Minggu, 20 September 2026
15:46 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Bahasa Gandari

Bahasa Gandari

bahasa dari India

Artikel ini bukan mengenai Gandhari (Mahabharata).
Bahasa Gandari
𐨒𐨌𐨣𐨿𐨢𐨌𐨪𐨁𐨌 (Kharoṣṭhī)
𑀕𑀸𑀦𑁆𑀥𑀸𑀭𑀻 (Brāhmī)
Gandhārī, Gandhari
Dituturkan diAnak benua India bagian barat laut
WilayahGandhāra
Eraskt. 300 SM hingga 100 M
Tampilkan klasifikasi manual
Tampilkan klasifikasi otomatis
Kharoṣṭhī
Kode bahasa
ISO 639-3pgd
Glottologgand1259
IETFpgd
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
Terancam
CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman
NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
ICHEL Red Book: Extinct

Bahasa Gandari diklasifikasikan sebagai bahasa yang telah punah (EX) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

Referensi: [1][2]
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L B PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak
250px-Manuscrit_BnF_pali_715-A.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Manuskrip kulit kayu betula tak lengkap dari Dhammapada dalam bahasa Gandari dan aksara Kharoṣṭhī yang diperoleh oleh misi Dutreuil de Rhins (1891–1894) di Asia Tengah. Akhir abad ke-1 hingga abad ke-3. Bibliothèque nationale de France
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Bahasa Gandari (Dewanagari: गान्धारी; ,IAST: Gāndhārī, गान्धारी) adalah sebuah bahasa Prakerta Indo-Arya yang dibuktikan terutama dalam teks-teks yang bertanggal antara abad ke-3 SM dan abad ke-4 M di wilayah Gandhāra, di barat laut anak benua India. Bahasa ini banyak digunakan oleh kebudayaan Buddhis Asia Tengah masa lampau dan prasasti-prasastinya telah ditemukan hingga sejauh Luoyang dan Anyang di Tiongkok timur.

Bahasa Gandari berfungsi sebagai bahasa resmi Kekaisaran Kushan dan berbagai kerajaan di Asia Tengah, termasuk Khotan dan Shanshan.[3] Bahasa ini muncul pada koin, prasasti, dan teks, khususnya Teks Buddhis Gandhāra. Bahasa ini menonjol di antara bahasa-bahasa Prakerta lainnya karena memiliki fonologi yang arkais, karena isolasi dan kemandiriannya yang relatif, karena sebagian berada di bawah pengaruh Timur Dekat Kuno dan Mediterania, serta karena penggunaannya atas aksara Kharoṣṭhī, dibandingkan dengan aksara-aksara Brahmi yang digunakan oleh bahasa Prakerta lainnya.

Bahasa Gandari adalah bahasa Indo-Arya Pertengahan awal – sebuah bahasa Prakerta – dengan fitur-fitur unik yang membedakannya dari semua bahasa Prakerta lain yang diketahui. Secara fonetis, bahasa ini mempertahankan ketiga konsonan desis (sibilan) Indo-Arya Kuno (s, ś, dan ) sebagai bunyi yang terpisah, sedangkan dalam bahasa Prakerta lainnya ketiga bunyi tersebut melebur menjadi [s] – sebuah perubahan yang dianggap sebagai salah satu pergeseran Indo-Arya Pertengahan paling awal.[4] Bahasa ini juga mempertahankan gugus konsonan Indo-Arya Kuno tertentu, sebagian besar yang melibatkan v dan r.[5] Selain itu, th dan dh Indo-Arya Kuno di antara vokal (intervokalik) pada awalnya ditulis dengan huruf khusus (diwakili oleh para cendekiawan dengan huruf s bergaris bawah: [s]), yang belakangan digunakan secara bergantian dengan s – menunjukkan adanya perubahan bunyi awal, kemungkinan menjadi konsonan desis gigi bersuara ð, lalu kemudian bergeser menjadi z dan, pada akhirnya, menjadi s biasa.[6] Bahasa Gandari telah dihubungkan dengan anggota rumpun bahasa Dardik modern, termasuk Shina[7] dan Torwali.

Bahasa-bahasa Prakerta Pertengahan biasanya melemahkan th menjadi dh, yang belakangan bergeser menjadi h.[8] Aksara Kharoṣṭhī tidak menunjukkan perbedaan antara vokal pendek dan panjang, sehingga rincian mengenai bagaimana bahasa ini menangani fitur tersebut tidak diketahui.[9]

Penemuan kembali dan sejarah

Identifikasi awal bahwa bahasa ini merupakan bahasa yang terpisah terjadi melalui studi terhadap salah satu teks āgama buddhis, yakni Dīrghāgama, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa oleh Buddhayaśas (Hanzi:佛陀耶舍) dan Zhu Fonian (Hanzi:竺佛念).

Hipotesis yang kini dominan mengenai penyebaran agama Buddha di Asia Tengah berawal pada tahun 1932 ketika E. Waldschmidt menyatakan bahwa nama-nama yang dikutip dalam Dīrghāgama berbahasa Tionghoa (T. 1), yang telah diterjemahkan oleh biksu penganut aliran Dharmaguptaka secara terbuka yakni Buddhayaśas (yang juga menerjemahkan Dharmaguptakavinaya), tidak diterjemahkan dari bahasa Sanskerta, melainkan dari bahasa Prākrit yang belum ditentukan pada saat itu yang juga ditemukan dalam Dharmapada Khotan. Pada tahun 1946, Bailey mengidentifikasi Prākrit ini, yang ia beri nama Gandhārī, sebagai bahasa yang sesuai dengan sebagian besar prasasti Kharoṣṭhī dari India Barat Laut.[10]

Sejak saat itu, berkembang konsensus dalam keilmuan yang memandang gelombang pertama karya misi buddhis dikaitkan dengan bahasa Gandari dan aksara Kharoṣṭhī, serta secara tentatif dengan sekte Dharmaguptaka.[butuh rujukan]

Bukti-bukti yang tersedia juga menunjukkan bahwa misi buddhis pertama ke Khotan dilakukan oleh sekte Dharmaguptaka, dan menggunakan bahasa Gandari yang ditulis dalam aksara Kharoṣṭhī.[11] Namun, terdapat bukti bahwa sekte dan tradisi Buddhisme lainnya juga menggunakan bahasa Gandari, dan ada pula bukti bahwa sekte Dharmaguptaka juga menggunakan bahasa Sanskerta pada waktu-waktu tertentu.

Memang benar bahwa sebagian besar manuskrip dalam bahasa Gandhārī milik kelompok Dharmaguptaka, tetapi hampir semua aliran — termasuk Mahāyāna — menggunakan sedikit bahasa Gandhārī. Von Hinüber (1982b dan 1983) telah menunjukkan kata-kata Gandhārī yang tidak sepenuhnya di-Sanskerta-kan dalam karya-karya yang sebelumnya dikaitkan dengan kelompok Sarvāstivāda dan menarik kesimpulan bahwa entah atribusi sekte tersebut harus direvisi, atau dogma diam-diam "Gandhārī sama dengan Dharmaguptaka" adalah salah. Sebaliknya, kelompok Dharmaguptaka juga beralih ke bahasa Sanskerta.[12]

Mulai abad pertama masehi, terdapat tren besar menuju jenis bahasa Gandari yang banyak mengalami Sanskritisasi.[12]

Bukti linguistik menghubungkan beberapa kelompok bahasa Dardik dengan bahasa Gandari.[13][14][15] Bahasa-bahasa Kohistan, yang kini semuanya tergusur dari tanah air aslinya, dulunya tersebar lebih luas di kawasan tersebut dan kemungkinan besar diturunkan dari dialek kuno wilayah Gandhara.[16][17] Bahasa terakhir yang menghilang adalah Tirahi, yang masih dituturkan beberapa tahun lalu di beberapa desa di sekitar Jalalabad di Afganistan timur, oleh keturunan migran yang diusir dari Tirah oleh suku Afridi Pashtun pada abad ke-19.[18] Georg Morgenstierne mengklaim bahwa bahasa Tirahi "kemungkinan merupakan sisa dari kelompok dialek yang membentang dari Tirah melalui Distrik Peshawar hingga ke Swat dan Dir."[19] Saat ini, bahasa tersebut sudah dipastikan sepenuhnya punah dan wilayah tersebut kini didominasi oleh bahasa-bahasa Iran yang dibawa oleh imigrasi belakangan, seperti Pashtun.[18] Di antara bahasa-bahasa Indo-Arya modern yang masih dituturkan hingga kini, Torwali, bahasa lain dalam subkelompok Dardik, menunjukkan afinitas linguistik terdekat dengan Prakerta Niya, sebuah dialek Gandari yang dulunya dituturkan di Niya (kini di Xinjiang, Tiongkok).[17][20]

Fonologi

Secara umum, bahasa Gandari adalah bahasa Prakerta Pertengahan, istilah untuk bahasa-bahasa Indo-Arya Pertengahan tahap menengah. Bahasa ini baru mulai menunjukkan ciri-ciri bahasa Prakerta Akhir pada abad ke-1 Masehi.[21] Ciri fonetis Prakerta Pertengahan adalah melemahnya konsonan di antara vokal: degeminasi dan penyuarakan, seperti pergeseran *k Indo-Arya Kuno menjadi g. Kehilangan yang paling cepat terjadi pada konsonan gigi (dental), yang mulai menghilang sepenuhnya bahkan sebelum periode akhir, seperti dengan *t > dalam *pitar > piu; sebaliknya, konsonan retrofleks tidak pernah hilang.[22] Terdapat pula bukti hilangnya perbedaan antara konsonan isap (aspirat) dan konsonan letup biasa, yang merupakan hal tidak lazim dalam bahasa-bahasa Indo-Arya.[23]

Dalam bahasa Gandari Asia Tengah, sering terjadi kerancuan dalam penulisan konsonan sengau (nasal) dengan konsonan letup homorganik;[24] belum jelas apakah hal ini mewakili asimilasi konsonan letup atau kemunculan konsonan pranasal ke dalam inventaris fonetisnya.

Tata bahasa

Tata bahasa Gandari sulit dianalisis; akhiran-akhirannya tergerus tidak hanya oleh hilangnya konsonan akhir dan penyederhanaan gugus konsonan dari semua bahasa Prakerta, tetapi juga oleh pelemahan vokal akhir yang tampak jelas "'hingga pada titik di mana vokal-vokal tersebut tidak lagi dibedakan'".[25] Meskipun demikian, masih terdapat setidaknya sistem kasus tata bahasa yang elementer.[26] Bentuk-bentuk kata kerja sangat dibatasi penggunaannya karena teks yang lebih panjang digunakan utamanya untuk terjemahan dokumen keagamaan dan sifat naratif sutra-sutra, tetapi tampaknya sejalan dengan perubahan pada bahasa Prakerta lainnya.[27]

Leksikon

Leksikon atau kosakata bahasa Gandari juga terbatas oleh penggunaannya dalam teks; namun masih memungkinkan untuk menentukan bentuk-bentuk yang tidak lazim, seperti bentuk Gandari yang menunjukkan kesamaan dengan bentuk-bentuk dalam bahasa Indo-Arya modern di daerah tersebut, khususnya beberapa kelompok bahasa Dardik. Salah satu contohnya adalah kata untuk saudara perempuan, yang merupakan turunan dari Indo-Arya Kuno svasṛ- seperti dalam bahasa-bahasa Dardik, sedangkan semua bahasa Indo-Arya lainnya telah mengganti istilah tersebut dengan refleks dari bhaginī.[28]

Manuskrip buddhis dalam bahasa Gandari

Hingga tahun 1994, satu-satunya manuskrip Gandari yang tersedia bagi para cendekiawan adalah sebuah manuskrip kulit kayu betula berisi teks buddhis, yakni Dharmapāda, yang ditemukan di Kohmāri Mazār dekat Hotan di Xinjiang pada tahun 1893 M. Sejak tahun 1994 dan seterusnya, sejumlah besar manuskrip teks buddhis yang terpisah-pisah, total berjumlah tujuh puluh tujuh,[29] ditemukan di Afganistan timur dan Pakistan barat. Manuskrip-manuskrip tersebut meliputi:[30]

  • 29 fragmen gulungan kulit kayu betula dari koleksi British Library yang terdiri dari bagian-bagian Dharmapada, Anavatapta Gāthā, Sūtra Badak, Sangitiparyaya, dan kumpulan sutra dari Ekottara Āgama.
  • 129 fragmen folio daun lontar dari Koleksi Schøyen, 27 fragmen folio daun lontar dari koleksi Hirayama, dan 18 fragmen folio daun lontar dari koleksi Hayashidera yang terdiri dari Sūtra Mahāyāna Mahāparinirvāṇa dan Sūtra Bhadrakalpikā.
  • 24 gulungan kulit kayu betula dari koleksi Senior yang sebagian besar berisi sutra-sutra berbeda dan Anavatapta Gāthā.
  • 8 fragmen dari satu gulungan kulit kayu betula dan 2 fragmen kecil dari gulungan lain koleksi Universitas Washington yang kemungkinan berisi teks Abhidharma atau tafsir skolastik lainnya.

Terjemahan dari bahasa Gandari

Sutra-sutra Tanah Murni (Pure Land Sūtras) Buddhis Mahayana dibawa dari Gandhāra ke Tiongkok sejak tahun 147 M, ketika biksu Kushan bernama Lokakṣema mulai menerjemahkan sutra-sutra buddhis pertama ke dalam bahasa Tionghoa.[31][32] Terjemahan paling awal dari teks-teks ini menunjukkan bukti bahwa teks tersebut diterjemahkan dari bahasa Gandari.[33] Diketahui pula bahwa manuskrip dalam aksara Kharoṣṭhī sudah ada di Tiongkok selama periode ini.[34]

Lihat pula

Referensi

  1. "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
  3. Salomon, Richard (2007). "Gandhārī in the Worlds of India, Iran, and Central Asia". Bulletin of the Asia Institute. 21: 179–192. ISSN 0890-4464. JSTOR 24049371.
  4. Masica 1993, hlm. 169.
  5. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 110.
  6. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 121.
  7. Schmidt, Ruth (2008). A Grammar of the Shina Language of Indus Kohistan. Harrassowitz. hlm. 2. ISBN 9783447056762.
  8. Masica 1993, hlm. 180.
  9. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 124.
  10. Heirman & Bumbacher 2007, hlm. 97.
  11. Heirman & Bumbacher 2007, hlm. 98.
  12. 1 2 Heirman & Bumbacher 2007, hlm. 99.
  13. Dani, Ahmad Hasan (2001). History of Northern Areas of Pakistan: Upto 2000 A.D. (dalam bahasa Inggris). Sang-e-Meel Publications. hlm. 64–67. ISBN 978-969-35-1231-1.
  14. Saxena, Anju (12 Mei 2011). Himalayan Languages: Past and Present (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. hlm. 35. ISBN 978-3-11-089887-3.
  15. Liljegren, Henrik (26 Februari 2016). A grammar of Palula (dalam bahasa Inggris). Language Science Press. hlm. 13–14. ISBN 978-3-946234-31-9. Palula belongs to a group of Indo-Aryan (IA) languages spoken in the Hindukush region that are often referred to as "Dardic" languages... It has been and is still disputed to what extent this primarily geographically defined grouping has any real classificatory validity... On the one hand, Strand suggests that the term should be discarded altogether, holding that there is no justification whatsoever for any such grouping (in addition to the term itself having a problematic history of use), and prefers to make a finer classification of these languages into smaller genealogical groups directly under the IA heading, a classification we shall return to shortly... Zoller identifies the Dardic languages as the modern successors of the Middle Indo-Aryan (MIA) language Gandhari (also Gandhari Prakrit), but along with Bashir, Zoller concludes that the family tree model alone will not explain all the historical developments.
  16. Cacopardo, Alberto M.; Cacopardo, Augusto S. (2001). Gates of Peristan: History, Religion and Society in the Hindu Kush (dalam bahasa Inggris). IsIAO. hlm. 253. ISBN 978-88-6323-149-6. ...This leads us to the conclusion that the ancient dialects of the Peshawar District, the country between Tirah and Swât, must have belonged to the Tirahi-Kohistani type, and that the westernmost Dardic language, Pashai, which probably had its ancient centre in Laghmân, has enjoyed a comparatively independent position since early times". …Today the Kohistâni languages descendent from the ancient dialects that developed in these valleys have all been displaced from their original homelands, as described below.
  17. 1 2 Burrow, T. (1936). "The Dialectical Position of the Niya Prakrit". Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London. 8 (2/3): 419–435. ISSN 1356-1898. JSTOR 608051. ... It might be going too far to say that Torwali is the direct lineal descendant of the Niya Prakrit, but there is no doubt that out of all the modern languages it shows the closest resemblance to it. A glance at the map in the Linguistic Survey of India shows that the area at present covered by "Kohistani" is the nearest to that area round Peshawar, where, as stated above, there is most reason to believe was the original home of the Niya Prakrit. That conclusion, which was reached for other reasons, is thus confirmed by the distribution of the modern dialects.
  18. 1 2 Dani, Ahmad Hasan (2001). History of Northern Areas of Pakistan: Upto 2000 A.D. (dalam bahasa Inggris). Sang-e-Meel Publications. hlm. 65. ISBN 978-969-35-1231-1. In the Peshawar district, there does not remain any Indian dialect continuing this old Gandhari. The last to disappear was Tirahi, still spoken some years ago in Afghanistan, in the vicinity of Jalalabad, by descendants of migrants expelled from Tirah by the Afridis in the 19th century. Nowadays, it must be entirely extinct and in the NWFP are only to be found modern Iranian languages brought in by later immigrants (Baluch, Pashto) or Indian languages brought in by the paramount political power (Urdu, Panjabi) or by Hindu traders (Hindko).
  19. Jain, Danesh; Cardona, George (26 Juli 2007). The Indo-Aryan Languages (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 991. ISBN 978-1-135-79710-2.
  20. Salomon, Richard (10 Desember 1998). Indian Epigraphy: A Guide to the Study of Inscriptions in Sanskrit, Prakrit, and the other Indo-Aryan Languages (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 79. ISBN 978-0-19-535666-3.
  21. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 125.
  22. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 125-6.
  23. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 127.
  24. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 129.
  25. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 130.
  26. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 132.
  27. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 133.
  28. Salomon, Allchin & Barnard 1999, hlm. 134.
  29. http://ebmp.org/ Diarsipkan 11 September 2014 di Wayback Machine. The Early Buddhist Manuscripts Project
  30. Gandhārī language dalam Encyclopædia Iranica
  31. Lancaster & Park 1979, hlm. 24.
  32. Lancaster, Lewis R. "The Korean Buddhist Canon: A Descriptive Catalogue". www.acmuller.net. Diakses tanggal 4 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. Mukherjee 1996, hlm. 15.
  34. Nakamura 1987, hlm. 205.

Daftar pustaka

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Dardik?
Kashmirik
Shinaik
Kunar
Kohistan
Lainnya
Utara
Timur
Tengah
Barat
Barat Laut
Punjabi
Timur
Lahnda
Sindhi
Barat
Gujarat
Rajasthan
Bhil
Romani
Utara
Lainnya
Lainnya
Tengah
Barat
Timur
Lainnya
Timur
Bihari
Bhojpuri
Magahi
Maithili
Sadanik
Tharuik
Lainnya
Gauda–
Kamarupa
Bengali
Kamarupik
Odia
Halbi
Selatan
Marathi–
Konkani
Marathik
Konkanik
Kepulauan
Kuno
Pertengahan
Awal
Pertengahan (Prakerta)
Akhir (Apabhraṃśa)
Bahasa
Proto
Belum Diklasifikasikan
Bahasa Pidgin
dan Kreol
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan