Rabu, 28 Oktober 2026
09:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Bahasa Bagongan

bahasa yang dipakai di lingkungan keraton Mataram

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Bahasa Bakongan.

Bahasa Bagongan adalah sebuah cabang bahasa Jawa yang hanya lazim dipakai di lingkungan keraton Mataram.[1][2] Bahasa ini mulai dikembangkan pada zaman pemerintahan Sultan Agung dengan tujuan untuk menghilangkan kesenjangan di antara para pejabat istana dan keluarga raja.

Pada saat ini pemakaian bahasa Bagongan sudah semakin berkurang, bahkan nyaris punah. Pemakainya pun hanya dari golongan tua saja yang mengenal adanya jenis bahasa tersebut.

Penggunaan

Bahasa Bagongan digunakan oleh para pejabat istana, atau yang biasa disebut sentana dalem untuk bercakap-cakap satu sama lain. Tidak seperti bahasa Jawa pada umumnya, bahasa ini relatif kurang mementingkan hierarki sehingga terkesan lebih fleksibel.

Misalnya, apabila dalam bahasa Jawa biasa, seseorang yang lebih muda akan menyebut dirinya dengan kata ganti kula, sedangkan yang lebih tua menyebut dirinya dengan kata ganti aku. Namun dalam bahasa Bagongan, baik yang muda ataupun yang tua jika bercakap-cakap sama-sama menyebut dirinya dengan kata ganti manira.

Tujuan Sultan Agung menetapkan penggunaan bahasa Bagongan ialah untuk menciptakan persatuan di antara pejabat istana dengan menghilangkan kesenjangan yang timbul jika mereka menggunakan bahasa Jawa biasa. Namun bahasa Bagongan ini hanya berlaku apabila seorang sentana berbicara kepada sesama sentana. Apabila berbicara kepada raja, maka ia harus menggunakan bahasa Jawa umum, tentu saja dari jenis yang paling halus, yaitu bahasa krama alus.

Ciri bahasa

Bahasa Bagongan hanya terdiri atas sebelas kata utama. Sedangkan selain kata-kata tersebut digunakan kata-kata dalam bahasa Jawa umum, terutama dari jenis kata krama madya dan kata krama inggil.[3] Sebelas kata tersebut antara lain:[4]

  • saya: manira
  • Anda: pakenira
  • ya: enggèh
  • tidak: boya
  • bukan: séyos
  • saja: besaos
  • ini: puniki
  • itu: puniku
  • apa: punapi
  • ada: wènten
  • ayo: nedha

Contoh kalimat:

Referensi

  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Catatan kaki

  1. ↑ (Indonesia) Harimurti Kridalaksana, Kamus linguistik, GPU 10fixed, 2008, ISBN 979-22-3570-1, 9789792235708
  2. ↑ (Indonesia) Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia "Arti kata bahasa bagongan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan". Diakses tanggal 2020-02-22.
  3. ↑ Mukminatun, Siti (2007). "Pergeseran Budaya Sapaan dan Kekerabatan di Wilayah Kecamatan Kraton Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta". Jurnal Penelitian Humaniora. 12 (2). Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Yogyakarta: 22.
  4. ↑ Sulistyowati (2008). "Alternasi Sapaan Bahasa Jawa Keraton Yogyakarta". Humaniora. 20 (2). Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada: 168. ISSN 2302-9269.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan