pula jumlah piṭaka dalam kanon mereka. Contohnya adalah aliran Dharmaguptaka, yang mencakup Bodhisattva Piṭaka dan Dhāraṇī Piṭaka.[2]

Di cabang Mahāsāṃghika

Nikāya-nikāya aliran Mahāsāṃghika secara umum mendukung sifat transendental dan supra-duniawi para Buddha dan Bodhisatwa, serta keyakinan tentang kekeliruan (kemungkinan untuk mundur dari keadaannya) para arahat.[3] Oleh karena itu, bagi para penganut aliran Mahāsāṃghika, cita-cita Bodhisatwa dan pencapaian Kebuddhaan lebih dijunjung tinggi daripada cita-cita menjadi seorang arahat.[4]

Avalokitavrata menulis tentang Mahāsāṃghika yang menggunakan "Āgama Piṭaka Agung", yang kemudian dikaitkan dengan berbagai sūtra Mahāyāna, seperti Prajñāparamitā dan Sutra Sepuluh Tahapan.[5] Dalam kelompok nikāya Caitika, Pūrvaśaila dan Aparaśaila masing-masing diketahui memiliki Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā Sūtra dalam bahasa Prakerta.[6] Bhāvaviveka juga menulis tentang para Siddhārthika yang menggunakan Vidyādhāra Piṭaka, dan para Pūrvaśaila dan Aparaśaila keduanya menggunakan Bodhisattva Piṭaka, yang menyiratkan adanya kumpulan teks Mahāyāna yang terorganisasi dalam nikāya-nikāya aliran Mahāsāṃghika ini.[5]

Di cabang Sthaviravāda

Dalam Sthavira nikāya, penganut Sarvāstivāda adalah nikāya utama. Mahāvibhāṣā Śāstra aliran Sarvāstivāda diketahui menggunakan pandangan praktik Buddhis yang terdiri dari tiga kendaraan: Śrāvakayāna, Pratyekabuddhayāna, dan Bodhisattvayāna.[7] Referensi mengenai Bodhisattvayāna dan praktik Enam pāramitā juga sering ditemukan dalam karya-karya aliran Sarvāstivāda.[8]

Theravāda yang berkembang di Sri Lanka secara umum menerima tiga kendaraan, namun mengategorikannya sebagai tiga jenis bodhi atau kecerahan yang berbeda.[9] Nikāya Theravāda hanya menggunakan Kanon Pāli, yang memiliki tiga piṭaka, dan tidak memuat kitab-kitab terpisah untuk mereka yang beraspirasi menjadi seorang Bodhisatwa.[9] Walpola Rahula menulis tentang hal ini, "Pada akhir upacara keagamaan atau praktik bakti, bhikkhu yang memberikan berkat biasanya mengingatkan para umat untuk mengaspirasikan pencapaian Nirwana dengan menyadari salah satu dari tiga jenis bodhi (pencerahan)—sāvakabodhi, paccekabodhi, atau sammāsambodhi—sesuai aspirasi yang sesuai kapasitas mereka."[9]

Hubungan dengan Mahāyāna

Jan Nattier menulis bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Mahāyāna pernah merujuk pada sebuah aliran atau sekte formal Buddhisme yang terpisah, namun lebih kepada bahwa aliran ini ada sebagai sekumpulan cita-cita tertentu, dan ajaran-ajaran selanjutnya, tentang Bodhisatwa.[10] Paul Williams juga mencatat bahwa Mahāyāna tidak pernah memiliki dan tidak pernah mencoba untuk memiliki vinaya atau garis keturunan penahbisan yang terpisah dari nikāya-nikāya India, dan karenanya setiap bhikṣu atau bhikṣuṇī yang menganut Mahāyāna secara formal termasuk dalam salah satu nikāya tersebut.[11] Hal ini berlanjut hingga kini dengan nikāya Dharmaguptaka di Asia Timur, dan nikāya Mūlasarvāstivāda dalam Buddhisme Tibet.[11]

Buddhisme Nikāya dan "Hīnayāna"

Banyak pengomentar Buddhisme menggunakan istilah Hīnayāna untuk merujuk pada Buddhisme Nikāya. Akan tetapi, istilah tersebut kini secara umum dianggap cacat:

  • Hīnayāna (secara harfiah berarti "kendaraan yang lebih rendah; kendaraan yang hina") sering dianggap sebagai istilah yang menyinggung atau merendahkan.
  • Istilah "Hīnayāna" diciptakan oleh penganut Mahāyāna, dan tidak pernah digunakan oleh umat Buddhisme Nikāya untuk merujuk pada diri mereka sendiri.
  • Hīnayāna sebagai istilah teknis, menunjukkan "kendaraan" dari Sāvakabuddha dan Pratyekabuddha, sedangkan sebagai bagian dari Buddhisme, ia hanya merujuk pada individu yang mengikuti "kendaraan" pertama, menuju pencapaian Sāvakabuddha, sedangkan "Mahāyāna" dalam arti "jalan Bodhisatwa" telah ada dalam aliran-aliran awal.
  • Lebih bijaksana untuk menggunakan istilah yang merujuk pada kelompok tertentu dalam suatu populasi dengan istilah yang digunakan oleh kalangannya sendiri, dan jika tidak, setidaknya tidak menyinggungnya.

Menurut Robert Thurman, istilah "Buddhisme Nikāya" diciptakan oleh Masatoshi Nagatomi dari Universitas Harvard sebagai cara untuk menghindari penggunaan istilah Hīnayāna.[12] Dengan demikian, "Buddhisme Nikāya" merupakan upaya untuk menemukan cara yang lebih netral dalam menyebut umat Buddha yang mengikuti salah satu aliran Buddhis awal dan praktiknya.

Istilah Śrāvakayāna (secara harfiah berarti "kendaraan pendengar" atau "kendaraan para pengikut") juga terkadang digunakan untuk tujuan yang sama. Istilah lain yang digunakan dalam pengertian serupa mencakup Buddhisme sektarian atau Buddhisme konservatif. Perlu diperhatikan bahwa istilah nikāya dalam konteks yang berbeda juga merupakan istilah yang digunakan dalam Buddhisme Theravāda untuk merujuk pada ordo-ordo dalam Theravāda.

Seperti halnya istilah Buddhisme Hīnayāna, istilah Buddhisme Nikāya berfokus pada kesamaan yang diasumsikan antara aliran-aliran, dan bukan pada aliran-aliran itu sendiri. Kesamaan ini diduga ditemukan dalam sikap tertentu aliran-aliran tersebut terhadap suatu ajaran. Istilah "Buddhisme Nikāya" mencoba mengalihkan perhatian kepada isu sikap yang lebih netral mengenai keaslian kitab suci.

Sebuah analisis ringkas oleh seorang pakar Buddhisme Tibet, Reginald Ray, merangkum penggunaan istilah “Hīnayāna” yang keliru dan membingungkan untuk merujuk pada aliran-aliran yang masih ada pada masa kini:

"Hīnayāna" merujuk pada serangkaian pandangan, praktik, dan hasil yang kritis, tetapi sangat terbatas. Tradisi historis pra-Mahāyāna, seperti Theravāda, jauh lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih mendalam daripada definisi "Hīnayāna". ... Istilah "Hīnayāna", dengan demikian, merupakan stereotip yang berguna dalam membicarakan tahap tertentu dalam jalur Buddhis Tibet, tetapi sebenarnya tidak tepat untuk berasumsi bahwa definisi Tibet tentang Hīnayāna mengidentifikasi tradisi hidup yang terhormat sebagai Theravāda atau aliran historis lainnya[.][13]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Robert Thurman dan Masatoshi Nagatomi dari Harvard University: "'Nikaya Buddhism' is a coinage of Professor Masatoshi Nagatomi of Harvard University who suggested it to me as a usage for the eighteen schools of Indian Buddhism, to avoid the term 'Hinayana Buddhism,' which is found offensive by some members of the Theravada tradition." dalam Thurman, Robert (1981). "The emptiness that is compassion: an essay on Buddhist ethics". Religious Traditions. 4: fn 10.
  2. ↑ Baruah 2000, hlm. 52.
  3. ↑ Baruah 2000, hlm. 48.
  4. ↑ Padma 2008, hlm. 56.
  5. 1 2 Walser 2012, hlm. 53.
  6. ↑ Xing 2004, hlm. 66. sfn error: tanpa target: CITEREFXing2004 (bantuan)
  7. ↑ Nakamura 1987, hlm. 189.
  8. ↑ Baruah 2000, hlm. 456.
  9. 1 2 3 "Bodhisattva Ideal in Buddhism". Access to Insight. Diarsipkan dari asli tanggal Maret 18, 2011. Diakses tanggal 2011-02-20.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Nattier 2003, hlm. 193-4.
  11. 1 2 Williams 2008, hlm. 4-5.
  12. ↑ Thurman, Robert (1981). "The emptiness that is compassion: an essay on Buddhist ethics". Religious Traditions. 4: fn 10.
  13. ↑ Ray 2002, hlm. 240.

Bibliografi

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan