Sabtu, 24 Oktober 2026
11:10 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Byākaraṇa

koleksi kitab tata bahasa Pali

Bagikan:
Untuk tata bahasa Sanskerta dalam agama Hindu, lihat Wyakarana.
Byākaraṇa
JenisKoleksi tata bahasa
IndukSastra Pali
IsiKaccāyanabyākaraṇaṃ; Moggallānabyākaraṇaṃ; Saddanītippakaraṇaṃ; Padarūpasiddhi; Moggallānapañcikā; Payogasiddhipāṭha; Vuttodayapāṭha; Abhidhānappadīpikāpāṭha; Abhidhānappadīpikāṭīkā; Subodhālaṅkārapāṭha; Subodhālaṅkāraṭīkā; Bālāvatāra gaṇṭhipadatthavinicchayasāra
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
icon PortalBuddhisme
Berdasarkan Chaṭṭha Saṅgāyana
Eksegesis Pāḷi
330px-Palm-leaf_manuscript_of_Atthakatha.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lontar Aṭṭhakathā berbahasa Pāḷi dan Sinhala dari Sri Lanka tahun 1756

Byākaraṇa atau vyākaraṇa (Pali) adalah sebuah istilah dalam pembelajaran tata bahasa tradisional yang merujuk pada kajian tentang struktur dan aturan bahasa Pali.[1][2] Dalam tradisi Theravāda, kajian byākaraṇa sangat penting untuk memahami dan melestarikan teks-teks suci Tripitaka Pali dengan menganalisis unsur kebahasaannya, seperti kata, imbuhan, dan aturan pembentukan kalimat.

Asal-usul

Tradisi tata bahasa Pali berkembang di India dan Sri Lanka sejak abad-abad awal Masehi. Kitab-kitab tata bahasa Pali disusun untuk membantu para biku dan pelajar memahami bahasa Pali yang digunakan dalam kitab suci Buddha. Tiga tokoh utama dalam tradisi tata bahasa Pali adalah Kaccāyana, Moggallāna (abad ke-12), dan Aggavaṃsa, yang masing-masing menyusun kitab tata bahasa yang menjadi rujukan hingga saat ini.[3]

Daftar kitab

Berikut adalah kitab-kitab utama dalam tradisi tata bahasa Pali (byākaraṇa):

Kaccāyana-byākaraṇa

Kaccāyana-byākaraṇa (juga dikenal sebagai Kaccāyana-vyākaraṇa) adalah kitab tata bahasa Pali tertua yang masih ada, disusun oleh Kaccāyana (diperkirakan hidup pada abad ke-7–8 M).[4][5] Kitab ini terdiri dari delapan bab dan memuat aturan-aturan tata bahasa dalam bentuk rumus pendek.[6] Kaccāyanabyākaraṇa menjadi dasar bagi sebagian besar tradisi tata bahasa Pali di Myanmar, Sri Lanka, dan Tailan.[7]

Moggallāna-byākaraṇa

Moggallāna-byākaraṇa (atau Moggallāna-vyākaraṇa) disusun oleh Moggallāna (diperkirakan hidup pada abad ke-12 M).[8][3] Berbeda dengan Kaccāyana, Moggallāna (abad ke-12) juga mempertimbangkan interpretasi gramatikal yang ditemukan dalam Aṭṭhakathā (komentar-komentar terhadap Tipiṭaka) di dalam kitab tata bahasanya.[9] Kitab ini merupakan salah satu dari tiga kitab tata bahasa Pali yang paling berpengaruh, bersama dengan Kaccāyana-byākaraṇa dan Saddanīti.[10][11]

Saddanīti

Saddanīti-ppakaraṇa (Saddanīti) disusun oleh Aggavaṃsa, seorang biku dari Pagan, Myanmar, pada pertengahan abad ke-12 M (sekitar tahun 1154 M).[12][13] Aggavaṃsa menjabat sebagai guru bagi Raja Narapatisithu (1167–1202 M).[13] Kitab ini merupakan salah satu kitab tata bahasa Pali yang paling lengkap, dengan total 1.795 halaman dalam edisi cetaknya.[14] Saddanītippakaraṇa terdiri dari tiga bab besar yang terbagi dalam 28 bagian, dan berbeda dari kitab tata bahasa tradisional lainnya karena menggabungkan kumpulan akar kata (dhātu) di dalamnya.[13] Kitab ini sering dianggap sebagai kitab tata bahasa Pali terbaik yang masih ada.[12]

Padarūpasiddhi

Padarūpasiddhi (juga dikenal sebagai Rūpasiddhi) adalah kitab tata bahasa Pali yang ditulis oleh Buddhappiya pada akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13 M di Sri Lanka.[15] Kitab ini merupakan penyusunan ulang rumus-rumus dari tradisi Kaccāyana dengan penjelasan yang lebih terperinci.[15] Padarūpasiddhi memuat 28 aturan tentang pembentukan kata majemuk (samāsa).[15]

Moggallānapañcikā

Moggallānapañcikā adalah kitab komentar tata bahasa (pañcikā) yang ditulis oleh Moggallāna (abad ke-12) sendiri sebagai penjelasan atas kitab Moggallānabyākaraṇa-nya.[16] Kitab ini terinspirasi oleh model Cāndrapañcikā dalam tradisi tata bahasa Sanskerta.[17] Dalam kolofon-nya, Moggallāna (abad ke-12) secara eksplisit menghubungkan penyusunan sistem tata bahasa barunya dengan reformasi monastik yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.[18]

Payogasiddhi

Payogasiddhi-pāṭha (atau Payogasiddhi) adalah kitab tata bahasa Pali yang termasuk dalam mazhab Moggallāna, ditulis oleh Vanaratana Medhaṅkara pada abad ke-13 M di Sri Lanka.[19][20] Kitab ini merupakan pengembangan dari karya Moggallāna dan membahas bagian-bagian tata bahasa.[21][19]

Vuttodaya

Vuttodaya-pāṭha (atau Vuttodaya) adalah sebuah kitab tentang prosodi (ilmu persajakan) bahasa Pali yang ditulis oleh Saṅgharakkhita (yang tidak lain adalah Moggallāna), seorang ahli tata bahasa Pali dari Sri Lanka pada abad ke-12 hingga 13.[22][23] Kitab ini berisi aturan-aturan tentang metrum dan komposisi syair, serta menjadi salah satu karya standar dalam bidang prosodi Pali pada masa pertengahan.[24] Vuttodayapāṭha termasuk dalam karya-karya standar tata bahasa Pali bersama dengan Kaccāyana-byākaraṇa dan Moggallāna-byākaraṇa.[22]

Abhidhānappadīpikā

Artikel utama: Abhidhānappadīpikā

Abhidhānappadīpikā adalah sebuah tesaurus bahasa Pali yang digubah pada abad ke-12 oleh Moggallāna Thera, seorang ahli tata bahasa asal Sri Lanka.[25]

Subodhālaṅkāra

Subodhālaṅkāra (terj. har. 'Retorika yang Mudah Dipahami') adalah sebuah kitab tentang retorika (alaṅkāra) bahasa Pali yang ditulis oleh Saṅgharakkhita Mahāsāmi (nama kebiaraan dari Moggallāna Thera dari Ceylon), seorang biksu Sinhala dari Sri Lanka pada akhir abad ke-12 hingga pertengahan abad ke-13 Masehi.[25][18] Kitab ini merupakan satu-satunya risalah tentang retorika Pali yang masih ada hingga saat ini, dan bersama dengan Vuttodaya (karya Saṅgharakkhita tentang prosodi) menjadi dua karya utama dalam bidang puisi Pali pada periode abad pertengahan.[18][3] Subodhālaṅkāra terdiri dari 367 bait (kārikā) yang terbagi dalam lima bab, yang membahas berbagai aspek seni kepuitisan dalam bahasa Pali. Berikut adalah isi kelima bab tersebut:[11]

  1. Dosāvabodha-paṭhamapariccheda (Bab Pertama: Pemahaman tentang Kesalahan [dalam Komposisi]): Ketidaksesuaian makna dan tautologi
  2. Dosaparihārāvabodha-dutiyapariccheda (Bab Kedua: Pemahaman tentang Penghindaran Kesalahan): Seni menghindari kesalahan-kesalahan gaya bahasa
  3. Guṇāvabodha-tatiyapariccheda (Bab Ketiga: Pemahaman tentang Kualitas): Keindahan kata dan frasa
  4. Atthālaṅkārāvabodha-catutthapariccheda (Bab Keempat: Penjelasan tentang Hiasan Makna): Keindahan makna dan cara memperolehnya
  5. Bhāvāvabodha-pañcamapariccheda (Bab Kelima: Penjelasan tentang Keadaan Emosional): Keindahan bunyi dan seni membuat syair yang merdu di telinga pendengar

Terdapat dua sub-komentar (ṭīkā) untuk kitab ini,[11] yaitu Porāṇa-ṭīkā (atau Mahāsāmi-ṭīkā), komentar kuno yang ditulis oleh Saṅgharakkhita sendiri sebagai autokomentar; dan Abhinava-ṭīkā, komentar baru yang ditulis oleh Vācissara (Vācissara the Younger).[18]

Bālāvatāra

Bālāvatāra gaṇṭhipadatthavinicchayasāra adalah sebuah kitab tata bahasa dasar bahasa Pali yang terdiri dari tujuh bab, ditulis oleh Dhammakitti (atau Vacissara) pada abad ke-14 M. Kitab ini didasarkan pada sistem tata bahasa Kaccāyana-byākaraṇa dan merupakan ringkasan tata bahasa Pali yang sangat baik untuk para pemula. Terdapat beberapa parafrasa dalam bahasa Sinhala serta dua ṭīkā (subkomentar) dalam bahasa Pali untuk karya ini.[26]

Referensi

Sitasi

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumer jurnal

Sumber web

Lihat pula

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan