Selasa, 29 September 2026
00:02 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Angka Romawi

Angka dalam sistem bilangan Romawi

Angka Romawi atau Bilangan Romawi adalah sistem penomoran yang berasal dari Romawi kuno. Sistem penomoran ini memakai huruf Latin untuk melambangkan angka numerik:

SimbolHasil
I1 (satu) ([unus] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))
V5 (lima) ([quinque] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))
X10 (sepuluh) ([decem] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))
L50 (lima puluh) ([quinquaginta] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))
C100 (seratus) ([centum] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))
D500 (lima ratus) ([quingenti] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))
M1.000 (seribu) ([mille] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan))

Untuk angka yang lebih besar (≥5.000), sebuah garis ditempatkan di atas simbol indikator perkalian dengan 1.000.

SimbolHasil
V5.000 (lima ribu)
X10.000 (sepuluh ribu)
L50.000 (lima puluh ribu)
C100.000 (seratus ribu)
D500.000 (lima ratus ribu)
M1.000.000 (satu juta)

Angka Romawi sangat umum digunakan sekarang ini, antara lain digunakan di jam, bab buku, penomoran sekuel film, penomoran seri event olahraga seperti Olimpiade.

Di dalam bahasa Indonesia, angka Romawi digunakan untuk penulisan bilangan tingkat, contoh abad XX (abad kedua puluh) dan Perang Dunia II (Perang Dunia Kedua).

Cara Penulisan

Penulisan pada angka Romawi menggunakan empat macam jenis cara, yaitu:

  1. Pengulangan
  2. Pengurangan
  3. Penjumlahan
  4. Gabungan

Pengulangan

Dalam sistem pengulangan, tidak semua Angka Romawi dapat ditulis ulang. Angka Romawi yang bisa diulang antara lain I, X, C, dan M. Sedangkan Angka Romawi yang tidak dapat diulang antara lain V, L, dan D. Berikut adalah contohnya:

- I = 1 - II = 2 - III = 3 - IV = 4

Dari contoh tersebut, jelas bahwa setelah tiga kali pengulangan tidak akan diulangi kembali untuk kali keempat.

Pengurangan

Jika angka Romawi yang lebih kecil ditulis di depan angka yang lebih besar, ini artinya sistem pengurangan. Pengurangan yang demikian ini hanya dapat dilakukan satu kali. Berikut adalah contohnya:

- IV = 5 - 1 = 4 - XL = 50 - 10 = 40 - XC = 100 - 10 = 90

Penjumlahan

Jika bilangan Romawi yang bernilai sama atau lebih kecil ditulis di belakang bilangan Romawi yang lebih besar, ini artinya penjumlahan. Penjumlahan hanya dapat dilakukan maksimal tiga kali. Berikut adalah contohnya:

- VI = 5 + 1 = 6 - VII = 5 + 2 = 7 - VIII = 5 + 3 = 8

Gabungan

Selain menggunakan sistem pengurangan dan sistem penjumlahan, terdapat sistem lain yaitu gabungan antara sistem pengurangan dan sistem penjumlahan. Berikut adalah contohnya:[1]

- XIV = 10 + (5 - 1) = 14 - LIX = 50 + (10 - 1) = 50 + 9 = 59 - CXLIV = 100 + (50 - 10) + (5 - 1) = 100 + 40 + 4 = 144

Tabel Angka Romawi

Berikut adalah tabel angka Romawi:

RomawiAlternatifArabCatatan
tidak adaN0Tidak diperlukan.
IⅠ1
IIⅠⅠ (atau Ⅱ)2
IIIⅠⅠⅠ (atau Ⅲ)3
IIIIⅠⅤ (atau Ⅳ)4IIII Masih Digunakan Untuk Jam
VⅤ5
VIⅤⅠ (atau Ⅵ)6
VIIⅤⅠⅠ (atau Ⅶ)7
VIIIⅤⅠⅠⅠ (atau Ⅷ)8
IXⅠⅩ (atau Ⅸ)9
XⅩ10
XIⅩⅠ (atau Ⅺ)11
XIIⅩⅠⅠ (atau Ⅻ)12
XIIIⅩⅠⅠⅠ13
XIIIⅩⅠⅤ14
XVⅩⅤ15
XVIⅩⅥ16
XVIIⅩⅦ17
XVIIIⅩⅧ18
XIXⅩⅠⅨ19
XXⅩⅩ20
XXXⅩⅩⅩ30
XLⅩⅬ40
LⅬ50
LXⅬⅩ60
LXXⅬⅩⅩ70
LXXXⅬⅩⅩⅩ80
XCⅩⅭ90
CⅭ100
CCⅭⅭ200
CDⅭⅮ400
DⅮ500
DCLXVIⅮⅭⅬⅩⅤⅠ666Menggunakan setiap simbol utama.
CMⅭⅯ900
MⅯ1000
MCMXLVⅯⅭⅯⅩⅬⅤ1945
MCMXCIXⅯⅭⅯⅩⅭⅠⅩ1999
MMⅯⅯ2000
MMMⅯⅯⅯ3000
MMMMⅯⅯⅯⅯ4000
IƆƆⅠƆƆ5000I diikuti dengan dua buah C terbalik.

Cara mudah untuk menuliskan angka yang besar dalam angka Romawi ialah dengan menuliskan ribuan terlebih dahulu, ratusan, puluhan kemudian satuan.

Contoh: angka 1988. Seribu adalah M, sembilan ratus adalah CM, delapan puluh adalah LXXX, delapan adalah VIII. Digabung: MCMLXXXVIII (ⅯⅭⅯⅬⅩⅩⅩⅤⅠⅠⅠ).

Sejarah

Masa pra-Romawi dan Romawi kuno

Meskipun angka Romawi ditulis dengan huruf-huruf dari abjad Romawi, angka Romawi awalnya adalah simbol-simbol yang berdiri sendiri. Etruskan, misalnya, menggunakan 𐌠, 𐌡, 𐌢, ⋔, 𐌚, dan ⊕ untuk menuliskan I, V, X, L, C, dan M, yang berarti hanya I dan X merupakan huruf-huruf dalam abjad mereka.

Hipotesis mengenai asal mula angka Romawi

Tanda talli

Salah satu hipotesis mengenai asal mula angka Romawi adalah bahwa angka Romawi Etruskan pada kenyataannya berasal dari torehan-torehan pada tongkat hitungan, yang digunakan oleh para penggembala Italia dan Dalmasia hingga abad ke-19.[2]

Oleh karena itu, (I) tidak berasal dari huruf (I), tetapi dari torehan vertikal pada tongkat hitungan. Setiap torehan kelipatan lima dipotong ganda, misalnya ⋀, ⋁, ⋋, ⋌, dst., dan setiap kelipatan sepuluh dipotong silang (X), (IIIIΛIIIIXIIIIΛIIIIXII...), lebih seperti tanda talli Eropa saat ini. Hal ini menghasilkan suatu sistem posisi: Delapan pada tongkat penghitungan adalah delapan talli, IIIIΛIII. Dengan cara lain, dapat disingkat menjadi ΛIII (atau VIII), karena kehadiran Λ mengimplikasikan telah ada empat torehan sebelumnya. Lebih jauh lagi, delapan belas adalah talli kedelapan setelah sepuluh talli pertama, yang dapat disingkat X, dan menjadi XΛIII. Demikian pula angka empat pada tongkat adalah torehan I sebelum potongan Λ (V), sehingga dapat ditulis menjadi IIII atau IΛ (IV). Oleh karena itu, konsep sistem ini bukan penambahan atau pengurangan, tetapi urutan (ordinal). Ketika talli-talli tersebut diubah menjadi tulisan, tanda-tanda yang mudah diidentifikasikan dengan huruf-huruf Romawi saat itu adalah I, V, dan X.

Dalam talli, V atau X yang kesepuluh menerima coretan tambahan. Sehingga, 50 ditulis dengan variasi-variasi seperti N, И, K, Ψ, ⋔, dll., tetapi mungkin yang paling sering adalah bentuk ceker ayam seperti V dan I yang tumpang tindih: ᗐ. Bentuk itu kemudian diluruskan menjadi ⊥ (huruf T terbalik) hingga periode kekuasaan Augustus, dan segera setelah itu diidentifikasi dengan huruf yang secara grafis menyerupai, yaitu L. Demikian pula, 100 ditulis dalam variasi-variasi Ж, ⋉, ⋈, H, atau dengan simbol-simbol untuk 50 seperti yang disebutkan di atas ditambah dengan sebuah coretan ekstra. Bentuk Ж (X dan I yang tumpang tindih) kemudian menjadi bentuk dominan. Bentuk itu lalu ditulis dengan variasi >I< atau ƆIC, kemudian disingkat menjadi Ɔ atau C, hingga akhirnya variasi C yang menjadi pilihan karena C merupakan singkatan dari [centum] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan), bahasa Latin untuk "ratus".

Nilai khusus

Pecahan

Pecahan Angka romawi Nama (nominatif dan genitif) Arti
1/12 · Uncia, unciae "Seper dua belas"
2/12 = 1/6 ·· atau : Sextans, sextantis "Seper enam"
3/12 = 1/4 ··· atau ∴ Quadrans, quadrantis "Seper empat"
4/12 = 1/3 ···· atau ∷ Triens, trientis "Seper tiga"
5/12 ····· atau ⁙ Quincunx, quincuncis "Seper lima" (quinque unciae → quincunx)
6/12 = 1/2 S Semis, semissis "Setengah"
7/12 S· Septunx, septuncis "Seper tujuh" (septem unciae → septunx)
8/12 = 2/3 S·· atau S: Bes, bessis "Dua per tiga" (as in "twice a third")
9/12 = 3/4 S··· atau S∴ Dodrans, dodrantis
atau nonuncium, nonuncii
"Tiga per empat" (de-quadrans → dodrans)
atau "ninth ounce" (nona uncia → nonuncium)
10/12 = 5/6 S···· atau S∷ Dextans, dextantis
atau decunx, decuncis
"Lima per enam" (de-sextans → dextans)
atau "ten ounces" (decem unciae → decunx)
11/12 S····· atau S⁙ Deunx, deuncis "Sebelas per dua belas" (de-uncia → deunx)
12/12 = 1 I As, assis "Satu"

Referensi

  1. ↑ Matematika, rumus (2018). "Angka Romawi : Tabel dan Cara Penulisan Angka Romawi". Diakses tanggal 2020-10-30.
  2. ↑ Ifrah, Georges (2000). The Universal History of Numbers: From Prehistory to the Invention of the Computer. Diterjemahkan oleh David Bellos, E. F. Harding, Sophie Wood, Ian Monk. John Wiley & Sons.

Pranala luar

Angka Romawi at Wiktionary

Gambaran
Daftar
Brahmi
Utara
Selatan
Kawi
Lainnya
Linear
Non-linear
Tionghoa
Aksara Han
Dipengaruhi Tionghoa
Logosilabis lainnya
Logokonsonan
Sistem bilangan
Penuh
Pengulangan
Braille ⠃⠗⠁⠊⠇⠇⠑
Braille cell
Braille scripts
French-ordered
Keluarga Nordik
Russian lineage family
i.e. Cyrillic-mediated scripts
Egyptian lineage family
i.e. Arabic-mediated scripts
Indian lineage family
i.e. Bharati Braille
Other scripts
Reordered
Frequency-based
Independent
Eight-dot
Symbols in braille
Braille technology
Persons
Organisations
Other tactile alphabets
Related topics
Sistem tulisan elektronik
Masa
Kekaisaran
Konstitusi
Pemerintahan
Magistratus
Biasa
Luar biasa
Hukum
Militer
Ekonomi
Teknologi
Budaya
Masyarakat
Bahasa (Latin)
Penulis
Kota besar
Daftar dan topik
lain
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan