Minggu, 04 Oktober 2026
15:36 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Aksara kana

Aksara kana

sistem penulisan suku kata bahasa Jepang, khususnya menggunakan suku kata Hiragana dengan suku kata Katakana untuk kata-kata pinjaman dari bahasa lain atau transkripsi dari aksara lain

Bagikan:
Untuk kegunaan lain, lihat Kana.
Aksara Kana
250px-Hiragana_and_katakana.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
"Kana" ditulis dengan katakana (kiri) dan hiragana (kanan)
Jenis aksara
BahasaJepang, Ryukyu, Ainu
Periode
ca 800 –sekarang
DaerahJepang
Arah penulisanVaries
Aksara terkait
Silsilah
ISO 15924
ISO 15924Hrkt, 412 Sunting ini di Wikidata,​Silabarium bahasa Jepang (alias untuk Hiragana + Katakana)
Pengkodean Unicode
Nama Unicode
Katakana or Hiragana
 Artikel ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFI).Untuk bantuan dalam membaca simbol AFI, lihat Bantuan:Pengucapan.Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan ⟨ ⟩, Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi.

Aksara Kana (仮名) adalah sebutan untuk aksara silabis Jepang yang terdiri dari katakana, hiragana, dan man'yōgana. Ketiganya merupakan penyederhanaan dari aksara Han dari Tiongkok yang di Jepang disebut sebagai kanji.

Asal-usul kata "kana" adalah "kari no ji" (仮の字; aksara sementara) atau ditulis sebagai 借りの字 (aksara pinjaman). Sebelum dibaca sebagai "kana":, aksara Tionghoa untuk 仮名 juga dilafalkan "karina" atau "kanna". Aksara ini disebut "kana" untuk membedakannya dari kanji yang disebut "mana" (真名, aksara resmi).

Variasi yang tidak umum dari kana disebut hentaigana. Bentuknya berbeda dari kana yang dikenal sekarang. Penggunaannya terbatas pada kaligrafi, benda seni, atau papan reklame.

Sejarah

Orang Jepang mulai bisa menulis setelah mengenal aksara Tionghoa. Namun aksara Tionghoa mulanya diciptakan untuk menulis bahasa Tionghoa, dan orang Jepang sulit memakainya untuk menulis bahasa Jepang. Sebagai pemecahannya, sebuah karakter dipakai untuk melambangkan sebuah bunyi, sedangkan arti yang dikandung masing-masing karakter diabaikan. Hasilnya adalah tulisan yang ditulis dengan menyusun satu demi satu aksara kanji untuk melambangkan bunyi bahasa Jepang. Metode tersebut dipakai untuk menulis prasasti batu dan literatur klasik seperti Kojiki, Nihon Shoki, dan sebagian besar isi Man'yōshū sehingga disebut man'yōgana (kana untuk Man'yōshū). Kata "kana" sendiri berarti aksara sementara atau aksara pinjaman. Pada waktu itu, kanji juga dikenal sebagai mana (真字, aksara resmi), sehingga kana untuk Man'yōshū disebut magana (真仮名, kana resmi).

Di antara metode penulisan kanji secara man'yōgana yang paling populer adalah:

  • on'gana (音仮名): bunyi dalam ucapan Tionghoa dipakai untuk menulis bahasa Jepang, misalnya: 夜麻 河波 宇具比須 有兼 dibaca: "yama kawa uguhisu arikemu"
  • kun'gana (訓仮名): masing-masing karakter dibaca menurut ucapan Jepang, misalnya: 八間跡 夏樫 写心 鳴呼 dibaca: "yamato natsukashi utsushigokoro a".

Berdasarkan fungsinya yang hanya sebagai lambang bunyi, sewaktu kanji dipakai sebagai man'yōgana, orang tidak lagi memakai karakter yang dibentuk dari coretan-coretan yang rumit dan susah ditulis. Karakter yang terus dipakai adalah karakter yang mudah ditulis. Ketika dipakai untuk menulis waka atau tulisan sehari-hari, man'yogana yang ditulis kursif (sōsho) disebut sōgana (草仮名). Selanjutnya agar lebih cepat ditulis, sōgana kembali disederhanakan hingga tercipta hiragana.

Sementara itu, katakana berawal dari penggunaan kanji yang dibaca menurut ucapan bahasa Jepang untuk menulis kanbun. Tanda-tanda khusus ditambahkan di tempat susunan kanji harus dibaca menurut ucapan bahasa Jepang. Kanbun juga disertai petunjuk berupa okurigana dan furigana (yomigana) agar kalimat bisa dibaca sebagai bahasa Jepang. Keterbatasan ruang kertas akhirnya membuat orang hanya menulis coretan yang unik dari sebuah karakter sehingga tercipta katakana. Selanjutnya, kanbun dilengkapi dengan katakana agar mudah dibaca.

Setelah katakana dan hiragana semakin luas digunakan, man'yōgana semakin jarang dipakai. Di zaman sekarang, man'yōgana hanya kadang-kadang saja dipakai untuk menarik perhatian orang. Di antaranya, man'yōgana dipakai untuk menulis tajuk pengumuman obral (宝利出市, dibaca: holiday ichi; obral masa liburan) atau petunjuk tempat sampah (護美箱, dibaca: gomibako).

Hiragana dan katakana

Sebagai fonogram, kana pada prinsipnya adalah aksara suku kata (satu aksara melambangkan satu suku kata).

Tabel aksara kana
k s t n h m y r w n/m
a a あ ア ka か カ sa さ サ ta た タ na な ナ ha は ハ ma ま マ ya や ヤ ra ら ラ wa わ ワ
i i い イ ki き キ shi し シ chi ち チ ni に ニ hi ひ ヒ mi み ミ * ri り リ (wi) ゐ ヰ
u u う ウ ku く ク su す ス tsu つツ nu ぬ ヌ fu ふ フ mu む ム yu ゆ ユ ru る ル * n/m ん ン
e e え エ ke け ケ se せ セ te て テ ne ね ネ he へ ヘ me め メ * re れ レ (we) ゑ ヱ
o o お オ ko こ コ so そ ソ to と ト no の ノ ho ほ ホ mo も モ yo よ ヨ ro ろ ロ o/(wo) を ヲ

Bunyi dalam tanda kurung sudah jarang dipakai

Pengecualian

Dalam pemakaian kana modern, sesuai fonologi dan pengucapan penutur asli bahasa Jepang, secara umum satu karakter kana melambangkan satu suara, kecuali:

  • は dapat dilafalkan sebagai [ha] atau [wa]
  • へ dapat dilafalkan sebagai [he] atau [e]
  • お atau を sama-sama dilafalkan sebagai [o]
  • じ・ジ maupun ぢ・ヂ sama-sama dilafalkan sebagai [ji]
  • ず・ズ maupun づ・ヅ sama-sama dilafalkan sebagai [zu].

pelafalan は,へ dan を tersebut memiliki ketentuan dalam perubahan pelafalan jika sebagai joshi (助詞 [partikel dalam bahasa Jepang]. Sedangkan kana じ, ぢ, ず, づ sebenarnya berupa dua pasang kana yang nyaris sama pelafalannya dan dikenal sebagai yotsugana.

Secara fonetis, pemakaian kana modern tidak selalu satu karakter satu suara:

  • か ([ka]) dan が ([ga]) juga dilafalkan sebagai [kwa] atau [gwa].
  • う ([u]) dalam しょうかい misalnya tidak dilafalkan sebagai [sho] [u] [kai] melainkan sebagai lambang bunyi vokal panjang dari suku kata yang mendahuluinya (sho dibaca shō atau sho:).
  • Pengucapan い ([i]) dalam ていか(低下、定価) bergantung kepada penuturnya. Vokal [i] bisa dilafalkan atau dipakai untuk melambangkan bunyi vokal panjang dari suku kata yang mendahuluinya.
  • ご ([go]) pertama dalam ごご(午後) adalah bunyi letup [go]. Namun pengucapan ご kedua bisa berupa bunyi letup atau bunyi sengau [ŋo].
  • Vokal [u] dan [i] sering tidak dibunyikan, seperti す dalam kata-kata yang berakhiran dengan です atau ます. Selain itu, [u] dalam く sering tidak dilafalkan, misalnya: こくさいれんごう(国際連合). Selain itu, [i] dalam き sering tidak dilafalkan, misalnya: れきし(歴史) atau えきしゃ(易者).

Terkhusus untuk kana ん yang umumnya dilafalkan sebagai 'n' akan berubah pelafalan berdasarkan letak huruf maupun huruf apa yang ditemuinya:[1]

  • Kana ん dilafalkan sebagai [m] jika menemui pelafalan dengan konsonan b, m maupun p seperti pada kata しんまい yang romajinya adalah shinmai yang dilafalkan sebagai shimmai.
  • Kana ん dilafalkan sebagai [ŋ] jika menemui pelafalan dengan konsonan k maupun g seperti pada kata [りんご] Galat: {{Lang}}: unrecognized language tag: RINGO (bantuan) yang romajinya adalah ringo yang dilafalkan sebagai ringgo.
  • Kana ん dilafalkan sebagai [ɴ] jika berada di akhir kata maupun kalimat seperti pada kata [さいしん] Galat: {{Lang}}: missing language tag (bantuan) yang romajinya adalah saishin yang dilafalkan sebagai saishiɴ. pelafalan ɴ merupakan pelafalan ŋ yang lebih lemah dan berada di antara pelafalan n dan ŋ.
  • Sementara itu, ん dalam はんえい, かんわ, dan こんや dilafalkan di titik artikulasi yang sama dengan suku kata yang mengikutinya sebagai konsonan hampiran yang disengaukan atau bunyi sengau.
  • sedangkan sisanya dilafalkan sebagai 'n' pada umumnya.

Pemakaian

Referensi

  k s t n h m y r w
ん • ン (n)

Gojūon
Gojūon
Gambaran
Daftar
Brahmi
Utara
Selatan
Kawi
Lainnya
Linear
Non-linear
Tionghoa
Aksara Han
Dipengaruhi Tionghoa
Logosilabis lainnya
Logokonsonan
Sistem bilangan
Penuh
Pengulangan
Braille ⠃⠗⠁⠊⠇⠇⠑
Braille cell
Braille scripts
French-ordered
Keluarga Nordik
Russian lineage family
i.e. Cyrillic-mediated scripts
Egyptian lineage family
i.e. Arabic-mediated scripts
Indian lineage family
i.e. Bharati Braille
Other scripts
Reordered
Frequency-based
Independent
Eight-dot
Symbols in braille
Braille technology
Persons
Organisations
Other tactile alphabets
Related topics
Sistem tulisan elektronik
  1. ↑ Alfarobbi, M.B. (2022). Fundamental Aksara Jepang (日本字の原理). Yogyakarta: Deepublish. hlm. 11. ISBN 978-623-02-5213-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan