| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 Cetasika |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
|
7 universal (sabbacittasādhāraṇa) |
|
25 indah (sobhana)
|
|
|
Ekaggatā (Pali; Sanskerta: ekāgratā, एकाग्रता), diterjemahkan sebagai kemanunggalan, keterpusatan pikiran, pemusatan pikiran,[1][2] penyatuan batin, dan ketenangan batin,[a] adalah suatu faktor mental yang juga merupakan suatu faktor jhāna.
Dalam tradisi Theravāda, yang menafsirkan kembali jhāna sebagai konsentrasi terpusat, faktor mental ini dipandang sebagai komponen utama dalam semua tingkatan jhāna serta inti dari konsentrasi (samādhi). Pemusatan pikiran berfungsi menekan sementara nafsu indria, suatu syarat penting bagi pencapaian meditatif. Ekaggatā menjalankan peran untuk mengarahkan perhatian secara mendalam pada objek meditasi—ciri khas dari jhāna—namun tidak dapat bekerja sendiri. Ia memerlukan keterlibatan bersama empat faktor jhāna lainnya yang masing-masing memiliki fungsi khusus: vitakka, vicāra, pīti, and sukha.
Dalam ajaran Buddhis, ekaggatā diidentifikasi sebagai:
- Salah satu dari tujuh faktor mental universal dalam ajaran Abhidhamma Theravada.
- Salah satu kualitas yang berkaitan dengan jhāna kedua menurut Tipiṭaka.[3][4]
- Obat penawar terhadap nafsu indria (kāmacchanda) dalam kelompok lima rintangan (pañca nīvaraṇa).
Etimologi
Ekaggatā (Pali) (Sanskerta: Ekāgratā, एकाग्रता) berarti:
- "keterpusatan" (bahasa Inggris: one-pointedness), atau keadaan (-tā) memiliki satu (eka) titik (agga);
- "penyatuan pikiran," ketika pikiran menjadi sangat tenang tetapi tidak menyatu dengan objek perhatian.[2]
Definisi
| Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna | ||||
| Faktor jhāna (jhānaṅga) | Jhāna pertama | Jhāna kedua | Jhāna ketiga | Jhāna keempat |
|---|---|---|---|---|
| Vitakka (penempatan awal) |
✓ (terasing dari kāma dan akusala-dhammā) |
✗ | — | — |
| Vicāra (penempatan sinambung) | ||||
| Pīti (kegembiraan) |
✓ (lahir dari viveka) |
✓ (lahir dari samādhi; sampasādana internal) |
✗ | — |
| Sukha (kebahagiaan) |
✓ (mengalami dengan kāya) |
✗ (adukkhamasukhaṁ upekkhā-sati-pārisuddhi) | ||
| Ekaggatā (kemanunggalan, keterpusatan) |
✓ | ✓ | ✓ | ✓ (sati-pārisuddhi-citt-ekaggatā) |
Bhikkhu Bodhi, dalam Manual Abhidhamma, menyatakan:
- Ini adalah penyatuan pikiran pada objeknya. Meskipun faktor ini menonjol dalam jhāna dan berfungsi sebagai faktor jhāna, Abhidhamma mengajarkan bahwa benih dari kapasitas penyatuan mental tersebut hadir dalam semua jenis kesadaran, bahkan yang paling dasar sekalipun. Di sana, ia berfungsi sebagai faktor yang menetapkan pikiran pada objeknya. Ekaggatā memiliki ketiadaan pengembaraan pikiran atau ketiadaan gangguan sebagai karakteristiknya. Fungsinya adalah untuk menggumpalkan atau menyatukan keadaan-keadaan yang terkait.[5]
Bhikkhu Bodhi juga mencatat bahwa konsentrasi yang lebih dalam dan lebih mendalam (dibandingkan dengan konsentrasi yang halus) menyebabkan kedamaian (passaddhi). Hal ini dianggap muncul dari dan didasarkan pada kebahagiaan (sukha). [5]
Nina van Gorkom menjelaskan:
- Ekaggatā, bagian dari faktor-faktor mental, memungkinkan seseorang untuk memperhalus fokusnya dan menetap pada objek tunggal. Penghalusan ini terjadi dengan memisahkan indera ke dalam 6 kelompok aspek persepsi yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pergerakan, pengecapan, dan pikiran.[butuh rujukan]
Kitab Atthasālinī (1, Bagian IV, Bab 1. 118, 119) menguraikan ekaggatā (dalam konteks sammā-samādhi):
- Samādhi ini, yang dikenal sebagai ekaggatā, memiliki ketiadaan penyebaran (dari dirinya sendiri) atau ketiadaan gangguan (dari keadaan-keadaan yang terkait) sebagai karakteristik, penyatuan keadaan-keadaan yang berdampingan sebagai fungsi, seperti air yang mengaduk bubuk mandi menjadi pasta, dan kedamaian pikiran atau pengetahuan sebagai manifestasi. Oleh karena telah dikatakan: 'Dia yang terkonsentrasi mengetahui, melihat sesuai dengan kebenaran.' Hal ini dibedakan dengan memiliki kenyamanan (sukha) (biasanya) sebagai sebab terdekat. Seperti kestabilan lampu tanpa adanya angin, demikian pula keteguhan pikiran harus dipahami.[6]
Ajahn Sucitto lebih lanjut menjelaskan:
- Ini adalah faktor penyerapan (absorpsi) yang muncul bergantung pada pengarahan pikiran, ketidakterlibatan, dan evaluasi. Hal ini terjadi dalam meditasi ketika kualitas kenyamanan telah menenangkan kegiuran (pīti) dan energi mental; energi pemusatan dan energi jasmani berada dalam harmoni. Hasil dari penyatuan pikiran dan tubuh ini dialami sebagai keteguhan dalam kesadaran, yang karenanya tidak dapat ditembus oleh kesan-kesan indra (phassa).[7]
Namun, Richard Shankman mencatat bahwa ekaggatā juga berarti "penyatuan pikiran"; pada kondisi ini, pikiran menjadi sangat tenang tetapi tidak menyatu dengan objek perhatian, sehingga mampu mengamati dan memperoleh pandangan terang (vipassanā) ke dalam aliran pengalaman yang terus berubah.[2]
Lihat pula
Catatan
Referensi
- ↑ BuddhaSasana: Concise Pali-English Dictionary
- 1 2 3 Shankman 2008, hlm. 4.
- ↑ Henepola Gunaratana, The Path of Serenity and Insight: An Explanation of the Buddhist Jhānas, hlm. 87
- ↑ Roderick S. Bucknell (1993), Reinterpreting the Jhanas, hlm .375
- 1 2 Bhikkhu Bodhi 2012, Kindle Locations 2217-2221.
- ↑ Gorkom (2010), Definition of ekaggata[pranala dihapus]
- ↑ Ajahn Sucitto (2011). Meditation, A Way of Awakening. Amaravati Publications. hlm. 267. (dari glosarium)
Daftar pustaka
- Bhikkhu Bodhi (2012), A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha (Vipassana Meditation and the Buddha's Teachings), Independent Publishers Group Kindle Edition
- Nina van Gorkom (2010), Cetasikas[pranala dihapus], Zolag //tautan rusak
- Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi, Shambhala Publications