Senin, 26 Oktober 2026
10:23 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Kekaisaran Romawi Suci

Kekaisaran Romawi Suci

bekas negara di Eropa Tengah

Bagikan:
60px-Project_Translation_inspection_logo1.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Holy Roman Empire di en .wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Artikel ini bukan mengenai Kekaisaran Romawi.
Kekaisaran Romawi Suci
Sacrum Imperium Romanum  (Latin)
Heiliges Römisches Reich  (Jerman)
Kekaisaran Romawi Suci
Bangsa Jerman
Sacrum Imperium Romanum Nationis Germanicae  (Latin)
Heiliges Römisches Reich Deutscher Nation  (Jerman)
Tahun 800/962[a]–1806
Bendera Kekaisaran Romawi Suci
Bendera Negara
(sekitar tahun 1430–1806)
Lambang Negara(desain abad ke-15) Kekaisaran Romawi Suci
Lambang Negara
(desain abad ke-15)
Rajawali Kuaternio (tahun 1510)
250px-Quaternion_Eagle.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keseluruhan bekas wilayah kedaulatan Kekaisaran Romawi Suci pada peta modern, sekitar tahun 1200–1250
Keseluruhan bekas wilayah kedaulatan Kekaisaran Romawi Suci pada peta modern, sekitar tahun 1200–1250
StatusKekaisaran
Ibu kotaLebih dari satu[3]
Aachen (tahun 800–1562)
  • Tahun 800–888 (sebagai ibu kota), tahun 800–1562 (tempat penobatan Raja Jerman)
Palermo (de facto) (tahun 1194–1254)
Innsbruck (tahun 1508–1519)
  • Markas Hofkammer dan Kepaniteraan Istana [7][8]
Wina (dasawarsa 1550-an–1583, tahun 1612–1806)
Frankfurt (tahun 1562–1806)
Praha (tahun 1583–1612)
Regensburg (tahun 1594–1806)
Wetzlar (tahun 1689–1806)
Bahasa umumBahasa Jerman, bahasa Latin Abad Pertengahan (sebagai bahasa administratif/liturgis/seremonial)
Aneka bahasa[c]
Agama Lebih dari satu agama resmi:
Kristen Katolik Roma (tahun 1054–1806)
Kristen Protestan mazhab Lutheran (tahun 1555–1806)
Kristen Protestan mazhab Kalvinis (tahun 1648–1806)
PemerintahanMonarki elektif
Monarki campuran (sesudah Pembaharuan Negara)[17]
Kaisar 
• Tahun 800–814
Karel Agung[a] (pertama)
• Tahun 962–973
Otto Agung
• Tahun 1519–1556
Karel V
• Tahun 1792–1806
Frans II (terakhir)
LegislatifSidang Permusyawaratan Negara
Era SejarahAbad Pertengahan sampai awal zaman modern
25 Desember 800
• Otto Agung dinobatkan menjadi Kaisar Bangsa Romawi
2 Februari 962
2 Februari 1033
25 September 1555
24 Oktober 1648
tahun 1648–1789
2 Desember 1805
6 Agustus 1806
Luas
Tahun 1150[d]1.100.000 km2 (420.000 sq mi)
Populasi
• Tahun 1700[18]
23,000,000 jiwa
• Tahun 1800[18]
29,000,000 jiwa
Mata uangLebih dari satu jenis mata uang: thaler, guilder, groschen, Reichsthaler
Didahului olehDigantikan oleh
Francia Timur
krjKerajaan
Italia (Kekaisaran Romawi Suci)
ksrKekaisaran
Karoling
Konfederasi Rhein 20px-Commemorative_Medal_of_the_Rhine_Confederation.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
ksrKekaisaran
Austria
krjKerajaan
Prusia
Konfederasi Swiss Lama
krjKerajaan
Sardinia (1720–1861)
Kadipaten Savoia
Republik Belanda
krjKerajaan
Prancis

Kekaisaran Romawi Suci,[e] yang juga dikenal dengan nama Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman selepas tahun 1512, adalah negara dengan wilayah yang membentang dari Eropa Tengah ke Eropa Barat, dan dipimpin oleh kepala negara yang biasanya menyandang gelar Kaisar Romawi Suci.[19] Negara ini terbentuk pada Awal Abad Pertengahan dan berdiri selama hampir 1.000 tahun, sampai akhirnya dibubarkan pada tahun 1806 di tengah hiruk-pikuk Perang Napoleon.[20]

Pada tanggal 25 Desember 800, Paus Leo III menobatkan Karel Agung menjadi kaisar, dan dengan demikian menghidupkan kembali gelar itu di Eropa Barat selang tiga abad lebih sesudah Kekaisaran Romawi Barat tumbang pada tahun 476.[21] Meskipun sudah ditanggalkan pada tahun 924, gelar itu kembali disandang Otto Agung saat dinobatkan menjadi kaisar oleh Paus Yohanes XII pada tahun 962, dengan maksud untuk mencitrakan dirinya sebagai penerus Karel Agung dan raja-raja Karling.[22] Penobatan Otto Agung menjadi tonggak sejarah yang mengawali kurun waktu tegaknya kedaulatan Kekaisaran Romawi Suci secara berkesinambungan selama delapan abad lebih.[23][24][f] Dari tahun 962 hingga abad ke-12, Kekaisaran Romawi Suci tampil sebagai negara monarki terkuat di bumi Eropa.[25] Kelancaran penyelenggaraan negara bergantung kepada kerjasama yang rukun di antara kaisar dan para pangeran kepala daerah.[26] Kerukunan tersebut sempat terusik pada zaman wangsa Sali.[27] Ketangguhan negara dan keluasan wilayah Kekaisaran Romawi Suci mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-13 di bawah pemerintahan raja-raja Hohenstaufen, tetapi justru bentang wilayah yang kelewat luaslah yang kemudian hari mengeroposkan kedaulatannya.[28][29]

Para sarjana pada umumnya menjabarkan evolusi lembaga-lembaga dan asas-asas yang membentuk negara ini, serta perkembangan berangsur dari peran kaisar.[30][31] Jabatan kaisar sudah lama terlembagakan sebelum negara ini dinamakan "Kekaisaran Romawi Suci" pada abad ke-13,[32] tetapi keabsahan kaisar sejak semula selalu ditumpukan pada konsep translatio imperii, yaitu anggapan bahwa kedaulatan tertinggi yang diemban kaisar adalah warisan peninggalan kaisar-kaisar Roma tempo dulu.[30] Terlepas dari semua itu, sudah menjadi adat di Kekaisaran Romawi Suci bahwa seseorang menjadi kaisar karena dipilih oleh para pangeran elektor yang berkebangsaan Jerman. Secara teori dan diplomasi, Kaisar Romawi Suci dipandang sebagai tokoh yang dituakan di antara seluruh kepala negara monarki Katolik Eropa.[33]

Ikhtiar Pembaharuan Negara pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 mengubah wajah Kekaisaran Romawi Suci. Ikhtiar tersebut melahirkan berbagai lembaga pemerintahan yang terus bertahan sampai negara ini bubar pada abad ke-19.[34][35] Menurut sejarawan Thomas Brady Jr., Kekaisaran Romawi Suci selepas Pembaharuan Negara merupakan badan politik dengan keberlanjutan dan kemapanan yang luar biasa, serta "dalam beberapa segi mencerminkan pemerintahan-pemerintahan monarki di kawasan barat Eropa, dan dalam beberapa segi yang lain mencerminkan pemerintahan-pemerintahan elektif dengan persatuan yang renggang di kawasan tengah Eropa." Di negara bangsa Jerman yang sudah diperbaharui itu, alih-alih patuh begitu saja kepada kaisar, orang justru berunding dengan kaisar.[36][37] Pada tanggal 6 Agustus 1806, Kaisar Frans II meletakkan jabatan dan secara resmi membubarkan Kekaisaran Romawi Suci, menyusul pembentukan Konfederasi Rhein oleh Napoleon sebulan sebelumnya, yakni perserikatan negara-negara Jerman yang berkhidmat kepada Prancis, alih-alih bertuan kepada Kaisar Romawi Suci.

Nama negara

330px-Quaternion_Eagle_by_Jost_de_Negker.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rajawali dwimuka dengan lambang-lambang daerah tersemat pada sayapnya, lambang negara Kekaisaran Romawi Suci, gambar dari tahun 1510

Dari zaman Karel Agung, negara ini hanya disebut Kekaisaran Romawi.[38] Embel-embel Suci (dalam arti "dikuduskan") mulai dipakai pada tahun 1157, masa pemerintahan Kaisar Friedrich Janggut Merah, sehingga negara ini mulai dikenal dengan nama Kekaisaran Suci, nama yang mencerminkan hasrat Friedrich untuk menguasai Italia dan lembaga kepausan.[39] Nama "Kekaisaran Romawi Suci" dapat dipastikan sudah dipakai sejak tahun 1254.[40]

Sebelum dinamakan "Kekaisaran Romawi Suci" pada abad ke-13, negara ini dikenal dengan beragam sebutan, antara lain universum regnum (kerajaan sejagat, kebalikan dari kerajaan kedaerahan), imperium christianum (kekaisaran Kristen), dan Romanum imperium (kekaisaran Romawi),[32] tetapi keabsahan kaisar selamanya ditumpukan pada konsep translatio imperii,[g] yaitu anggapan bahwa kedaulatan tertinggi yang diemban kaisar adalah warisan peninggalan kaisar-kaisar Roma tempo dulu.[30]

Di dalam lembaran maklumat yang terbit menyusul sidang Permusyawaratan Negara di Koln pada tahun 1512, nama negara ini berubah menjadi "Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman" (bahasa Jerman:Heiliges Römisches Reich Deutscher Nation, bahasa Latin:Sacrum Imperium Romanum Nationis Germanicae),[38] yakni nama yang pertama kali dipakai pada tahun 1474 di dalam sebuah dokumen.[39] Nama baru ini diadopsi bertepatan dengan hilangnya kedaulatan atas Italia dan Burgundia,[41] tetapi juga dimaksudkan untuk menonjolkan peran penting dalam penyelenggaraan negara yang baru diberikan kepada daerah-daerah negara di Jerman selepas Pembaharuan Negara.[42] Istilah "Kekaisaran Romawi Jerman" (bahasa Hungaria:Német-római Birodalom) yang lazim digunakan di Hungaria adalah bentuk ringkas dari nama baru tersebut.[43]

Pada akhir abad ke-18, nama "Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman" tidak lagi dipakai secara resmi. Bertolak belakang dengan pandangan-pandangan tradisional terkait nama tersebut, Hermann Weisert memaparkan di dalam sebuah hasil penelitian khazanah titulatur kekaisaran bahwa, meskipun digembar-gemborkan sebagai nama resmi negara di dalam banyak buku pelajaran, nama "Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman" tidak pernah diberi status resmi. Ia bahkan menunjukkan bahwa dokumen yang memuat nama "Kekaisaran Romawi Suci" tanpa menyertakan embel-embel "Bangsa Jerman" berjumlah tiga puluh kali lipat lebih banyak daripada dokumen yang menyertakannya.[44]

Di dalam sebuah pembahasan terkenal mengenai nama negara ini, filsuf politis Voltaire berseloroh bahwa "negara yang dulu disebut dan masih saja menyebut dirinya Kekaisaran Romawi Suci itu sama sekali tidak ada suci-sucinya, tidak ada romawi-romawinya, malah bukan sebuah kekaisaran."[45]

Pada zaman modern, negara ini secara tidak resmi kerap disebut Kekaisaran Jerman (bahasa Jerman:Deutsches Reich) atau Kekaisaran Jerman-Romawi (bahasa Jerman:Römisch-Deutsches Reich).[46] Sejak dibubarkan sampai dengan tamatnya riwayat Kekaisaran Jerman, negara ini kerap disebut "kekaisaran lawas" (bahasa Jerman:das alte Reich). Mulai dari tahun 1923, kaum nasionalis Jerman awal abad ke-20 dan propaganda partai Nazi menyebut Kekaisaran Romawi Suci sebagai sebagai Reich "Pertama" (Erstes Reich, Reich berarti kekaisaran), disejajarkan dengan Kekaisaran Jerman sebagai Reich "Kedua", dan negara Jerman di bawah pemerintahan partai Nazi sebagai Reich "Ketiga".[47]

David S. Bachrach berpendapat bahwa raja-raja wangsa Otto sesungguhnya membangun kemaharajaan mereka lewat pemanfaatan perangkat militer dan birokrasi maupun kekayaan budaya yang mereka warisi dari wangsa Karling, yang juga diwarisi wangsa Karling dari Kekaisaran Romawi menjelang keruntuhannya. Menurut David S. Bachrach, kemaharajaan wangsa Otto bukanlah suatu kerajaan purba binaan bangsa Jerman primitif, yang semata-mata dilanggengkan oleh ikatan-ikatan hubungan pribadi dan dijalankan oleh nafsu serakah orang-orang besar untuk menjarah lalu membagi-bagi hasil jarahan di antara mereka sendiri, melainkan sebuah negara yang tampil mengemuka berkat kemampuannya untuk menimbun sumber-sumber daya ekonomi, administratif, dan kebudayaan yang maju, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin perangnya yang sangat besar.[48][49]

Sampai dengan akhir abad ke-15, negara ini pada teorinya terdiri atas tiga kubu utama, yaitu Italia, Jerman, dan Burgundia. Kemudian hari yang tersisa hanyalah daerah-daerah Kerajaan Jerman dan Bohemia, karena daerah-daerah di Burgundia sudah jatuh ke tangan Prancis. Meskipun secara resmi merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci, Italia diabaikan dalam ikhtiar Pembaharuan Negara dan terpecah-belah menjadi banyak daerah yang secara de facto merdeka.[50][30][37][51] Status Italia pada khususnya berubah-ubah dalam rentang waktu abad ke-16 sampai abad ke-18. Beberapa daerah semisal Piemonte-Savoye kian lama kian merdeka, sementara daerah-daerah lain kian lama kian pudar kemerdekaannya akibat kepunahan garis keturunan pangeran kepala daerah, sehingga sering kali bertuan kepada kulawangsa Habsburg dan cabang-cabangnya. Selain lepasnya daerah Franche-Comté pada tahun 1678, batas-batas wilayah Kekaisaran Romawi Suci tidak banyak berubah sejak Perjanjian Damai Westfalen ditandatangani (mengakui lepasnya Swiss dan Belanda Utara, serta perlindungan Prancis atas Elzas) sampai negara ini dibubarkan. Sesudah perang-perang Napoleon berakhir pada tahun 1815, hampir semua daerah di bawah Kekaisaran Romawi Suci menjadi anggota Konfederasi Jerman, kecuali daerah-daerah di Italia.

Sejarah

Bagian dari seri mengenai
Sejarah Jerman
250px-thumbnail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Awal Abad Pertengahan

Kemaharajaan wangsa Karling

250px-Francia_814.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah kemaharajaan wangsa Karling di peta Eropa, sekitar tahun 814 tarikh Masehi

Surutnya kekuasaan Romawi di Galia pada abad ke-5 dimanfaatkan oleh suku-suku Jermani setempat untuk mengambil alih kendali pemerintahan.[52] Pada akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6, wangsa Meroving di bawah pimpinan Klovis I dan para penggantinya, mempersatukan suku-suku Franka dan menundukkan suku-suku lain demi menguasai kawasan utara Galia dan kawasan tengah daerah lembah sungai Rhein.[53][54] Meskipun demikian, pada pertengahan abad ke-8, raja-raja Merowing hanya memerintah sebagai raja-raja boneka, karena kendali pemerintahan sesungguhnya berada dalam cengkeraman wangsa Karling di bawah pimpinan Karel Martel.[55] Pada tahun 751, anak Karel Martel yang bernama Pipin naik takhta menjadi Raja orang Franka, bahkan kemudian hari berhasil mendapatkan restu Sri Paus.[56][57] Sejak saat itu wangsaKarling menjalin persekutuan yang erat dengan lembaga kepausan.[58]

Pada tahun 768, anak Pipin yang bernama Karel Agung naik takhta menjadi Raja orang Franka. Ia memprakarsai usaha perluasan wilayah, dan pada akhirnya berhasil mendaulat wilayah luas yang dewasa ini menjadi wilayah negara Prancis, wilayah negara Jerman, kawasan utara wilayah Italia, wilayah Negeri-Negeri Tanah Rendah, malah lebih luas lagi, sampai wilayah kedaulatan orang Franka berdempet dengan wilayah kedaulatan Sri Paus.[59][60]

Meskipun masyarakat Italia sudah lama mendongkol lantaran merasa kurang sejahtera hidup di bawah kekuasaan Romawi Timur, gejolak politik baru timbul pada tahun 726, dipicu oleh kebijakan ikonoklasme Kaisar Leo orang Isauria, yang dipandang Paus Gregorius II sebagai penyimpangan akidah termutakhir dari rentetan penyimpangan akidah yang dilakukan oleh kepala negara Kekaisaran Romawi.[61] Pada tahun 797, Ibu Suri Irene memakzulkan Kaisar Konstantinus VI, kemudian menyatakan diri sebagai penguasa tunggal. Lantaran hanya kepala negara berjenis kelamin laki-laki yang diakui Gereja Latin sebagai pemimpin Dunia Kristen, Paus Leo III pun berikhtiar mencari orang lain yang layak menyandang kehormatan itu tanpa bertukar pikiran lebih dulu dengan Batrik Konstantinopel.[62][63]

Jasa Karel Agung bagi Gereja, karena membela kedaulatan Sri Paus dari rongrongan orang Lombardi, menjadikannya calon yang ideal. Pada hari Natal tahun 800, Paus Leo III menobatkan Karel Agung menjadi kaisar, dan dengan demikian menghidupkan kembali gelar itu di Dunia Barat sesudah lebih dari tiga abad lamanya menghilang.[62][63] Langkah Sri Paus ini dapat dianggap sebagai perpalingan simbolis lembaga kepausan dari Kekaisaran Romawi Timur yang sedang terpuruk kepada kekuatan baru, yakni kerajaan bangsa Franka di bawah pemerintahan wangsa Karling. Karel Agung mengadopsi semboyan Renovatio imperii Romanorum (pembaharuan Kekaisaran Romawi). Pada tahun 802, Irene digulingkan dan diasingkan oleh Kaisar Nikeforos I. Sejak saat itulah ada dua kepala negara yang sama-sama bergelar Kaisar Bangsa Romawi.

Sesudah Karel Agung mangkat pada tahun 814, mahkota kekaisaran turun kepada anaknya, Ludwig Warak. Sesudah Ludwig Warak mangkat pada tahun 840, mahkota kerajaan turun kepada anaknya, Lothar. Pada waktu itulah seantero wilayah yang pernah dikuasai mendiang Karel Agung dibagi-bagi menjadi beberapa wilayah kedaulatan (bdk. Perjanjian Verdun, Perjanjian Prüm, Perjanjian Meerssen, dan Perjanjian Ribemont), dan sepanjang sisa abad ke-9 gelar kaisar diperebutkan oleh para kepala negara Kerajaan Franka Barat (Francia Barat) dan Kerajaan Franka Timur (Francia Timur) yang sama-sama berasal dari wangsa Karling. Mula-mula gelar itu jatuh ke pundak Raja Franka Barat (Karel Gundul), tetapi kemudian beralih ke pundak Raja Franka Timur (Karel Gemuk), tokoh yang berhasil mempersatukan kembali kemaharajaan bangsa Franka, kendati tidak bertahan lama.[64] Pada abad ke-9, Karel Agung dan para penggantinya berikhtiar memajukan taraf pendidikan dan kebudayaan di negaranya, ikhtiar yang dikenal dengan sebutan Renainsans Karling. Beberapa sarjana, misalnya Mortimer Chambers,[65] berpandangan bahwa Renaisans Karling dapat terwujud berkat adanya renaisans-renainsans susulan (kendati pada awal abad ke-10, tidak ada lagi ikhtiar semacam itu).[66]

Sesudah Karel Gemuk mangkat pada tahun 888, kemaharajaan wangsa Karling terpecah-belah dan tidak kunjung dapat dipersatukan kembali. Petawarikh Regino dari Prüm meriwayatkan bahwa bagian-bagian dari kemaharajaan itu "memuntahkan empat orang raja kecil", dan masing-masing bagian memilih seorang raja kecil "dari isi perutnya sendiri".[64] Salah seorang kaisar semacam itu adalah Berengarius, Kaisar di Italia, yang mangkat pada tahun 924.

Kerajaan Franka Timur pasca-Karling

Sekitar tahun 900, daerah-daerah kadipaten kesukuan swatantra di Kerajaan Franka Timur (Franken, Bayern, Swaben, Saksen, dan Lotharingen) kembali berani unjuk gigi. Sesudah Raja Ludwig Bocah dari wangsa Karling mangkat tanpa meninggalkan keturunan pada tahun 911, Kerajaan Franka Timur tidak diam saja menunggu negaranya didaulat Raja Franka Barat yang juga berasal dari wangsa Karling, tetapi memilih salah seorang pangeran kepala daerah Franka Timur, yakni Adipati Konrad, pangeran kepala daerah Franken, menjadi Rex Francorum Orientalium.[67] Menjelang tutup usia, Konrad merelakan mahkota kerajaan diambil alih saingan utamanya, Adipati Heinrich Penjerat Burung, pangeran kepala daerah Saksen yang terpilih menjadi raja dalam sidang Permusyarawatan Negara di Fritzlar pada tahun 919.[68] Heinrich berhasil menyepakati gencatan senjata dengan bangsa Magyar yang merongrong wilayah Franka Timur, dan untuk pertama kalinya berhasil mengalahkan mereka pada tahun 933 dalam Pertempuran Riade.[69]

Heinrich mangkat pada tahun 936, tetapi anak cucunya, yakni wangsa Liudolfing atau wangsa Otto, terus memerintah Kerajaan Franka Timur atau Kerajaan Jerman selama kurang lebih satu abad. Sepeninggal Heinrich Penjerat Burung, Otto, anak yang ia tetapkan menjadi penggantinya,[70] terpilih menjadi raja di Aachen pada tahun 936.[71] Otto harus berjuang menghadapi serangkaian pemberontakan yang dikobarkan adiknya sendiri dan beberapa orang adipati. Sesudah berhasil memadamkan pemberontakan, Otto mampu mengendalikan pengangkatan adipati dan kerap mempekerjakan para uskup untuk menangani urusan-urusan pemerintahan.[72] Ia mengganti hampir semua pangeran kepala daerah terkemuka di Franka Timur dengan sanak saudaranya, tetapi juga menutup peluang bagi sanak saudara untuk merongrong kedaulatannya.[73][74]

Pembentukan Kekaisaran Romawi Suci

250px-Depiction_of_Leo_VIII_from_the_Nuremberg_Chronicle._Published_in_1493.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Paus Leo VIII, Kepala Gereja Roma yang Kudus
250px-Heiliges_R%C3%B6misches_Reich_1000.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kekaisaran Romawi Suci pada zaman kulawangsa Otto
250px-Holy_Roman_Empire_11th_century_map-en.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kekaisaran Romawi Suci antara tahun 972 sampai 1032

Pada tahun 951, Otto maju berperang membela Tuan Putri Adelheid di Italia, mengalahkan musuh-musuhnya, kemudian menikahinya, dan mengambil alih kekuasaan atas Italia.[75] Pada tahun 955, Otto dengan telak mengalahkan bangsa Magyar dalam Pertempuran Lechfeld.[76] Pada tahun 962, Otto dinobatkan menjadi kaisar oleh Paus Yohanes XII,[76] sehingga urusan-urusan pemerintahan Kerajaan Jerman pun tersangkutpautkan dengan urusan-urusan pemerintahan Italia dan lembaga kepausan. Penobatan Otto menjadi kaisar membuat raja-raja Jerman tercitrakan sebagai ahli-ahli waris kemaharajaan Karel Agung, dan karena keabsahan kaisar ditumpukan pada konsep translatio imperii, raja-jara Jerman pun memandang diri mereka sebagai para penerus kepemimpinan negara Roma Kuno. Perkembangan seni budaya yang bermula pada masa pemerintahan Otto dikenal dengan sebutan Renaisans Otto. Perkembangan ini berpusat di Jerman, tetapi juga melanda Italia Utara dan Prancis.[77][78]

Otto menciptakan sistem jemaat kekaisaran, yang kerap disebut "sistem Reich jemaat Otto". Sistem ini mengikat jemaat-jemaat Gereja yang besar berikut wakil-wakilnya kepada tugas-tugas kenegaraan, sehingga terwujudlah "suatu pranata yang kukuh dan langgeng bagi negeri Jerman".[79][80] Pada zaman wangsa Otto, kaum wanita memainkan peran penting di bidang politik dan keagamaan, seringkali dengan memadukan peran mereka selaku tokoh agama dengan peran selaku penasihat raja, wali raja, atau kepala pemerintahan bersama raja. Tokoh-tokoh perempuan yang terkemuka adalah Permaisuri Mathilde, Permaisuri Edgitha, Permaisuri Adelheid, Permaisuri Teofanu, dan Putri Pemangku Mathilde.[81][82][83][84]

Pada tahun 963, Otto memakzulkan Paus Yohanes XII dan menetapkan Leo VIII sebagai paus yang baru (kendati Paus Yohanes XII dan Paus Leo VIII sama-sama mendaku sebagai paus yang sah sampai Paus Yohanes XII wafat pada tahun 964). Tindakan tersebut membuka kembali sengketa lama dengan Kaisar Romawi Timur, lebih-lebih sesudah anak Otto, yakni Kaisar Otto II (memerintah tahun 967-983), memakai gelar imperator Romanorum (kaisar bangsa Romawi). Meskipun demikian, Otto II menjalin hubungan kekerabatan dengan kaum ningrat Romawi Timur dengan memperistri Putri Teofanu.[85] Anak mereka, yakni Kaisar Otto III, naik takhta ketika baru berumur tiga tahun, sehingga tidak berdaya mengatasi persaingan kaum ningrat yang haus kekuasaan, dan harus pasrah diwakili oleh para pemangku yang silih berganti menjalankan pemerintahan sampai dia cukup umur untuk memerintah sendiri pada tahun 994. Sampai dengan saat itu, Otto III hanya berdiam di Jerman, sementara Kresensius II, seorang pecatan adipati, bersimaharajalela memerintah Roma dan sebagian wilayah Italia, mungkin dengan mencatut namanya.

Pada tahun 996, Otto III menetapkan saudara sepupunya menjadi paus pertama yang berkebangsaan Jerman, yakni Paus Gregorius V.[86] Paus dari bangsa asing dan para petinggi kepausan dari bangsa asing dilirik dengan penuh kecurigaan oleh kaum ningrat Roma, yang akhirnya memberontak di bawah pimpinan Kresensius II. Mantan guru pembimbing Otto III, Antipaus Yohanes XVI, sempat menguasai Roma sampai kota itu direbut Kaisar Romawi Suci.[87]

Otto III mangkat dalam usia yang masih terbilang muda pada tahun 1002. Ia digantikan oleh saudara sepupunya, Kaisar Heinrich II, yang lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada negeri Jerman.[88] Usaha-usaha diplomatik Otto III (dan guru pembimbingnya, Paus Silvester) dilancarkan bertepatan dengan, dan mempermulus jalan bagi, usaha kristenisasi dan penyebarluasan budaya Latin di berbagai pelosok Eropa.[89][90] Otto III dan Paus Silvester berhasil menggiring masuk serumpun bangsa baru (bangsa Slav) ke dalam lingkup pranata Eropa, dan menjadikan Kekaisaran Romawi Suci, sebagaimana dikemukakan oleh beberapa sarjana, sebagai "ketua himpunan kekeluargaan bangsa-bangsa menyerupai Kekaisaran Romawi Timur, yang berpusat pada paus dan kaisar di Roma". Langkah ini terbukti merupakan capaian yang berumur panjang.[91][92][93][94] Kemangkatan Otto III saat masih muda membuat masa pemerintahannya menjadi "kisah tentang sekian banyak daya berkarya yang tidak sempat mewujud nyata".[95][96]

Heinrich II mangkat pada tahun 1024, dan digantikan oleh Konrad II, penguasa pertama dari wangsa Sali. Konrad II terpilih menjadi raja sesudah melewati perdebatan para adipati dan kaum ningrat. Kalangan adipati dan kaum ningrat inilah yang kemudian hari menjadi majelis pangeran elektor.

Kekaisaran Romawi Suci pada akhirnya menjadi sebuah negara besar yang terdiri atas empat kerajaan, yaitu:

Puncak Abad Pertengahan

Sengketa investitur

Artikel utama: Sengketa investitur
250px-Hugo-v-cluny_heinrich-iv_mathilde-v-tuszien_cod-vat-lat-4922_1115ad.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Heinrich memohon-mohon kepada Bupatni Matilda dan Abas Hugo di Puri Kanosa (miniatur di dalam sebuah naskah beriluminasi dari tahun 1115, koleksi Perpustakaan Vatikan)

Raja-raja acap kali mempekerjakan para uskup untuk menangani urusan-urusan kenegaraan, dan kerap menentukan orang-orang yang akan diangkat menjadi petinggi Gereja.[97] Selepas Pembenahan Kluni, campur tangan raja dalam urusan pengangkatan petinggi Gereja dinilai tidak patut oleh lembaga kepausan. Paus Gregorius VII yang berwawasan pembaharuan bertekad untuk melawan amalan-amalan semacam itu, sehingga menimbulkan sengketa investitur dengan Raja Heinrich IV (memerintah tahun 1056-1106, dinobatkan menjadi kaisar tahun 1084).[97]

Heinrich IV menjegal langkah Sri Paus, dan membujuk para uskup untuk mengekskomunikasi Sri Paus, yang suka ia sebut dengan nama lahirnya saja, yaitu Hildebrand, alih-alih dengan nama kepausannya, Gregorius.[98] Sri Paus membalas dengan mengekskomunikasi Heinrich, menafikan keabsahan jabatannya, dan membatalkan semua sumpah prasetia yang diikrarkan orang kepadanya.[23][98] Ketika sadar sudah kehilangan hampir semua dukungan politik, Heinrich pun merendahkan dirinya dengan menanggung malu berjalan kaki ke Kanosa pada tahun 1077,[99] dan berhasil meluluhkan hati Sri Paus untuk mencabut hukuman ekskomunikasi yang ditimpakan kepada dirinya. Sementara itu, para pangeran kepala daerah di Jeman sudah memilih Adipati Rudolf, pangeran kepala daerah Swaben, menjadi raja menggantikan Heinrich.[100]

Heinrich berhasil mengalahkan Rudolf, tetapi sebagai konsekuensinya harus menghadapi lebih banyak lagi pemberontakan, hukuman ekskomunikasi yang sekali lagi ditimpakan kepada dirinya, bahkan harus menghadapi pemberontakan anak-anaknya sendiri. Sesudah Heinrich mangkat, anaknya, Heinrich V, berhasil mencapai kata mufakat dengan Sri Paus dan para uskup yang dituangkan ke dalam Konkordat Worms tahun 1122.[101] Kuasa politik Kekaisaran Romawi Suci dapat dipertahankan, tetapi sengketa investitur telah menyingkap batas-batas kedaulatan raja, teristimewa dalam kaitannya dengan Gereja, dan telah melucuti status keramat yang sebelumnya melekat pada diri raja. Sri Paus dan para pangeran kepala daerah Jerman pun tampil mengemuka sebagai pemain-pemain utama di gelanggang politik Kekaisaran Romawi Suci.

Ostsiedlung

Artikel utama: Ostsiedlung

Sebagai akibat dari Ostsiedlung, daerah-daerah jarang penduduk di Eropa Tengah (daerah-daerah perbatasan yang jarang penduduk, dewasa ini termasuk wilayah negara Polandia dan Ceko) dimasuki pendatang penutur bahasa Jerman dalam jumlah yang cukup signifikan. Daerah Silesia menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi Suci sebagai akibat dari usaha para adipati wangsa Piast untuk berswatantra, lepas dari campur tangan pemerintah Kerajaan Polandia.[102] Sejak abad ke-12, daerah kadipaten Pomerania bernaung di bawah nama besar Kekaisaran Romawi Suci,[103] dan aksi penaklukan yang dilancarkan Tarekat Kesatria Teuton mengubah daerah itu menjadi daerah penutur bahasa Jerman.[104]

Zaman wangsa Hohenstaufen

250px-Crusaders_besieging_Damascus_-_Chronique_d%27Ernoul_et_de_Bernard_le_Tr%C3%A9sorier_%28late_15th_C%29%2C_f.280v_-_BL_Royal_MS_15_E_I.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Friedrich Janggut Merah, Kaisar Romawi Suci
500px-Mitteleuropa_zur_Zeit_der_Staufer.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah kedaulatan wangsa Hohenstaufen meliputi wilayah Kekaisaran Romawi Suci dan wilayah Kerajaan Sisilia. Daerah-daerah berwarna kuning cerah adalah tanah pusaka keluarga ningrat Hohenstaufen yang diperintah secara langsung oleh para kaisar dari wangsa Hohenstaufen.

Kemangkatan Heinrich V pada tahun 1125 mengakhiri zaman wangsa Sali, karena para pangeran kepala daerah tidak lagi memilih kepala negara dari kaum keluarga Heinrich, tetapi memilih Lothar III, Adipati Saksen pemilik kekuatan tempur yang lumayan besar tetapi sudah lanjut usia. Sepeninggal Lothar III pada tahun 1137, para pangeran kepala daerah sekali lagi berusaha mengimbangi kekuasaan kepala negara, sehingga alih-alih memilih ahli waris kesayangan Lothar, yaitu menantunya, Heinrich Jumawa dari keluarga ningrat Welf, mereka memilih Konrad III dari keluarga ningrat Hohenstaufen yang masih terhitung cucu Kaisar Heinrich IV dan kemenakan Kaisar Heinrich V. Keputusan ini menimbulkan sengketa satu abad di antara dua keluarga ningrat itu. Konrad mengusir keluarga Welf dari tanah-tanah pusaka mereka, tetapi sesudah ia mangkat pada tahun 1152, kemenakannya, Friedrich Janggut Merah, naik takhta menggantikannya dan berdamai dengan keluarga Welf dengan mengangkat Heinrich Singa, yang masih terhitung saudara sepupunya, menjadi pangeran kepala daerah atas tanah-tanah pusaka peninggalan keluarga Welf, meskipun tidak lagi seluas dulu.

Para penguasa dari wangsa Hohenstaufen kian lama kian sering menganugerahkan tanah lungguh kepada para ministerialis, yakni para mantan hamba sahaya, yang diharapkan Friedrich dapat menjadi orang-orang yang lebih dapat diandalkan daripada para adipati. Golongan yang mula-mula diberdayakan untuk berperang inilah yang merupakan cikal-bakal dari kaum kesatria negara, salah satu basis kekuatan Kekaisaran Romawi Suci. Langkah konstitusional penting berikutnya adalah penciptaan mekanisme perdamaian baru di Roncaglia bagi seantero Kekaisaran Romawi Suci, yaitu Landfrieden, yang pertama kali dipermaklumkan oleh Kaisar Heinrich IV di Mainz pada tahun 1103.[105][106]

Landfrieden merupakan ikhtiar untuk menghapus perseteruan pribadi di antara para adipati maupun pihak-pihak lain, dan untuk mengikat segenap kawula kaisar kepada suatu sistem yurisdiksi hukum dan kejaksaan agung bagi penegakan hukum pidana, salah satu pendahulu dari konsep modern "kedaulatan hukum". Konsep baru lain yang muncul pada masa itu adalah pendirian kota-kota baru secara sistematis oleh kaisar maupun oleh adipati-adipati setempat. Selain untuk menanggulangi masalah ledakan populasi, pendirian kota-kota baru juga memusatkan kekuatan ekonomi di lokasi-lokasi yang strategis. Sebelumnya, kota-kota hanya wujud dalam bentuk kota-kota tua peninggalan bangsa Romawi atau kota-kota keuskupan yang lebih tua lagi. Kota-kota yang didirikan pada abad ke-12 antara lain adalah kota Freiburg, yang mungkin sekali menjadi percontohan bagi banyak kota baru berikutnya, dan kota München.

Friedrich Janggut Merah dinobatkan menjadi kaisar pada tahun 1155. Ia menitikberakan sifat "keromawian" negaranya, dengan maksud antara lain untuk dijadikan pembenaran bagi kemandirian kedaulatan kaisar dari Sri Paus yang ketika itu sudah sangat berkuasa. Sidang negara yang digelar di padang Roncaglia pada tahun 1158 menyerukan penegakan kembali hak-hak kaisar dengan merujuk kepada Corpus Iuris Civilis peninggalan Kaisar Yustinianus I. Hak-hak kaisar sudah diwacanakan sebagai tanda kebesaran raja saat terjadinya sengketa investitur, tetapi baru diperinci satu demi satu untuk pertama kalinya di Roncaglia. Daftar lengkapnya mencakup hak atas jalan-jalan raya umum, hak mengutip cukai, hak mencetak uang, hak mengutip denda, dan hak menaikturunkan pejabat negara. Dengan jelas diungkapkan bahwa hak-hak itu berakar pada peraturan perundang-undangan Romawi. Langkah tersebut merupakan tindakan konstitusional yang berdampak panjang.

Friedrich lebih banyak mengeluarkan kebijakan untuk kepentingan pemerintahan di Italia, tempat ia bersengketa dengan kota-kota Italia Utara yang berwawasan merdeka, khususnya daerah kadipaten Milan. Ia juga membuat gusar lembaga kepausan dengan mendukung paus tandingan, yang dipilih oleh sekelompok kecil kardinal, melawan Paus Aleksander III (menjabat tahun 1159–1181). Friedrich bahkan mendukung suksesi paus-paus tandingan sebelum akhirnya berdamai dengan Paus Aleksander pada tahun 1177. Di negeri Jerman, Friedrich berulang kali membela Adipati Heinrich Singa dari berbagai kecaman yang dilontarkan para pangeran kepala daerah maupun pemerintah kotapraja (terutama dalam kasus kota München dan kota Lübeck) yang menjadi saingannya. Heinrich sebaliknya tidak sepenuh hati mendukung kebijakan-kebijakan Friedrich, malah menolak mengirim bala bantuan di saat-saat Friedrich sedang kewalahan berperang di Italia. Sepulangnya ke Jerman, Friedrich yang sudah kepalang sakit hati pun menggelar sidang untuk mengadili Heinrich Singa. Sang adipati akhirnya diharamkan menunjukkan batang hidungnya di muka umum, dan seluruh tanah miliknya disita negara. Pada tahun 1190, Friedrich ikut maju ke palagan Perang Salib ke-3, dan mangkat di Kerajaan Kilikia bangsa Armenia.[107]

Pada zaman wangsa Hohenstaufen, para pangeran kepala daerah Jerman memprakarsai usaha pembukaan permukiman-permukiman baru dengan jalan damai ke sebelah timur wilayah Jerman, yakni di daerah-daerah tak berpenghuni atau yang hanya dihuni segelintir masyarakat Slav Barat. Kaum tani, pedagang, dan perajin penutur bahasa Jerman, baik yang beragama Kristen maupun yang beragama Yahudi, berpindah dari kawasan barat Kekaisaran Romawi Suci ke daerah-daerah tersebut. Jermanisasi berangsur atas daerah-daerah itu merupakan suatu fenomena rumit yang tidak boleh ditafsirkan dengan menggunakan sudut pandang nasionalisme abad ke-19 yang cenderung menganakemaskan satu pihak dan menganaktirikan pihak lain. Pembukaan permukiman-permukiman baru ke arah timur ini memperlebar mandala pengaruh Kekaisaran Romawi Suci sampai ke Pomerania dan Silesia, demikian pula ikatan perkawinan yang dijalin para penguasa setempat, yang rata-rata berkebangsaan Slav, dengan pasangan-pasangan mereka yang berkebangsaan Jerman. Pada tahun 1226, Adipati Konrad, pangeran kepala daerah Masovia, mengundang Tarekat Kesatria Teuton ke Prusia untuk mengkristenkan penduduk daerah itu. daerah Tarekat Teuton (bahasa Jerman:Deutschordensstaat), yang kemudian hari berubah menjadi daerah Kadipaten Prusia, tidak pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi Suci.

Pada masa pemerintahan anak sekaligus pengganti Friedrich Janggut Merah, yakni Kaisar Heinrich VI, wangsa Hohenstaufen mencapai puncak kegemilangannya, dengan masuknya Kerajaan Sisilia ke dalam daftar tanah pusaka wangsa itu melalui perkawinan Heinrich VI dengan Konstanze, Ratu Sisilia. Bohemia dan Polandia menjadi negara-negara pengabdi Kekaisaran Romawi Suci, bahkan Siprus dan Armenia Kecil turut mengaturkan sembah bakti ke hadapan kaisar. Khalifah berkebangsaan Maroko yang berkuasa di Jazirah Iberia ketika itu pun tidak berdaya membantah kewenangan Heinrich untuk menuntut pembayaran upeti dari Tunis dan Tripolitania, malah mempersembahkan upeti kepadanya. Lantaran takut melihat besarnya kekuasaan Heinrich, pemimpin terkuat di Eropa sejak kemangkatan Karel Agung, raja-raja lain di Eropa pun sepakat menjalin persekutuan. Heinrich membuyarkan upaya mereka dengan cara mengirimkan surat ancaman kepada Raja Inggris, Richard Hati Singa. Kaisar Romawi Timur khawatir negaranya akan menjadi bulan-bulanan dalam Perang Salib yang sedang direncanakan Heinrich, sehingga mulai menjalankan pemungutan alamanikon (pajak Jerman) sebagai langkah penanggulangan bahaya invasi. Heinrich juga berencana mengubah bentuk pemerintahan Kekaisaran Romawi Suci dari monarki elektif menjadi monarki turun-temurun, tetapi ditentang keras oleh Sri Paus dan beberapa pangeran kepala daerah. Kemangkatan Heinrich yang tidak disangka-sangka pada tahun 1197 mengguncang keutuhan Kekaisaran Romawi Suci.[108][109][110] Sekalipun sudah terpilih menjadi raja, Friederich II, anak Heinrich, masih kanak-kanak dan bermastautin di Sisilia, sehingga para pangeran kepala daerah Jerman memutuskan untuk memilih seorang raja yang sudah dewasa. Sidang majelis pangeran elektor terbelah, sebagian memilih Filips, putra bungsu Friedrich Janggut Merah, dan sebagian lagi memilih Otto, putra ketiga Adipati Heinrich Singa. Sesudah Filips mangkat terbunuh dalam suatu pertengkaran terkait urusan pribadi pada tahun 1208, Otto pun tampil sebagai pemimpin yang disegani, sampai ia mulai berusaha mendaulat Sisilia.[butuh klarifikasi]

250px-Peter_Janssen%2C_Kaiser_Friedrich_II.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Friedrich II, Kaisar Romawi Suci

Lantaran khawatir terhadap ancaman bahaya yang mungkin timbul akibat bersatunya Kekaisaran Romawi Suci dengan Kerajaan Sisilia, Paus Inosensius III berbalik memihak Friedrich II. Friedrich bersama angkatan perangnya berkirab ke Jerman dan mengalahkan Otto. Sesudah berhasil mengalahkan Otto, Friedrich malah mengkhianati janjinya untuk melanggengkan keterpisahan Kerajaan Sisilia dari Kekaisaran Romawi Suci. Meskipun sudah mengangkat anaknya, Heinrich, menjadi Raja Sisilia sebelum berkirab ke Jerman, kendali pemerintahan Sisilia sesungguhnya masih berada di dalam genggamannya. Situasi ini berlanjut sesudah Friedrich dinobatkan menjadi kaisar pada tahun 1220. Lantaran khawatir melihat pemusatan kekuasaan pada diri Friedrich, Sri Paus mengekskomunikasinya. Perkara lain yang juga menggusarkan hati Sri Paus adalah sikap Friedrich yang berulang kali menangguhkan janjinya untuk melancarkan Perang Salib. Friedrich akhirnya melancarkan Perang Salib ke-6 pada tahun 1228, sekalipun sudah telanjur diekskomunikasi. Perang Salib ke-6 bermuara pada perundingan-perundingan, dan berhasil menegakkan kembali kedaulatan Kerajaan Yerusalem, meskipun tidak bertahan lama.

Di luar dari sepak terjangnya selaku kaisar, masa pemerintahan Friedrich II merupakan titik balik menuju ambruknya tatanan pemerintahan terpusat di Kekaisaran Romawi Suci. Lantaran sibuk membentuk pemerintahan yang lebih terpusat di Sisilia, Friedrich jarang sekali melawat ke Jerman, dan menganugerahkan hak-hak istimewa yang terlampau besar kepada para pangeran kepala daerah maupun petinggi Gereja di Jerman. Di dalam piagam Confoederatio cum principibus ecclesiasticis tahun 1220, Friederich merelakan sejumlah tanda kebesaran raja demi kepentingan para uskup, antara lain hak mengutip cukai, hak mencetak uang, dan hak mendirikan benteng. Piagam Statutum in favorem principum tahun 1232 menganugerahkan pula hak-hak tersebut kepada para pangeran kepala daerah. Meskipun sebelumnya banyak dari hak-hak istimewa itu sudah pernah dianugerahkan kepada pangeran kepala daerah tertentu, piagam tersebut menganugerahkannya kepada semua pangeran kepala daerah, sekali untuk selamanya, demi memampukan mereka untuk memelihara keamanan dan ketertiban wilayah di sebelah utara pegunungan Alpen selagi Friedrich berkutat dengan kesibukannya di Italia. Piagam tahun 1232 itu merupakan dokumen pertama yang menyifatkan para adipati di negeri Jerman dengan sebutan domini terræ (tuan tanah), yaitu pemilik dari tanah pusaka mereka masing-masing. Pemakaian sebutan domini terræ juga menunjukkan adanya perubahan besar di bidang peristilahan.

Kerajaan Bohemia

Kerajaan Bohemia adalah negara kedaerahan yang cukup disegani pada Abad Pertengahan. Pada tahun 1212, Raja Ottokar I (menyandang gelar "raja" mulai tahun 1198) berhasil mendapatkan Bula Kencana Sisilia (semacam surat keputusan resmi) dari Kaisar Friedrich II, yang mengesahkan hak Ottokar dan keturunannya untuk menyandang gelar "raja", sekaligus meningkatkan status daerah Bohemia dari kadipaten menjadi kerajaan.[111] Kewajiban-kewajiban politik dan keuangan Bohemia terhadap Kekaisaran Romawi Suci sedikit demi sedikit dikurangi.[112] Kaisar Karel IV bahkan menjadikan kota Praha sebagai pusat pemerintahannya.

Masa interregnum

250px-Clemente_V_cappellone_degli_Spagnoli.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Paus Klemens V, Kepala Gereja Roma yang Kudus

Sesudah Kaisar Friedrich II mangkat pada tahun 1250, wilayah Kerajaan Jerman pecah menjadi wilayah kekuasaan anaknya, Raja Konrad IV (mangkat tahun 1254), dan wilayah kekuasaan si raja tandingan, Willem, Adipati Holland (mangkat tahun 1256). Sepeninggal Konrad IV, negeri Jerman memasuki masa interregnum, karena tidak ada calon raja yang mampu mendapatkan persetujuan dari semua pihak. Lantaran tidak ada raja, para pangeran kepala daerah pun lebih banyak mencurahkan pikiran dan tenaga untuk memperkuat daerahnya masing-masing, bahkan mampu tampil sebagai sosok-sosok pemimpin yang mandiri. Selepas tahun 1257, ada dua orang bangsawan yang digadang-gadangkan menjadi Raja Jerman, yakni Richard, bangsawan Cornwall yang didukung golongan Guelfi, dan Alfonso, Raja Kastila yang mendapatkan pengakuan dari golongan pendukung wangsa Hohenstaufen tetapi tidak pernah menjejakkan kakinya di bumi Jerman. Sesudah Richard mangkat pada tahun 1273, Rudolf, seorang bupati pendukung wangsa Hohenstaufen, terpilih menjadi raja. Rudolf adalah bangsawan pertama dari keluarga Habsburg yang bergelar raja, tetapi ia tidak pernah dinobatkan menjadi kaisar. Sesudah Rudolf mangkat pada tahun 1291, Adolf dan Albert berturut-turut menduduki singgasana Kerajaan Jerman dengan gelar "Raja Bangsa Romawi". Sama seperti Rudolf, Adolf dan Albert adalah raja-raja lemah yang tidak pernah dinobatkan menjadi kaisar.

Begitu Albert mangkat terbunuh pada tahun 1308, Raja Prancis, Filips IV, mulai gencar menggalang dukungan bagi adiknya, Karel, Bupati Valois, supaya terpilih menjadi Raja Bangsa Romawi berikutnya. Raja Filips II menyangka akan didukung penuh oleh Paus Klemens V yang berkebangsaan Prancis (memindahkan markas kepausan ke Avignon pada tahun 1309), dan merasa berpeluang besar dapat memasukkan Kekaisaran Romawi Suci ke dalam cakupan mandala kekuasaan raja-raja Prancis. Tidak tanggung-tanggung ia hamburkan duit negaranya demi menyogok para pangeran elektor di Jerman. Sekalipun Bupati Valois didukung oleh Heinrich, Uskup Agung Koln yang pro-Prancis, banyak pihak enggan melihat Prancis berjaya melebarkan sayap kekuasaannya, lebih-lebih Paus Klemens V. Agaknya saingan utama Karel, Bupati Valois, adalah Rudolf II, Bupati Istana di Rhein.

Meskipun demikian, para pangeran elektor, yang sudah beberapa dasawarsa lamanya tidak memiliki seorang kaisar yang dipertuan, tidak menyukai Karel maupun Rudolf. Justru Heinrich, Bupati Luksemburg, dengan bantuan adiknya, Balduin, Uskup Agung Trier, yang dipilih menjadi kaisar oleh para pangeran kepala daerah (enam suara mendukung) di Frankfurt pada tanggal 27 November 1308. Meskipun bertuan kepada Raja Prancis, Heinrich tidak memiliki banyak ikatan kebangsaan dengan Prancis, sehingga menjadikannya calon yang tidak banyak ditentang. Ia dinobatkan menjadi raja di Aachen pada tanggal 6 Januari 1309, dan dinobatkan menjadi Kaisar Heinrich VII oleh Paus Klemens V di Roma pada tanggal 29 Juni 1312. Penobatannya menjadi Kaisar mengakhiri masa interregnum di Kekaisaran Romawi Suci.

Perubahan di dalam kehidupan bernegara

250px-Schedelsche_Weltchronik_Struktur_des_Reiches.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi di dalam Schedelsche Weltchronik yang memperlihatkan tatanan pemerintahan Reich: Kaisar bersemayam di atas singgasana, dikawal tiga orang petinggi Gereja di sebelah kanan, dan empat orang pangeran kepala daerah di sebelah kiri.

Pada abad ke-13, perubahan struktural umum di bidang tata kelola tanah membuka jalan bagi peralihan kuasa politik ke kaum borjuis dengan mengorbankan feodalisme kaum ningrat, yang akhirnya menjadi ciri khas kurun waktu Akhir Abad Pertengahan. Kebangkitan kota-kota dan kemunculan golongan masyarakat baru, yaitu kalangan Bürger (orang kota), menggerus tatanan kemasyarakatan, tatanan hukum, maupun tatanan ekonomi ala feodalisme.[113]

Kaum tani kian lama kian diwajibkan untuk menyetorkan upeti kepada tuan-tuan tanah mereka. Konsep "harta-milik" mulai menggeser bentuk-bentuk kewenangan hukum yang lebih kuno, kendati keduanya masih tetap berkaitan erat satu sama lain. Di tingkat daerah (bukan di tingkat negara), kewenangan kian lama kian memusat. Barang siapa memiliki tanah, dia jualah yang empunya kewenangan hukum, kewenangan yang menjadi sumber dari segala kewenangan lainnya. Meskipun demikian, kewenangan hukum pemilik tanah pada masa itu tidak mencakup kewenangan membuat undang-undang, yakni jenis kewenangan yang nyaris tidak dikenal sebelum abad ke-15. Praktik peradilan sangat bergantung kepada adat-istiadat atau aturan-aturan yang sudah teradat.

Pada kurun waktu inilah daerah-daerah mulai bertransformasi menjadi cikal-bakal negara-negara modern. Proses transformasi tersebut tidak berjalan serentak dan seragam di semua daerah. Kemajuannya lebih terlihat di daerah-daerah yang wilayahnya nyaris identik dengan tanah-tanah pusaka suku-suku Jermani tempo dulu, misalnya daerah Bayern, tetapi berjalan lebih lamban di daerah-daerah yang terlahir dari pelaksanaan hak-hak istimewa kaisar.

Pada abad ke-12, Liga Hansa mengukuhkan keberadaannya sebagai persekutuan dagang dan keamanan antarserikat usaha kota-kota kecil dan kota-kota besar di Kekaisaran Romawi Suci maupun di seluruh kawasan utara dan kawasan tengah Eropa. Liga Hansa mendominasi usaha dagang lintas laut di perairan Laut Baltik, Laut Utara, dan di sepanjang aliran sungai-sungai yang dapat dilayari. Setiap kota yang menjadi anggotanya tetap mempertahankan tatanan hukum sendiri-sendiri, dan hanya memiliki otonomi politik yang terbatas (kecuali kota-kota merdeka milik negara). Pada akhir abad ke-14, persekutuan besar itu sudah mulai berani memaksakan kepentingan-kepentingannya, bahkan bila perlu dengan kekuatan militer. Kenekatan semacam ini berpuncak pada perang melawan Kerajaan Denmark dari tahun 1361 sampai 1370. Liga Hansa mulai terpuruk selepas tahun 1450.[h][114][115]

Akhir Abad Pertengahan

Kebangkitan daerah pasca-Hohenstaufen

250px-Karl_IV_HRR.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Karel IV, Kaisar Romawi Suci
500px-Holy_Roman_Empire_at_the_Golden_Bull_of_1356.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah Kekaisaran Romawi Suci pada waktu penandatanganan Bula Kencana tahun 1356

Kesulitan-kesulitan dalam memilih raja pada akhirnya mendorong dibentuknya suatu dewan tetap pangeran elektor (Kurfürsten). Keanggotaan maupun tata acara persidangannya ditetapkan di dalam Bula Kencana tahun 1356 yang dikeluarkan oleh Kaisar Karel IV (memerintah tahun 1355–1378, menjadi Raja Bangsa Romawi sejak tahun 1346) dan berlaku sampai tahun 1806. Perkembangan ini mungkin sekali merupakan tanda yang paling nyata dari munculnya dualitas kaisar dan negara (Kaiser und Reich), karena kaisar tidak lagi dianggap identik dengan negara. Bula Kencana tahun 1356 juga menetapkan tata cara pemilihan Kaisar Romawi Suci. Kaisar tidak lagi terpilih karena memenangkan suara mayoritas, tetapi terpilih karena mendapatkan persetujuan dari ketujuh-tujuh pangeran elektor. Gelar pangeran elektor pun menjadi gelar turun-temurun, bahkan pangeran elektor dianugerahi hak untuk mencetak uang dan menjalankan kewenangan hukum. Putra-putra mereka dianjurkan untuk belajar menguasai bahasa-bahasa negara, yaitu bahasa Jerman, bahasa Latin, bahasa Italia, dan bahasa Ceko.[i][16] Kebijakan Kaisar Karel IV ini menjadi pokok perdebatan. Di satu pihak kebijakan ini membantu memulihkan kedamaian di seantero wilayah Kekaisaran Romawi Suci yang terus-menerus dilanda perang saudara sejak berakhirnya zaman wangsa Hohenstaufen, tetapi di lain pihak kebijakan ini "tidak pelak lagi menghantam kewenangan pemerintah pusat".[116] Menurut Thomas Brady Jr., Kaisar Karel IV sesungguhnya berniat mengakhiri pertentangan dalam pemilihan raja (jika dilihat dari sudut pandang wangsa Luksemburg, mereka turut diuntungkan karena Raja Bohemia mendapatkan kedudukan yang mulia dan bersifat tetap selaku salah seorang pangeran elektor).[117][118] Pada waktu yang sama, Kaisar Karel IV membangun Bohemia sebagai tanah pusaka utama wangsa Luksemburg di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci dan sebagai basis kekuatan wangsa Luksemburg. Di Bohemia, masa pemerintahannya kerap diagung-agungkan sebagai zaman kegemilangan Bohemia. Meskipun demikian, menurut Thomas Brady Jr., di balik segala kegemerlapan itu, muncul satu masalah, yaitu pemerintah telah menyingkap ketidakberdayaannya dalam membendung arus pendatang Jerman ke Bohemia, yang pada akhirnya menimbulkan ketegangan dan aniaya. Proyek negara yang diprakarsai wangsa Luksemburg mangkrak pada masa pemerintahan anak Karel, Wenzel (memerintah sebagai Raja Bohemia dari tahun 1378 sampai 1419, memerintah sebagai Raja Bangsa Romawi dari tahun 1376 sampai 1400), yang juga menghadapi penentangan dari 150 keluarga ningrat setempat.[119]

Kian susutnya kewenangan kaisar juga terungkap dari cara raja-raja pasca-Hohenstaufen mempertahankan kekuasaan mereka. Pada masa-masa sebelumnya, Kekuatan tempur (maupun kekuatan dana) Kekaisaran Romawi Suci sangat bergantung kepada tata kelola bumi narawita kaisar yang disebut Reichsgut, yakni tanah-tanah yang akan selalu menjadi milik siapa saja yang terpilih menduduki singgasana Raja Jerman, dan mencakup banyak kota milik negara. Selepas abad ke-13, hak milik atas Reichsgut semakin tidak ada artinya, kendati masih tersisa satu dua bidang tanah Reichsgut ketika Kekaisaran Romawi Suci dibubarkan pada tahun 1806. Kian hari kian banyak Reichsgut yang digadaikan kepada adipati-adipati setempat, kadang-kadang demi mengisi pundi-pundi negara, tetapi lebih sering sebagai ganjaran darmabakti atau sebagai upaya mencucuk hidung adipati-adipati tersebut. Mengelola Reichsgut secara langsung tidak lagi sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan raja maupun para adipati.

Raja-raja Jerman mulai dari Raja Rudolf I kian lama kian bergantung kepada tanah pusaka wangsanya masing-masing demi menopang kekuasaan mereka. Tidak seperti tanah-tanah Reichsgut yang kebanyakan terserak di berbagai pelosok negeri dan sukar untuk dikelola dengan baik, tanah-tanah pusaka wangsa relatif menyatu sehingga lebih mudah dikelola. Pada tahun 1282, Raja Rudolf I meminjamkan daerah Austria dan Stiria kepada putra-putranya sendiri. Pada tahun 1312, Heinrich VII, putra keluarga ningrat Luksemburg, dinobatkan sebagai Kaisar Romawi Suci yang pertama semenjak mangkatnya Kaisar Friedrich II. Semua Raja Jerman dan Kaisar Romawi Suci sesudah dirinya bergantung kepada tanah-tanah pusaka wangsanya (Hausmacht) masing-masing, misalnya Kaisar Ludwig IV dari keluarga ningrat Wittelsbach (menjadi raja tahun 1314, menjabat sebagai kaisar tahun 1328–1347) yang mengandalkan tanah-tanah pusaka keluarganya di Bayern, dan Kaisar Karel IV dari keluarga ningrat Lukesemburg, cucu Kaisar Heinrich VII, yang mengandalkan tanah-tanah pusaka keluarganya di Bohemia. Dengan demikian, demi kepentingan pribadinya, raja perlu memperkuat daerah-daerah, karena raja jualah yang akan memetik manfaatnya, mengingat di antara daerah-daerah tersebut terdapat pula daerah-daerah milik pusaka keluarganya sendiri.

Pembaharuan Negara

Artikel utama: Pembaharuan Negara
250px-Hans_Burgkmair_d._%C3%84._005.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Friedrich III Kaisar Romawi Suci

Pada permulaan abad ke-15, "undang-undang dasar" Kekaisaran Romawi Suci belum terbentuk dengan sempurna. Kerap timbul perseteruan antarpangeran kepala daerah. Kaum "kesatria garong" (Raubritter) merajalela di mana-mana.[120]

Pada waktu yang sama, Gereja Katolik sedang berkutat dengan masalahnya sendiri, yang juga berdampak terhadap kehidupan bernegara. Konflik di antara orang-orang yang sama-sama mendaku sebagai paus yang sah (satu orang paus yang "sah" dan dua orang paus tandingan) baru tuntas sesudah Konsili Konstanz terselenggara (tahun 1414–1418). Selepas tahun 1419, lembaga kepausan lebih banyak mencurahkan perhatian dan tenaganya untuk memberantas kaum Husite. Cita-cita luhur yang mengemuka pada Abad Pertengahan untuk mempersatukan seluruh Dunia Kristen menjadi satu negara saja, yang dituntun Gereja dan dipimpin Kekaisaran Romawi Suci, mulai kehilangan gaungnya.

Semua perubahan tersebut memuculkan banyak perbincangan pada abad ke-15 mengenai Kekaisaran Romawi Suci itu sendiri. Aturan-aturan dari masa lampau tidak lagi sejalan dengan perkembangan zaman, dan Landfrieden warisan masa lampau dirasa sangat perlu ditegakkan kembali.[121]

Cita-cita pembaharuan negara dan Gereja yang berjalan serentak di tingkat negara terlahir dari gagasan Kaisar Sigismund (memerintah tahun 1433–1437, menjadi Raja Bangsa Romawi dari tahun 1411). Menurut sejarawan Thomas Brady Jr., Kaisar Sigismund "memiliki kewaskitaan dan keluhuran budi yang tidak kunjung dijumpai di dalam diri seorang kepala negara monarki Jerman sejak abad ketiga belas". Meskipun demikian, tantangan dari luar, kekeliruan-kekeliruan yang dilakukannya sendiri, dan punahnya garis keturunan laki-laki wangsa Luksemburg, membuat cita-cita itu tidak kunjung tercapai.[122]

Pada tahun 1452, Friedrich III menjadi penguasa pertama dari wangsa Habsburg yang dinobatkan menjadi Kaisar Romawi Suci.[123] Ia sangat berhati-hati dalam menyikapi gerakan pembaharuan di Kekaisaran Romawi Suci. Hampir sepanjang masa pemerintahannya, ia menganggap pembaharuan sebagai ancaman terhadap hak-hak prerogatifnya selaku kaisar. Ia mengindari konfrontasi-konfrontasi langsung, yang bisa saja berujung nista jika para pangeran kepala daerah tidak mau menurut.[124] Selepas tahun 1440, pembaharuan Kekaisaran Romawi Suci dan Gereja diusung dan dipimpin oleh tokoh-tokoh di tingkat lokal dan regional, teristimewa para pangeran kepala daerah.[125] Meskipun demikian, pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, ada lebih banyak tekanan dari tingkat yang lebih tinggi untuk mengambil tindakan. Berthold von Henneberg, Uskup Agung Mainz, atas nama para pangeran kepala daerah yang menghendaki pembaharuan (ingin memperbaharui Kekaisaran Romawi Suci tanpa menguatkan kewenangan kaisar), mendesak kaisar untuk melakukan pembaharuan dengan memanfaatkan keinginan Friedrich III untuk melapangkan jalan bagi anaknya, Maximilian, supaya terpilih menjadi kaisar sesudah ia mangkat. Oleh karena itu, pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, Kaisar Friedrich III memprakarsai ikhtiar perdana pembaharuan negara, yang kemudian hari meluas pada masa pemerintahan Maximilian. Kaisar Maximilian sendiri bersikap terbuka terhadap pembaharuan, meskipun pada hakikatnya ia juga ingin melanggengkan dan memperbesar hak-hak prerogatif kaisar. Sesudah Friedrich meninggalkan kesibukan penyelenggaraan negara dan beristirahat di Linz pada tahun 1488, sebagai suatu langkah kompromi, Maximilian bertindak sebagai perantara yang menghubungkan para pangeran kepala daerah dengan ayahandanya. Sesudah menjadi penguasa tunggal sepeninggal ayahandanya, Maximilian meneruskan kebijakan perantara ini, dengan menempatkan dirinya selaku wasit yang tidak berpihak di tengah berbagai pilihan yang diusulkan para pangeran kepala daerah.[126][35]

Pembentukan lembaga-lembaga negara
500px-Innsbruck_-_painting_of_Albrecht_D%C3%BCrer.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Innsbruck, gelanggang politik yang paling penting pada masa pemerintahan Kaisar Maximilian,[8] tempat kedudukan Hofkammer (Perbedaharaan Istana) dan Tata Usaha Istana, yang berfungsi sebagai "badan-badan pemerintah yang paling berpengaruh pada masa pemerintahan Kaisar Maximilian".[7] Lukisan karya Albrecht Dürer (tahun 1496)

Langkah-langkah besar Pembaharuan Negara ditetapkan di dalam sidang Permusyawaratan Negara di Worms pada tahun 1495. Di dalam sidang tersebut, diperkenalkan sebuah lembaga baru, yaitu Reichskammergericht (Mahkamah Negara), yang diharapkan menjadi lembaga yang tidak banyak bergantung kepada kaisar. Ditetapkan pula suatu pajak baru, khusus untuk mendanai lembaga tersebut, yakni Gemeine Pfennig, kendati baru dikutip pada masa pemerintahan Kaisar Karel V dan Kaisar Ferdinand I, itu pun tidak dipungut sepenuhnya.[127][128][129]

Dengan maksud untuk menciptakan sebuah lembaga tandingan bagi Reichskammergericht, pada tahun 1497, Kaisar Maximilian membentuk Reichshofrat (Majelis Istana Negara) yang berkedudukan di kota Wina. Meskipun demikian, pada masa pemerintahan Kaisar Maximilian, Reichshofrat tidak populer. Dalam jangka panjang, Reichskammergericht maupun Reichshofrat sama-sama berfungsi, bahkan kadang-kadang saling tumpang tindih.[130][131]

Pada tahun 1500, Kaisar Maximilian menyetujui pembentukan lembaga yang dinamakan Reichsregiment (Pemerintah Negara), beranggotakan dua puluh orang petinggi negara termasuk para pangeran elektor, diketuai oleh kaisar atau pejabat yang mewakilinya. Reichsregiment pertama kali dibentuk pada tahun 1501 di Nürnberg. Meskipun demikian, Kaisar Maximilian tidak menyukai keberadaannya, dan daerah-daerah pun gagal mendukung kiprahnya. Lembaga baru ini terbukti tidak mampu berbuat banyak di gelanggang politik, sehingga kewenangannya dikembalikan kepada Kaisar Maximilian pada tahun 1502.[132][131][133]

Perubahan terpenting di bidang pemerintahan menyasar jantung rezim ini, yaitu lembaga ketatausahaan. Pada permulaan masa pemerintahan Maximilian, Tata Usaha Istana di Innsbruck bersaing dengan Tata Usaha Negara yang diketuai Uskup Agung pangeran kepala daerah Mainz, penata usaha kawakan Kekaisaran Romawi Suci. Dengan melimpahkan urusan-urusan politik di Tyrol, Austria maupun masalah-masalah negara kepada Tata Usaha Istana, Maximilian sedikit demi sedikit memusatkan kewenangan ketatausahaan pada lembaga tersebut. Tata Usaha Istana dan Tata Usaha Negara akhirnya disatukan pada tahun 1502.[7] Pada tahun 1496, Kaisar Maximilian membentuk suatu lembaga perbendaharaan umum (Hofkammer) di Innsbruck, yang bertanggung jawab menangani urusan-urusan terkait semua tanah pusaka turun-temurun. Badan pemeriksa keuangan (Raitkammer) di Wina ditempatkan di bawah naungan lembaga ini.[134] Di bawah pimpinan Paul von Liechtenstein [de], Hofkammer tidak saja dipercaya untuk menangani urusan-urusan tanah pusaka turun-temurun, tetapi juga menangani urusan-urusan Maximilian selaku Raja Jerman.[135]

Pemberlakuan hukum Romawi
330px-Maximilian_I_watching_an_execution_during_Philip_and_Joanna_betrothal.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Maximilian I lebih tertarik menonton pelaksanaan hukuman mati ketimbang menyaksikan upacara pertunangan putranya, Pangeran Filips Rupawan, dengan Putri Juana Gila. Di sudut kanan atas tampak Kain membunuh Habel. Gambar sindirian terhadap ikhtiar pembaharuan tatanan hukum yang diprakarsai Kaisar Maximilian, yang disebut-sebut sebagai wujud kesewenang-wenangan kaisar. Dibuat dengan mengatasnamakan para anggota dewan kota Augsburg. Pelat nomor 89 dari Von der Arztney bayder Glück karya Petrarcameister.[136]

Pada sidang Permusyawaratan Negara tahun 1495 di Worms, pemberlakuan hukum Romawi dipercepat dan diundangkan. Hukum Romawi dijadikan ketentuan yang bersifat mengikat di pengadilan-pengadilan Jerman, kecuali jika bertentangan dengan anggaran dasar daerah.[137] Pada praktiknya, hukum Romawi menjadi hukum asasi di seluruh negeri Jerman, menggeser banyak sekali hukum asli Jermani, meskipun hukum Jermani masih dipakai di pengadilan-pengadilan tingkat bawah.[138][139][140][141] Selain demi mewujudkan niat untuk mencapai kesatuan hukum dan berbagai faktor lain, pemberlakuan hukum Romawi juga dilakukan demi menonjolkan kesinambungan Kekaisaran Romawi Suci dengan kemaharajaan bangsa Romawi tempo dulu.[142] Guna mewujudnyatakan keputusannya untuk merombak dan menyatukan tatanan hukum, Kaisar Maximilian kerap langsung turun tangan menuntaskan perkara-perkara hukum di tingkat daerah, dengan melangkahi piagam-piagam maupun adat-istiadat daerah. Sikap semacam itu tidak jarang menuai sindiran maupun kecaman dari dewan-dewan pemerintahan daerah yang hendak melangengkan undang-undang asli daerah.[143]

Perombakan tatanan hukum benar-benar melemahkan mahkamah Feme warisan masa lampau (Vehmgericht, atau Mahkamah Rahasia Westfalen, yang turun-temurun diyakini sebagai lembaga bentukan Karel Agung, meskipun sudah diragukan kebenarannya dewasa ini[144][145]), meskipun mahkamah ini baru benar-benar bubar pada tahun 1811 (dihapuskan atas perintah Jérôme Bonaparte).[146][147]

Budaya politik kebangsaan
Berkas:1512 Holy Roman Empire Germania.jpg
Personifikasi Reich sebagai Jermania, Lukisan karya Jörg Kölderer, tahun 1512. "Perempuan Jerman" dengan rambut terurai dan bermahkota, bersemayam di atas singgasana kekaisaran, kiasan citra diri Maximilian I selaku Raja Jerman maupun rumusan Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman (meniadakan bangsa-bangsa lain). Meskipun pada Abad Pertengahan biasanya digambarkan tunduk di bawah kekuasaan kaisar dan Italia atau Galia, kini ia diberi tempat yang paling utama di dalam Pawai Kemenangan Maximilian, diusung di depan Roma.[148][149][150]

Maximilian maupun Karel V (meskipun pada hakikatnya kedua kaisar ini berjiwa internasionalis[151][152]) adalah tokoh-tokoh yang pertama kali mengangkat wacana bangsa, yang disamakan dengan Reich oleh kaum humanis pada masa itu.[120] Dengan dorongan dari Maximilian dan para humanisnya, sosok-sosok nirjasad terkenal kembali diketengahkan atau kembali memasyarakat. Para humanis menemukan kembali risalah Jermania karya pujangga Tacitus. Menurut Peter H. Wilson, sosok perempuan yang dinamakan Jermania adalah sosok yang direka ulang Kaisar Maximilian menjadi Bunda Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman yang berbudi luhur lagi cinta damai.[153] Whaley menduga bahwa, meskipun kemudian hari timbul perpecahan akibat perbedaan agama, "motif-motif kecintaan kepada tanah air ditumbuhsuburkan pada masa pemerintahan Maximilian, baik oleh Maximilian sendiri maupun oleh para sastrawan humanis yang tanggap terhadap kebijakannya tersebut, melahirkan inti sari sebuah budaya politik kebangsaan."[154]

Pada masa pemerintahan Maximilian pula ragam umum bahasa Jerman berangsur-angsur tampil menonjol, terutama berkat jasa jawatan tata usaha negara dan jawatan tata usaha daerah Kadipaten Saksen, daerah kekuasaan Friedrich Bijaksana, pangeran elektor dari wangsa Wettin.[155][156] Perkembangan industri percetakan beserta kemunculan sistem pos (sistem pos modern pertama di dunia[157]), yang diprakarsai sendiri oleh Maximilian dengan sokongan dari Adipati Friedrich Bijaksana dan Adipati Karel Nekat, menuntun kepada revolusi di bidang komunikasi dan membuka jalan bagi penyebarluasan gagasan-gagasan. Berbeda dari situasi di negara-negara yang lebih tersentralisasi pemerintahannya, sifat keterdesentralisasian Kekaisaran Romawi Suci membuat membuat penyensoran menjadi perkara yang sukar dilaksanakan.[158][159][160][161]

Terence McIntosh berpendapat bahwa kebijakan agresif ekspansionis yang dijalankan Kaisar Maximilian I dan Kaisar Karel V pada masa-masa pembentukan negara Jerman modern perdana (kendati tidak memajukan sasaran-sasarannya menjadi spesifik bagi bangsa Jerman per se), yang mengandalkan sumber daya manusia Jerman maupun pemanfaatan tenaga Landsknechte dan tentara upahan yang terkenal garang, berdampak kepada cara negara-negara tetangga memandang politas Jerman tersebut, kendati Jerman dalam jangka panjang cenderung aman sentosa.[162]

Kewenangan kaisar
250px-Maximilian_I%2C_Holy_Roman_Emperor.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Maximilian I, Kaisar Romawi Suci

Maximilian adalah "Kaisar Romawi Suci yang pertama dalam 250 tahun yang memimpin sekaligus meraja". Pada permulaan dasawarsa 1500-an, ia adalah majikan sejati Kekaisaran Romawi Suci, meskipun kekuasaanya melemah pada dasawarsa terakhir menjelang kemangkatannya.[163][164] Whaley mencermati bahwa, meskipun penuh dengan pergumulan, yang muncul pada akhir masa pemerintahan Maximilian adalah monarki yang sudah kukuh, dan bukan oligarki pangeran-pangeran kepala daerah.[165] Benjamin Curtis berpendapat bahwa sekalipun tidak mampu sepenuhnya menciptakan suatu pemerintahan umum yang menaungi semua daerah (meskipun tata usaha negara dan sidang majelis istana mampu menangani berbagai urusan di seluruh wilayah kedaulatan negara), Maximilian memperkuat fungsi-fungsi administratif penting di Austria dan membentuk jawatan-jawatan pusat untuk menangani urusan-urusan keuangan, politik, dan peradilan – jawatan-jawatan ini menggantikan sistem feodal dan merepresentasikan suatu sistem yang lebih modern yang dikelola oleh pejabat-pejabat yang diprofesionalkan. Sesudah dua dasawarsa membenahi tata negara, kaisar mempertahankan kedudukannya sebagai tokoh yang dituakan di antara rekan-rekan yang sederajat, sementara negara mendapatkan lembaga-lembaga umum yang menjadi sarana kaisar untuk berbagi kekuasaan dengan berbagai golongan warga negara.[166]

Pada awal abad ke-16, para penguasa Habsburg menjadi kepala-kepala negara terkuat di Eropa, tetapi kekuatan mereka bertumpu pada keseluruhan percabangan monarki yang mereka bentuk, bukan hanya pada Kekaisaran Romawi Suci (baca juga Masa pemerintahan Kaisar Karel V).[167][168] Maximilian sempat serius mempertimbangkan untuk menyatukan tanah-tanah lungguh Burgundia (warisan istinya, Maria dari Burgundia) dengan tanah-tanah lungguh Austria miliknya untuk membentuk suatu wilayah inti yang kukuh (sembari meluaskan wilayah ke timur).[169] Sesudah masuknya Spanyol ke dalam lingkup kemaharajaan wangsa Habsburg yang terjadi tanpa disangka-sangka, ia pernah berniat meninggalkan Austria (ditingkatkan statusnya menjadi kerajaan) kepada cucunya yang lebih muda, Ferdinand.[170] Cucunya yang lebih tua, Karel V, kelak menyerahkan Spanyol dan hampir semua tanah lungguh Burgundia kepada purtanya, Felipe, pendiri wangsa Habsburg cabang Spanyol, dan menyerahkan tanah-tanah pusaka Habsburg kepada adiknya, Ferdinand, pendiri wangsa Habsburg cabang Austria.[171]

Di Prancis dan Inggris, mulai dari abad ke-13, kediaman tetap raja mulai berkembang menjadi ibu kota yang tumbuh pesat dan diperlengkapi dengan prasarana-prasarana yang dibutuhkannya. Palais de la Cité di Prancis dan Istana Westminster di Inggris menjadi kediaman utama raja. Perkembangan seperti ini mustahil terjadi di Kekaisaran Romawi Suci lantaran tidak adanya pemerintahan monarki yang sungguh-sungguh herediter. Kekaisaran Romawi Suci masih melanggengkan adat monarki elektif (lih. Pemilihan Kaisar Romawi Suci) yang pada Abad Pertengahan Madya menyebabkan terpilihnya raja-raja dari latar belakang regional yang sangat berlainan (lih. Daftar pemilihan raja dan kaisar di Kekaisaran Romawi Suci). Meskipun demikikian, jika hendak mengendalikan negara kekaisaran itu dan penguasa-penguasa daerahnya yang berjiwa pemberontak, maka mereka tidak boleh duduk diam berpangku tangan di daerah asal dan istana pribadi saja. Itulah sebabnya sejak dulu sampai zaman modern, raja-raja dan kaisar-kaisar terus-menerus bersafari keliling wilayah,[172] dan menjadikan tempat-tempat tinggal sementara mereka (Kaiserpfalz) sebagai stasiun-stasiun transit bagi pasewakan keliling. Mulai dari Akhir Abad Pertengahan, sekian banyak pfalz yang tidak seberapa kuat pertahanannya itu diganti dengan puri-puri kaisar. Sesudah Raja Ferdinand I, adik Kaisar karel V, memindahkan kediaman utamanya ke Hofburg Wina pada pertengahan abad ke-16, barulah sebagian besar kaisar terkemudian dari wangsa Habsburg menetap di Wina. Meskipun demikian, Wina tidak pernah menjadi ibu kota resmi Kekaisaran Romawi Suci, dan hanya menjadi ibu kota dari salah satu daerah pusaka wangsa Habsburg (Kadipaten Utama Austria). Para kaisar masih terus melakukan kunjungan ke Frankfurt dan Aachen dalam rangka pemilihan dan upacara penobatan mereka, ke sidang-sidang Permusyawaratan Negara yang digelar di berbagai tempat, dan ke berbagai acara lain. Sidang Permusyawaratan Abadi dipusatkan di Regensburg mulai dari tahun 1663 sampai 1806. Kaisar Rudolf II malah berkedudukan di Praha, dan Kaisar Karel VII dari wangsa Wittelsbach bermastautin di Munchen. Ibu kota Jerman dalam arti yang sesungguhnya baru ada pada zaman Kekaisaran Jerman Kedua, yakni sejak tahun 1871, manakala Kaiser, Reichstag, dan Reichskanzler berkedudukan di Berlin.

Kapitalisme perdana

250px-Augsburg_Stadtansicht_von_Osten_Rogel_Hans.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Augsburg, selaras dengan maket kayu kota itu yang dibuat pada tahun 1563 oleh Hans Rogel [de] dan kini tersimpan di Maximilianmusem, Augsburg
250px-City_of_Antwerp%2C_1572.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Antwerpen, tahun 1572

Meskipun menghambat sentralisasi kekuasaan di Kekaisaran Romawi Suci, partikularisme melahirkan perkembangan-perkembangan awal kapitalisme. Di kota-kota Italia seperti Genova dan Pisa maupun kota-kota Liga Hansa seperti Hamburg dan Lübeck, muncul kaum saudagar-petarung yang merintis kemaharajaan-kemaharajaan kelautan rompak-dan-dagang. Praktik-praktik semacam ini meredup sebelum tahun 1500, tetapi telanjur menyebar sampai ke persekitaran maritim di Portugal, Spanyol, Belanda, serta Inggris, dan "menumbuhkan semangat bersaing dalam skala yang lebih besar, yang bertaraf samudra" di negara-negara itu.[173] William Thompson sependapat dengan M.N.Pearson bahwa fenomena yang khas Eropa ini terjadi lantaran di kota-kota Italia dan kota-kota Liga Hansa yang tidak memiliki sumber daya dan "kecil ukuran maupun populasinya" para penguasa (yang status sosialnya tidak jauh lebih tinggi daripada status sosial para saudagar) harus mencurahkan perhatiannya pada perdagangan. Dengan demikian para saudagar-pejuang mendapatkan kuasa negara untuk memaksa, yang mustahil mereka dapatkan di negeri Mughal maupun negeri-negeri lain di Asia, tempat kepala negara tidak begitu berkepentingan untuk membantu golongan saudagar, lantaran menguasai sumber-sumber daya yang lumayan besar dan berpenghasilan yang erat terkait dengan tanah.[174]

Pada dasawarsa 1450-an, perkembangan ekonomi di kawasan selatan Jerman menumbuhkan kemaharajaan-kemaharajaan perbankan, kartel-kartel, dan monopoli-monopoli di kota-kota seperti Ulm, Regensburg, dan Augsburg. Pada khususnya Augsburg, kota yang dikait-kaitkan dengan reputasi keluarga Fugger, keluarga Welser, dan keluarga Baumgartner ini dianggap sebagai ibu kota kapitalisme perdana.[175][176] Augsburg sangat diuntungkan oleh pembentukan dan perluasan Kaiserliche Reichspost pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.[158][157] Bahkan ketika kemaharajaan wangsa Habsburg mulai melebarkan sayapnya ke negeri-negeri lain di Eropa, kesetiaan Maximilian kepada Augsburg, tempat pelaksanaan sebagian besar kebijakannya, membuat kota kekaisaran itu menjadi "pusat utama kapitalisme perdana" pada abad abad ke-16, dan "lokasi kantor pos yang paling penting di wilayah Kekaisaran Romawi Suci". Dari zaman Maximilian, manakala "titik-titik perhentian akhir jalur-jalur pos lintas benua yang pertama" mulai bergeser dari Innsbruck ke Venesia dan dari Brussels ke Antwerpen, sistem komunikasi dan pasaran warta berita di kota-kota tersebut mulai mapan. Karena perusahaan keluarga Fuggers maupun perusahaan-perusahaan dagang lainnya menempatkan cabang-cabang utamanya di kota-kota itu, mereka juga mendapatkan akses ke sistem-sistem tersebut.[177]

Bagaimanapun juga, kebangkrutan wangsa Habsburg cabang Spanyol pada tahun 1557, 1575, dan 1607 sangat merugikan perusahaan keluarga Fugger. Selain itu, "penemuan jalur laut menuju India dan Dunia Baru menggeser fokus perkembangan ekonomi Eropa dari Laut Tengah ke Samudra Atlantik – kota-kota yang diutamakan bukan lagi Venesia dan Genova, melainkan Lisboa dan Antwerpen. Pada akhirnya perkembangan usaha tambang mineral Amerika membuat kekayaan mineral Hongaria dan Tirol menjadi tidak begitu penting lagi. Jaringan benua Eropa terus terkurung daratan sampai tiba masa pengupayaan angkutan barang lewat darat terutama dalam bentuk sistem rel dan sistem terusan, yang terbatas potensi pertumbuhannya; di lain pihak, di benua baru, ada banyak sekali pelabuhan untuk menggelontorkan limpahan barang yang diperoleh dari negeri-negeri baru itu." Puncak kejayaan ekonomi yang dicapai di Jerman pada kurun waktu antara tahun 1450 sampai 1550 tidak pernah terlihat lagi sampai akhir abad ke-19.[178]

Di daerah-daerah Kekaisaran Romawi Suci yang terletak di Negeri Tanah Rendah, pusat-pusat finansial tumbuh bersama pasar-pasar komoditas. Perkembangan topografis pada abad ke-15 mengubah Antwerpen menjadi sebuah kota pelabuhan.[179] Bermodalkan hak-hak istimewa yang diterimanya selaku kota yang setia kepada kaisar seusai pemberontakan orang Flandria melawan Maximilian, Antwerpen menjadi kota pelabuhan laut utama di Eropa Utara dan tampil sebagai "penyalur 40% perdagangan dunia".[180][181][182] Meskipun demikian, konflik dengan pemerintah Habsburg cabang Spanyol pada tahun 1576 dan 1585 membuat para saudagar berbondong-bondong pindah ke Amsterdam, yang akhirnya menggeser kedudukan Antwerpen sebagai kota pelabuhan utama.[183][179]

Reformasi dan Renesans

Informasi lebih lanjut: Reformasi Protestan dan Renesans Jerman
250px-Lutherstadt_Eisleben%2C_Luther%27s_Sterbehaus%2C_Bildnis_Kaiser_Karl_V.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kaiser Karel V, Kaisar Romawi Suci
330px-Deutschland_im_XVI._Jahrhundert_%28Putzger%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah Kekaisaran Romawi Suci pada abad ke-16

Pada tahun 1516, Raja Aragon, Fernando II, kakek Kaisar Karel V, mangkat.[184] Karel mengawali karier pemerintahannya dengan menjadi kepala negara Kastila dan Aragon, negara hasil penggabungan dua kerajaan yang kemudian hari menjadi Kerajaan Spanyol, bersama-sama dengan ibunya, Ratu Yohana.

Pada tahun 1519, sesudah menjadi Raja Carlos I di Spanyol, Karel resmi menyandang gelar Kaisar Karl V. Kemudian hari, pemerintahan Kekaisaran Romawi Suci justru beralih kepada cabang muda wangsa Habsburg tatkala adik Karel, Ferdinand, dinobatkan menjadi Kaisar Romawi Suci, sedangkan cabang sepuh wangsa Habsburg terus memangku kedaulatan atas Spanyol dan daerah pusaka Burgundia ketika anak Karel, Felipe, naik takhta menjadi Raja Spanyol. Ada banyak faktor penyebab di balik peralihan tersebut. Bagi James D. Tracy, sifat polisentris peradaban Eropalah yang memuskilkan usaha untuk mempertahankan "suatu wangsa dengan wilayah kedaulatan yang mengangkangi Benua Eropa dari Negeri Tanah Rendah sampai ke Sisilia dan dari Spanyol sampai ke Hongaria –belum lagi jajahan-jajahan Spanyol di seberang lautan".[185] Sarjana-sarjana lain menuding ketegangan-ketegangan antaragama, masalah-masalah keuangan, dan hambatan dari luar, antara lain dari Prancis dan Turki Usmani.[186] Pada tataran perorangan, Karel tidak berhasil membujuk pangeran-pangeran Jerman untuk mendukung putranya, Felipe, yang "sifat kikuk dan penyendiri, serta ketidakmampuannya berbahasa jerman membuat upaya tersebut sedari awal sudah dapat dipatikan bakal gagal".[187]

Sebelum Karel mulai memerintah selaku Kaisar Romawi Suci, pada tahun 1517, Martin Luther mencetuskan gerakan yang kelak dikenal sebagai Reformasi Protestan. Pada masa itu, Kekaisaran Romawi Suci terpecah-belah akibat perbedaan agama. Daerah-daerah di utara dan timur, serta banyak kota besar – Strasbourg, Frankfurt, dan Nurnberg – menjadi Protestan, sedangkan sebagian besar daerah di selatan dan barat tetap Katolik.

Pada awal masa pemerintahan Karek, dibentuk lagi Reichsregiment baru (pada tahun 1522), kendati Karel memaklumkan hanya ia hanya akan menoleransi tindakan-tindakan lembaga tersebut selama ia berada di luar negeri, dan ketuanya haruslah seseorang yang mewakili dirinya. Karel V berada di luar Jerman dari tahun 1521 hingga 1530. Sama dengan yang pernah dibentuk pada awal dasawarsa 1500-an, Reichsregiment baru ini gagal menciptakan suatu pemerintahan federal yang tidak bergantung kepada kaisar, akibat dari partisipasi yang tidak menentu dan ketidaksepahaman antarpangeran kepala daerah. Kaisar Karel V mengalahkan pangeraɲ-pangeran kepala daerah protestan pada tahun 1547 dalam Perang Schmalkalden, tetapi kehilangan momentum kemenangannya, dan daerah-daerah Protestan secara politis mampu bertahan sekalipun secara militer sudah kalah.[188] Di dalam Perjanjian Damai Augsburg tahun 1555, Kaisar Karel V, melalui adiknya Ferdinand, secara resmi mengakui hak-hak kepala pemerintahan untuk memilih memeluk agama Katolik atau agama Lutheran (pengikut Zwingli, pengikut Kalvin, dan kaum radikal tidak diikutsertakan).[189] Pada tahun 1555, Paulus IV terpilih menjadi paus dan memihak negara Prancis, sehingga Kaisar Karel yang sudah kelelahan akhirnya melepaskan cita-citanya untuk mewujudkan suatu kemaharajaan Kristen sejagat.[190][191]

Periode Barok

250px-Giuseppe_Arcimboldi_003.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kaisar Maximilian II sekeluarga
330px-HolyRomanEmpire_1618.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Agama di Kekaisaran Romawi Suci menjelang meletusnya Perang Tiga Puluh Tahun
330px-HRR_1648.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kekaisaran Romawi Suci sesudah penandatanganan Perjanjian Damai Westfalen tahun 1648

Negeri Jerman relatif aman dan damai selama enam dasawarsa berikutnya. Di perbatasan timur, bangsa Turki terus-menerus menjadi ancaman bahaya. Jika ingin memerangi Turki, kaisar harus berkompromi lebih jauh lagi dengan para kepala daerah Protestan, dan oleh sebab itu kaisar berusaha supaya tidak terjadi perang. Di barat, daerah Rheinland kian tunduk di bawah pengaruh Prancis. Ketika Belanda bangkit memberontak melawan Spanyol, Kekaisaran Romawi Suci tetap netral, secara de facto membiarkan negeri Belanda melepaskan diri pada tahun 1581. Salah satu efek sampingnya adalah Perang Köln, yang nyaris meluluhlantakkan seantero daerah hulu sungai Rhein. Kaisar Ferdinand III memutuskan untuk mengakui netralitas Belanda secara resmi pada tahun 1653. Keputusan tersebut diratifikasi Reichstag pada tahun 1728.

Sesudah kemangkatan Kaisar Ferdinand pada tahun 1564, anaknya, Maximilian II, naik takhta menjadi kaisar. Sama seperti mendiang ayahnya, Kaisar Maximilian II menerima kehadiran Protestantisme maupun kebutuhan untuk sesekali berkompromi dengannya. Pada tahun 1576, Rudolf II naik takhta menggantikan Maximilian. Rudolf lebih suka filsafat Yunani klasik ketimbang agama Kristen, dan menjalani hidupnya dengan mengurung diri di Bohemia. Ia takut mengambil tindakan ketika Gereja Katolik secara paksa menegakkan kembali kendalinya di Austria dan Hongaria, sehingga membuat gusar para pangeran Protestan.

Kekuasaan kaisar terpuruk ketika Rudolf mangkat pada tahun 1612. Akibat langsung yang timbul ketika orang Bohemia memberontak melawan kaisar adalah rentetan konflik yang dikenal dengan sebutan Perang Tiga Puluh Tahun, perang dari tahun 1618 hingga 1648 yang mengharubirukan negara kekaisaran itu. Kekuatan-kekuatan asing, termasuk Prancis dan Swedia, ikut campur tangan dalam konflik itu, bukan sekadar memperkuat pihak-pihak yang memerangi kekaisaran, melainkan juga mencaplok daerah-daerah yang cukup luas. Akibatnya, Kekaisaran Romawi Suci tidak pernah dapat kembali kepada kejayaannya yang semula, sampai-sampai Voltaire tergerak untuk mengutarakan sindirannya yang terkenal, bahwasanya Kekaisaran Romawi Suci itu "suci tidak, Romawi tidak, kekaisaran pun tidak."[192]

Meskipun demikian, riwayat Kekaisaran Romawi Suci baru benar-benar tamat dua abad kemudian. Perjanjian Damai Westfalen tahun 1648, yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun, menoleransi kehadiran Kalvinisme, tetapi kaum Anabaptis, Arminian, dan komunitas-komunitas Protestan lainnya tetap miskin dukungan dan terus-menerus dianiaya sampai Kekaisaran Romawi Suci dibubarkan. Kaisar-kaisar wangsa Habsburg menumpukan perhatian mereka pada usaha mempertahankan keutuhan tanah-tanah pusaka mereka sendiri di Austria dan tempat-tempat lain.

Dalam pertempuran Wina tahun 1683, Angkatan Perang Kekaisaran Romawi Suci, dipanglimai Raja Polandia Jan III Sobieski, menimpakan kekalahan telak atas angkatan perang Turki, sehingga menghentikan ekspansi Usmani ke barat yang pada akhirnya mengakibatkan lepasnya jajahan-jajahan Kemaharajaan Usmani di Eropa. Sepertiga kekuatan angkatan perang itu adalah prajurit-prajurit Persemakmuran Polandia–Lituania, dan dua pertiganya adalah prajurit-prajurit Kekaisaran Romawi Suci.

Zaman modern

330px-L%27Empire_d%27Allemagne_%28Holy_Roman_Empire_of_Germany%29_Nicolas_de_Fer_1710_Colored_Map.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
L'Empire d'Allemagne (Kekaisaran Jerman), sekitar tahun 1710, peta karya Nicolas de Fer yang menampilkan gambar Kaisar Joseph I dan garis-garis batas daerah

Prusia dan Austria

250px-Deutscher-Dualismus.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Persaingan Austria-Prusia diibaratkan sebagai pertarungan gajah Austria melawan singa Prusia

Dengan kian berkuasanya Raja Louis XIV, wangsa Habsburg menjadikan tanah-tanah pusaka mereka sebagai andalan utama dalam menghadapi kebangkitan Prusia, yang menguasai beberapa daerah di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci. Sepanjang abad ke-18, wangsa Habsburgs terlibat dalam berbagai konflik di Eropa, seperti Perang Suksesi Spanyol tahun 1701–1714, Perang Suksesi Polandia tahun 1733–1735, dan Perang Suksesi Austria tahun 1740–1748. Persaingan antara Austria dan Prusia mendominasi sejarah Kekaisaran Romawi Suci selepas tahun 1740.

Perang Revolusi Prancis dan pembubaran negara

330px-Map_of_Holy_Roman_Empire_1789.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kekaisaran Romawi Suci sebelum Perang Napoleon, peta tahun 1789

Sejak tahun 1792, negara Prancis pascarevolusi berkali-kali berperang melawan beberapa daerah di Kekaisaran Romawi Suci.

Mediatisasi Jerman adalah serangkaian mediatisasi dan sekularisasi yang berlangsung antara tahun 1795 sampai 1814, yakni menjelang berakhirnya masa-masa kejayaan Revolusi Prancis maupun Napoleon Bonaparte."Mediatisasi" adalah proses aneksasi tanah-tanah dari satu daerah kekaisaran ke daerah kekaisaran lain, sering kali dengan membiarkan pihak yang dianeksasi tetap memiliki beberapa hak atas tanah-tanah tersebut. Sebagai contoh, tanah-tanah para kesatria kekaisaran secara resmi dimediatisasi pada tahun 1806, sesudah secara de facto dicaplok oleh daerah-daerah kekaisaran yang besar pada tahun 1803 dalam peristiwa Rittersturm. "Sekularisasi" adalah penghapusan kekuasaan temporal seorang pemuka agama, misalnya seorang uskup atau abas, dan aneksasi wilayah kedaulatan yang disekularisasi ke dalam sebuah wilayah kedaulatan sekuler.

250px-Napoleon.Austerlitz.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertempuran Austerlitz tahun 1805

Kekaisaran Romawi Suci bubar pada 6 Agustus 1806, ketika Kaisar Romawi Suci yang terakhir, Franz II (menjadi Kaisar Austria, Franz I, sejak tahun 1804) turun takhta, sesudah dikalahkan Napoleon dalam Pertempuran Austerlitz tahun 1805 (lih. Perjanjian Pressburg). Napoleon mengubah kekaisaran itu menjadi Konfederasi Rhein, salah satu negara satelit Prancis. Pascapembubaran Kekaisaran Romawi Suci, keluarga besar Franz, yakni wangsa Habsburg-Lotharingen, terus berkuasa sebagai Kaisar Austria merangkap Raja Hongaria sampai kemaharajaan wangsa Habsburg dibubarkan pada tahun 1918 pasca-Perang Dunia I.

Pada tahun 1815, Konfederasi Rhein bentukan Napoleon diganti dengan perserikatan baru yang dibentuk seusai Perang Napoleon, yaitu Konfederasi Jerman. Perserikatan ini bertahan sampai Prusia membentuk Konfederasi Jerman Utara pada tahun 1866. Konfederasi Jerman Utara adalah cikal bakal dari Kekaisaran Jerman yang menyatukan daerah-daerah penutur bahasa Jerman di luar Austria dan Swiss di bawah kepemimpinan Prusia pada tahun 1871. Kekaisaran Jerman kemudian hari berkembang menjadi negara Jerman modern.

Keputusan untuk turun takhta mengindikasikan bahwa Kaiser tidak lagi merasa mampu menjalankan kewajibannya selaku kepala Reich, dan oleh sebab itu ia mengeluarkan pernyataan berikut ini:

"Bahwasanya beta anggap ikatan yang menyatukan beta dengan badan politik Reich Jerman sudah putus, bahwasanya beta anggap jabatan maupun marwah kepala Reich sudah ditiadakan oleh penyatuan negeri-negeri Rhein terkonfederasi, dan bahwasanya lantaran itulah beta anggap diri beta sudah bebas dari segala kewajiban terhadap Reich Jerman yang selama ini beta emban, dan bahwasanya dengan ini beta tanggalkan mahkota negara serta beta lepaskan pemerintahan negara yang beta pegang sampai dengan saat ini."[193]

Daerah-daerah Kekaisaran Romawi Suci yang masih mempertahankan statusnya sebagai negara monarki sampai sekarang hanya tinggal Kadipaten Agung Luksemburg dan Kepangeranan Liechtenstein. Kota-kota merdeka milik negara yang masih eksis saat ini sebagai negara bagian di Jerman adalah Hamburg dan Bremen. Daerah-daerah selebihnya sudah dibubarkan atau sudah mengadopsi sistem pemerintahan republik.

Demografi

Populasi

Angka-angka keseluruhan populasi Kekaisaran Romawi Suci sangat tidak menentu dan sangat beragam. Kemaharajaan yang dibangun Karel Agung mungkin saja memiliki populasi paling banyak 20 juta jiwa.[194] Akibat dari perpecahan yang timbul menjelang tamatnya riwayat negara kekaisaran itu, tidak ada lembaga pusat yang dapat mengumpulkan data tentang jumlah populasi. Meskipun demikian, diduga kuat Perang Tiga Puluh Tahun mengakibatkan jumlah populasi Kekaisaran Romawi Suci pada awal abad ke-17 kurang lebih sama dengan jumlah populasinya pada permulaan abad ke-18. Menurut salah satu estimasi, Kekaisaran Romawi Suci tidak pernah melampaui level populasi tahun 1618 sampai dengan tahun 1750.[195]

Jumlah kawula negara di daerah-daerah elektorat pada permulaan abad ke-17 adalah sebagai berikut:[196]

  • Daerah Monarki Habsburg: 5.350.000 jiwa (sudah termasuk 3 juta jiwa di tanah-tanah narawita Bohemia)[197]
  • Daerah Elektorat Saksen: 1.200.000 jiwa
  • Daerah Kadipaten Bayern (kemudian hari menjadi daerah Elektorat Bayern): 800.000 jiwa
  • Daerah Elektorat Pzalf: 600.000 jiwa
  • Daerah Elektorat Brandenburg: 350.000 jiwa
  • Daerah Elektorat Mainz, Trier, dan Koln: 300.000–400.000 jiwa[198]

Sekalipun tidak tergolong daerah elektorat, Spanyol Habsburg merupakan daerah dengan jumlah kawula terbanyak di Kekaisaran Romawi Suci sesudah daera Austria Habsburg, yang kawulanya berjumlah lebih dari 3 juta jiwa pada awal abad ke-17, yang berdiam di Lingkar Burgundia dan Kadipaten Milan.[j][k]

Menurut perkiraan Peter Wilson, populasi Kekaisaran Romawi Suci mencapai angka 20 juta jiwa pada tahun 1700, dan jika ditambah lagi dengan 5 juta populasi daerah-daerah Italia, maka total populasi berjumlah kira-kira 25 juta jiwa. Ia memperkirakan bahwa populasi Kekaisaran Romawi Suci (belum termasuk populasi daerah-daerah Italia) pada tahun 1800 mencapai 29 juta jiwa, dan masih ada lagi 12,6 juta populasi jajahan-jajahan Austria dan Prusia yang bukan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci.[18]

Menurut salah satu estimasi sezaman dari Badan Arsip Perang Austria untuk dasawarsa pertama abad ke-18, jumlah populasi Kekaisaran Romawi Suci –termasuk Bohemia dan Negeri Belanda jajahan Spanyol –mendekati 28 juta jiwa, dengan perincian sebagai berikut:[199]

  • 65 daerah gerejawi yang menguasai 14 persen dari wilayah dan 12 persen dari populasi negara;
  • 45 daerah kepangeranan turun-temurun yang menguasai 80 persen dari wilayah dan 80 persen dari populasi negara;
  • 60 daerah kabupaten dan pertuanan turun-temurun yang membawahi 3 persen dari wilayah dan 3,5 persen dari populasi negara;
  • 60 kota milik negara yang membawahi 1 persen dari wilayah dan 3,5 persen dari populasi negara;
  • Ratusan daerah kekuasaan kesatria negara yang membawahi 2 persen dari wilayah dan 1 persen dari populasi negara.

Para sejarawan demografi Jerman secara tradisional sudah membuat estimasi populasi Kekaisaran Romawi Suci berdasarkan asumsi populasi di daerah-daerah perbatasan Jerman pada tahun 1871 atau 1914. Estimasi-estimasi yang lebih mutakhir menggunakan kriteria yang tidak terlalu kedaluawarsa, tetapi tetap saja merupakan perkiraan. Salah satu estimasi didasarkan atas populasi daerah-daerah perbatasan Jerman pada tahun 1870 menunjukkan populasi dalam kisaran 15–17 juta jiwa sekitar tahun 1600, merosot menjadi 10–13 juta jiwa sekitar tahun 1650 (sesudah Perang Tiga Puluh Tahun). Sejarawan-sejarawan lain yang membuat estimasi populasi Kekaisaran Romawi Suci pada permulaan zaman modern menduga bahwa negara tersebut mengalami penurunan populasi dari 20 juta jiwa menjadi sekitar 16–17 juta jiwa pada tahun 1650.[200]

Menurut salah satu estimasi tepercaya untuk tahun 1800, populasi Kekaisaran Romawi Suci (ketika itu sudah kehilangan sisa-sisa daerah kekuasaan di Negeri Rendah, Italia, dan Tepi Kiri Sungai Rhein dengan Perjanjian Campo Fornio tahun 1797) berjumlah 27–28 juta jiwa, dengan perincian sebagai berikut:[201]

  • 9 juta kawula Austria (termasuk populasi Silesia, Bohemia, dan Moravia);
  • 4 juta kawula Prusia;
  • 14–15 juta warga negara Kekaisaran Romawi Suci selain kawula Austria dan kawula Prusia.

Ada pula berbagai estimasi untuk daerah-daerah di Italia yang secara resmi merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci:

Populasi daerah-daerah Romawi Suci di Italia awal abad ke-17[202]
Daerah Populasi
Kadipaten Milan (Spanyol) 1.350.000 jiwa
Piemonte-Savoye 1.200.000 jiwa[l]
Republik Genova 650.000 jiwa
Kadipaten Agung Toskana 649.000 jiwa
Kadipaten Parma-Piacenza 250.000 jiwa
Kadipaten Modena-Reggio 250.000 jiwa
Kabupaten Gorizia dan Gradisca (Austria) 130.000 jiwa[197]
Republik Lucca 110.000 jiwa
Total sekitar 4.600.000 jiwa
Populasi daerah-daerah Romawi Suci di Italia akhir abad ke-18[203]
Daerah Populasi
Piemonte-Savoye 2.400.000 jiwa[m]
Kadipaten Milan (Austria) 1.100.000 jiwa[n]
Kadipaten Agung Toskana 1.000.000 jiwa
Republik Genova 500.000 jiwa
Kadipaten Parma-Piacenza 500.000 jiwa
Kadipaten Modena-Reggio 350.000 jiwa
Republik Lucca 100.000 jiwa
Total sekitar 6.000.000 jiwa

Kota-kota terbesar

Kota-kota raya dan madya di Kekaisaran Romawi Suci menurut tahun:

Agama

250px-Druck_Augsburger_Reichsfrieden.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Halaman depan Perjanjian Damai Augsburg, yang menjadi dasar hukum kerukunan antarumat beragama (Katolik dan Lutheran) di daerah-daerah penutur bahasa Jerman di Kekaisaran Romawi Suci

Agama Katolik adalah satu-satunya agama resmi di Kekaisaran Romawi Suci sampai tahun 1555; semua Kaisar Romawi Suci beragama Katolik.

Keberadaan aliran Lutheran secara resmi diakui di dalam Perjanjian Damai Augsburg tahun 1555, dan keberadaan aliran Kalvinis secara resmi di dalam Perjanjian Damai Westfalen tahun 1648. Hanya Lutheran dan Kalvinis yang diakui keberadaannya secara resmi, sedangkan aliran-aliran Protestan selebihnya seperti Anabaptis, Arminian, dan lain-lain hidup berdampingan secara ilegal di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci. Aliran Anabaptis hadir dalam beragam denominasi, antara lain Mennonit, Serikat Persaudaraan Schwarzenau, Hutterit, Amish, dan masih banyak lagi kelompok lain.

Menyusul penandatanganan Perjanjian Damai Augsburg, agama resmi sebuah daerah ditentukan oleh asas cuius regio, eius religio, sehingga agama pemimpin menentukan agama rakyatnya. Perjanjian Damai Westfalen membatalkan asas tersebut dengan menetapkan bahwa agama resmi sebuah daerah adalah agama yang dipeluk di daerah itu pada tanggal 1 Januari 1624, yakni hari pertama pada tahun yang dianggap sebagai "tahun normal". Sejak saat itu, perpindahan agama seorang pemimpin tidak wajib diikuti oleh rakyatnya.[211]

Selain itu, negara juga menjamin hak-hak yang dinikmati pada tanggal tersebut oleh rakyat Protestan di bawah pemimpin Katolik maupun oleh rakyat Katolik di bawah pemimpin Protestan. Jika para penganut agama resmi di sebuah daerah menikmati hak untuk beribadat secara terbuka, maka rakyat selebihnya diberi hak untuk beribadat secara tertutup (di dalam kapel-kapel yang tidak bermenara atau tanpa lonceng gereja). Pada teorinya, tidak seorangpun didiskriminasi atau dikecualikan dari dunia usaha, perdagangan, kriya, maupun dikebumikan dengan upacara keagamaan secara terbuka. Untuk pertama kalinya, sifat permanen melekat pada perpecahan antarumat Kristen di Kekaisaran Romawi Suci.[211]

Di dalam masyarakat Kekaisaran Romawi Suci, terdapat golongan minoritas Yahudi. Kaisar-kaisar Romawi Suci mendaku berhak mengayomi dan memajaki semua warga Yahudi Kekaisaran Romawi Suci, tetapi ada pula pembantaian-pembantaian orang Yahudi berskala besar, khususnya pada masa Perang Salib Pertama dan pada masa perang agama abad ke-16.

Pranata

Kekaisaran Romawi Suci bukanlah sebuah negara terpusat maupun negara bangsa, malah terbagi-bagi menjadi lusinan – dan akhirnya ratusan – entitas tersendiri yang diperintah oleh raja-raja,[o] adipati-adipati, bupati-bupati, uskup-uskup, abas-abas, dan penguasa-penguasa lainnya, yang dikenal secara kolektif sebagai para pangeran kepala daerah. Ada pula beberapa daerah yang diperintah secara langsung oleh kaisar.

Mulai Abad Pertengahan Madya, mulai timbul keretakan di antara Kekaisaran Romawi Suci dengan pangeran-pangeran penguasa daerah yang berusaha keras untuk merampas kekuasaan dari negara. Tidak seperti di kerajaan-kerajaan Abad Pertengahan lainnya semisal Prancis dan Inggris, kaisar-kaisar tidak cukup berdaya untuk mengendalikan sepenuhnya tanah-tanah yang secara resmi merupakan kepunyaan mereka. Malah sebaliknya, demi mengamankan kedudukan mereka sendiri dari ancaman pelengseran, para kaisar terpaksa terus-menerus menganugerahkan otonomi kepada para kepala daerah, baik yang berasal dari kalangan bangsawan maupun para uskup. Proses ini berawal dari Kontoversi Investiture pada abad ke-11 dan berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Damai Westfalen pada tahun 1648. Beberapa kaisar berusaha mengurungkan pengurangan kekuasaan berkelanjutan itu, tetapi dijegal oleh Sri Paus dan pangeran-pangeran Kekaisaran Romawi Suci.

Daerah kekaisaran

Artikel utama: Daerah kekaisaran

Jumlah daerah yang terwakili dalam Permusyawaratan Negara lumayan banyak, kira-kira 300 daerah pada waktu penandatanganan Perjanjian Damai Westfalen. Sebagian besar di antaranya adalah Kleinstaaten (daerah-daerah kecil) dengan luas wilayah tidak lebih dari beberapa mil persegi, atau terdiri atas beberapa penggal tanah yang tidak tersambung satu sama lain, sehingga Kekaisaran Romawi Suci sering kali dijuluki Flickenteppich (permadani perca). Sebuah entitas dianggap sebagai sebuah Reichsstand (daerah negara) jika, berdasarkan hukum feodal, tidak memiliki kewenangan di atasnya selain Kaisar Romawi Suci sendiri. Daerah-daerah negara terdiri atas:

  • Daerah-daerah yang diperintah oleh bangsawan turun-temurun, misalnya seorang pangeran, adipati agung, adipati, atau bupati.
  • Daerah-daerah dengan kepala pemerintahan dari kalangan rohaniwan tinggi, misalnya seorang uskup agung, uskup, atau abas. Pemuka agama atau rohaniwan semacam itu disebut pangeran Gereja. Jika sebuah daerah dikepalai oleh seorang pangeran uskup, maka wilayah pemerintahannya (disebut kepangeranan keuskupan) kerap bertumpang tindih dengan wilayah keuskupannya yang sering kali lebih luas, sehingga menjadikan uskup tersebut sebagai pemangku kewenangan sipil maupun kewenangan gerejawi. Contoh dari daerah semacam ini adalah Kepangeranan Keuskupan Agung Koln, Kepangeranan Keuskupan Agung Trier, dan Kepangeranan Keuskupan Agung Mainz.
  • Kota-kota negara dan desa-desa negara, yang hanya tunduk kepada yurisdiksi kaisar.
  • Tanah-tanah lungguh kesatria negara dan bupati negara, bawahan langsung kaisar, tetapi tidak terwakili dalam Permusyawaratan Negara.

Jumlah keseluruhan daerah negara tercatat mencapai 1.500 daerah.[212] Untuk daftar Reichsstände pada tahun 1792, lih. Daftar peserta Permusyawaratan Negara tahun 1792.

Penguasa daerah yang paling kuat adalah wangsa Habsburg Austria, yang memerintah daerah seluas 240.000 km2 (93.000 mil persegi) di Kekaisaran Romawi Suci pada seperdua awal abad ke-17. Sebagian besar wilayah Habsburg kini menjadi bagian dari wilayah negara Austria dan Ceko. Pada saat yang sama, luas wilayah yang dikuasai Elektor Saksen, Elektor Bayern, dan Elektor Brandenburg (sebelum dicaplok Prusia) semuanya mendekati 40.000 km2 (15.000 mil persegi); Adipati Brunswick-Lüneburg (kemudian hari Elektor Hanover) menguasai wilayah dengan luas yang kurang lebih sama. Daerah-daerah tersebut adalah daerah-daerah terbesar di negeri Jerman. Luas wilayah Elektor Istana menguasai wilayah seluas 20.000 km2 (7.700 mil persegi), dan luas wilayah elektorat gerejawi Mainz, Koln, serta Trier jauh lebih kecil lagi, yakni sekitar 7.000 km2 (2.700 mil persegi). Daerah-daerah yang hanya sedikit lebih luas daripada itu, yakni kurang-lebih 7.000–10.000 km2 (2.700–3.900 sq mi), adalah Kadipaten Württemberg, Kabupaten Negeri Hessen-Kassel, Kadipaten Mecklenburg-Schwerin. Kira-kira sama luasnya dengan wilayah Kepangeranan Keuskupan Salzburg dan Kepangeranan Keuskupan Münster. Luas wilayah mayoritas daerah Jerman lainnya, termasuk kepangeranan keuskupan lainnya, tidak melebihi 5.000 km2 (1.900 sq mi). Daerah-daerah dengan luas wilayah terkecil adalah, daerah-daerah para Kesatria Negara. Sekitar tahun 1790, kaum Kesatria Negara terdiri atas 350 keluarga dengan wilayah kekuasaan kolektif seluas5.000 km2 (1.900 sq mi).[213] Wilayah Kekaisaran Romawi Suci di jazirah Italia tidak terlalu terfragmentasi secara politik. Sekitar tahun 1600, sebagian besar wilayah tersebut dikuasai Savoye (Savoye, Piemonte, Nice, Aosta), Kadipaten Agung Toskana (Toskana, bar Lucca), Republik Genova (Liguria, Korsika), Kadipaten Modena-Reggio dan Kadipaten Parma-Piacenza (Emilia), dan Kadipaten Milan jajahan Spanyol (sebagian besar wilayah Lombardia), masing-masing memiliki jumlah populasi antara setengah juta sampai satu setengah juta jiwa.[202] Negeri Tanah Rendah juga lebih koheren daripada Jerman, sebab seluruhnya berada di bawah pemerintahan Negeri Belanda jajahan Spanyol sebagai bagian dari Lingkar Burgundia, setidaknya secara nominal.

Pada tahun 1792, 21 keluarga ningrat (8 keluarga elektor dan 13 keluarga pangeran) menguasai 81 persen wilayah negara, juga seluruh suara elektor dan 56 suara dari 100 suara pangeran. Dua puluh satu keluarga ningrat ini menguasai 25 daerah (beberapa keluarga ningrat memiliki cabang sampingan, misalnya keluarga Wittelsbach cabang Elektorat Bayern dan cabang Elektorat Pfalz), yang paling besar adalah Austria dan Prusia. Di samping itu, 16,4 persen wilayah negara terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan 151 kepala daerah dari kalangan agamawan dan kepala daerah sekuler, rata-rata tidak berstatus pangeran daerah, dan mayoritas dari 16,4 persen itu dikuasa oleh sepersepuluh dari para kepala daerah tersebut. 2,6 persen wilayah selebihnya terbagi-bagi menjadi daerah-daerah kecil yang dikuasai 51 kota negara yang tidak saling terkoneksi dan 400 keluarga kesatria negara.[214]

Porsi wilayah kekuasaan di Kekaisaran Romawi pasca-Perang Tiga Puluh Tahun[215][p]
Penguasa 1648 1714 1748 1792
Wangsa Habsburg Austria 225.390 km2 (32,8%) 251.185 km2 (36,5%) 213.785 km2 (31,1%) 215.875 km2 (31,4%)
Wangsa Hohenzollern Brandenburg 70.469 km2 (10,2%) 77.702 km2 (11,3%) 124.122 km2 (18,1%) 131.822 km2 (19,2%)
Pangeran elektor sekuler lainnya[q] 89.333 km2 (13,1%) 122.823 km2 (17,9%) 123.153 km2 (17,9%) 121.988 km2 (17,7%)
Penguasa Jerman lainnya 302.146 km2 (44,0%) 235.628 km2 (34,3%) 226.278 km2 (32,9%) 217.653 km2 (31,7%)
Total 687.338 687.338 687.338 687.338

Raja Bangsa Romawi

Artikel utama: Raja Bangsa Romawi
250px-Weltliche_Schatzkammer_Wien_%28189%292.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mahkota Negara (dari seperdua akhir abad ke-10), sekarang tersimpan di Perbedaharaan Kaisar, Wina

Seorang calon kaisar pertama-tama harus terpilih menjadi Raja Bangsa Romawi. Raja Jerman dipilih sejak abad ke-9. Pada masa itu raja dipilih oleh kepala-kepala lima suku utama (suku Peranggi Sali di Lotharingen, suku Peranggi Ripuari di Franken, suku Saksen, suku Bayern, dan suku Swaben). Pada zaman Kekaisaran Romawi Suci, Raja Bangsa Romawi dipilih oleh adipati-adipati dan uskup-uskup utama.

Singgasana kaisar diwariskan melalui pemilihan, tetapi sering kali kaisar-kaisar berusaha supaya putra-putra kandung mereka terpilih selagi mereka masih hidup, sehingga memungkinkan mereka untuk menjaga mahkota tetap berada di tangan keluarga. Kebiasaan ini berubah sesudah zaman kulawangsa Sali berakhir pada abad ke-12.

Pada tahun 1356, Kaisar Karel IV mengeluarkan Bula Kencana, yang membatasi jumlah pemilih menjadi tujuh, yaitu Raja Bohemia, Bupati Istana di Rhein, Adipati Saksen, Tumenggung Brandenburg, Uskup Agung Koln, Uskup Agung Mainz, dan Uskup Agung Trier. Pada Perang Tiga Puluh Tahun, Adipati Bayern dianugerahi hak suara sebagai elektor yang kedelapan, dan Adipati Brunswick-Lüneburg (alias Adipati Hanover) dijadikan elektor yang kesembilan; selain itu, perang-perang Napoleon mengakibatkan beberapa elektorat direalokasi, tetapi elektor=elektor baru ini tidak pernah mengikuti pemilihan prapembubaran Kekaisaran Romawi Suci. Seorang calon kaisar diharapkan untuk menawarkan konsesi-konsensi tanah atau uang kepada para elektor demi meyakinkan mereka untuk memilihnya.

Sesudah terpilih, pada teorinya Raja Bangsa Romawi hanya dapat mengklaim gelar "Kaisar" sesudah dimahkotai oleh paus.

Hubungan luar negeri

Wangsa Habsburg memiliki diplomat-diplomat sendiri, yang bertindak mewakili wangsa Habsburg dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingannya. Daerah-daerah pangeran elektor yang lumayan luas juga menerapkan kebijakan yang sama sejak sekitar tahun 1648. Kekaisaran Romawi Suci tidak memiliki kementerian luar negeri sendiri, dan oleh sebab itu majelis Permusyawaratan Negara tidak berhak mengatur diplomat-diplomat daerah tersebut; kadang-kadang sepak terjang diplomat-diplomat ini dikecam di dalam sidang-sidang Musyawarah Negara.[216]

Ketika Regensburg menjadi tempat Penyelenggaraan sidang Permusyawaratan negara, Prancis, dan pada akhir dasawarsa 1700-an, Rusia, mengirim wakil-wakil diplomatiknya ke kota itu untuk menghadiri sidang.[216] Kepala negara Denmark, Britania Raya, dan Swedia memiliki tanah-tanah pusaka di Jerman, dan oleh sebab ini juga mengirim wakil-wakil mereka.[217] Negeri Belanda juga menempatkan utusan-utusannya di Regensburg. Regensburg merupakan tempat para utusan bertemu, sebab di kota itulah wakil-wakil daerah dalam sidang Permusyawaratan Negara dapat dijumpai.[218] -->

Wangsa dan kulawangsa

250px-Dominions_of_Friedrick_II_%28Kingdom_of_Sicily%2C_Holy_Roman_Empire%2C_Kingdom_of_Jerusalem%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah kedaulatan Kaisar Friedrich II sekitar tahun 1200, mencakup wilayah Kerajaan Sisilia, Kekaisaran Romawi Suci, Kerajaan Yerusalem, Lungguh Aswasada Jerman

Beberapa daerah pangeran elektor memiliki wilayah kedaulatan raja atau kaisar yang kadang-kadang berada di luar yurisdiksi kekaisaran Romawi Suci. Kaisar Heinrich VI, yang mewarisi aspirasi-aspirasi Jerman yang menghendaki keberdaulatan kaisar maupun impian raja-raja Sisilia keturunan Norman untuk menggenggam hegemoni di Laut Tengah, memiliki rencana yang ambisius untuk mewujudkan sebuah negara kekaisaran sedunia. Boettcher mencatat bahwa kebijakan perkawinan juga turut berperan penting dalam rencana ini. "Kebijakan perkawinan wangsa Hohenstaufen merentang dari Iberia sampai ke Rusia, dari Skandinavia sampai ke Sisilia, dari Inggris sampai ke Bizantium dan negara-negara tentara salib di Timur. Heinrich juga sudah mulai melirik kawasan lain di luar Afrika dan Yunani, yaitu Asia Kecil dan Suriah, dan tentu saja Yerusalem." Dengan menganeksasi Sisilia, dia mengubah perimbangan strategis di jazirah Italia. Sang kaisar, yang ingin menjadikan semua tanahnya menjadi harta pusaka, juga menyatakan bahwa tanah-tanah lungguh kepausan adalah tanah-tanah lungguh negara. Saat mangkat pada umur 31 tahun, dia tidak dapat mewariskan kedudukannya yang hebat itu kepada putranya, Friedrich II, yang hanya terpilih menjadi Raja Orang Romawi.[219][220][221] Kesatuan Silisia dan Kekaisaran Romawi Suci tetap merupakan kesatuan sebab keduanya dipimpin oleh satu orang kepala negara yang sama.[222] Friedrich II menjadi Raja Sisilia pada tahun 1225 karena memperistri Isabela II (atau Yolanda), Ratu Yerusalem, dan berhasil mendapatkan kembali Betlehem dan Nazaret lewat perundingan dengan Sultan Alkamil. Meskipun demikian, impian kuklawangsa Hohenstaufen untuk membangun sebuah kekaisaran sedunia akhirnya kandas ketika Kaisar Friedrich II mangkat pada tahun 1250.[223][224]

Pada masa-masa awal perjalanan sejarahnya, Kekaisaran Romawi Suci menjadi pintu utama bagi agama Kristen untuk memasuki daerah-daerah kaum pagan di Utara dan Timur (daerah orang Skandinavia, orang Magyar, orang Slav, dan lain-lain).[225] Pada zaman pembenahan, Kekaisaran Romawi Suci pada hakikatnya bersifat defensif dan tidak agresif, menghendaki kedamaian di dalam negeri dan keamanan dari invasi kekuatan asing, suatu kenyataan yang dihargai bahkan oleh pangeran-pangeran petarung seperti Maximilian I.[226] Pada permulaan zaman modern, kedekatan dengan Gereja (wangsa Luksemburg dengan Gereja Universal, wangsa Habsburg dengan Gereja Katolik) maupun tanggung jawab kaisar untuk mempertahankan Eropa Tengah masih menjadi suatu realita.Bahkan pemicu konsepsi Pembaharuan Negara pada masa pemerintahan Sigismund adalah gagasan membantu Gereja berbenah diri.[227][228][229]

250px-Magyarorsz%C3%A1g_a_15._sz._els%C5%91_fel%C3%A9ben.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kekaisaran Romawi Suci (Német-római Császárság), termasuk Italia dan Bohemia (Csehország), dan Hongaria (Magyarország), pada masa pemerintahan Kaisar Sigismund

Lihat pula

Keterangan

  1. 1 2 3 Beberapa sejawaran menetapkan tahun 800 sebagai tahun pendirian, yakni tahun penobatan Karel Agung.[1] Sejawaran lainnya menetapkan tahun 962 sebagai tahun pendirian, yakni tahun penobatan Otto Agung.[2]
  2. ↑ Regensburg, tempat penyelenggaraan sidang 'Permusyawaratan Abadi' selepas tahun 1663, akhirnya dianggap sebagai ibu kota tidak resmi Kekaisaran Romawi Suci oleh beberapa negara Eropa yang berkepentingan terhadap kekaisaran itu, yakni Prancis, Inggris, Belanda, Rusia, Swedia, dan Denmark. Negara-negara itu menempatkan duta-duta yang kurang lebih bersifat permanen di Regensburg, karena Regensburg adalah satu-satunya kota di Kekaisaran Romawi Suci yang menjadi tempat berkumpulnya utusan-utusan dari semua daerah besar dan menengah di Jerman sehingga dapat dijumpai untuk dilobi dll. Kaisar-kaisar dari wangsa Habsburg sendiri pun memanfaatkan Regensburg untuk kepentingan yang sama. (Härter 2011, hlm. 122–123, 132)
  3. ↑ Bahasa Jerman, bahasa Jerman Hilir, bahasa Italia, bahasa Ceko, bahasa Polandia, bahasa Belanda, bahasa Prancis, bahasa Frisia, bahasa Rumanstch, bahasa Slovenia, bahasa Sorbia, Bahasa Yidi, dll. Menurut Bula Kencana tahun 1356, anak-anak para pangeran elektor dianjurkan untuk menguasai bahasa Jerman, bahasa Latin, bahasa Italia, dan bahasa Ceko.[16]
  4. ↑ Kekaisaran "Romawi" Jerman: Akibat penatalaksanaan feodal, wilayah kedaulatan kaisar sukar untuk dipastikan, apalagi diukur. Luasnya diperkirakan mencapai puncaknya sekitar tahun 1050, yakni kurang lebih 1.0 Mm2. (Taagepera 1997, hlm. 494)
  5. ↑ (bahasa Latin: Sacrum Romanum Imperium; bahasa Jerman: Heiliges Römisches Reich, pelafalan [ˈhaɪlɪɡəsˈʁøːmɪʃəsˈʁaɪç] ⓘ)
  6. ↑ Sekalipun Karel Agung dan para penggantinya memakai gelar kaisar dengan berbagai variannya, tidak seorang pun dari antara mereka yang menyebut diri Kaisar Romawi. Sebutan itu baru dipakai oleh Otto II pada tahun 983. "Nature of the empire". Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 15 Februari 2014.
  7. ↑ "pemindahan kekuasaan"
  8. ↑ Terjemahan anugerah hak istimewa kepada kaum saudagar pada tahun 1229: "Medieval Sourcebook: Privileges Granted to German Merchants at Novgorod, 1229". Fordham.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Agustus 2014. Diakses tanggal 13 April 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Quapropter statuimus, ut illustrium principum, puta regis Boemie, comitis palatini Reni, ducis Saxonie et marchionis Brandemburgensis electorum filii vel heredes et successores, cum verisimiliter Theutonicum ydioma sibi naturaliter inditum scire presumantur et ab infancia didicisse, incipiendo a septimo etatis sue anno in gramatica, Italica ac Sclavica lingwis instruantur, ita quod infra quartum decimum etatis annum existant in talibus iuxta datam sibi a Deo graciam eruditi. (Zeumern 1908)
  10. ↑ 1,35 juta jiwa adalah angka yang diberikan untuk jumlah populasi Kadipaten Milan. (Smith 1920, hlm. 19)
  11. ↑ Populations of 1.6 million and 1.5 million given for the areas within the borders of modern Belgium and the Netherlands, respectively, around 1600; the Spanish holdings in the Burgundian Circle also included Franche-Comte, Luxembourg, and other small territories. (Avakov 2015)
  12. ↑ Angka 800.000 jiwa dikemukakan oleh Smith sebagai jumlah populasi "Savoye di Italia", tanpa penjelasan tentang apakah angka tersebut menunjukkan jumlah populasi segenap daerah kekuasaan wangsa Savoye atau hanya jumlah populasi wilayah kekuasaan wangsa Savoye di Italia, yaitu daerah Piemonte dan daerah Lembah Aosta (dan dengan demikian tidak termasuk populasi negeri Savoye dan Kabupaten Niza). Meskipun demikian, Hanlon 2014, hlm. 87 mengajukan angka 700.000 jiwa untuk populasi Piemonte, dan angka 400.000 jiwa untuk populasi negeri Savoye pada abad ke-17, tanpa angka-angka untuk populasi Aosta maupun Niza; yang mengindikasikan bahwa yang dimaksud Smith dengan "Savoye di Italia" memang hanya Piemonte dan Aosta.
  13. ↑ Tidak termasuk 500.000 penduduk pulau Sardinia, yang bukan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci.
  14. ↑ Disebut "Lombardia Austria" di dalam sumber. Sebagian besar wilayah kadipaten ini sebelumnya sudah dicaplok Republik Venesia pada abad ke-18.
  15. ↑ Satu-satunya pangeran kepala daerah yang diizinkan menyebut dirinya "raja" atas salah satu daerah di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci adalah Raja Bohemia (selepas tahun 1556 jabatan Raja Bohemia biasanya dirangkap oleh kaisar). Beberapa pangeran kepala daerah juga adalah raja karena merangkap jabatan raja atas kerajaan-kerajaan yang berada di luar wilayah Kekaisaran Romawi Suci.
  16. ↑ Untuk masing-masing porsi, Wilson hanya memperhitungkan daerah-daerah penutur bahasa Jerman dan bahasa Ceko di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci, dan oleh sebab itu tidak memperhitungkan daerah-daerah penutur bahasa Prancis (misalnya Negeri Belanda Austria dan Franche-Comté) dan bahasa Italia (misalnya Toskana dan Piemonte-Savoye), terbukti dari fakta bahwa luas porsi wilayah kekuasaan para elektor dan "penguasa Jerman lainnya" dimasukkan dalam perhitungan luas total wilayah kekaisaran yang disajikannya, dan dari fakta bahwa total luas wilayah kekaisaran dari tahun 1648 ke 1792 berkutat di angka 687.338 km2 (265.383 sq mi), padahal kekaisaran kehilangan banyak daerah penutur bahasa Prancis di Lingkar Burgundia dalam rentang waktu tersebut. Angka-angka yang disajikannya juga tidak mencakup daerah-daerah kekuasaan di luar wilayah Kekaisaran Romawi Suci (termasuk daerah-daerah penutur bahasa Jerman), misalnya daerah-daerah kekuasaan wangsa Hohenzollern Prusia.
  17. ↑ Pada tahun 1648: Saksen, Bayern, dan Elektorat Pfalz. Kemudian hari: Saksen, Bayern, Elektorat Pfalz, dan Hanover.

Rujukan

Kutipan

  1. ↑ "Charlemagne | Holy Roman emperor". Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 16 Oktober 2023.
  2. ↑ Kleinhenz 2004, hlm. 810; "Otto dapat dipandang sebagai pemimpin pertama Kekaisaran Romawi Suci, sekalipun istilah itu baru dipakai pada abad ke-12.".
  3. ↑ von Aretin, Karl Otmar Freiherr (31 Desember 1983). Schieder, Theodor; Brunn, Gerhard (ed.). "Das Reich ohne Hauptstadt? Die Multizentralitat der Hauptstadtfunktionen im Reich bis 1806". Hauptstädte in europäischen Nationalstaaten: 5–14. doi:10.1515/9783486992878-003. ISBN 978-3-4869-9287-8.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  4. ↑ "UNIO REGNI AD IMPERIUM in "Federiciana"". Treccani.it. Diakses tanggal 04 Mei 2022. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  5. ↑ "Enrico Vi, Re Di Sicilia E Imperatore In "Federiciana"". Treccani.it. Diakses tanggal 04 Mei 2022. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  6. ↑ Kamp, Norbert. "Federico Ii Di Svevia, Imperatore, Re Di Sicilia E Di Gerusalemme, Re Dei Romani In "Federiciana"". Treccani.it. Diakses tanggal 04 Mei 2022. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  7. 1 2 3 Brady 2009, hlm. 211.
  8. 1 2 Pavlac & Lott 2019, hlm. 249.
  9. ↑ Wissenschaften, Neuhausener Akademie der (14 Juli 2021). Beiträge zur bayerischen Geschichte, Sprache und Kultur (dalam bahasa Jerman). BoD – Books on Demand. hlm. 106. ISBN 978-3-0006-9644-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Schmitt, Oliver Jens (5 Juli 2021). Herrschaft und Politik in Südosteuropa von 1300 bis 1800 (dalam bahasa Jerman). Walter de Gruyter GmbH & Co KG. hlm. 659. ISBN 978-3-1107-4443-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Buchmann, Bertrand Michael (2002). Hof, Regierung, Stadtverwaltung: Wien als Sitz der österreichischen Zentralverwaltung von den Anfängen bis zum Untergang der Monarchie (dalam bahasa Jerman). Verlag für Geschichte und Politik. hlm. 37. ISBN 978-3-4865-6541-6.
  12. ↑ Klopstock, Friedrich Gottlieb (1974). Werke und Briefe: historisch-kritische Ausgabe (dalam bahasa Jerman). W. de Gruyter. hlm. 999. Diakses tanggal 6 Februari 2022.
  13. ↑ Pihlajamäki, Heikki; Dubber, Markus D.; Godfrey, Mark (4 Juli 2018). The Oxford Handbook of European Legal History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 762. ISBN 978-0-1910-8838-4. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Johnston, William M. (23 Maret 1983). The Austrian Mind: An Intellectual and Social History, 1848–1938 (dalam bahasa Inggris). University of California Press. hlm. 13. ISBN 978-0-5200-4955-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Pavlac & Lott 2019, hlm. 278.
  16. 1 2 Žůrek 2014.
  17. ↑ Wilson 2016, hlm. v–xxvi.
  18. 1 2 3 Wilson 2016, hlm. 496.
  19. ↑ Coy, Jason Philip; Marschke, Benjamin; Sabean, David Warren (1 Oktober 2010). The Holy Roman Empire, Reconsidered (dalam bahasa Inggris). Berghahn Books. hlm. 2. ISBN 978-1-8454-5992-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ "Holy Roman Empire". Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 15 Februari 2014.
  21. ↑ "Charlemagne". History. 9 November 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 6 September 2022. Diakses tanggal 19 September 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Cantor 1993, hlm. 212–215.
  23. 1 2 Gascoigne, Bamber. "History of the Holy Roman Empire". HistoryWorld.
  24. ↑ Davies 1996, hlm. 316–317.
  25. ↑ Peters, Edward (1977). Europe: the World of the Middle Ages (dalam bahasa Inggris). Prentice-Hall. hlm. 418. ISBN 978-0-1329-1898-5. Diakses tanggal 6 Februari 2022.
  26. ↑ Weiler, Björn K. U.; MacLean, Simon (2006). Representations of Power in Medieval Germany 800–1500 (dalam bahasa Inggris). Isd. hlm. 126. ISBN 978-2-5035-1815-2. Diakses tanggal 9 Maret 2022.
  27. ↑ Loud, Graham A.; Schenk, Jochen (6 Juli 2017). The Origins of the German Principalities, 1100–1350: Essays by German Historians (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 49. ISBN 978-1-3170-2200-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ Streissguth, Tom (24 Juni 2009). The Middle Ages (dalam bahasa Inggris). Greenhaven Publishing. hlm. 154. ISBN 978-0-7377-4636-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. ↑ Wilson 1999, hlm. 18.
  30. 1 2 3 4 Whaley 2012a, hlm. 17–21.
  31. ↑ Bryce 1890, hlm. 2–3.
  32. 1 2 Garipzanov 2008.
  33. ↑ Breverton 2014, hlm. 104.
  34. ↑ Wilson 2016b, hlm. 79.
  35. 1 2 Brady 2009, hlm. 104–106.
  36. ↑ Brady 2009, hlm. 128, 129.
  37. 1 2 Johnson 1996, hlm. 23.
  38. 1 2 Wilson 1999, hlm. 2.
  39. 1 2 Whaley 2011, hlm. 17.
  40. ↑ Moraw 1999, col. 2025–2028.
  41. ↑ Whaley 2011, hlm. 19–20.
  42. ↑ Schulze 1998, hlm. 52–55.
  43. ↑ "német-római birodalom – Magyar Katolikus Lexikon". lexikon.katolikus.hu. Diakses tanggal 03 Agustus 2022.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  44. ↑ Wilson 2006, hlm. 719.
  45. ↑ Voltaire 1773, hlm. 338.
  46. ↑ Jorio & Braun 2016.
  47. ↑ Lauryssens 1999, hlm. 102.
  48. ↑ Bachrach, David S. (2014). Warfare in Tenth-Century Germany (dalam bahasa Inggris). Boydell & Brewer Ltd. hlm. 3, 5, 12, 60, 73, 103, 180, 254. ISBN 978-1-8438-3927-9. Diakses tanggal 31 Juli 2022.
  49. ↑ Brown, Warren (Februari 2015). "Warfare in Tenth-Century Germany [Book Review]". Early Medieval Europe. 23 (1): 117–120. doi:10.1111/emed.12090. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Juli 2022. Diakses tanggal 31 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  50. ↑ Bryce 1890, hlm. 183.
  51. ↑ "Italy in the 14th and 15th centuries". Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 18 Desember 2020.
  52. ↑ Innes 2000, hlm. 167–170.
  53. ↑ Bryce 1890, hlm. 35.
  54. ↑ Davies 1996, hlm. 232, 234.
  55. ↑ Bryce 1890, hlm. 35–38.
  56. ↑ McKitterick 2018, hlm. 48–50.
  57. ↑ "France: History, Map, Flag, Capital, & Facts". Encyclopædia Britannica Online. 16 Mei 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  58. ↑ Bryce 1890, hlm. 38–42.
  59. ↑ Johnson 1996, hlm. 22.
  60. ↑ Kohn 2006, hlm. 113–114.
  61. ↑ Duffy 1997, hlm. 62–63.
  62. 1 2 Bryce, hlm. 44, 50–52
  63. 1 2 McKitterick 2018, hlm. 70.
  64. 1 2 Collins 2014, hlm. 131.
  65. ↑ Chambers, Mortimer (1974). The Western Experience (dalam bahasa Inggris). Knopf. hlm. 204. ISBN 978-0-3943-1806-6. Diakses tanggal 6 Februari 2022.
  66. ↑ Witt, Ronald G. (19 Maret 2012). The Two Latin Cultures and the Foundation of Renaissance Humanism in Medieval Italy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 27. ISBN 978-0-5217-6474-2. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  67. ↑ Taylor & Hansen-Taylor 1894, hlm. 117.
  68. ↑ Taylor & Hansen-Taylor 1894, hlm. 118.
  69. ↑ Taylor & Hansen-Taylor 1894, hlm. 121.
  70. ↑ Hoyt & Chodorow 1976, hlm. 197.
  71. ↑ Magill 1998, hlm. 706.
  72. ↑ Cantor 1993, hlm. 212–213.
  73. ↑ Bernhardt, John W. (22 Agustus 2002). Itinerant Kingship and Royal Monasteries in Early Medieval Germany, C.936–1075 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 23. ISBN 978-0-5215-2183-3. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  74. ↑ Wickham, Chris (15 Oktober 2016). Medieval Europe (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. hlm. 131. ISBN 978-0-3002-2221-0. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  75. ↑ Cantor 1993, hlm. 214–215.
  76. 1 2 Magill 1998, hlm. 707.
  77. ↑ Tucker, Spencer C. (23 Desember 2009). A Global Chronology of Conflict: From the Ancient World to the Modern Middle East [6 volumes]: From the Ancient World to the Modern Middle East (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. hlm. 412. ISBN 978-1-8510-9672-5. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  78. ↑ Geanakoplos, Deno John (1979). Medieval Western Civilization and the Byzantine and Islamic Worlds: Interaction of Three Cultures (dalam bahasa Inggris). D. C. Heath. hlm. 207. ISBN 978-0-6690-0868-5. Diakses tanggal 6 Februari 2022.
  79. ↑ "Otto I - Legacy Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Maret 2022.
  80. ↑ Biographie, Deutsche. "Otto I. - Deutsche Biographie". www.deutsche-biographie.de (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 5 Maret 2022.
  81. ↑ Davids, Adelbert (15 Agustus 2002). The Empress Theophano: Byzantium and the West at the Turn of the First Millennium (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 188. ISBN 978-0-5215-2467-4. Diakses tanggal 9 Maret 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  82. ↑ Jansen, S. (17 Oktober 2002). The Monstrous Regiment of Women: Female Rulers in Early Modern Europe (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 153. ISBN 978-0-2306-0211-3. Diakses tanggal 9 Maret 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  83. ↑ MacLean, Simon (2017). Ottonian Queenship (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 169. ISBN 978-0-1988-0010-1. Diakses tanggal 9 Maret 2022.
  84. ↑ Digby, Kenelm Henry (1891). Mores Catholici: Books VII-IX (dalam bahasa Inggris). P. O'Shea. hlm. 939. Diakses tanggal 9 Maret 2022.
  85. ↑ Magill 1998, hlm. 708.
  86. ↑ McBrien 2000, hlm. 138.
  87. ↑ Sladen 1914.
  88. ↑ Cantor 1993, hlm. 215–217.
  89. ↑ Bideleux, Robert; Jeffries, Ian (10 April 2006). A History of Eastern Europe: Crisis and Change (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 119. ISBN 978-1-1347-1985-3. Diakses tanggal 30 Mei 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  90. ↑ Lewis, Archibald Ross (1988). Nomads and Crusaders, A.D. 1000-1368 (dalam bahasa Inggris). Georgetown University Press. hlm. 83. ISBN 978-0-2533-4787-9. Diakses tanggal 30 Mei 2022.
  91. ↑ Fried, Johannes (13 Januari 2015). The Middle Ages (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. hlm. 138. ISBN 978-0-6747-4467-7. Diakses tanggal 30 Mei 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  92. ↑ Rowland, Christopher; Barton, John (2002). Apocalyptic in History and Tradition (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. hlm. 173. ISBN 978-0-8264-6208-4. Diakses tanggal 30 Mei 2022.
  93. ↑ Arnason, Johann P.; Wittrock, Björn (1 Januari 2005). Eurasian Transformations, Tenth to Thirteenth Centuries: Crystallizations, Divergences, Renaissances (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 100. ISBN 978-9-0474-1467-4. Diakses tanggal 30 Mei 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  94. ↑ German Polish Dialogue: Letters of the Polish and German Bishops and International Statements (dalam bahasa Inggris). Ed. Atlantic-Forum. 1966. hlm. 9. Diakses tanggal 30 Mei 2022.
  95. ↑ Emmerson, Richard K. (18 Oktober 2013). Key Figures in Medieval Europe: An Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 497. ISBN 978-1-1367-7518-5. Diakses tanggal 30 Mei 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  96. ↑ Muldoon, J. (19 Agustus 1999). Empire and Order: The Concept of Empire, 800–1800 (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 35. ISBN 978-0-2305-1223-8. Diakses tanggal 30 Mei 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  97. 1 2 Barraclough 1984, hlm. 101–134.
  98. 1 2 Barraclough 1984, hlm. 109.
  99. ↑ Barraclough 1984, hlm. 122–124.
  100. ↑ Barraclough 1984, hlm. 123.
  101. ↑ Barraclough 1984, hlm. 123–134.
  102. ↑ 20px-Wikisource-logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Silesia" . Encyclopædia Britannica. Vol. 25 (Edisi 11). Cambridge University Press.
  103. ↑ Herrmann 1970, hlm. 530.
  104. ↑ Haffner 2019, hlm. 6–10.
  105. ↑ Smail & Gibson 2009.
  106. ↑ Arnold 1995, hlm. 398.
  107. ↑ Hunyadi & Laszlovszky 2001, hlm. 129.
  108. ↑ Boettcher, Carl-Heinz (2005). Europas Weg in die Neuzeit: vom Weltstaat zur Staatenwelt (dalam bahasa Jerman). Röhrig Universitätsverlag. hlm. 342. ISBN 978-3-8611-0390-5. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  109. ↑ Ehlers, Joachim (2003). "Heinrich VI.". Dalam Schneidmüller, Bernd; Weinfurter, Stefan (ed.). Die deutschen Herrscher des Mittelalters: historische Portraits von Heinrich I. bis Maximilian I. (919-1519) (dalam bahasa Jerman). C.H.Beck. hlm. 258–271. ISBN 978-3-4065-0958-2. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  110. ↑ Koenigsberger, H. G. (14 Januari 2014). Medieval Europe 400 - 1500 (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 105. ISBN 978-1-3178-7088-3. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  111. ↑ Pavlac & Lott 2019, hlm. 17.
  112. ↑ Grant, Jeanne (23 Oktober 2014). For the Common Good: The Bohemian Land Law and the Beginning of the Hussite Revolution (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 8. ISBN 978-9-0042-8326-8. Diakses tanggal 2 November 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  113. ↑ Rothstein 1995, hlm. 9-.
  114. ↑ Szepesi 2015.
  115. ↑ Rothbard 2009.
  116. ↑ Schwartzwald, Jack L. (20 November 2015). The Collapse and Recovery of Europe, AD 476–1648 (dalam bahasa Inggris). McFarland. hlm. 116. ISBN 978-1-4766-6230-5. Diakses tanggal 5 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  117. ↑ Brady 2009, hlm. 73.
  118. ↑ Mahoney, William (18 Februari 2011). The History of the Czech Republic and Slovakia (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. hlm. 51. ISBN 978-0-3133-6306-1. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  119. ↑ Brady 2009, hlm. 73, 74.
  120. 1 2 Whaley 2011, hlm. 278.
  121. ↑ Hardy 2018.
  122. ↑ Brady 2009, hlm. 75–81.
  123. ↑ Drees, Clayton J. (2000-11-30). The Late Medieval Age of Crisis and Renewal, 1300-1500: A Biographical Dictionary (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing USA. ISBN 978-1-56750-749-2.
  124. ↑ Wilson, Peter H. (2016b). The Holy Roman Empire: A Thousand Years of Europe's History (dalam bahasa Inggris). Penguin Books Limited. hlm. 79. ISBN 978-0-1419-5691-6. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
  125. ↑ Smith, William Bradford (2008). Reformation and the German Territorial State: Upper Franconia, 1300–1630 (dalam bahasa Inggris). University Rochester Press. hlm. 45. ISBN 978-1-5804-6274-7. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
  126. ↑ Wilson 2016, hlm. 79.
  127. ↑ Tracy, James D. (29 Juli 2016). Balkan Wars: Habsburg Croatia, Ottoman Bosnia, and Venetian Dalmatia, 1499–1617 (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. hlm. 163. ISBN 978-1-4422-1360-9. Diakses tanggal 17 Januari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  128. ↑ Ágoston, Gábor (22 Juni 2021). The Last Muslim Conquest: The Ottoman Empire and Its Wars in Europe (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 312. ISBN 978-0-6912-0538-0. Diakses tanggal 17 Januari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  129. ↑ Whaley 2012a, hlm. .
  130. ↑ Pavlac & Lott 2019, hlm. 143.
  131. 1 2 Brady 2009, hlm. 429.
  132. ↑ Erbe 2000, hlm. 19–30.
  133. ↑ Whaley 2011, hlm. 61.
  134. ↑ Berenger & Simpson 2014, hlm. 132.
  135. ↑ Gosman, Martin; Alasdair, A.; MacDonald, A.; Macdonald, Alasdair James; Vanderjagt, Arie Johan (2003). Princes and Princely Culture: 1450–1650. BRILL. hlm. 298. ISBN 978-9-0041-3572-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2021. Diakses tanggal 24 Oktober 2021.
  136. ↑ Hodnet, Andrew Arthur (2018). The Othering of the Landsknechte. North Carolina State University. hlm. 81.
  137. ↑ Burdick, William Livesey (2004). The Principles of Roman Law and Their Relation to Modern Law (dalam bahasa Inggris). The Lawbook Exchange, Ltd. hlm. 19, 20. ISBN 978-1-5847-7253-8. Diakses tanggal 19 November 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  138. ↑ Lee, Daniel (19 Februari 2016). Popular Sovereignty in Early Modern Constitutional Thought (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 243. ISBN 978-0-1910-6244-5. Diakses tanggal 20 November 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  139. ↑ Thornhill, Chris (24 Januari 2007). German Political Philosophy: The Metaphysics of Law (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 12. ISBN 978-1-1343-8280-4. Diakses tanggal 20 November 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  140. ↑ Haivry, Ofir (29 Juni 2017). John Selden and the Western Political Tradition (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 118. ISBN 978-1-1070-1134-2. Diakses tanggal 20 November 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  141. ↑ Mousourakis, George (2 Maret 2017). The Historical and Institutional Context of Roman Law (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 435. ISBN 978-1-3518-8840-0. Diakses tanggal 20 November 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  142. ↑ Zoller, Élisabeth (2008). Introduction to Public Law: A Comparative Study (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 64. ISBN 978-9-0041-6147-4. Diakses tanggal 20 November 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  143. ↑ Hodnet 2018, hlm. 79–81.
  144. ↑ Spence, Lewis (1993). An Encyclopedia of Occultism (dalam bahasa Inggris). Kensington Publishing Corporation. hlm. 133. ISBN 978-0-8065-1401-7. Diakses tanggal 12 Desember 2021.
  145. ↑ Palgrave, Francis (5 Desember 2013). The Collected Historical Works of Sir Francis Palgrave, K.H. (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. xiv, 203, 204. ISBN 978-1-1076-2636-2. Diakses tanggal 12 Desember 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  146. ↑ Beccaria, Cesare marchese di; Beccaria, Cesare; Stevenson, Bryan (1 Januari 2008). On Crimes and Punishments and Other Writings (dalam bahasa Inggris). University of Toronto Press. hlm. 133. ISBN 978-0-8020-8990-8. Diakses tanggal 12 Desember 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  147. ↑ Ripley, George; Dana, Charles Anderson (1869). The New American Cyclopædia: A Popular Dictionary of General Knowledge (dalam bahasa Inggris). D. Appleton. hlm. 43. Diakses tanggal 12 Desember 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  148. ↑ Strieder, Peter (8 Mei 2017). "Zur Entstehungsgeschichte von Dürers Ehrenpforte für Kaiser Maximilian". Anzeiger des Germanischen Nationalmuseums: 128–142 Seiten. doi:10.11588/azgnm.1954.0.38143. Diakses tanggal 7 Februari 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  149. ↑ Hirschi, Caspar (8 Desember 2011). The Origins of Nationalism: An Alternative History from Ancient Rome to Early Modern Germany (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 45. ISBN 978-1-1395-0230-6. Diakses tanggal 7 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  150. ↑ Brandt, Bettina (2010). Germania und ihre Söhne: Repräsentationen von Nation, Geschlecht und Politik in der Moderne (dalam bahasa Jerman). Vandenhoeck & Ruprecht. hlm. 37. ISBN 978-3-5253-6710-0. Diakses tanggal 8 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  151. ↑ Albert, Rabil Jr. (11 November 2016). Renaissance Humanism, Jilid 2: Foundations, Forms, and Legacy (dalam bahasa Inggris). University of Pennsylvania Press. ISBN 978-1-5128-0576-5. Diakses tanggal 5 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  152. ↑ Quevedo, Francisco de; Britton, R. K. (1 Januari 1989). Francisco de Quevedo: Dreams and Discourses (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-1-8003-4588-1. Diakses tanggal 5 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  153. ↑ Wilson 2016, hlm. 263.
  154. ↑ Whaley, Joachim (2009). "Whaley on Silver, 'Marketing Maximilian: the Visual Ideology of a Holy Roman Emperor' | H-German | H-Net". Networks.h-net.org. Diakses tanggal 5 Februari 2022.
  155. ↑ Tennant, Elaine C.; Johnson, Carroll B. (1985). The Habsburg Chancery Language in Perspective, Jilid 114. University of California Press. hlm. 1, 3, 9. ISBN 978-0-5200-9694-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2021. Diakses tanggal 21 September 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  156. ↑ Wiesinger, Peter. "Die Entwicklung der deutschen Schriftsprache vom 16. bis 18. Jahrhundert unter dem Einfluss der Konfessionen". Zeitschrift der Germanisten Rumäniens (ZGR) (17–18 / 2000 (9th year)): 155–162. doi:10.1515/jbgsg-2018-0014. S2CID 186566355. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Januari 2008. Diakses tanggal 8 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  157. 1 2 Meinel, Christoph; Sack, Harald (2014). Digital Communication: Communication, Multimedia, Security. Springer Science & Business Media. hlm. 31. ISBN 978-3-6425-4331-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 September 2021. Diakses tanggal 20 September 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  158. 1 2 Metzig, Gregor (21 November 2016). Kommunikation und Konfrontation: Diplomatie und Gesandtschaftswesen Kaiser Maximilians I. (1486–1519) (dalam bahasa Jerman). Walter de Gruyter GmbH & Co KG. hlm. 98, 99. ISBN 978-3-1104-5673-8. Diakses tanggal 29 Januari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  159. ↑ Scott, Hamish M. (2015). The Oxford Handbook of Early Modern European History, 1350-1750 (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 173. ISBN 978-0-1995-9725-3. Diakses tanggal 12 Desember 2021.
  160. ↑ Headrick, Daniel R. (28 Desember 2000). When Information Came of Age: Technologies of Knowledge in the Age of Reason and Revolution, 1700–1850 (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 184. ISBN 978-0-1980-3108-6. Diakses tanggal 12 Desember 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  161. ↑ Whaley 2011, hlm. 370.
  162. ↑ "H-German Roundtable on Smith, Germany: A Nation in Its Time Before, During, and After Nationalism, 1500–2000 | H-German | H-Net". networks.h-net.org. Diakses tanggal 5 Februari 2022.
  163. ↑ Brady 2009, hlm. 110, 128.
  164. ↑ Forster, Marc R. "Forster on Brady Jr., 'German Histories in the Age of Reformations, 1400–1650' | H-German | H-Net". Networks.h-net.org. Diakses tanggal 5 Februari 2022.
  165. ↑ Whaley 2012a, hlm. 75.
  166. ↑ Curtis 2013, hlm. 46–52.
  167. ↑ Asch, Ronald G. (28 Oktober 2021). "Monarchs". Early Modern Court Culture: 17–36. doi:10.4324/9780429277986-3. ISBN 978-0-4292-7798-6. S2CID 240193601.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  168. ↑ Thackeray, Frank W.; Findling, John E. (31 Mei 2012). Events That Formed the Modern World: From the European Renaissance through the War on Terror [5 volumes]: From the European Renaissance through the War on Terror (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. hlm. 133. ISBN 978-1-5988-4902-8. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  169. ↑ Holleger 2012, hlm. 34.
  170. ↑ Brady, Thomas A.; Brady, Thomas A. Jr. (13 Juli 2009). German Histories in the Age of Reformations, 1400–1650 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 112. ISBN 978-0-5218-8909-4. Diakses tanggal 6 Februari 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  171. ↑ Wilson 2004, hlm. 27.
  172. ↑ Karl Otmar von Aretin: Das Reich ohne Hauptstadt? (The empire without a capital?), dalam: Hauptstädte in europäischen Nationalstaaten (Capitals in European nation states), penyuntingː T Schieder & G Brunn, Munchen/Wina, 1983, hlmn. 1-29
  173. ↑ Brady, Thomas A. Jr. (13 September 1997). Tracy, James D. (ed.). The Political Economy of Merchant Empires: State Power and World Trade, 1350-1750 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 117–160. ISBN 978-0-5215-7464-8. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  174. ↑ Thompson, William R. (2000). The emergence of the global political economy (PDF). London: Routledge. hlm. 67. ISBN 0-4152-1452-1. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  175. ↑ Ertl, Alan (Mei 2007). The Political Economic Foundation of Democratic Capitalism: From Genesis to Maturation (dalam bahasa Inggris). Universal-Publishers. hlm. 189–191. ISBN 978-1-5994-2424-8. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  176. ↑ Kypta, Ulla; Bruch, Julia; Skambraks, Tanja (15 Oktober 2019). Methods in Premodern Economic History: Case studies from the Holy Roman Empire, c.1300-c.1600 (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. hlm. 116. ISBN 978-3-0301-4660-3. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  177. ↑ Behringer, Wolfgang (2011). "Core and Periphery: The Holy Roman Empire as a Communication(s) Universe". The Holy Roman Empire, 1495–1806 (PDF). Oxford: Oxford University Press. hlm. 347–358. ISBN 978-0-1996-0297-1. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2022. Diakses tanggal 7 Agustus 2022.
  178. ↑ Ertl 2007, hlm. 189–191.
  179. 1 2 Ertl 2007, hlm. 188–189.
  180. ↑ Poitras, Geoffrey (2000). The Early History of Financial Economics, 1478-1776: From Commercial Arithmetic to Life Annuities and Joint Stocks (dalam bahasa Inggris). Edward Elgar. hlm. 48. ISBN 978-1-8406-4455-5. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  181. ↑ Glaeser, Edward; Kourtit, Karima; Nijkamp, Peter (23 September 2020). Urban Empires: Cities as Global Rulers in the New Urban World (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 148. ISBN 978-0-4298-9236-3. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  182. ↑ Haemers, Jelle (5 September 2022). "A troubled marriage. Maximilian and the Low Countries". "Per Tot Discrimina Rerum" – Maximilian I. (1459-1519) (dalam bahasa Jerman). Böhlau Verlag: 421–432. doi:10.7767/9783205216032.421. ISBN 978-3-2052-1602-5. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  183. ↑ Smith, Alan K. (2 April 2019). Creating A World Economy: Merchant Capital, Colonialism, And World Trade, 1400-1825 (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 103. ISBN 978-0-4297-1042-1. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  184. ↑ Mullett 2010, hlm. 81.
  185. ↑ Tracy, James D. (2018). Holland Under Habsburg Rule, 1506–1566: The Formation of a Body Politic (dalam bahasa Inggris). Univ of California Press. hlm. 46. ISBN 978-0-5203-0403-1. Diakses tanggal 5 Februari 2022.
  186. ↑ Nexon, Daniel H. (2009). The Struggle for Power in Early Modern Europe: Religious Conflict, Dynastic Empires, and International Change (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 135. ISBN 978-0-6911-3793-3. Diakses tanggal 5 Februari 2022.
  187. ↑ Whaley 2011, hlm. 326.
  188. ↑ Holborn, Hajo (1982). A History of Modern Germany: The Reformation (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 48. ISBN 978-0-6910-0795-3. Diakses tanggal 5 Februari 2022.
  189. ↑ Whaley 2012a, hlm. 334.
  190. ↑ MacCulloch, Diarmaid (2005). The Reformation (dalam bahasa Inggris). Penguin. hlm. 362. ISBN 978-1-1015-6395-3. Diakses tanggal 6 Februari 2022.
  191. ↑ Isom-Verhaaren, Christine (2011). Allies with the Infidel: The Ottoman and French Alliance in the Sixteenth Century (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 58. ISBN 978-0-8577-3227-9. Diakses tanggal 6 Februari 2022.
  192. ↑ Renna, Thomas (September 2015). "The Holy Roman Empire was Neither Holy, Nor Roman, Nor an Empire". Michigan Academician. 42 (1): 60–75. doi:10.7245/0026-2005-42.1.60. ISSN 0026-2005. Diakses tanggal 31 Maret 2023.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  193. ↑ "Erklärung Franz II. zur Niederlegung der Krone des Heiligen Römischen Reiches – Wikisource". de.wikisource.org (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 2022-10-28.
  194. ↑ Fried 2016, hlm. 56.
  195. ↑ Parker 2008, hlm. 1058.
  196. ↑ Wilson 2009, hlm. 18–23.
  197. 1 2 Wilson, hlm. 788
  198. ↑ Wilson 2009, hlm. [[[:Templat:Google book]] 17].
  199. ↑ Benecke 1974, hlm. 162.
  200. ↑ Whaley 2012a, hlm. 633.
  201. ↑ Whaley 2012b, hlm. 351.
  202. 1 2 Smith 1920, hlm. 19.
  203. ↑ de Las Cases 1824, hlm. 197.
  204. ↑ Puga, Diego; Trefler, Daniel, "International trade and institutional change: A death in Venice" (PDF), Venice Seminar MIT, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-09-03
  205. ↑ Tellier 2009, hlm. 290.
  206. ↑ Claus 1997.
  207. ↑ Kurian 2010, hlm. 587.
  208. ↑ Legauy 1995, hlm. 104.
  209. 1 2 Flood 2011, hlm. 118.
  210. ↑ Cipolla 1981.
  211. 1 2 Whaley 2012a, hlm. 624–625.
  212. ↑ Gumpelzhaimer 1796.
  213. ↑ Whaley 2012b, hlm. 188.
  214. ↑ Wilson 2004, hlm. 413–414.
  215. ↑ Wilson 2004, hlm. 307.
  216. 1 2 Wilson 1999, hlm. 70.
  217. ↑ Wilson 1999, hlm. 69.
  218. ↑ Härter 2011, hlm. 122–123, 132.
  219. ↑ Boettcher 2005, hlm. 342.
  220. ↑ Wilson 2016b, hlm. 2028.
  221. ↑ Ertl, Alan W. (2008). Toward an Understanding of Europe: A Political Economic Précis of Continental Integration (dalam bahasa Inggris). Universal-Publishers. hlm. 202. ISBN 978-1-5994-2983-0. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  222. ↑ Houben, Hubert (2002). Roger II of Sicily: A Ruler Between East and West (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 7. ISBN 978-0-5216-5573-6. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  223. ↑ O'Connell, Monique; Dursteler, Eric R. (2016). The Mediterranean World: From the Fall of Rome to the Rise of Napoleon (dalam bahasa Inggris). JHU Press. hlm. 102. ISBN 978-1-4214-1901-5. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  224. ↑ Van, Cleve; Cleve, Thomas Curtis Van (1972). The Emperor Frederick II of Hohenstaufen, Immutator Mundi (dalam bahasa Inggris). Clarendon Press. hlm. 120. ISBN 978-0-1982-2513-3. Diakses tanggal 15 Oktober 2022.
  225. ↑ Wilson 2016, hlm. 69.
  226. ↑ Wilson 1999, hlm. 52–53.
  227. ↑ Wilson 2016, hlm. lxxv.
  228. ↑ Brady 2009, hlm. 72.
  229. ↑ Johnson 1996, hlm. 52.
  230. "Society for Imperial Chamber Court Research, Wetzlar". Museum and Research Center for the Imperial Chamber Court (Reichskammergericht). 4 July 2015. Diakses tanggal 07 September 2021. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  231. "Seven German cities you never knew were once capitals". The Local. 18 Agustus 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Juni 2019. Diakses tanggal 20 Juni 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Sumber

Bacaan tambahan

  • Arnold, Benjamin (1991). Princes and Territories in Medieval Germany. Cambridge University Press. ISBN 978-0-5215-2148-2. OL 7744146M.
  • Bryce, James (1864). The Holy Roman Empire. Macmillan. OCLC 1347435. OL 17729330M.
  • Coy, Jason Philip; Marschke, Benjamin; Sabean, David Warren, ed. (2010). The Holy Roman Empire, Reconsidered. Berghahn Books. ISBN 978-1-8454-5992-5. OL 38653949M.
  • Donaldson, George. Germany: A Complete History (Gotham Books, New York, 1985)
  • Hahn, Hans Joachim. German thought and culture: From the Holy Roman Empire to the present day (Manchester University Press, 1995).
  • Scribner, Bob. Germany: A New Social and Economic History, Jld. 1: 1450–1630 (1995)
  • Stollberg-Rilinger, Barbara. The Holy Roman Empire: A Short History. Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 2018.
  • Treasure, Geoffrey. The Making of Modern Europe, 1648–1780 (edisi ke-3, tahun 2003). hlmn. 374–426.
  • Zophy, Jonathan W., (penyunting) The Holy Roman Empire: A Dictionary Handbook (Greenwood Press, 1980)

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Kekaisaran Romawi Suci.
Pranala ke artikel terkait
Pada tahun 1792
250px-Holy_Roman_Empire_1648_Imperial_cities.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kota Kekaisaran Bebas pada tahun 1648
Kota-kota yang merdeka atau kehilangan status kebebasannya sebelum 1792
Basel3 · Bern3 · Besançon · Brakel · Cambrai · Diessenhofen · Donauwörth · Duisburg · Düren · Gelnhausen · Hagenau2 · Herford · Kolmar2 · Kaysersberg2 · Konstanz · Landau2 · Lemgo · Lucerne3 · Mainz · Metz · Munster2 · Obernai2 · Pfeddersheim · Rheinfelden · Rosheim2 · St. Gallen3 · Sarrebourg · Schaffhausen3 · Schmalkalden · Schlettstadt2 · Soest1 · Solothurn3 · Strassburg · Toul · Turckheim2 · Verden · Verdun · Warburg · Wissembourg2 · Zürich3
1 Anggota Liga Hanseatik.   2 Anggota Décapole.   3 Anggota Konfederasi Swiss.
Sejarah imperium-imperium dunia
Imperium kuno
Akkadia · Armenia (Urartu · Orontid · Kuno) · Mesir · Asiria · Babilonia · Aksum · Het · Persia (Media · Akhemeniyah · Partia · Sasaniyah) · Makedonia (Ptolemaik · Seleukia) · Kartago · Kush · India (Nanda · Maurya · Sunga · Satavahana · Kushan · Gupta · Harsha) · Tiongkok (Qin · Han · Jin) · Romawi (Romawi Barat · Romawi Timur) · Nirun
Imperium abad pertengahan
Ayyubiyyah · Bizantium · Hun · Turk (Turk · Timur · Barat) · Arab (Rasyidin · Umayyah · Abbasiyah · Fathimiyah · Kordoba) · Maroko (Idrisiyah · Murabithun · Muwahhidun · Mariniyah) · India (Pala · Chola · Delhi · Wijayanagara) · Persia (Thahiriyah · Samaniyah · Buwayhiyah · Saffariyah · Ziyariyah) · Ghaznawiyah · Benin · Seljuk · Oyo · Bornu · Khwarezmia · Timuriyah · Mongol (Yuan · Jochi · Chagatai · Kekhanan Il) · Kanem · Serbia · Songhai · Khmer · Bulgaria · Karoling · Romawi Suci · Anjou · Mali · Tiongkok (Sui · Tang · Song · Yuan) · Tibet · Uighur · Ghana · Aztek · Inka · Sriwijaya · Majapahit · Ethiopia (Zagwe · Salomo) · Aceh · Brunei · Vietnam (Dai Viet) · Tonga · Melaka · Demak · Mamluk Mesir · Venesia · Georgia
Imperium modern
Imperium Adidaya
Awal Abad Pertengahan
Puncak Abad Pertengahan
Akhir Abad Pertengahan
Kebudayaan
Terkait
Prasejarah
Zaman Klasik
Abad Pertengahan
Awal Zaman Modern
Zaman Modern
Baca juga
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan