Minggu, 27 September 2026
10:44 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Narada Mahathera

Narada Mahathera

Biksu dan cendekiawan Buddha Theravada Sri LankaTemplat:SHORTDESC:Biksu dan cendekiawan Buddha Theravada Sri Lanka
Narada Mahāthera
නාරද මහා ස්ථවිරයන් වහන්සේ
250px-Portrait_Of_Most_Venerable_Narada_Maha_Thera_%281898-1983%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mahāthera, sekitar 1920-an
GelarMahāthera
Kehidupan pribadi
Lahir14 Juli 1898
Kotahena, Kolombo, Sri Lanka
Meninggal2 Oktober 1983(1983-10-02) (umur 85)
Vihara Siri Vajiraramaya, Kolombo, Sri Lanka
KebangsaanSri Lanka
EducationSt. Benedict's College, Colombo
Kehidupan religius
AgamaBuddhisme
MazhabTheravāda
Garis keturunanAmarapura Nikāya
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Narada Mahāthera (Sinhala: නාරද මහා ස්ථවිරයන් වහන්සේ), lahir dengan nama Sumanapala Perera (14 Juli 1898 – 2 Oktober 1983[1]) adalah seorang biku Buddha Theravāda, cendekiawan, penerjemah, pendidik, dan misionaris Buddhis yang selama bertahun-tahun menjadi Kepala Vihara Vajiraramaya di Kolombo, Sri Lanka. Ia merupakan tokoh yang populer di negara asalnya, Sri Lanka, maupun di mancanegara.

Biografi

Latar belakang

Ia lahir di Kotahena, Kolombo dari keluarga kelas menengah,[1] menempuh pendidikan di St. Benedict's College dan Ceylon University College, serta ditahbiskan pada usia delapan belas tahun.[1]

Penyebaran Buddhisme

Pada tahun 1929, ia mewakili Sri Lanka pada upacara pembukaan vihara Mulagandhakuti yang baru di Sarnath, India,[1] dan pada tahun 1934 ia mengunjungi Nusantara (wilayah yang di kemudian hari dikenal sebagai Indonesia), menjadikannya sebagai biku Theravāda pertama yang datang ke sana dalam kurun waktu lebih dari 450 tahun setelah jatuhnya kerajaan Hindu-Buddha terakhir di kepulauan tersebut.[2] Pada kesempatan tersebut, ia menanam dan memberkati sebuah pohon bodhi di sisi tenggara Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934, dan beberapa umat awam setempat dilantik secara resmi (visuddhi) menjadi upasaka-upasika. Kemudian, pada perayaan Waisak tahun 1959, ia menahbiskan beberapa upasaka menjadi samanera (calon biku).[3] Sejak saat itu, ia bepergian ke berbagai negara untuk melakukan pekerjaan misionaris: Taiwan, Kamboja, Laos, Vietnam Selatan, Singapura, Jepang, Nepal, dan Australia. Pada tahun 1956, ia mengunjungi Britania Raya dan Amerika Serikat, serta berceramah di hadapan kerumunan besar di Monumen Washington. Pada tanggal 2 November 1960, Narada Maha Thera membawa sebuah pohon bodhi ke wihara Vietnam Selatan, Thích Ca Phật Đài, dan melakukan banyak kunjungan ke negara tersebut selama tahun 1960-an.

Bersama dengan tokoh-tokoh lainnya (seperti Piyadassi Mahāthera), ia berkontribusi pada populerisasi ceramah Dhamma bergaya bana (Sinhala: බණ), yakni metode khotbah yang lebih membumi dan praktis, pada tahun 1960-an; dan membawa ajaran Buddha "ke dalam kehidupan sehari-hari kelas menengah kebarat-baratan di Sri Lanka".[4]

Warisan di Indonesia

Kebangkitan agama Buddha

Narada Mahāthera diakui luas sebagai tokoh sentral yang memicu kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia pada abad ke-20 setelah redup sejak keruntuhan era Majapahit dan Sriwijaya. Ia pertama kali datang ke Indonesia pada 4 Maret 1934 atas undangan Kwee Tek Hoay, Mengelaar Meertens (Ketua Perhimpunan Teosofi cabang Indonesia), dan Pandita Josias van Dienst. Sebagai biku Theravāda pertama yang berkunjung ke Nusantara pada abad ke-20, kehadirannya disambut sangat antusias, bahkan di kalangan umat kelenteng Mahāyāna. Hal ini dikarenakan ia secara aktif membabarkan makna Dhamma. Pada masa itu, ritual di kelenteng umumnya hanya sebatas pelafalan mantra tanpa penjelasan makna.[5]

Penanaman pohon bodhi

Kunjungan pertamanya ditandai dengan penanaman sebuah pohon bodhi di pelataran Borobudur pada 10 Maret 1934. Meskipun pohon tersebut sempat ditebang pada tahun 1980 akibat proyek restorasi candi, Narada kembali membawa cangkokan pohon bodhi baru dari situs kuno Anuradhapura, Sri Lanka, yang kemudian ditanam kembali di Borobudur pada tahun 1981.[5]

Pelantikan upasaka-upasika

Selain upacara simbolis tersebut, langkah nyatanya dalam melantik umat awam lokal menjadi upasaka-upasika membawa dampak penggerak yang luar biasa. Salah satu tokoh angkatan pertama yang ia lantik adalah S. Mangunkawatja, seorang guru asal Jawa yang kemudian bergelar Maha Upasaka dan menjadi representasi umat Buddha di MPR. Pembinaan ini terus berlanjut hingga memunculkan tokoh-tokoh pionir lainnya seperti Suhirkam dan Sosro Utomo (yang kelak memimpin Persatuan Buddhis Indonesia). Tokoh-tokoh pionir inilah yang di kemudian hari meletakkan fondasi perkembangan dan organisasi agama Buddha di Nusantara.[5]

Penahbisan samanera dan biku

Peran misionarisnya berlanjut hingga tercatat 15 kali melakukan kunjungan ke Indonesia. Pada perayaan Waisak di Borobudur tahun 1959, ia memimpin penahbisan biku dan samanera Indonesia pertama dalam sejarah modern. Kedekatannya dengan umat Buddhis lokal sangat mendalam. Pada perayaan ulang tahunnya ke-85 di Vihara Buddha Metta Arama, Jakarta, tanggal 14 Juli 1983, di tengah kondisi fisiknya yang sudah sangat lemah, ia menolak untuk menyerah dalam membabarkan Dhamma dan menyatakan bahwa Indonesia adalah "negara asalnya yang kedua" (my second home country).[5]

Kritik terhadap konsep ketuhanan

Meskipun berperan besar dalam membimbing umat, Narada Mahāthera tetap bersikap kritis terhadap perkembangan teologi Buddhis di Indonesia pasca-1965. Ia menolak keras konsep Sanghyang Adi Buddha yang dipopulerkan oleh Ashin Jinarakkhita sebagai bentuk kompromi agar agama Buddha selaras dengan sila pertama Pancasila. Sebagai penganut ortodoksi Theravāda yang non-teistik, Narada menegaskan ketidaksetujuannya melalui sepucuk surat kepada Parwati Soepangat, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris Ashin Jinarakkhita. Dalam pesan tersebut, ia menuliskan teguran tajam: "Katakan pada gurumu bahwa tidak ada Tuhan dalam agama Buddha" (Please, tell your teacher that there is no God in Buddhism).[6][7][8]

Bentuk penghormatan

Sebagai bentuk penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa besarnya, balai perpustakaan di Vihara Dhammacakka Jaya, Jakarta Utara, diberi nama "Wisma Narada".[5] Selain itu, sebuah institusi pendidikan di wilayah Kosambi bernama "Sekolah Narada" (Narada School), didirikan pada 2 Februari 2005 oleh Yayasan Buddhis Theravada Indonesia, menjadikan nama Narada Mahāthera sebagai dedikasi atas kerja keras misionarisnya.[9]

Karya tulis

Referensi

  1. 1 2 3 4 Vihanage, Gunaseela. "Venerable Narada Maha Thera: A Biographical Sketch". Narada Felicitation Volume. BPS. Diakses tanggal Juli 26, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Ramstedt, Martin (2004). Hinduism in modern Indonesia: a minority religion between local, national, and global interests. Routledge. hlm. 49ff. ISBN 978-0415405980.
  3. ↑ "Buddhism in Indonesia". Buddhanet. Diarsipkan dari asli tanggal 12 November 2020. Diakses tanggal 4 Mei 2015.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Wickremeratne, Swarna (2006). Buddha in Sri Lanka: Remembered Yesterdays. State University of New York Press. hlm. 97. ISBN 978-0791468821.
  5. 1 2 3 4 5 Jayamedho, Bhikkhu (2015). "Bab 6: Agama Buddha Bangkit dari Tidur Panjang". Menapak Pasti: Kisah Spiritual Anak Madura. Jakarta: Penerbit CENAS.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Juangari, Edij (2022). Menabur Benih Dharma dengan Kasih Sayang: Riwayat Singkat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Jakarta: Karaniya. hlm. 151.
  7. ↑ Syukur, Abdul (2022). "Theological debate among Buddhist sects in Indonesia". HTS Teologiese Studies / Theological Studies. 78 (4): a7054. doi:10.4102/hts.v78i4.7054. ISSN 2072-8050.
  8. ↑ Chia, Jack Meng-Tat (2018). "Neither Mahāyāna Nor Theravāda: Ashin Jinarakkhita and the Indonesian Buddhayāna Movement". History of Religions. 58 (1): 24–63. doi:10.1086/697932.
  9. ↑ "History". Narada School (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-15.

Pranala luar

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Narada Mahathera.
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan