Rabu, 28 Oktober 2026
14:45 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Bahasa Osing

Bahasa Osing

varian bahasa Jawa yang mayoritas dituturkan oleh masyarakat Osing

Bagikan:
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Bahasa Osing" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(September 2023)
Artikel ini mungkin mengandung riset asli. Anda dapat membantu memperbaikinya dengan memastikan pernyataan yang dibuat dan menambahkan referensi. Pernyataan yang berpangku pada riset asli harus dihapus. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini terlalu bergantung pada referensi dari sumber primer. Mohon perbaiki artikel ini dengan menambahkan sumber sekunder atau tersier. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini berisi tentang dialek bahasa Jawa yang disebut juga sebagai "bahasa Banyuwangi". Untuk dialek bahasa Madura, lihat bahasa Madura Banyuwangi.
Bahasa Osing
BPS: 0090 2
basa Using
ꦧꦱꦲꦸꦱꦶꦁ
باسا اوسيڠ
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
EtnisOsing
Penutur
(300.000 per 2000)[3]
Perincian data penutur

Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[4]

  • 300.000 (2000)
Lihat sumber templat}}
20px-Info_Simple.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailBeberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Tampilkan klasifikasi manual
Tampilkan klasifikasi otomatis
Kode bahasa
ISO 639-3osi
Glottologosin1237
IETFosi
BPS (2010)0090 2
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL Ethnologue: C6a VigorousBahasa Osing dikategorikan sebagai C6a Vigorous menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini masih dituturkan dan digunakan oleh sebagian wilayah
Referensi: [5]
Informasi penggunaan templat turunan
Sampel
 Video yang lain 
Video dari seorang penutur yang berbicara dalam bahasa Osing Suntingan nilai di Wikidata
Lokasi penuturan
500px-Osing.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lokasi penuturan Bahasa Osing
osm-intl,8,a,a,300x250.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Bahasa_Osing&revid=29861541&groups=_cc8f2bd6ef36f98e6485ba041407db53ac4f15ac&parser=parsoid
Peta yang menunjukkan perkiraan penuturan bahasa Osing yang dituturkan di Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, serta kabupaten yang berdekatan.
Unduh garis tepi peta ini
—
Koordinat: 8°15′S 114°18′E / 8.250°S 114.300°E / -8.250; 114.300 Sunting di Wikidata
Catatan
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Tentang artikel
40px-Openstreetmap_logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
40px-Wikipedia-logo-v2.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Proyek pemetaan bahasa
ProyekWiki Bahasa
Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 666 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.
120px-Logo_ProyekWiki_Bahasa.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Osing (basa using; Hanacaraka: ꦨꦴꦰꦴꦈꦱꦶꦁ; Pegon: باسه اوسيڠ) adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan oleh suku Osing di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Glottolog mengkategorikan Osing sebagai varian dari Bahasa Jawa Modern walaupun bukan termasuk dari sub-varian Global. Perbedaan yang paling terlihat antara bahasa Osing dengan dialek Jawa lainnya, dapat dilihat dari kosakata lokal dan adanya serapan dari bahasa Bali, seperti kata osing yang berasal dari bahasa Bali tusing yang artinya 'tidak' , berbeda halnya dengan masyarakat Jawa (Tengger, Mataram, Banyumasan) yang menggunakan kata Ora/Orak. Bahasa Osing juga menggunakan diftongisasi (perubahan vokal [i] menjadi [ai] dan vokal [u] menjadi [au]) yang tidak dapat ditemui di Bahasa Jawa lainya. Penutur bahasa Osing terutama dapat ditemukan di Kabupaten Banyuwangi, tetapi terdapat juga di sebagian kecil Kabupaten Jember, seperti di Kecamatan Wuluhan dan Kecamatan Panti.[2]

Di Desa Serut, salah satu desa di Kecamatan Panti, sekitar 50 tahun yang lalu (pada tahun 1970-an) bahasa ini masih merupakan bahasa mayoritas di sana, hingga kemudian tergerus penggunaannya oleh bahasa Madura dan dialek bahasa Jawa lainnya.[1] Bahasa Osing juga pernah dituturkan hingga ke Situbondo dan Bondowoso, misalnya pada tahun 1930-an. Pada paruh awal abad ke-20, keberadaan dan persebaran penutur bahasa Osing lebih luas dari saat ini, meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi, dengan Banyuwangi menjadi daerah asal suku Osing dengan persentase terbesar.[butuh rujukan]


Ciri khas

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Bahasa Osing" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(September 2023)

Bahasa Osing merupakan dialek konservatif bahasa Jawa yang masih menggunakan kata-kata kuno bersama dengan dialek Tegal, dialek Indramayu, dialek Banyumasan, dan dialek Tengger. Untuk pengucapan konsonan akhir K dalam dialek Osing diucapkan secara Tegas contohnya kata apiK, manuK, enteK mirip seperti Banyumasan / Tegal, yang mana hal ini tidak berlaku di Bahasa Jawa Tengger & Arekan yang cenderung mengucapkan konsonan akhir K secara melunak menjadi api’, manu’, ente’.

Walaupun demikian Bahasa Osing menggunakan Vokal [o] bukan [a], tidak seperti pada dialek konservatif lainnya, misalnya kata ana (ada) dibaca ono bukan ana. Hal ini diduga karena pengaruh serangan dari Mataram Islam terhadap Kerajaan Blambangan.[6] Selain itu Bahasa Osing juga mempunyai perbedaan kosakata yang cukup banyak dengan dialek dialek tersebut, Bahasa Osing juga mempunyai Diftong yang tidak ditemukan di dialek Bahasa Jawa manapun contohnya seperti kata Banyuwangi menjadi Byanyuwangai, Untu menjadi Untau.


Fonologi

Bahasa Osing mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:

  • Adanya diftong [ai] untuk vokal [i]: semua leksikon berakhiran ⟨i⟩ pada Bahasa Osing selalu terlafal sebagai/ai/. Seperti misalnya geni /gəni/ 'api' dilafalkan genai, bengi bəŋːi 'malam' dilafalkan bengai, gedigi /gədigi/ 'begini' dilafalkan gedigai.
  • Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran ⟨u⟩ hampir selalu dilafalkan sebagai /a/. Seperti gedigu /gədigu/ 'begitu' dilafalkan gedigau, asu 'anjing' dilafalkan asau, dan awu 'itu' dilafalkan awau.
  • Pelafalan konsonan [k] akhiran untuk konsonan [ʔ] selalu dilafalkan sebagai /k̚/ (k nirlepas), antara lain apik /apiʔ/ 'bagus' dilafalkan /apik̚/, manuk /manuʔ/~manoʔ/ 'burung' dilafalkan /manuk̚/~/manok̚/, dan seterusnya.
  • Konsonan hentian glotis [ʔ] seperti secara ortografi dilambangkan dengan tanda petik tunggal seperti ⟨piro'⟩ 'berapa', ⟨kiwo'⟩ 'kiri', dan seterusnya.
  • Palatalisasi konsonan yang dilambangkan dengan imbuhan -y-. Dalam bahasa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [ga], [da], dan [wa]. Contoh pada bahasa Osing Seperti kata barong /baroŋ/ 'barong' dilafalkan byarong /bʲaroŋ/, uwak (tante/om) dilafalkan uwyak'"/uwʲak̚/, embah /əmbah/ 'kakek'/'nenek' dilafalkan embyah /əmbʲah/, dan dhawuk /ɖawuʔ/~/ɖawoʔ/ dauk dilafalkan dhyawuk /ɖʲawuk̚/~/ɖʲawok̚/. Adapun kata "Banyuwangi" /baɳːuwaŋːi/ pengucapannya gabungan antara diftong [ai] dan juga palatalisasi [j], sehingga pelafalannya ialah "Byanyuwangai" /bʲaɳːuwaŋːi/~/biaɳːuwaŋːi/.

Tata bahasa

Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang digunakan di situasi yang berbeda. Yakni Cara Osing dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi pembeda hanyalah intonasi serta pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya:

  • Siro wis madhyang? = kau sudah makan?
  • Riko wis madhyang? = kamu sudah makan?
  • Ndiko wis madhyang? = anda sudah makan?

Tingkatan pronomina

  • Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
  • Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel (umur)
  • Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
  • Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua dan tokoh yang dihormati

Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal awalnya hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus/sakral seperti ritual / upacara adat, akan tetapi saat ini juga mulai digunakan kepada orang yang lebih tua yang lebih mirip Krama Inggil, selain itu juga digunakan untuk acara pertemuan menjelang perkawinan.

Imbuhan ⟨-y-⟩

Beberapa dari kata dalam bahasa Osing masih memiliki imbuhan ⟨-y-⟩ (Templat:Ipa blink yang terletak di tengah-tengah kata, misalnya seperti "ngumbyah", "kidyang" yang berbeda dengan pelafalan dalam bahasa Jawa baku, yakni /ŋum.bah/ dan /ki.daŋ/.[7]

Selain itu, inventoris kata dalam bahasa Osing yang berbeda dari bahasa Jawa baku yang lain adalah sebagai berikut:[7]

  • osing/sing (Terjemahan: "Tidak"; Bahasa Jawa Baku: ora)
  • paran (Terjemahan: "apa"; Bahasa Jawa Baku: : åpå)
  • kadhung (Terjemahan: "Jikalau"; Bahasa Jawa Baku: :yèn,lèk,nèk)

Kosakata

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Bahasa Osing" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Desember 2020)

Beberapa kosakata Bahasa Using merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Pertengahan awal yang memiliki kekunoan, menurut penelitian oleh Prof. Dr. Suparman Heru Santosa[butuh rujukan]: Bahasa Using diduga memisahkan diri dari Bahasa Jawa lainnya sejak abad ke-15 hingga 18, dengan demikian disaat Kerajaan Blambangan berdiri pun Dialek Using sudah mulai berkembang dan digunakan di Banyuwangi. [butuh rujukan] Sehingga ada beberapa kata pada Bahasa Using yang berasal dari Bahasa Jawa Pertengahan maupun Modern, serta adanya pengaruh Bahasa Bali yang agak signifikan terlihat dalam bahasa ini, seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).

Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia.
Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Osing Jawa standar
(Solo–Yogya)
Glosa
isun aku, kulå, ingsun saya
sun, hun tak-, dak-, sun (jarang, untuk sastra, contohnya sun gegurit) kata ganti orang (aku/saya)
hirå/irå, sirå, rikå, ndikå kowé, sampéyan, panjenengan, ndikå kamu
-isun, -nisun -ku, kulå (krama), -ingsun, -ningsun (jarang, untuk sastra, contohnya pepujaningsun) akhiran aku
-irå, -nirå, -rikå, -nrikå -mu, panjenengan (krama), -irå, -nirå (jarang, untuk sastra) akhiran kamu
-é, -né -é, -né (ngoko), -ipun, -nipun (krama) -nya
-akên -aké (ngoko), -akên (krama) -kan
di- di- (ngoko), dipun- (krama) di-
iyané, yané dheweke dia
dhewek dhewe sendiri
bain
(byaén)
baé, waé saja
soren wingi, sore kemarin, sore
soren bengi wingi bengi kemarin malam
sorene maning, wingenane (wingyenane') wingenane kemarin dulu
kesuwun matur nuwun terima kasih
aran jeneng (lebih umum), aran, nåmå/nami, asmå nama
aranisun jenengku (lebih umum), aranku nama saya
aranirå, aranrikå jenengmu (lebih umum), aranmu nama kamu
lare bocah, lare anak
wong wong orang
iki
(ikai)
iki, punikå, puniki ini
iku
(ikau)
iku, kuwi, punikå, puniku itu
ikå ikå, aku kae, punikå itu (jauh)
gedigi, digi
(gedigai, kadi iki)
ngene, mangkene begini
gedigu, digu
(gedigau, kadi iku)
ngono, mangkono begitu
dulur sêdulur saudara
arêp, nak arêp akan
maning manèh lagi
emong emoh tidak mau, enggan
acak jajal coba
ulih olèh dapat
ilu, milu, nutut mélu, tumut, ngetut ikut
uwah, robah (robyah) owah berubah
umah (umyah) omah rumah
lebih luwih lebih
paran, paen åpå apa
ånå paran ånå åpå ada apa
paran maning åpå manèh apalagi
endi (êndai) endi mana
kêlêndi (kêlêndai) kêpriyé, piyé bagaimana
wayakêndi, kapan kapan kapan
apuwå kenå ngåpå kenapa, mengapa
såpå, håpå såpå siapa
pirå, sekendi(an) pirå berapa
påcå sidå jadi
sakat wiwit, kawit sejak, semenjak
bêngen biyen dahulu
sampek, taker nganti, ngasi sampai
åjå åjå jangan
sing, hing ora, mboten tidak
taping, naming nanging, ananging namun, tetapi
nånå, sing ånå, hing ånå ora ånå tidak ada, tiada
sing paran-paran, hing paran-paran, madak paran-paran ora åpå-åpå tidak apa-apa, tidak mengapa
sing biså, hing biså ora biså, mboten saged tidak bisa
sing gunå, hing gunå ora gunå, ora migunani tidak berguna
sing kuat, hing kuat ora kuwat tidak kuat
durung durung belum
dudu dudu, sanes bukan
parêk cêdhak, cêrak dekat
golek, golet golek mencari
sulung, hulung, lung dhisik, sik dulu
mau, maukå, mukå mau, wau tadi
engko mengko nanti
mung, cumong mung, amung, namung hanya, cuma
kanggo kanggo untuk
munggah munggah naik
mudhun mudhun turun
jero, jeru jero, jeru dalam
njåbå njåbå, njawi luar
cethèk cêthèk dangkal
weruh, wuningå weruh, uningå tahu
sedhelå, sedhilut sadhélå, sakêdhap sebentar
njuwut, ngampèt njupuk mengambil
kakang, kang kakang, kangmas, kang, mas kakak laki-laki, abang
mbok mbakyu, mbak, yu kakak perempuan
tuwek tuwå tua
apak bapak, båpå, råmå ayah
emak ibu, mak, biyung, simbok ibu
anang embah lanang, éyang kakung, kaki kakek
adon embah wadon, éyang putri, nini nenek
bacot
(byacot)
irung hidung
bau
(byau)
pundhak bahu
sikil sikil kaki
kéné, meréné kéné, mréné sini, ke sini
kånå, merånå kånå, mrånå sana, ke sana
melebu mlebu masuk
wetu, metu wetu, metu keluar
melaku
(melakau)
mlaku berjalan
melayu
(melayau)
mlayu berlari
perèi prèi libur
seperéné sepréné hingga saat ini
seperånå seprånå hingga saat itu
gerabah (geryabyah) grabah gerabah
cemepak cumepak tersedia
elom ngelih, luwé lapar
cupar sujånå, butarepan cemburu
lumur gelas gelas
aju banjur, lajêng lalu, kemudian
menyang lungå pergi
njelasakên, nerangakên nerangaké (ngoko), nerangakên (krama) menjelaskan, menerangkan
ngomongakên ngomongaké (ngoko), ngginemakên (krama) membicarakan
nyebarakên nyebaraké (ngoko), nyebarakên (krama) menyebarkan
nggeningakên ngêjaraké, ngumbaraké, ngêbènaké membiarkan
nggunakakên nggunakaké (ngoko), ngginakakên (krama) menggunakan
nganakakên nganakaké (ngoko), ng(a)wontênakên (krama) mengadakan
ngêrungokakên ngrungokaké (ngoko), mirêngakên (krama) mendengarkan
mêlêcirakên ngluncuraké meluncurkan
picis dhuwit uang
kêmêthak umuk, kumaki, kuminter sombong, sok tahu
deleng, dileng deleng, delo(k), dulu lihat
hang, kang sing, kang yang
magih isih masih
makene
(myakenè)
kareben, ben, supåyå, amrih, murih agar, supaya
muni muni berbunyi
mulih mulih, bali pulang
kecaruk kêpêthuk, ketemu bertemu
katon katon terlihat, tampak
lanang lanang laki-laki
wadon wadon perempuan
jêbeng, beng
(jêbyeng, byeng)
gêndhuk (ndhuk), dhènok (nok) sebutan untuk anak perempuan
thulik, lik tholé (lé), ênggèr (ngger), kenang (nang) sebutan untuk anak laki-laki
takon takon bertanya
talar, nalar bantah, mbantah bantah, membantah
ring, nong ing di
ring endi, nong endi ing endi, ning endi di mana
nyang mênyang, nyang, mring ke
tekå' såkå dari
kadhung, adhung, dhung yèn, nèk kalau
gok ånådéné, yèn, bilìh bahwa, kalau
kathik nganggo memakai, menggunakan
kåncå kåncå teman
ånå ånå ada
madhang
(madhyang)
mangan, madhang makan
mêmêngan, mêngan dolan, amêng-amêng bermain
késuk sésuk besok
wérå jêmbar, åmbå, bawérå luas
saiki saiki sekarang
sabrang (sabryang) télå rambat ubi jalar
sawi (sawai) télå pohung ubi kayu
sawen, sayur sawi sawi
entèk entèk, telas habis
wis wis, sampun sudah
èdhèng (èdhyeng), alon alon, rindhik pelan, perlahan
mari bar, rampung selesai
nawi
(nawai)
mênåwå, mênawi barangkali
jumbul jumbul, mecungul muncul
ambi karo, kambi dengan
masiyå, ambekenå sênajan, sanadyan walaupun
kêneng kênå mengenai
kari nemen/temen, tenan, banget, kliwat sangat, benar-benar, terlalu
kari alon kliwat alon, alon banget terlalu pelan, sangat pelan
kari sing kuat, sing kari kuat ora kuwat banget, ora kuwat tenan, kliwat ora kuwat sangat tidak kuat, benar-benar tidak kuat, terlalu tidak kuat
buru lagi (men)tas, lagiyan, lagi waé baru saja
bangur (byangur) angur, luwung, mendhing lebih baik
wêlas tresnå cinta
gubab (gubyab) ngapusi bohong
gêsah kåndhå, ngomong, nggunêm, jagongan berbicara, mengobrol
janggêt kêlet menempel
kêpus têlês, kêbês basah
laki/rabi bojo, garwå suami/istri
lakinisun/rabinisun bojoku, garwaku suamiku/istriku
ijèn (ijyen) ijèn sendiri, seorang diri
wurung wurung batal, tidak jadi
abang (abyang) abang merah
kelawu, belawu klawu abu-abu, kelabu
cêmêng irêng, cêmêng hitam
biru terong wungu ungu
kapuråntå jambon merah muda
sabrang êndhog jinggå, oranye jingga
getuh buthêk keruh
semångkå, belungking semångkå semangka
unyik, munyik, ngguyu ngguyu tertawa
uyab, muyab, guyon guyon bergurau
lor, elor lor utara
kulon kulon barat
wetan, etan wetan timur
kidul kidul selatan
anter banter keras, cepat
gancang (gyancang) ndang, age, gelis cepat
ndhuwur ndhuwur, nginggil atas
ngisor isor, ngisor bawah
dhuwur dhuwur, inggil, luhur tinggi
cendhèp cendhèk, endhèk rendah
dåwå dåwå panjang
enthek, menthek, cingkrek/cingkek, cendhek cendhèk, cekak pendek
jajang pring bambu
enggek, bengkek akèh banyak
ipet saithik, sithik, saipêt, saimêt sedikit
iwak iwak ikan
bajul båyå, bajul buaya
ulå ulå ular
banyak (byanyak) banyak angsa, soang
banyu (byanyu) banyu air
segårå segårå, laut laut
agep ambegan napas, bernapas
nguwèni, wèni ngwèhi, mènèhi memberi
såyå såyå, sangsåyå, tansåyå semakin, makin
eluh, iluh êluh air mata
endhas (endhyas), pathak endhas (dianggap kasar), sirah, muståkå kepala
cangkem cangkem (kadang dianggap kasar), tutuk mulut
lambé lambé bibir
gulu gulu leher
pakèl, kèlèk kèlèk ketiak
weteng weteng perut
geger geger punggung
kèmpol kèmpol betis
bangkik
(byangkik)
bangkèkan pinggang
dhengkul dhengkul lutut
untu untu gigi
abet solah tingkah lagak, tingkah
råndhå randhå janda
pudhot dhudhå duda
lancing jåkå bujang, lajang
rengit lemud nyamuk
urip urip hidup
murub murub hidup, menyala
angkat, ngangkat
(mulai, angkat)
wiwit mulai
marahi, nggarai maraki, njalari, nyababaké, nggarani menyebabkan
untab, mempeng
(marah, rajin)
nesu, muring, muntab marah
nggåwå nggåwå membawa
galapan
(gyalapan)
balapan lomba, balap
cengkal, wangkot wangkod, wangkal bandel, keras kepala
ngeloyong nglangi berenang
keloyong-loyong kédanan, kesengsem tergila-gila
sigunen ceguken, segunen cegukan
ambung, aras ambung cium
jumbleng peteng dhedhet gelap gulita
gosong, gempung gosong hangus
dalan, lurung (dyalan) dalan jalan
udan udan hujan
temebluk, gemeblug, cicir tibå jatuh
kaju, kajon kagum, gumun kagum, heran
getap jirih penakut
uman (umyan) uman, kumanan kebagian
reki sindap ketombe
selawasé salawasé selama-lamanya
beléthok endhut/lendhut, waled, blethok lumpur
lucu
(lucau)
lucu lucu
lunyu
(lunyau)
lunyu licin
liwat
(liwyat)
liwat lewat
endane, using tah
(endyané)
ah gèk mångså masa, masa iya?
parot simpen simpan
ladak
(ladyak)
umuk, ladak sombong, angkuh
serngéngé srengéngé matahari
serwiwi
(serwiwai)
suwiwi, lar sayap
ngawang mabur, miber terbang
jago
(jyago)
jago ayam jantan
babon
(byabon)
babon induk ayam, ayam betina
busek busek hapus, penghapus
åndhå åndhå tangga
woh woh buah
pelem, poh pelem, poh mangga
oyod, odod oyod akar
godhong godhong daun
abot abot berat
wanèn wani berani
wedèn wedi takut
dhoyong dhoyong condong

Pengaruh bahasa Bali

Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia.
Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Osing Bahasa Bali Jawa standar
(Solo–Yogya)
Bahasa Indonesia
using, sing, uhing, hing tusing ora, mboten tidak
sawi (ke)sela sawi telå singkong
bojog bojog kethek, munyùk monyet

Pengaruh bahasa Inggris

Osing Bahasa Inggris Jawa standar
(Solo–Yogya)
Bahasa Indonesia
nagut not good ora apik, ora bêcik tidak baik
kari very temen, banget sangat
ngempos pause mandheg berhenti

Referensi

  1. 1 2 Darojatin, Elok (2020). "Pemertahanan Bahasa Using di Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember (Kajian Sosiolinguistik)". Lingua: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Pengajarannya. 16 (1). Semarang: Universitas Negeri Semarang. ISSN 2549-3183.
  2. 1 2 Hasbullah, Izur (2018). "Variasi Dialektal di Kabupaten Jember dan Banyuwangi Bagian Selatan". Jurnal Sapala. 5 (1). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Diakses tanggal 26 Juli 2025.
  3. ↑ Bahasa Osing di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
  4. ↑ https://www.ethnologue.com/language/osi. Diakses tanggal 4 Januari 2019. {{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  5. ↑ "Bahasa Osing". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  6. ↑ "Mataram vs Blambangan: Kisah Perang Yang Mengubah Peta Politik Jawa Timur". intisari.grid.id. Intisari. Diakses tanggal 26 Juli 2025.
  7. 1 2 "Projects > Javanese Dialectology > Osing Dialect". Jakarta Field Station. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-05-14. Diakses tanggal 2011-05-14.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Bupati: Ipuk Fiestiandani — Wakil Bupati: Mujiono
Politik & Pemerintahan
Eksekutif
Legislatif
Lambang Kabupaten Banyuwangi
Sejarah
Pra kemerdekaan
Pasca kemerdekaan
Lokasi terkenal dan Wisata
Wisata Sejarah dan Religi
Wisata Kota
Pantai dan Laut
Gunung
Air Terjun dan Pemandian
Agrowisata
Transportasi
Darat
Laut
Udara
Seni & Budaya
Bahasa dan Kesusastraan
Drama dan Tarian
Upacara Adat
Banyuwangi Festival
Kuliner
Makanan
Minuman
Jajanan
Aceh-Cam
Gayo-Batak
Sumatra Barat Laut
Melayu
Minangkabau
Melayu Barisan Selatan
Musi
Lampung
Lain-lain

1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan