Minggu, 11 Oktober 2026
18:11 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Tautologi

Sebuah teknik retorika yang melibatkan pengulangan sinonim

Bagikan:

Tautologi adalah majas bahasa berupa pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata secara berlebihan dan tidak perlu.[1] Tautologi merupakan contoh redundansi bahasa.[2][3]

Dalam literatur linguistik, istilah tautologi dan pleonasme tidak dibedakan secara konsisten. Menurut salah satu definisi, pada pleonasme, unsur yang ditambahkan sudah terkandung atau implisit pada kata yang diperikannya (misalnya turun ke bawah), sedangkan pada tautologi, kata yang ditambahkan merupakan kata lain dari kata yang dijelaskannya (misalnya katakan lagi sekali lagi). Menurut pengertian yang lain, kedua istilah tersebut merupakan sinonim.[4][5]

Referensi

  1. ↑ Pusat Bahasa (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 9789794071823.
  2. ↑ Markowski, Andrzej (2005). Kultura języka polskiego. Teoria. Zagadnienia leksykalne (dalam bahasa Polski). Warsawa: Wydawnictwo Naukowe PWN. hlm. 270. ISBN 83-01-14526-9.
  3. ↑ Jadacka, Hanna (2002). "Hasła problemowe. Tautologia". Nowy słownik poprawnej polszczyzny PWN (dalam bahasa Polski). Warszawa: Wydawnictwo Naukowe PWN. hlm. 1760. ISBN 83-01-13681-2.
  4. ↑ Ginter, Joanna (2018-05-21). "Pleonazmy, czyli „masło maślane" – błąd czy nie błąd?". ekorekta24.pl (dalam bahasa Polski). Diakses tanggal 2019-05-04.
  5. ↑ Bańko, Mirosław (2003-12-24). "pleonazm i tautologia". sjp.pwn.pl (dalam bahasa Polski). Diakses tanggal 2019-05-04.{{cite web}}: |work= and |website= ditentukan lebih dari satu kali
Ikon rintisan

Artikel bertopik linguistik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan