Kamis, 15 Oktober 2026
07:18 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
Bahasa Sunda Kuno

Bahasa Sunda Kuno

tahapan tercatat bahasa Sunda yang paling awal

Bagikan:
Untuk perkembangan atau evolusi bahasa Sunda dari masa ke masa, lihat Sejarah bahasa Sunda.
Bahasa Sunda Kuno
Carék Sunda
ᮎᮛᮦᮊ᮪ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ
Basa Sunda Buhun
ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮥᮠᮥᮔ᮪
250px-P-044058.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Prasasti Astana Gede, mencatat bahasa Sunda kuno menggunakan aksara Sunda Kuno
WilayahKerajaan Sunda
KepunahanBerkembang menjadi bahasa Sunda Klasik menjelang abad ke-17.
Lihat sumber templat}}
20px-Info_Simple.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailBeberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Tampilkan klasifikasi manual
Tampilkan klasifikasi otomatis
Posisi bahasa Sunda Kuno dalam harap diisi Sunting klasifikasi ini 

Catatan:

Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
Aksara Buda
Aksara Sunda Kuna
Kode bahasa
ISO 639-3osn
Glottologsund1255
IETFosn
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
Terancam
CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman
NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
ICHEL Red Book: Extinct

Bahasa Sunda Kuno diklasifikasikan sebagai bahasa yang telah punah (EX) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

Referensi: [1][2]
Informasi penggunaan templat turunan
Sampel
Sampel teks
Carita Parahyangan VIII.27-28 (Teks)
᳀ᮜᮙᮥᮔ᮪ ᮊᮤᮒᮥ, ᮙᮝ ᮘᮧᮌ ᮊᮙᮤ ᮍᮞᮥᮠᮔ᮪. ᮍᮔ᮪ ᮙᮥᮜᮂ ᮙᮧ ᮞᮙ᮪ᮘᮥᮒ᮪ ᮞᮙᮚ ᮃᮄᮀ. ᮙᮧᮌ ᮅᮜᮂ ᮙᮩᮔᮀ ᮕᮢᮍᮔ᮪; ᮜᮙᮥᮔ᮪ ᮞᮤᮚ ᮍᮜᮌ ᮕᮢᮀ ᮊ ᮊᮙᮤ. ᮍᮔ᮪ ᮞᮤᮚ ᮜᮩᮙ᮪ᮕᮀ ᮙᮛᮒ᮪ᮊᮩᮔ᮪, ᮠᮥᮞᮤᮁ ᮒᮧᮠᮃᮔ᮪ ᮓᮤ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ᳂
Teks tidak ditampilkan dengan benar?
Terjemahan: 
Kalau begitu, aku merasa wajib memberi perlindungan. Namun, jangan sampai menuruti janjiku. Semoga tidak menang perang, kalau kau berlaga memerangiku. Namun, kau pergilah selesaikan, datangi Yang Dipertuan di Sunda.
Alih aksara: 
Lamun kitu, mawa boga kami ngasuhan. Ngan mulah mo sambut samaya aing. Moga ulah meunang prangan; lamun siya ngalaga prang ka kami. Ngan siya leumpang maratkeun, husir Tohaan di Sunda.
Sampel teks lainnya
Sampel suara
noicon
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
40px-Sunda_Sa.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini mengandung karakter aksara Sunda. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Sunda Kuno adalah tahap pendahulu dari apa yang sekarang dikenal sebagai bahasa Sunda beserta segala variannya yang diketahui pernah dituturkan dan tercatat pada prasasti dan naskah-naskah lontar kuno di wilayah pulau Jawa bagian barat. Bahasa ini sudah tidak digunakan di masa sekarang, tetapi masih memiliki kaitan dekat dengan bahasa Sunda Modern.[3]

Bukti tertua penggunaan bahasa Sunda Kuno adalah prasasti Rumatak tahun 1111 Masehi yang ditemukan di Tasikmalaya,[4][5][6] selain itu, ada pula sekumpulan prasasti tanpa candrasangkala yang ditemukan di Ciamis, tepatnya Kawali bernama prasasti Astana Gede yang diperkirakan dibuat pada sekitar abad ke-14.[7]

Bukti tertulis

Penggunaan bahasa Sunda kuno antara lain tercatat dalam prasasti berbahan batu alam seperti Prasasti Kawali di Ciamis, dan Prasasti Batutulis di Bogor, juga dalam prasasti berbahan pelat tembaga seperti Prasasti Kabantenan dari daerah Bekasi.[8][9] Peninggalan lain yang mendokumentasikan penggunaan bahasa Sunda Kuno yaitu pada naskah-naskah lontar dan gebang dari wilayah Bandung, Garut, dan Bogor. Naskah-naskah itu kini tersimpan di beberapa lembaga, antara lain Kabuyutan Ciburuy di Bayongbong Garut, Museum Sri Baduga di Bandung, Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, dan Perpustakaan Bodleian di London.[10][11][12][13]

Karakteristik

Leksikon

Kosakata yang digunakan dalam bahasa Sunda kuno masih banyak dikenali dalam bahasa Sunda modern, baik yang memiliki arti sama maupun mengalami perubahan atau pergeseran makna. Penggunaan bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan pelafalan atau penulisan Sunda kuno berbaur cukup mencolok. Hal ini karena nuansa penggunaan bahasa Sunda kuno dalam teks-teks keagamaan Hindu maupun Buddha. Pada beberapa bagian sering ditemukan kosakata yang sama, bahkan berpadu dengan untaian kalimat dalam bahasa Kawi.[14] Dalam bagian lain ditemukan juga penggunaan kosakata Melayu kuno[15] dan bahasa Arab.[16] Beberapa peneliti teks Sunda kuno telah mendaftarkan leksikon Sunda kuno menjadi kamus dwibahasa (Sunda Kuno-Indonesia).

Morfologi

Morfologi pembentukan kata pada umumnya dapat dikenali dalam bahasa Sunda modern dengan beberapa pengecualian, misalnya penggunaan imbuhan awal a- dalam kata awurung. Imbuhan akhir -keun memiliki fungsi gramatikal yang mirip dengan -kan dalam bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan bentuk imbuhan sisipan (infiks) -in- dan -um- dalam kata ginawé (kata dasar gawé; ‘dikerjakan’) dan gumanti (kata dasar ganti: ‘mengganti’) adalah sisipan yang tergolong produktif digunakan dalam bahasa Sunda kuno, kini kata-kata yang bersisipan -in- dan -um- sering kali dianggap sebagai monomorfemik. Kata-kata berikut sering tidak dirasakan sebagai kata bersisipan seperti kata sumebar yang terdiri atas sebar dan -um-, cumeluk yang terdiri atas celuk dan -um- atau tinangtu yang terdiri atas tangtu dan -in- serta pinareng terdiri atas pareng dan -in-.[17] Yang terakhir adalah penggunaan sisipan -ar- yang berfungsi untuk membuat suatu nomina atau adjektiva menjadi jamak, misalnya dalam kata karolot (kata dasar kolot; ‘yang tua-tua’) yang masih digunakan hingga sekarang.[18]

Sintaksis

Dalam tingkatan sintaksis, secara umum bentuk kalimat dalam bahasa Sunda kuno masih memiliki kemiripan dengan bahasa Sunda modern.[19][19][20] Salah satu fitur dari bahasa Sunda kuno yang dapat dibedakan dari struktur bahasa Sunda modern yaitu adanya penggunaan pola predikat-subjek pada struktur kalimat bahasa Sunda kuno dengan predikat berupa kata kerja (verba) dan subjek berupa kata benda (nomina) yang cukup konsisten.[20] Fitur lain yang menjadi ciri khas yaitu penggunaan partikel ma yang dapat berfungsi sebagai penguat frasa atau klausa sebelumnya. Dalam konstruksi kalimat, partikel ma berfungsi sebagai pemarkah yang memisahkan klausa, dan berfungsi untuk memperkenalkan informasi baru.[21]

Contoh penggunaan

lossy-page1-250px-KITLV_87606_-_Isidore_van_Kinsbergen_-_Inscribed_stone_at_Kawali_near_Tjiamis_-_Before_1900.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Prasasti Kawali I di kawasan kabuyutan Astana Gede, Kawali

Prasasti

Berikut ini adalah contoh penggunaan bahasa Sunda kuno yang tercatat dalam Prasasti Kawali. Alihaksara diplomatis dikerjakan oleh arkeolog Hasan Jafar & Titi Surti Nastiti[9]

"nihan tapak walar nu sang hyang mulia tapa(k) inya parĕbu raja wastu mangadĕg di kuta kawali nu mahayu na kadatuan surawisesa nu marigi sakuliling dayĕh nu najur sakala desa aya ma nu pa(n)deuri pakĕna gawe rahayu pakĕn hĕbĕl jaya dina buana"

Terjemahan:

''Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa dia Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia.''

Naskah kuno

Bahasa Sunda kuno yang digunakan pada naskah-naskah lontar dan gebang dapat dibedakan berdasarkan bentuk teksnya, yaitu puisi dan prosa.[14][19][20]

Puisi

250px-Naskah_Sunda_Lontar.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah lontar Kawih Pangeuyeukan koleksi Perpusnas RI berisi teks dengan bahasa Sunda Kuno.

Beberapa naskah Sunda kuno yang memuat teks dengan bentuk puisi antara lain Sewaka Darma,[22] Carita Purnawijaya,[23] Bujangga Manik, Sri Ajnyana,[14] Kawih Pangeuyeukan[24] dan Sanghyang Swawarcinta.[25] Bahasa Sunda kuno yang dituliskan dalam bentuk teks puisi umumnya menggunakan pola delapan suku kata, walaupun dalam beberapa naskah kaidah ini tidak begitu ketat.[14][26]

Teks Pendakian Sri Ajnyana:

Bahasa Sunda Kuno Bahasa Indonesia
Alfabet bahasa Sunda Aksara Sunda Baku
"sakit geui ngareungeuheun.

cicing hanteu dék matingtim,

usma ku raga sarira.

béngkéng upapen rasana,

dosa a(ng)geus kanyahoan,

ngeureuy teuing gawé hala,

hanteu burung katalayahan,

ja kini teuing rasana,

kasasar jadi manusa.

saurna sri ajnyana:

‘adiing, ambet ka dini.

mulah ceurik nangtung dinya.

dini di lahunan aing.

tuluy dirawu dipangku"

"ᮞᮊᮤᮒ᮪ ᮌᮩᮄ ᮍᮛᮩᮍᮩᮠᮩᮔ᮪.

ᮎᮤᮎᮤᮀ ᮠᮔ᮪ᮒᮩ ᮓᮦᮊ᮪ ᮙᮒᮤᮀᮒᮤᮙ᮪,

ᮅᮞ᮪ᮙ ᮊᮥ ᮛᮌ ᮞᮛᮤᮛ.

ᮘᮦᮀᮊᮦᮀ ᮅᮕᮕᮨᮔ᮪ ᮛᮞᮔ,

ᮓᮧᮞ ᮃᮌᮩᮞ᮪ ᮊᮑᮠᮧᮃᮔ᮪,

ᮍᮩᮛᮩᮚ᮪ ᮒᮩᮄᮀ ᮌᮝᮦ ᮠᮜ,

ᮠᮔ᮪ᮒᮩ ᮘᮥᮛᮥᮀ ᮊᮒᮜᮚᮠᮔ᮪,

ᮏ ᮊᮤᮔᮤ ᮒᮩᮄᮀ ᮛᮞᮔ,

ᮊᮞᮞᮁ ᮏᮓᮤ ᮙᮔᮥᮞ.

ᮞᮅᮁᮔ ᮞᮢᮤ ᮃᮏ᮪ᮑᮔ:

‘ᮃᮓᮤᮄᮀ, ᮃᮙ᮪ᮘᮨᮒ᮪ ᮊ ᮓᮤᮔᮤ.

ᮙᮥᮜᮂ ᮎᮩᮛᮤᮊ᮪ ᮔᮀᮒᮥᮀ ᮓᮤᮑ.

ᮓᮤᮔᮤ ᮓᮤ ᮜᮠᮥᮔᮔ᮪ ᮃᮄᮀ.

ᮒᮥᮜᮥᮚ᮪ ᮓᮤᮛᮝᮥ ᮓᮤᮕᮀᮊᮥ"

Tertekan, kecewa,

dia berdiri tak bergerak, tidak mau berbicara,

panas membara di tubuhnya.

Dia merasa lemah dan tidak pasti,

setelah menyadari dosa-dosanya,

dia sangat menyesali tindakan buruknya,

karena dia pasti akan mengalami kesengsaraan.

Jadi dia akan merasa terlalu buruk,

bagaimana, setelah berbuat salah, dia akan menjadi

manusia.

Sri Ajnyana berkata:

'Adikku, datanglah padaku.

Jangan menangis berdiri di sana!

Ke marilah di pangkuanku.'

Kemudian dia membawanya ke pangkuannya.

Prosa

500px-Old_Sundanese_gebang_manuscript_Sanghyang_Raga_Dewata.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskah gebang dengan bahasa Sunda Kuno Sanghyang Raga Dewata koleksi Museum Sribaduga, Bandung.

Teks yang memuat bahasa Sunda dalam bentuk prosa antara lain Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung,[22] Sanghyang Sasana Maha Guru, dan Sanghyang Raga Dewata. Berikut ini contoh kalimat yang digunakan dalam Amanat Galunggung.[22]

  • Transliterasi teks asli
"Awignam astu. Nihan tembey sakakala Rahyang Ba/n/nga, masa sya nyusuk na Pakwan makangaran Rahyangta Wuwus, maka manak Maharaja Dewata, Maharaja Dewata maka manak Baduga Sanghyang, Baduga Sanghyang maka manak Prebu Sanghyang, Prebu Sanghyang maka manak Sa(ng) Lumahing rana, Sang Lumahing Rana maka manak Sa(ng) Lumahing Winduraja, Sa(ng) Lumahing Winduraja maka manak Sa(ng) Lumahing Tasikpa(n)jang, Sang Lumahing Tasik pa(n)jang (maka manak) Sa(ng) Lumahing Hujung Kembang, Sa(ng) Lumahing Hujung Kembang maka manak Rakeyan Darmasiksa."
  • Terjemahan bahasa Indonesia
"Semoga selamat. Inilah permulaan tanda peringatan Rahiyang Banga, ketika ia membuat parit (pertahanan) Pakuan, bernama Rahingta Wuwus, maka (ia) berputera Maharaja Dewata berputera Baduga Sanghiyang, Baduga Sanghyang berputera Prabu Sanghiang, Prabu Sanghiyang berputera Sang Lumahing rana, Sang Lumahing rana berputera Sang Lumahing Winduraja, Sang Lumahing Winduraja berputera Sang Lumahing Tasikpanjang, Sang Lumahing Tasikpanjang berputera Sang Lumahing Ujung Kembang, Sang Lumahing Ujung Kembang berputera Rakeyan Darmasiksa."

Galeri

Rujukan

  1. ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
  3. ↑ Iskandarwassid (1992), hlm. 43.
  4. ↑ "Prasasti Geger Hanjuang" (PDF). 2010.
  5. ↑ Rosyadi (1997), hlm. 35.
  6. ↑ Rosyadi (1997), hlm. 54.
  7. ↑ Rosyadi (1997), hlm. 36.
  8. ↑ Djafar (1991).
  9. 1 2 Djafar & Nasiti (2016), hlm. 101–116.
  10. ↑ Djambatan (1990).
  11. ↑ Ekadjati (1999), hlm. 7.
  12. ↑ Chambert-Loir & Fathurahman (1999), hlm. 181.
  13. ↑ Ekadjati (2000), hlm. 453–573.
  14. 1 2 3 4 Noorduyn & Teeuw (2009), hlm. 2.
  15. ↑ Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2000), hlm. 6.
  16. ↑ Darsa (2006), hlm. 27.
  17. ↑ Arifin (1996), hlm. 14.
  18. ↑ Nurwansah (2014), hlm. 5–10.
  19. 1 2 3 Ruhaliah (1997).
  20. 1 2 3 Nurwansah, Sudaryat & Ruhaliah (2017), hlm. 181–196.
  21. ↑ Gunawan & Fauziyah (2018), hlm. 10.
  22. 1 2 3 Danasasmita (1987), hlm. 1.
  23. ↑ Lange & Company (1914), hlm. 392.
  24. ↑ Ruhimat, Gunawan & Wartini (2014).
  25. ↑ Wartini et al. (2011), hlm. 6.
  26. ↑ Kurnia & Gunawan (2019).

Bibliografi

Pustaka lanjutan

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan