Rabu, 23 September 2026
18:42 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN

Abjad Pegon

aksara berbasis Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda dan bahasa Indonesia

Artikel ini bukan mengenai Abjad Jawi.
Abjad Pegon
أَبْجَدْ ڤَيڮَونْ
Jenis aksara
Bahasa
Aksara terkait
Silsilah
Aksara turunan
Abjad Sorabe? (masih diperdebatkan)[1][2]
Aksara kerabat
Jawi, Turki Utsmani, Urdu
 Artikel ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFI).Untuk bantuan dalam membaca simbol AFI, lihat Bantuan:Pengucapan.Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan  , Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi.

Abjad Pegon (Bahasa Jawa/Bahasa Sunda: أَبْجَدْ ڤَيڮَونْ, Abjad Pégon; Bahasa Madura: أَبْجَادْ ڤٖڬُو, Abjâd Pèghu)[a] adalah abjad Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan sejumlah bahasa di Nusantara, terutama bahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Selain itu, Pegon juga digunakan untuk menulis bahasa Melayu di Pulau Jawa, terutama pada masa Kesultanan Banten.[3]

Seiring perkembangannya, abjad Pegon juga digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia, khususnya dalam lingkungan pesantren dan karya-karya keagamaan.[4][5]

Kata pegon diduga berasal dari kata dalam bahasa Jawa, pégo, yang berarti "menyimpang".[6] Istilah tersebut merujuk pada penggunaan huruf Arab untuk menuliskan bahasa Jawa, yang pada masa itu dianggap tidak lazim.[6] Beberapa penulis juga mengaitkan nama tersebut dengan kebiasaan penulisan Pegon yang tampak miring dibandingkan dengan bentuk tulisan Arab baku, meskipun penjelasan ini tidak diterima secara universal.[7]

Abjad Pegon berkerabat dengan abjad Jawi. Perbedaan utamanya terletak pada penambahan sejumlah huruf untuk mewakili bunyi-bunyi bahasa daerah yang tidak terdapat dalam abjad Arab baku maupun dalam sistem tulisan Jawi.[8][9]

Menurut beberapa penelitian, abjad Sorabe yang pernah digunakan untuk menuliskan bahasa Malagasi di Madagaskar diduga berkembang dari tradisi penulisan Pegon yang dibawa melalui jaringan perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan Samudra Hindia.[1][2]

Sejarah

Pegon sendiri digunakan di kalangan umat Muslim, yang hidup dari pendidikan agama di pesantren. Pegon sendiri muncul bersama Islam di Jawa. Pada saat itu, orang-orang Jawa masih menggunakan aksara Kawi dan aksara Jawa untuk menuliskan teks berbahasa Jawa klasik, dan aksara Sunda kuno untuk menuliskan bahasa Sunda Klasik. Ketika Islam masuk ke Pulau Jawa, penggunaan abjad Arab sangat diintensifkan, karena dibutuhkan untuk memaknai kitab-kitab Al-Qur'ān, tafsirnya, serta kitab-kitab ḥadiṡ. Untuk berkomunikasi dengan orang Jawa yang menuturkan bahasa Jawa, para 'ulama kemudian mengadaptasi abjad Arab yang digunakan olehnya sebagai bahasa sehari-hari ke dalam bahasa Jawa. Mereka menulisnya agar orang-orang Jawa lebih mudah dalam memahami agama, terlebih metode dakwah keliling saat itu masih lazim untuk menyiarkan Islam. Di era Wali Songo, contoh kitab misalnya Suluk Sunan Bonang, yang diyakini merupakan buah karya Sunan Bonang.[10]

Di wilayah Melayu sendiri, abjad yang masih bersaudara dengan Pegon adalah abjad Jawi, digunakan untuk menulis bahasa Melayu.[11] Dalam perkembangannya, seluruh lembaga pendidikan agama Islam di Jawa maupun Sumatra menggunakan kitab-kitab dengan abjad Arab, baik dalam bahasa Arab sendiri maupun bahasa-bahasa yang dipakai di daerah setempat, utamanya Sumatra, Jawa, Madura sampai Thailand Selatan.[10]

Sayangnya, abjad Arab asli ini tidak mendukung fonem-fonem bahasa Jawa seperti e atau o, ca, dha, tha, nga, pa, ga, dan nya.[12] Pada akhirnya, di samping mengadopsi huruf-huruf asli Arab, abjad ini juga mengadopsi abjad Persia yang memiliki fonem-fonem tersebut selain dha dan tha.[8] Pada akhirnya, huruf-huruf baru diciptakan, yang diyakini diturunkan dari abjad Persia seperti ca dan gaf. Huruf-huruf lainnya diyakini diciptakan berdasarkan huruf asli Arab, misalnya pa dari fa' yang diberi tiga titik, atau ca dari jim diberi tiga titik. Pada masa lalu, Pegon ditulis dengan harakat untuk membedakan e dan o, tetapi saat ini abjad Pegon sudah tidak lagi menggunakan harakat (beberapa orang menyebut ini Gundhil).[13]

Saat ini huruf Pegon di Jawa digunakan oleh kalangan umat Muslim, terutama di pesantren, TPQ dan madrasah. Biasanya digunakan untuk menulis tafsiran atau arti pada Al-Qur'ān, tetapi banyak pula kitab-kitab agama, buku pelajaran, soal ujian dan naskah-naskah kuno yang secara keseluruhan ditulis dalam Pegon. Misalkan naskah-naskah Serat Yusup.

Daftar aksara

Konsonan

Warna kuning menunjukkan aksara tersebut bukan huruf asli Arab.[12][5]

Abjad Pegon
حچجثتبا
ḥāʾcajīmṡaʾtāʾbāʾʾalif
سزرڎ/ڊذدخ
sīnzāirāʾdhażāldālkhāʾ
عظڟ/طٜطضصش
ʿainẓāʾthaṭāʾḍādṣādsyīn
ؼ/ݣ/ݢ/کٜكقڤ/ففڠغ
gafkāfqāfpafāʾngaġain
يھوۑ/پنمل
yāʾhāʾwāunyanūnmīmlām

Harakat

Dalam penulisan Pegon,

  • harakat fatḥah digunakan untuk membedakan fonem i dan é, serta u dan o
  • penanda konsonan mati dilambangkan dengan huruf tanpa harakat
  • vokal ê dilambangkan dengan simbol pepet ( ۤ)
  • vokal è dilambangkan dengan simbol alif khanjariah ( ‌ٰ)
كاكيكوكَيكَوكۤكٰيأك
ka/kåkikukoak
  • huruf vokal di awal dilambangkan dengan huruf alif hamzah (أ)
أإأوإياواۤأي
A/ÅIUÉOÊÈ
  • huruf konsonan rangkap
كراكريكروكرَيكرَوكرۤكرٰي
kra/kråkrikrukrékrokrêkrè
  • huruf vokal rangkap
كايكاوكاَيكاَوكاۤكاٰيكَيِكَوِ
kaikaukaékaokaêkaèkéikoi
  • kaidah menyambung huruf pegon sama dengan menyambung huruf hijaiyah, penulisannya juga dari kanan
  • kata serapan dari bahasa arab tetap ditulis seperti aslinya. Contoh : kata batin harus ditulis باطن bukan باطين

Contoh kalimat

Bahasa Jawa:

كانجڠ نبي محمد ڤونيكو اوتوسانيڤون ؼوستي الله ڎاتڠ سدايا مخلوق، دينَي ڤوناڤا ماوون إڠكڠ ديڤون چريوساكن دَينيڠ كانجڠ نبي محمد ڤونيكو ۑاتا٢ لٓرس. ڤراميلا سدايا مخلوق واجب اڠلٓرساكن لن هانڎيرَيك مريڠ كانجڠ نبي محمد

Latin: "Kanjêng Nabi Muhammad puniku utusanipun Gusti Allah dhatêng sêdåyå makluk, déné punåpå mawon ingkang dipun-criyosakên déning Kanjêng Nabi Muhammad puniku nyåtå-nyåtå lêrês. Pramila sêdåyå makhluk wajib anglêrêsakên lan handhèrèk maring Kanjêng Nabi Muhammad."

Bahasa Madura:

كانجەںࣸ نبى محمد ڢانېكا ۄتۄسانېڢۄن ݿۅستى اللّٰه دا࣪ء كا ساڊا࣪جا࣪ مخلۄق، ڢان-ڢۄناڢان سې ېچارېتااݿى سارەںࣸ كانجەںࣸ نبى محمد ڢانېكا ݧاتا ݒەندەرّا࣪. ماںࣸكا ساڊا࣪جا࣪ مخلۄق وا࣪جںب ماݒەندەر تۄر نۄرۄء ںࣸېرېںࣸ كانجەںࣸ نبی محمد

Latin: "Kanjeng Nabi Muhammad panèka otosanèpon Ghustè Allah dâ' ka sadhâjâ makhlok, pan-ponapan sè ècarètaaghi sareng Kanjeng Nabi Muhammad panèka nyata bhenderrâ. Mangka sadhâjâ makhlok wâjib mabhender tor noro' ngèrèng Kanjeng Nabi Muhammad."

Bahasa Sunda:

كانجڠ نبي محمد ماڠروڤيكن اوتوسان ؼوستي الله كا سادايا مخلوق، ناءون واَي انو ديچارييوسكن كو كانجڠ نبي محمد ۑايتا كاۑاتأن انو لۤرس. جانتن سادايا مخلوق واجب منركن سارڠ نوتوركن كانجڠ نبي محمد

Latin: "Kanjeng Nabi Muhammad mangrupikeun utusan Gusti Allah ka sadaya makhluk, naon waé anu dicarioskeun ku Kanjeng Nabi Muhammad nyaéta kanyataan anu leres. Janten sadaya makhluk wajib menerkeun sareng nuturkeun Kanjeng Nabi Muhammad."

Bahasa Indonesia:[5]

بڮينڎا نبي محمد اڎاله اوتوسن الله كڤڎ سموا مخلوق، اڤ ساج يڠ ڎچريتاكن اوليه بڮينڎا نبي محمد اڎاله كبنرن يڠ ۑات. مک سموا مخلوق واجب ممبنركن دان مڠيكوتي بڮينڎا نبي محمد

Latin: “Baginda Nabi Muhammad adalah utusan Allah kepada semua makhluk, Apa saja yang diceritakan oleh Baginda Nabi Muhammad adalah kebenaran yang nyata. Maka semua makhluk wajib membenarkan dan mengikuti Baginda Nabi Muhammad.”

• Pada contoh di atas terdapat 5 kata serapan (hanya yang bersifat serapan/kesamaan kosakata) dari bahasa Arab yang harus ditulis sesuai dengan bahasa Arab yaitu:

  • Nabi harus ditulis نبي bukan نابي
  • Muhammad harus ditulis محمد bukan موهمماد
  • Allah harus ditulis الله bukan أللاه
  • Makhluk harus ditulis مخلوق bukan ماخلوك
  • Wajib Harus ditulis واجب bukan واجيب

Galeri

Contoh-contoh penggunaan abjad Pegon

Lihat pula

Catatan

  1. juga disebut sebagai “Aksara Pegon”, “Pegon-Jawa”, “Pégon-Sunda”, “Pèghu-Madhurâ” & “Aksara Pegon-Indonesia”

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 Himmelmann 2004.
  2. 1 2 Simon 2006.
  3. Pudjiastuti, Titik. Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-Surat Sultan Banten.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. Setiawan, Bram. "Langkah Aksara Pegon Menapaki Ruang Digital". Interaktif.tempo.co.
  5. 1 2 3 Aksara Pegon Indonesia. "Baca Tulis Pegon Indonesia". archive.org.
  6. 1 2 Poerwadarminta 1939, hlm. 481.
  7. ...
  8. 1 2 "KHAS–Katakan dengan Pegon (2)". Diakses tanggal 2019-09-05.
  9. Jamaluddin, Jamaluddin; Alfian, Rahman Latif; Mujahidah, Affaf; Wiwaha, Kurnia Sari (2023-01-02). "PENULIS KITAB PEGON DI JAWA ABAD XX: BIOGRAFI KIAI ASRORI AHMAD DAN KARYA-KARYANYA". Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam. 19 (2): 145–158. doi:10.15575/al-tsaqafa.v19i2.20787. ISSN 2654-4598.
  10. 1 2 "BUDAYA–Mengenal Aksara Arab Pegon: Simbol Perlawanan dan Pemersatu Ulama Nusantara". Diakses tanggal 2019-09-05.
  11. Tjandrasasmita, Uka. (2006). Kajian naskah-naskah klasik dan penerapannya bagi kajian sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI. ISBN 9789797971038. OCLC 225432054.
  12. 1 2 Hazmirullah (31 Oktober 2022). "Lantas, Pegon Berkelindan dengan Budaya Jawa". Pikiran Rakyat. hlm. 7.
  13. "Huruf Pegon, Sarana Kreativitas Umat Islam di Jawa Masa Lalu". Poskota News (dalam bahasa Inggris). 2016-07-01. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-05. Diakses tanggal 2019-09-05.

Daftar pustaka

Bacaan lanjutan

Pedoman

Lainnya

Pranala luar

Arab baku
Abjad Arab
Arab-Jawi/Pegon
Arab-Persia
Lain-lain
Abjad khusus
Tanda baca/harakat
Gambaran
Daftar
Brahmi
Utara
Selatan
Kawi
Lainnya
Linear
Non-linear
Tionghoa
Aksara Han
Dipengaruhi Tionghoa
Logosilabis lainnya
Logokonsonan
Sistem bilangan
Penuh
Pengulangan
Braille ⠃⠗⠁⠊⠇⠇⠑
Braille cell
Braille scripts
French-ordered
Keluarga Nordik
Russian lineage family
i.e. Cyrillic-mediated scripts
Egyptian lineage family
i.e. Arabic-mediated scripts
Indian lineage family
i.e. Bharati Braille
Other scripts
Reordered
Frequency-based
Independent
Eight-dot
Symbols in braille
Braille technology
Persons
Organisations
Other tactile alphabets
Related topics
Sistem tulisan elektronik
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan